Menuju konten utama

Harapan Damai AS-Iran Meredup, Harga Minyak Dunia Bertahan

Harga minyak Brent bertahan di USD87,81 per barel saat harapan damai AS-Iran meredup. Tuntutan baru Trump dan gangguan pasokan membuat pasar terus waspada.

Harapan Damai AS-Iran Meredup, Harga Minyak Dunia Bertahan
Kapal tanker melakukan bongkar BBM di salah satu 'jetty' milik PT Pertamina (Persero) Terminal Transit BBM Baubau, Sulawesi Tenggara, Rabu (2/10/2019). Terminal transit BBM tersebut saat ini menjadi pusat suplai untuk depot lain di Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Maluku. ANTARA FOTO/Jojon/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pasar minyak dunia bergerak datar pada perdagangan Selasa (11/8/2026), dengan harga acuan Brent crude bertahan di level 87,81 dolar AS per barel.

Konsolidasi harga ini terjadi di tengah surutnya optimisme akan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, setelah Presiden AS Donald Trump mengajukan tuntutan baru yang dinilai akan mempersulit negosiasi.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menunjukkan tren serupa, menguat tipis di posisi 82,20 dolar AS per barel.

Kedua komoditas energi tersebut sebelumnya melonjak lebih dari 5 persen pada Senin (10/8/2026), mencatatkan level tertinggi sejak 31 Juli, didorong oleh reaksi pasar atas sikap Trump dalam merespons syarat-syarat perdamaian yang diajukan Iran.

Alih-alih meredakan ketegangan, Trump justru menambahkan tuntutan baru berupa kompensasi atas korban jiwa dari perang, serangan, dan aksi protes yang selama ini terjadi.

Langkah ini dinilai akan menambah kompleksitas upaya diplomatik untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang sempat menjadi titik krusial dalam konflik kedua negara.

Sementara itu, faktor pasokan turut menekan sentimen pasar. Saudi Aramco secara resmi menunda operasional ulang kilang Jazan berkapasitas 400.000 barel per hari hingga 30 Agustus. Penundaan ini menyusul klaim serangan ganda yang dilakukan oleh kelompok Houthi terhadap fasilitas tersebut pada Minggu lalu.

Analis dari Barclays mencatat bahwa dampak gangguan jalur perdagangan mulai terlihat. Sepanjang pekan yang berakhir 7 Agustus, ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan melalui Selat Hormuz tercatat rata-rata 3 juta barel per hari, menyusut tajam dari pekan sebelumnya yang mencapai 4,4 juta barel per hari.

Di kawasan lain, Irak mengambil langkah penyesuaian harga dengan menaikkan Official Selling Price (OSP) untuk minyak Basra Medium tujuan Asia sebesar 2,50 dolar AS, menjadikannya minus 4 dolar AS per per barel terhadap rata-rata kuotasi Oman/Dubai.

"Risiko cengkeraman di sekitar Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb tetap sangat signifikan. Bahkan pembatasan yang bersifat sementara atau ancaman insiden lanjutan membuat biaya asuransi tetap tinggi dan memaksa jalur pelayaran yang lebih panjang ... sehingga aliran energi tampaknya akan tetap terbatas dalam waktu dekat,” ujar Waterer dalam analisisnya dikutip Reuters.

Dengan akumulasi faktor geopolitik yang masih panas dan gangguan pasokan yang berlanjut, pasar tampaknya akan terus berada dalam mode waspada, dengan harga minyak berpotensi terkerek naik jika ketegangan di Timur Tengah kembali memanas.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dipna Videlia Putsanra