Menuju konten utama

Pasokan Batu Bara Pabrik Semen Menipis, ESDM Cari Alternatifnya

Sejumlah industri semen kekurangan pasokan batu bara akibat sungai surut. Pemerintah mencari sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu dekat.

Pasokan Batu Bara Pabrik Semen Menipis, ESDM Cari Alternatifnya
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (6/8/2026). (ANTARA/Putu Indah Savitri)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno mengakui sejumlah industri semen mengalami kekurangan pasokan batu bara. Pemerintah tengah mencari sumber pasokan alternatif untuk mengatasi persoalan tersebut.

Menurut Tri, salah satu penyebab berkurangnya pasokan batu bara ke industri semen adalah kondisi sungai-sungai jalur logistik batu bara yang surut. Kondisi tersebut menghambat proses pengiriman batu bara sehingga pasokan yang diterima sejumlah perusahaan semen ikut terdampak.

"Kalau yang semen, yang semen itu, ada beberapa memang laporan terkait dengan pasokan [batu bara] yang kurang, ya beberapa, [penyebabnya] karena sungai surut itu," ucapnya di Tangerang Selatan, Banten, Selasa (22/9/2026).

Tri mengatakan pihaknya tengah berupaya mencari pasokan dari sumber lain untuk memenuhi kebutuhan industri semen. Ia berharap persoalan tersebut dapat segera diselesaikan.

"Kami, di [Ditjen] Minerba, berupaya untuk mengalihkan atau nyari dari tempat lain. Mudah-mudahan solved minggu ini atau minggu depan sudah clear," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tri juga menanggapi persoalan harga batu bara yang dipasok untuk industri semen.

Saat ditanya apakah ada pemasok yang tidak bersedia menjual batu bara dengan harga DMO dan meminta harga pasar, ia menyatakan pemerintah telah membahas persoalan tersebut bersama pelaku industri semen.

"Sudah clear. Kemarin sudah rapat kami dengan [pelaku industri] semen," tutur Tri.

Batu bara merupakan salah satu komponen penting dalam proses produksi semen, terutama sebagai sumber energi untuk pembakaran dalam proses pembuatan klinker. Kementerian Perindustrian pada 2022 menyebut batu bara mencakup sekitar 40 persen dari struktur biaya produksi industri semen. Karena itu, kelancaran pasokan batu bara menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap biaya dan operasional produsen semen.

Persoalan pasokan batu bara untuk industri semen bukan kali pertama menjadi perhatian pemerintah. Pada 2022, Kementerian ESDM mencatat penggunaan batu bara industri semen mencapai 4,45 juta ton pada 2021 dan memproyeksikan kebutuhan meningkat menjadi 15,02 juta ton pada 2022.

Asosiasi Semen Indonesia (ASI), yang sejak akhir 2025 berganti nama menjadi Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSI), juga pernah meminta jaminan pasokan batu bara. Pada 2023, asosiasi menyebut pemenuhan kebutuhan batu bara diperlukan untuk meningkatkan utilisasi industri semen di tengah kondisi kelebihan pasokan.

Di sisi lain, pemerintah masih menerapkan kebijakan domestic market obligation (DMO) untuk menjamin pasokan batu bara bagi kebutuhan dalam negeri. Pada Juli 2026, Ditjen Minerba menyatakan pengawasan terhadap kewajiban DMO diperkuat, baik untuk sektor kelistrikan maupun nonkelistrikan.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga menyebut semen sebagai salah satu industri prioritas dalam pemenuhan kebutuhan batu bara domestik. Pemerintah membuka kemungkinan meningkatkan porsi DMO jika pasokan dalam negeri masih kurang.

Baca juga artikel terkait BATU BARA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana