tirto.id - PT United Tractors pada Agustus lalu telah mendapatkan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dengan persetujuan RKAB tersebut, United Tractors dapat menaikkan kapasitas produksi batu bara hingga 12,4 juta ton.
Direktur United Tractors, Vilihati Surya, menjelaskan perusahaannya sejatinya memiliki kapasitas produksi hingga 15 juta ton. Namun, hingga pertengahan Juni tahun ini, United Tractors baru memperoleh persetujuan RKAB sebesar 7,4 juta ton atau sekitar 50 persen dari kapasitas produksinya.
“Pada pertengahan Juni kemarin, yang baru di-approve RKAB-nya itu baru 7,4 juta [ton]. Nah, tapi kemarin good news-nya di Agustus ini, kami sudah mendapatkan kenaikan RKAB ke 12,4 juta [ton]," urai Vilihati saat kegiatan Astra Media Day di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Vilihati menyebut persetujuan RKAB pada semester I 2026 yang hanya setengah dari kapasitas produksi itu membuat penjualan batu bara United Tractors turun 22 persen. Hal itu juga secara tidak langsung menjadi salah satu penyebab penurunan pendapatan United Tractors di Semester I 2026 secara keseluruhan.
Dia menjelaskan pendapatan bersih perseroan secara keseluruhan turun 15 persen menjadi Rp58 triliun hingga 30 Juni 2026.
"Ringkasan keuangan perseroan untuk periode 30 Juni 2026, kalau kita lihat memang pendapatan bersihnya United Tractors ini turun 15 persen, ya, ke angka Rp58 triliun," ucap Vilihati.
Selain dampak dari penurunan penjualan batu bara, penurunan pendapatan bersih United Tractors juga disebabkan penurunan penjualan alat berat. Vilihati menyatakan jenama alat berat yang mengalami penurunan penjualan adalah Komatsu.
"Nah, ini terutama disebabkan oleh yang pertama itu penurunan di alat berat, terutama dari penjualan Komatsu yang turun," katanya.
Meski demikian, Vilihati melanjutkan, balance sheet United Tractors terbilang sehat dengan rasio utang 8,5 persen. Adapun utang bersih perseroan senilai Rp9,4 triliun.
United Tractors disebut juga melakukan buyback saham pada 1 April-30 Juni 2026 sebanyak 35,5 juta lembar saham. Buyback itu disebut akan berlangsung hingga 11 September 2026.
“Kalau kami lihat secara akumulasi, buyback yang dilakukan UT, walaupun dari Juni 2022 sampai dengan saat ini, itu sudah sekitar Rp7,1 triliun atau sekitar 239 juta saham," tutur dia.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id






































