Menuju konten utama

Rupiah Rp17.654 per Dolar AS dan IHSG Dibuka Menguat Hari Ini

Rupiah melemah ke Rp17.654 per dolar AS, sementara IHSG dibuka menguat ke 6.652,09. Investor mencermati minyak, The Fed, dan risiko geopolitik.

Rupiah Rp17.654 per Dolar AS dan IHSG Dibuka Menguat Hari Ini
Karyawan mengambil uang pecahan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (27/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 46 poin atau 0,26 persen menjadi Rp18.009 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.963 per dolar AS. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rupiah pada awal perdagangan Senin, 7 September 2026 dibuka melemah sekitar 0,1 persen ke level Rp17.654 per dolar AS. Dari bursa saham, IHSG menunjukkan penguatan dengan pergerakan terbatas.

Pelemahan rupiah terjadi ketika harga minyak dunia kembali meningkat sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi eksternal Indonesia.

Harga minyak Brent naik 0,36 persen menjadi sekitar US$96,63 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$92,09 per barel.

Kenaikan harga minyak terutama dipengaruhi oleh ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz yang menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan terganggunya pasokan minyak.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak memiliki konsekuensi yang cukup penting karena Indonesia masih merupakan net importer minyak, sehingga kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan biaya impor energi.

Semakin mahal minyak yang harus dibeli dari luar negeri, semakin besar pula kebutuhan dolar AS untuk membayar impor tersebut. Kondisi ini kemudian dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Faktor penting berikutnya adalah arah kebijakan moneter The Fed. Data ketenagakerjaan AS menunjukkan tambahan sekitar 162 ribu lapangan kerja pada Agustus, angka yang cukup kuat dan berpotensi membuat investor kembali mempertimbangkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat atau hawkish.

Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada data inflasi AS yang dijadwalkan dirilis pada 11 September 2026. Data inflasi akan menjadi salah satu indikator utama untuk menentukan apakah tekanan harga di AS benar-benar mereda atau justru kembali meningkat.

Apabila inflasi AS kembali naik, ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan berada pada level tinggi dalam waktu lebih lama berpotensi menguat. Kondisi tersebut biasanya memberikan tekanan kepada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena aset berdenominasi dolar AS menjadi relatif lebih menarik.

IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.652,09

IHSG pada awal perdagangan Senin (7/9) dibuka naik 15,61 poin atau 0,24 persen ke level 6.652,09, sedangkan indeks saham unggulan LQ45 meningkat 1,43 poin atau 0,22 persen menjadi 659,02.

Meski menunjukkan kecenderungan menguat, tetapi pergerakannya diperkirakan masih terbatas atau sideways karena pelaku pasar masih mempertimbangkan berbagai sentimen dari dalam maupun luar negeri.

Kondisi ini menunjukkan adanya respons positif awal dari investor, tetapi belum cukup kuat untuk mengindikasikan tren kenaikan yang berkelanjutan. Secara teknikal, IHSG masih berada dalam kondisi rentan terhadap koreksi.

"IHSG diperkirakan rentan koreksi lanjutan menuju support terdekat 6.595 atau 6.551 dan 6.525. Adapun jika mampu rebound IHSG potensi kembali ke resistance 6.681 atau 6.704 dan lanjut tutup area gap 6.723,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dikutip Antara, Senin (7/9/2026).

Sentimen pasar cenderung beragam karena investor masih berhati-hati dalam merespons perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan AS yang relatif kuat sebelumnya meningkatkan ketidakpastian mengenai langkah Federal Reserve atau The Fed dalam menentukan suku bunga.

Data tenaga kerja yang kuat biasanya menunjukkan bahwa perekonomian AS masih memiliki daya tahan sehingga bank sentral memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi guna mengendalikan inflasi.

Namun, pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller yang mendukung kemungkinan mempertahankan suku bunga apabila tekanan harga terus mereda telah mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada September 2026.

Perubahan ekspektasi tersebut menjadi sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk saham, karena suku bunga yang tidak dinaikkan dapat mengurangi tekanan terhadap biaya pendanaan perusahaan dan meningkatkan daya tarik investasi di pasar saham.

Risiko lainnya adalah ketegangan antara AS dan Iran serta meningkatnya risiko ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah yang membuat investor harus memperhitungkan kemungkinan terganggunya perdagangan dan rantai pasok global.

Gangguan tersebut dapat meningkatkan biaya logistik dan harga komoditas tertentu, sehingga pada akhirnya berpotensi mendorong inflasi.

Konflik Rusia-Ukraina juga masih menjadi perhatian karena perkembangan perang dapat memengaruhi harga energi, pangan, dan komoditas lainnya.

Bagi pasar saham Indonesia, perubahan harga komoditas global dapat memberikan dampak berbeda terhadap emiten, terutama perusahaan yang bergerak di sektor energi, pertambangan, transportasi, dan industri.

Karena itu, meskipun berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed memberikan sentimen positif, investor tetap cenderung berhati-hati karena risiko geopolitik dapat sewaktu-waktu meningkatkan volatilitas pasar.

Pergerakan IHSG pada akhir pekan sebelumnya menunjukkan bahwa investor masih cenderung melakukan aksi profit taking. Pada Jumat (4/9), IHSG ditutup turun 31,41 poin atau 0,47 persen ke level 6.636,48, sedangkan LQ45 turun 5,18 poin atau 0,78 persen menjadi 657,59.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra