Menuju konten utama

Iran-Oman Hampir Sepakat Pembukaan Selat Hormuz, Bahas Apa Saja?

Selat Hormuz berpotensi untuk segera dibuka kembali seiring hasil positif dalam perundingan Iran dan Oman. Di sisi lain, Iran tetap siagakan militernya.

Iran-Oman Hampir Sepakat Pembukaan Selat Hormuz, Bahas Apa Saja?
Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, 20 April 2026.. REUTERS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Iran dan Oman dilaporkan hampir sepakat tentang pembukaan kembali Selat Hormuz yang jadi jalur vital bagi perdagangan energi global. Amerika Serikat (AS) menyebut kesepakatan mungkin tercapai dalam satu hingga dua hari. Hal serupa juga disebut perwakilan Iran. Namun, apa saja yang dibahas dalam perundingan itu?

Seturut Al Jazeera, sinyal positif tersebut telah disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Keduanya mengindikasikan kesepakatan dapat dirampungkan dalam hitungan hari.

Rubio menyebut pada hari Selasa (4/8/2026) bahwa perundingan pembukaan kembali Hormuz oleh Iran dan Oman telah mencapai kemajuan yang signifikan. Walau, kata Rubio, belum ada kesepakatan yang telah dicapai sejauh ini.

Senada dengan Rubio, Scott Bessent juga mengatakan pada Rabu (5/8) bahwa kesepakatan Iran-Oman terkait pembukaan Hormuz mungkin tercapai “hari ini atau besok”. Menurutnya, kesepakatan tentang Selat Hormuz akan membuat perundingan “menuju posisi yang lebih normal dalam konflik ini”.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut perundingan dengan Oman terkait Hormuz berfokus pada pembentukan jalur pelayaran kapal komersial. Kedua negara tengah merundingkan mekanisme pelayaran masuk dan keluar selat yang aman dan disepakati kedua negara.

Baghaei mengatakan, perundingan berjalan positif baik di tingkat politik maupun teknis. Namun, masih ada ketidaksepakatan terkait bagaimana jalur pelayaran baru ini akan beroperasi.

Para pejabat Iran menyebut isu-isu yang belum terselesaikan itu termasuk mekanisme untuk membuka kembali jalur air, biaya layanan maritim, dan pengaturan keamanan. Isu terkait otorisasi jalur pelayaran Selat Hormuz sebelumnya menjadi salah satu isu utama dalam Perang Iran-AS yang pecah sejak 28 Februari lalu.

David de Roches, eks direktur Pentagon bidang Semenanjung Arab menyebut Iran diperkirakan akan menolak skema pelayaran bebas di teritorialnya dan “meniadakan hak lintas damai kuno”. Namun, di sisi lain, Iran diperkirakan tidak akan mengganggu hak serupa melalui perairan Oman.

Selat Hormuz merupakan selat yang keberadaannya tepat di antara Iran dan Oman. Iran selama ini menguasai mayoritas wilayah perairan sempit dengan lebar antara 33-97 kilometer itu.

Sebelum perang, selat ini telah menjadi jalur bagi distribusi seperlima pasokan energi global. Marco Rubio menjelaska, Hormuz kini dapat dilalui, namun tidak dalam tingkat yang sama seperti sebelum perang yang mereka mulai.

Washington kini tengah berupaya agar kesepakatan terkait otorisasi Hormuz dapat memungkinkan lebih banyak kapal untuk lewat dengan aman. Hal ini menjadi target AS sebelum perundingan dialihkan ke isu yang lebih luas, seperti program nuklir Iran.

Iran Tetap Siaga Militer Selama Gencatan Senjata

Meskipun konflik antara AS dan Iran telah menunjukkan indikasi deeskalasi, namun militer Iran tetap pada status siaga. Otoritas militer Iran menerangkan kekuatan mereka telah pulih dan siap untuk melakukan pertempuran lebih lanjut.

“Kami telah memanfaatkan sepenuhnya kesempatan dari nota kesepahaman dan setiap momen gencatan senjata,” tutur juru bicara militer, Mohammad Akraminia, kepada televisi pemerintah pekan ini.

Brigadir jenderal itu mengatakan pihaknya telah meningkatkan produksi dan impor peralatan baru, juga memperbaiki dan memulihkan sistem yang rusak. Tak hanya itu, ia juga menyebut bahwa pihaknya kini siap menggunakan drone tempur generasi baru yang spesifikasinya belum dirilis.

Pernyataan itu dikeluarkan Akraminia selang sebulan setelah Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Iran Majid Ebn-e Reza menyatakan produksi rudal dan drone Iran “tidak berhenti satu hari pun”. Ebn-e Reza juga mengatakan produksi drone mereka telah mencapai tingkat tiga kali lipat dari skala sebelum perang.

Laporan serupa juga dirilis Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), kekuatan militer yang telah menjadi aktor politik aktif di Iran dan bertanggung jawab atas serangan rudal balistik dan drone selama ini. Mereka menyebut produksi rudal telah ditingkatkan, baik dalam jumlah maupun spesifikasinya.

Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, menjelaskan pihaknya telah menggunakan pengetahuan yang diperoleh selama pertempuran untuk meningkatkan akurasi rudal. Namun, pihaknya hingga kini belum merilis keterangan tentang tingkat kerusakan pada kapasitas produksi senjata domestik dan pertahanan udara mereka.

Sementara itu, pada Juli lalu, Iran dilaporkan telah mempertahankan sekitar 70 persen persediaan rudal dalam skala pra-perang dan 40 persen persediaan drone. Hal ini mengindikasikan bahwa Teheran masih memiliki kapasitas untuk melanjutkan perang asimetris selama berbulan-bulan.

Pekan lalu, Reuters mengutip sumber anonim yang menyebut Iran tengah menanti pengiriman pertama peluncur rudal pertahanan udara buatan Cina. Dalam pengiriman tahap pertama, disebut terdapat 400 peluncur yang dikirim melalui jalur transit Pakistan. Cina dan Pakistan membantah laporan tersebut, namun Iran tidak berkomentar atasnya.

Mantan komandan senior di IRGC, Hossein Kanani Moghaddam, baru-baru ini juga menerangkan bahwa Teheran telah meningkatkan kemampuan rudal mereka. Ia menyebut bahwa jangkauan dan daya hancur hulu ledak rudal telah ditingkatkan.

“Kemampuan rudal kami telah tersebar di seluruh negara yang luas ini. Komponen rudal diproduksi di tempat-tempat yang bahkan tidak dapat mereka bayangkan,” tutur Moghaddam.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar