Menuju konten utama
Horizon

Mendakwa Konten Gen Alpha, Mengembalikan Muruah Meme Lawas

Konten brain rot yang populer di kalangan Gen Alpha dianggap tidak berkualitas dan absurd. Maka, lahirlah gerakan mengembalikan nostalgia meme lawas.

Mendakwa Konten Gen Alpha, Mengembalikan Muruah Meme Lawas
Ilustrasi Meme Medsos. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Awal Desember 2025, sebuah waralaba burger ternama di AS, yakni In-N-Out Burger, mengumumkan bahwa mereka telah menghilangkan sebuah nomor antrean, menyusul serangkaian "insiden" yang melibatkan anak-anak usia remaja. Namun, jangan pikir insiden yang dimaksud adalah kejadian mengerikan, tragis, atau fatal. Peristiwa yang dimaksud adalah kekacauan sesaat ketika nomor antrean 67 diumumkan oleh pegawai restoran.

Dalam sebuah video, terlihat kerumunan remaja mengerubungi konter penjualan In-N-Out Burger. Wajah mereka terlihat antusias, seakan-akan tengah mengantisipasi datangnya sosok selebritas kenamaan. Padahal, yang mereka tunggu hanyalah diumumkannya nomor antrean 67. Lalu, ketika pegawai restoran mengumumkan nomor antrean itu, kerumunan remaja itu melonjak dan berteriak kegirangan, seolah-olah negaranya baru pertama lolos ke putaran final Piala Dunia sejak 1938.

Ada apa sebenarnya dengan angka 67? Pertanyaan macam itu sudah ditanyakan banyak sekali orang dewasa tahun ini, tak terkecuali kolumnis The New Yorker, Joshua Rothman. Ia mengajukan pertanyaan tersebut kepada putranya yang berusia remaja, tetapi jawaban yang didapatkan sama sekali tidak jelas. "Itu konten brain rot," jawab sang anak. "Hal-hal random dari internet yang mengisi otakmu."

Hal-hal random? Bukankah tingkah polah kucing yang absurd juga bisa dikategorikan sebagai hal random? Bukankah ucapan-ucapan konyol para petinggi negeri ini juga sudah selayaknya dilabeli hal random? Ya, mungkin itu benar. Akan tetapi, generasi terbaru pengguna internet, Gen Alpha, tampaknya punya kriteria sendiri untuk menyebut hal-hal random yang bisa disebut konten brain rot, setidaknya dalam versi mereka.

Konten brain rot bernama 67, usut punya usut, bermula dari sebuah lagu berjudul "Doot Doot (6 7)" yang dinyanyikan oleh rapper bernama Skrilla. Tidak dijelaskan secara mendetail makna dari 67 yang ada pada lagu tersebut. Yang jelas, lagu itu kemudian dipakai sebagai lagu tema untuk sebuah video yang menampilkan pemain NBA, LaMelo Ball, yang kebetulan bertinggi tubuh 6'7".

Sejak itu, 67 menyebar bak wabah pes di Eropa abad pertengahan. Salah satu penyebabnya adalah video lain yang juga berkaitan dengan bola basket. Dalam video yang tampak direkam di gimnasium sekolah itu, terlihat seorang remaja pria berambut ikal menyerukan angka 67 sambil menampilkan gestur tertentu. Menurut hemat Rothman, video amatir itulah yang akhirnya membuat popularitas 67 jadi tak terkendali. Maknanya sama sekali tidak jelas, tetapi ia sudah kadung menjadi tren yang tidak terelakkan.

Ilustrasi Ancaman Media Sosial

Ilustrasi Ancaman Media Sosial. foto/istockphoto

67 bukan satu-satunya konten brain rot yang begitu merajalela sepanjang 2025. Karakter-karakter absurd ala Italian Brainrot, seperti Tung Tung Tung Sahur, Ballerina Cappuccina, Tralalero Tralala, sampai Bombardiro Crocodilo, juga masuk dalam kategori konten brain rot. Semua karakter tersebut dibuat menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), punya cerita latar, dan bisa ditemukan di berbagai pelantar, mulai dari gim Roblox bernama Steal a Brainrot sampai video-video YouTube dan TikTok.

Sepintas, tidak ada yang berbahaya dari konten-konten itu. Kita bisa melihat fenomena tersebut sebagai sebuah dunia yang diciptakan oleh Gen Alpha untuk membedakannya dari generasi-generasi sebelumnya. Lagi pula, sebagai digital native, wajar saja jika kesamaan yang terjalin antaranggota generasi bermula dari dunia maya dan rekaan digital.

Namun, ada orang-orang yang merasa terganggu dengan masifnya jumlah konten brain rot yang dianggap "merusak kultur meme".

Ya, konten brain rot adalah bagian dari keluarga besar meme. Definisi dan asal muasal istilah meme memang bisa selalu diperdebatkan. Akan tetapi, tanpa memberikan definisi tertentu pun, pengguna internet sudah paham bahwa apa pun bisa menjadi meme, mulai dari Nyan Cat sampai seruan "Hidup Jokowi" dari Prabowo Subianto, yang kemudian ditempelkan ke berbagai macam video. Apa pun itu, asalkan warganet menganggapnya cukup lucu dan absurd, konten tersebut pasti akan tersebar, direplikasi, dimodifikasi sedemikian rupa, lalu diredistribusi hingga akhirnya menyebar ke jutaan, bahkan mungkin miliaran orang.

Meme, sedari awal, memang bukan konten berkualitas tinggi. Akan tetapi, ada anggapan bahwa meme terdahulu berkualitas lebih baik. Ini mungkin terdengar seperti oksimoron. Akan tetapi, jika dipikir-pikir lagi, meme terdahulu bisa digunakan untuk mengajak orang berpikir kritis karena memang ada sesuatu yang ingin disampaikan, bukan sekadar "67" yang tiba-tiba muncul atau disebutkan secara acak.

Nah, orang-orang yang merasa meme kekinian tak lagi berkualitas itu pun telah bersepakat bahwa, mulai 1 Januari 2026, mereka akan melakukan sebuah gerakan yang diberi nama Great Meme Reset. Orang-orang itu berniat kembali ke sepuluh tahun sebelumnya, atau tahun 2016, ketika meme dianggap telah mencapai puncak kualitas. Mereka tidak mau lagi melihat Ballerina Cappuccina dan mengharapkan kembali kehadiran Harambe.

Seorang TikToker bernama Noah Glenn Carter, yang turut menggalakkan Great Meme Reset, berkata kepada Wired, "Ada alasan meme yang ada sekarang disebut brain rot. Meme yang berusia lebih dari 10 tahun, sebagian besarnya punya cerita di baliknya. Atau, ya, setidaknya bisa masuk di akal. Sekarang, makin tidak jelas suatu hal, makin mungkin ia menjadi meme."

Don Caldwell, pemimpin redaksi situs Know Your Meme, platform yang menyediakan penjelasan secara mendetail atas semua meme, turut mengamini pendapat Carter. Menurutnya, kendatipun sebagian darinya tidaklah seburuk yang dipikirkan orang-orang, secara umum meme kekinian memang berlebihan dan tidak lagi lucu sehingga, kata dia, "Ada hasrat untuk kembali pada masa lalu, ketika meme masih punya substansi."

Penulis artikel Wired di atas, Angela Watercutter, berpendapat bahwa alasan utama meme kekinian tidak lagi punya substansi adalah karena AI. Maka, menurutnya, kampanye Great Meme Reset sebenarnya bermakna jauh lebih mendalam lagi, yaitu mengembalikan konten-konten di jagat maya menjadi konten organik.

Header Diajeng Komunikasi Meme

Header Diajeng Komunikasi Meme. tirto.id/Quita

Bicara soal AI, kita harus bicara mengenai slop. Ada alasan Merriam-Webster Dictionary memilih "slop" sebagai Word of the Year 2025. Sebab, sepanjang 2025 kemunculan konten-konten digital berkualitas rendah yang dibuat oleh AI, alias slop, memang demikian masif.

Lantas, apakah semua konten brain rot bisa disebut sebagai slop? Sebenarnya tidak juga. Tren 67, misalnya. Meskipun Skrilla sebetulnya bisa saja menggunakan bantuan AI dalam memproduksi lagunya, tren ini cukup organik. Asal mulanya organik, aplikasi dunia nyatanya organik, praktis tidak ada unsur AI-nya sama sekali.

Italian Brainrot, di sisi lain, bisa diperdebatkan. Di atas kertas, konten tersebut memenuhi syarat untuk disebut sebagai slop: dibuat oleh AI dan berkualitas rendah. Akan tetapi, entah bagaimana, konten itu kadung memiliki signifikansi kultural di kalangan Gen Alpha. Itulah alasan, dalam esainya di Dazed, Al Hassan Ewan menolak menyebutnya sebagai slop.

Argumennya, suka tidak suka, Italian Brainrot mampu menciptakan komunitas baru yang menyatukan sesama manusia. Sementara itu, istilah slop lebih pas jika disematkan pada konten-konten low effort, misalnya video singkat berisi daftar "5 selebritas yang tidak lagi diterima bekerja di Hollywood", yang narasinya ditulis dan dibawakan oleh AI. Konten-konten macam ini, menurut Ewan, lebih destruktif karena, selain sudah terlalu banyak, mereka sama sekali tidak berkontribusi secara kultural.

Di sisi lain, tetap ada yang memilih mengategorisasikan konten Italian Brainrot sebagai slop, semata-mata karena memang memenuhi syarat untuk disebut demikian. Namun, terlepas dari Italian Brainrot layak disebut slop atau tidak, masalah utamanya adalah kehadiran slop itu sendiri. Slop, harus diakui, adalah polutan dalam lautan besar konten jagat maya.

Sebagai respons, selain Great Meme Reset, ada pula langkah yang dilakukan oleh pendiri Twitter, Jack Dorsey. Setelah mematikan Vine pada 2016, miliarder berusia 49 tahun tersebut memutuskan mendanai versi reboot dari Vine yang diberi nama diVine. Dalam platform tersebut, arsip-arsip lawas Vine, yang sempat lenyap dari internet, bakal bisa dinikmati kembali.

Evan Henshaw-Plath, eks karyawan Twitter yang kini membantu Dorsey membangun diVine, kepada Tech Crunch, berkata, "Bisa gak, sih, kita bikin sesuatu yang membawa kita ke masa lalu, yang membuat kita bisa melihat lagi hal-hal dari masa lalu, tetapi di saat bersamaan memberikan kita media sosial yang menyerahkan kontrol algoritma kepada kita, dan kita tahu bahwa yang membuat konten itu adalah manusia?"

Di satu sisi, ini adalah upaya mulia. Namun, di sisi lain, bisa jadi segala upaya ini tak ubahnya menggantang asap, mencoba menghentikan yang tak terhentikan. Bagaimana pun hasilnya kelak, cuma waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, 1 Januari 2026 akan menjadi momen pembuktian: Apakah para "aktivis meme" tadi sungguh-sungguh ingin membuat Great Meme Reset, atau jangan-jangan kampanye ini bakal cuma berakhir sebagai meme yang terlupakan ketika tren baru muncul sebulan kemudian?

Baca juga artikel terkait MEME atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Horizon
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin