tirto.id - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas jalur perdagangan energi dunia. Setelah menutup Selat Hormuz, Iran kini dilaporkan juga mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb. Di mana Selat Bab el Mandeb dan apa dampaknya jika ditutup?
Selat Bab el-Mandeb adalah salah satu jalur pelayaran paling strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Kekhawatiran penutupan selat tersebut menguat setelah muncul laporan bahwa Iran disebut telah meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup selat tersebut apabila Amerika Serikat menyerang infrastruktur kelistrikan Iran.
Dalam laporan Komando Pusat AS (CENTCOM) terbaru, pasukan AS termasuk jet tempur, drone udara, dan kapal perang telah meluncurkan amunisi presisi yang menghantam puluhan target militer Iran seperti situs pengawasan pantai dan pertahanan udara, infrastruktur logistik militer, dan kemampuan maritim.
Iran Ancam Tutup Selat Bab el Mandeb, Apa Dampaknya?
Menurut laporan Reuters Kamis (16/7/2026), Iran disebut telah meminta kelompok Houthi di Yaman untuk bersiap menutup Selat Bab el-Mandeb, yaitu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur kelistrikan Iran.
Informasi tersebut berasal dari tiga sumber yang mengetahui pembahasan di internal pemerintah Iran. Disebutkan bahwa rencana itu telah dibahas oleh para pemimpin Iran dan pesan kepada Houthi sudah disampaikan. Namun hingga kini, baik pemerintah Iran maupun pihak Houthi belum memberikan pernyataan resmi mengenai laporan tersebut.
Sumber yang dekat dengan Houthi mengatakan kelompok itu telah menyiapkan rudal dan drone di sejumlah lokasi strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Mereka disebut tinggal menunggu perintah untuk mulai melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut.
Jika ancaman itu benar-benar dilakukan, maka kapal-kapal pengangkut minyak dan barang dari Timur Tengah menuju Eropa maupun Asia akan menghadapi risiko besar. Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia sehingga gangguan di kawasan ini dapat menghambat perdagangan internasional.
Ancaman tersebut menjadi perhatian karena saat ini Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk, sudah lebih dulu terganggu akibat konflik. Akibatnya, banyak pengiriman minyak, terutama dari Arab Saudi, dialihkan melalui Laut Merah dan kemudian melewati Selat Bab el-Mandeb.
Dengan kata lain, jalur ini kini menjadi rute utama pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah. Jika Bab el-Mandeb juga tidak bisa dilalui, maka dua jalur ekspor minyak terpenting di kawasan akan sama-sama terganggu.
Kondisi tersebut dapat mengurangi pasokan energi dunia, mendorong kenaikan harga minyak, dan berdampak pada biaya transportasi serta harga berbagai kebutuhan di banyak negara.
Ketegangan di kawasan Teluk juga semakin meningkat setelah Houthi kembali meluncurkan serangan rudal ke arah Arab Saudi. Sejumlah sumber menyebut pemerintah Arab Saudi menganggap ancaman dari Iran dan Houthi sangat serius karena kedua pihak dinilai semakin erat berkoordinasi terkait situasi keamanan di Laut Merah.
Para pengamat menilai bahwa mengganggu pelayaran di Selat Bab el-Mandeb tidak selalu membutuhkan persenjataan yang sangat canggih.
Karena wilayah selat ini relatif sempit, ancaman serangan terhadap kapal saja sudah cukup membuat banyak perusahaan pelayaran memilih menghindari rute tersebut demi alasan keamanan.
Jika hal itu terjadi, kapal-kapal harus memutar melewati ujung selatan Benua Afrika yang membutuhkan waktu lebih lama dan biaya yang lebih mahal.
Pada akhirnya, gangguan di jalur pelayaran ini tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat konflik, namun juga dapat memengaruhi perdagangan dunia, pasokan energi, dan harga berbagai barang yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Lokasi Selat Bab el Mandeb

Mengutip Britannica, Selat Bab el-Mandeb merupakan selat strategis yang terletak di antara Semenanjung Arab di sisi timur laut dan Benua Afrika di sisi barat daya. Selat ini menghubungkan Laut Merah di bagian barat laut dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia di bagian tenggara.
Secara geografis, selat ini memisahkan wilayah Yaman di sebelah timur dengan Djibouti dan Eritrea di sebelah barat. Lebarnya sekitar 32 kilometer (20 mil) dan terbagi menjadi dua jalur pelayaran oleh Pulau Perim (Mayun).
Jalur barat memiliki lebar sekitar 26 kilometer dengan kedalaman mencapai 200 meter, sehingga menjadi rute utama bagi kapal-kapal internasional. Jalur timur hanya sekitar 3 kilometer lebarnya dengan kedalaman yang jauh lebih dangkal, sekitar 10–30 meter, sehingga lebih banyak digunakan oleh kapal-kapal kecil untuk pelayaran lokal.
Selama ribuan tahun, Selat Bab el-Mandeb menjadi jalur perdagangan penting yang menghubungkan kawasan Afrika Timur, Semenanjung Arab, dan India, sekaligus menjadi titik penghubung antara Benua Afrika dan Asia.
Peran strategisnya semakin meningkat setelah dibukanya Terusan Suez pada 1869, karena memungkinkan kapal-kapal yang berlayar antara Asia dan Eropa tidak lagi harus mengelilingi Tanjung Harapan di Afrika.
Kini, Bab el-Mandeb menjadi salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Sekitar 10 persen perdagangan minyak dunia melalui jalur laut melintasi selat ini, menjadikannya titik sempit (chokepoint) perdagangan minyak tersibuk ketiga di dunia setelah Selat Malaka dan Selat Hormuz.
Selain itu, sekitar seperempat perdagangan peti kemas global juga melewati jalur ini, termasuk pengangkutan minyak, biji-bijian, bahan baku, serta berbagai produk manufaktur dari pusat produksi di Asia menuju pasar Eropa.
Karena nilai strategis tersebut, sejumlah negara seperti Amerika Serikat, China, dan beberapa negara Eropa mendirikan pangkalan militer di Djibouti untuk mengamankan kawasan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































