tirto.id - PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar 50 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp8,77 triliun (kurs Rp17.552 per dolar AS) pada 2026. Meski begitu, realisasi capex perusahaan telah mencapai sekitar 21 juta dolar AS hingga semester I 2026.
Sebagian besar anggaran tersebut akan digunakan untuk pengembangan dan ekspansi pelabuhan guna menopang peningkatan produksi batu bara perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Menurut Direktur ITMG Warut Waramit, investasi pada pelabuhan diperlukan untuk mendukung rencana peningkatan produksi ITMG, yakni di kisaran 22 juta-22,9 juta ton pada tahun ini.
"Sebagian besar memang untuk port expansion, untuk mendukung produksi kita ke depan," ujarnya, dalam Public Expose Live 2026, Rabu (9/9/2026).
Warut menjelaskan pengembangan infrastruktur tersebut merupakan bagian dari kebutuhan perusahaan untuk mengantisipasi pertumbuhan produksi pada tahun-tahun mendatang. Dengan kapasitas pelabuhan yang lebih memadai, perusahaan dapat menjaga kelancaran rantai pasok batu bara dari tambang hingga pelanggan.
Investasi tersebut juga menjadi semakin penting di tengah tantangan logistik yang dihadapi sejumlah wilayah operasional ITMG. Salah satunya adalah penurunan muka air Sungai Mahakam yang berdampak terhadap pengangkutan batu bara dari tambang di wilayah Malak, Kalimantan Timur.
"Karena water level di Mahakam cukup rendah, kita harus mengurangi loading barge," ujarnya.
Dalam kondisi normal, tongkang dapat mengangkut sekitar 7.000 ton batu bara. Namun, ketika muka air sungai turun, muatan harus dikurangi menjadi sekitar 3.500-4.000 ton untuk mengurangi risiko kandas. Penyesuaian tersebut berdampak terhadap peningkatan biaya pengangkutan hingga 30-40 persen.
"Jadi cost per ton-nya naik karena kita harus mengurangi loading," ujarnya.
Sementara itu, di tengah penguatan bisnis batu bara, ITMG juga mulai membuka peluang diversifikasi ke komoditas mineral strategis yang dinilai memiliki prospek seiring perkembangan elektrifikasi. Dalam hal ini, perusahaan saat ini sedang mengamati sejumlah mineral yang berkaitan dengan kebutuhan elektrifikasi, termasuk nikel dan bauksit.
"Kalau untuk di luar coal, strategi kita tetap di energy corridor," katanya. "Untuk strategic minerals yang mendukung electrification, kita melihat beberapa area, termasuk nikel dan bauksit," lanjut Warut.
Salah satu peluang yang menjadi perhatian adalah PT Resources Prima Indonesia Tbk (NICE). ITMG saat ini telah memiliki kepemilikan di perusahaan tersebut dan membuka kemungkinan untuk meningkatkan kepemilikan pada masa mendatang.
Namun, manajemen belum memberikan kepastian mengenai rencana penambahan saham NICE. Opsi tersebut masih menjadi bagian dari evaluasi perusahaan dalam melihat peluang diversifikasi bisnis.
"Kita tidak menutup kemungkinan untuk mengoptimalkan existing assets ataupun melihat opsi-opsi lain," tegas Warut.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































