tirto.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan strategi awal kepemimpinannya di Kementerian Keuangan saat pertama kali menjabat di tengah situasi ekonomi yang belum stabil, pada September 2025.
Purbaya mengakui bahwa dirinya sengaja melempar narasi “omong gede” alias optimistis dan terkesan agresif, yang oleh sebagian pihak dinilai "sombong", guna membalikkan ekspektasi publik dan pelaku pasar.
Purbaya menjelaskan bahwa langkah tersebut didasari oleh teori makroekonomi self-fulfilling prophecy, yaitu membentuk persepsi publik agar pengambil keputusan ekonomi bertindak sesuai ekspektasi positif tersebut.
"Waktu saya jadi menteri, kita baru menghadapi demo besar. Saya mesti kembalikan confidence ke masyarakat secepat-cepatnya. Terpaksa ya omong gede. Itu yang dibilang orang sombong, tapi bukan, itu didesain untuk membentuk ekspektasi ke depan ke arah yang positif," ujar Purbaya saat diskusi dengan awak media di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, jika persepsi pasar dibiarkan negatif, investor akan takut berinvestasi dan masyarakat enggan berbelanja, yang pada akhirnya dapat memicu resesi sungguhan.
"Kalau semua berpikir ekonomi akan resesi, ekonomi bisa betul-betul resesi. Kenapa? Karena investor takut ekspansi, masyarakat takut belanja, pengusaha pun tidak akan ekspansi. Akibatnya ekonomi melambat terus. Itu yang saya coba balik," tuturnya.
Refleksi Setahun Jadi Menkeu
Genap setahun menjabat sebagai Menkeu, Purbaya tidak menampik beratnya beban kerja selaku Bendahara Negara. Tekanan pekerjaan tersebut bahkan berdampak langsung pada kondisi fisiknya.
"Dukanya dulu lah, yang paling gampang kalau lihat badan saya kan. Pas jadi menteri saya 102 kg. Sekarang 97-98 kg, itu sudah recover. Sebelumnya turun sampai 88 kg. Berarti kerjanya memang berat di Kementerian Keuangan," ungkapnya.
Meski demikian, Purbaya mengatakan bahwa kerja keras tersebut membuahkan hasil pada percepatan laju ekonomi nasional. Ia mengklaim perekonomian Indonesia telah berhasil melepaskan diri dari jebakan pertumbuhan 5 persen.
"Walaupun ekonomi Indonesia sekarang belum lari kencang-kencang amat, tapi saya pastikan sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5 persen,” tambahnya.
Ia menjelaskan, pada kuartal keempat tahun lalu laju perekonomian berada di 5,39 persen, kemudian membaik di kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen, dan turun lagi di kuartal II-2026 ke 5,29 persen karena gangguan global.
“Tapi sekarang siap bergerak ke arah 6 persen lagi. Saya pikir triwulan keempat tahun ini bisa mendekati 6 persen," kata Purbaya.
Di sisi lain, latar belakang akademis dan praktisi di bidang ekonomi memberi kepuasan tersendiri bagi Purbaya selama mengemban tugas sebagai Menkeu. Ia mengaku jabatan ini memberinya ruang untuk menguji langsung teori-teori ekonomi yang dipelajarinya.
"Untuk ilmuwan seperti saya, ekonom kan ilmuwan ya. Itu paling menarik adalah ketika kita bisa menguji teori-teori di lapangan langsung dan kita lihat hasilnya sesuai dengan apa yang kita prediksi atau yang kita rencanakan," ujarnya.
Namun, Purbaya mengungkapkan tantangan terbesar selama setahun menjabat bukanlah merumuskan jurus kebijakan, melainkan meredam narasi negatif serta dinamika dari lembaga pemeringkat global dan gejolak pasar.
Ia mencontohkan, setelah kondisi domestik mulai stabil usai pemindahan dana pemerintah di awal September 2025, pasar kembali digempur oleh isu sentimen MSCI. Tak lama berselang, pasar keuangan kembali terguncang oleh proyeksi dan penilaian dari lembaga pemeringkat dunia seperti Fitch dan Moody's.
"Habis stabilisasi selesai, keluar Fitch, Moody's, goncang lagi. Habis itu kita betulin terus kan, ada ancaman S&P. Walaupun S&P tidak memberikan sinyal negatif pertamanya, tapi orang di pasar gembar-gembor kita akan di-downgrade, bahkan stock market-nya menuju frontier. Padahal S&P tidak pernah ngomong gitu yang saya tahu," paparnya.
Begitu S&P akhirnya merilis penilaian yang tetap stabil, Purbaya menyebut publik sempat meragukannya. Namun, ia melihat S&P menilai fondasi ekonomi Indonesia secara lebih obyektif dan adil.
Sejurus kemudian, untuk memperkuat ketahanan fiskal dan kepercayaan pasar global, pemerintah juga mengeksekusi penerbitan obligasi dalam mata uang Yuan (Panda Bond) di Cina. Langkah ini membuahkan hasil positif dengan raihan peringkat tertinggi dan tingkat kupon yang sangat rendah.
"Kita keluarkan bond, Panda Bond, cukup laku. Ratingnya AAA/stable, kita terbitin bond-nya dengan bunga 2,19 persen sama 1,9 persen. Cukup rendah untuk keseluruhan, itu bagus. Tapi gitu, masih banyak di publik yang bilang itu tidak real. Sehingga itu masih mengganggu sedikit dari persepsi masyarakat pada kondisi ekonomi kita," kata dia.
Selain penerbitan obligasi, Purbaya menggarisbawahi strategi pemindahan sisa anggaran lebih (SAL) pemerintah ke Himbara dan intervensi di pasar obligasi dengan melakukan buyback untuk meredam gejolak rupiah dan menjaga stabilitas yield SBN.
Intervensi ini, menurut Purbaya, bahkan mendahului skema kebijakan pasar obligasi yang belakangan diterapkan oleh otoritas keuangan Amerika Serikat melalui Menteri Keuangan Scott Bessent.
"Ternyata Amerika melakukan hal yang mirip dan sejenis. Jadi harusnya yang kita terapkan bukan pengetahuan abal-abal, memang sesuatu yang dihitung di atas kertas reaksinya ke perekonomian,” katanya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































