Menuju konten utama

Rupiah dan IHSG Menguat 9 September 2026, Ini Pergerakannya

Rupiah menguat ke Rp17.577 per dolar AS dan IHSG naik ke 6.700,84 pada pembukaan perdagangan Rabu, 9 September 2026.

Rupiah dan IHSG Menguat 9 September 2026, Ini Pergerakannya
Petugas menghitung mata uang rupiah (Rp) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Senin (7/9/2026). Bank Indonesia mencatat pasokan uang beredar luas (M2) di Indonesia pada Juli 2026 sebesar Rp 10.371,1 triliun atau tumbuh sebesar 8,3 persen year on year (yoy), tumbuh melambat dari pada Juni 2026 sebesar 8,7 persen yoy dimana hal tersebut didorong oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/agr
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan penguatan pada pagi ini Rabu (9/9/2026) menjadi Rp17.577 per dolar AS. Sejalan dengan rupiah, IHSG juga masih melanjutkan tren penguatan dengan dibuka di level 6.700,84.

Pada pembukaan perdagangan Rabu, rupiah menguat 55 poin atau 0,31 persen menjadi Rp17.577 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.632 per dolar AS.

Penguatan tersebut melanjutkan tren positif pada perdagangan Selasa (8/9), ketika rupiah ditutup menguat 8 poin atau 0,05 persen dari Rp17.640 menjadi Rp17.632 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menilai salah satu faktor yang menopang penguatan rupiah adalah kondisi cadangan devisa (cadev) Indonesia yang meningkat.

"Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia mencapai 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026, naik dibandingkan posisi pada akhir Juli 2026 yang sebesar 145,3 miliar dolar AS," ujarnya dikutip Antara (8/9).

Peningkatan cadangan devisa memberikan sinyal bahwa kondisi eksternal Indonesia relatif kuat karena negara memiliki cadangan valuta asing yang lebih besar untuk mendukung kebutuhan pembayaran luar negeri sekaligus membantu menjaga stabilitas nilai tukar ketika terjadi tekanan di pasar.

Menurut BI, kenaikan cadangan devisa tersebut terutama berasal dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

Selain faktor tersebut, kebijakan stabilisasi nilai tukar yang dilakukan BI juga berperan dalam merespons ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

"Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap baik. Keyakinan tersebut didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta potensi aliran masuk modal asing. BI menyebut persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik menjadi faktor pendukung aliran modal asing ke Indonesia," ungkap Ibrahim.

IHSG Lanjutkan Tren Menguat Pagi Ini

Pada Rabu (9/9/2026) pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat 14,40 poin atau 0,22 persen ke level 6.700,84. Penguatan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan yang tercermin dalam indeks LQ45, yang naik 0,90 poin atau 0,14 persen menjadi 666,48.

Pembukaan positif tersebut melanjutkan tren penguatan perdagangan sehari sebelumnya, ketika IHSG pada Selasa (8/9) ditutup naik 66,77 poin atau 1,01 persen ke posisi 6.686,44, sedangkan LQ45 menguat 9,16 poin atau 1,40 persen ke level 665,58.

Penguatan IHSG pada perdagangan Selasa dinilai mendapat dukungan dari sentimen pasar domestik, salah satunya kondisi cadangan devisa Indonesia yang disebut tetap terjaga.

Selain itu, sentimen positif turut muncul setelah sejumlah bandara yang sebelumnya ditutup selama dua hari akibat erupsi Gunung Anak Krakatau kembali beroperasi. Pembukaan kembali bandara tersebut dinilai dapat membantu memulihkan aktivitas ekonomi, terutama sektor logistik, rantai pasok (supply chain), mobilitas, dan konektivitas bisnis.

Meski demikian, pergerakan pasar saham masih menghadapi tekanan dari faktor eksternal, khususnya meningkatnya ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran mengenai konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah mendorong perhatian investor terhadap kemungkinan terganggunya aliran energi melalui Selat Hormuz.

Kekhawatiran tersebut dapat mendorong kenaikan harga minyak dan pada akhirnya meningkatkan risiko inflasi global. Jika biaya energi bertahan tinggi, pasar juga mengantisipasi kemungkinan bank sentral di berbagai negara menunda penurunan suku bunga karena tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.

Sepanjang perdagangan Selasa, IHSG tercatat mampu bertahan di zona positif hingga penutupan, baik setelah pembukaan maupun setelah memasuki sesi kedua. Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sebanyak delapan sektor mengalami penguatan.

Sektor barang baku menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 1,94 persen, disusul sektor barang konsumen primer sebesar 1,56 persen dan sektor industri sebesar 1,17 persen. Tiga sektor mengalami pelemahan, dengan sektor kesehatan turun paling dalam sebesar 0,67 persen, diikuti sektor teknologi yang turun 0,58 persen serta sektor barang konsumen non-primer yang melemah 0,06 persen.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra