tirto.id - Seorang bos sekaligus miliarder muda, dengan tatapan sedingin es, berlagak bak penguasa tak tersentuh. Lalu, hanya karena secangkir kopi yang tanpa sengaja tumpah ke jas mahalnya, nasib seorang perempuan seketika berubah menjadi pusaran konflik, penghinaan, dan tarik-ulur emosi yang berakhir dengan cliffhanger dramatis. Belum terkuak oleh penonton siapa dua tokoh itu ketika episode pertama berakhir dengan kalimat provokatif.
Jempol pemirsa menggulir layar ke atas. Episode berikutnya dimulai, lalu berikutnya lagi, dan tentu saja berikutnya lagi. Tanpa terasa satu jam berlalu dan mikro drama Cina (dracin) puluhan episode itu tamat.
Mikro dracin, tayangan yang semula dianggap sekadar hiburan kelas dua di sela waktu luang, kini berubah jadi mesin bisnis raksasa bernilai puluhan miliar yuan. Statusnya merangkak, dari "anak tiri" industri film dan televisi konvensional menjadi ekosistem utuh yang sama sekali berbeda, lengkap dengan rumah produksi spesialis, platform distribusi mandiri, sampai model bisnis yang membalikkan pakem-pakem lawas Hollywood maupun Hengdian.
Sebagaimana diungkap oleh Wenjia Tang dan Yiwen Wang dalam Global Media and China (2025), perubahan itu berlangsung nyaris tanpa disadari. Saat televisi dan layanan Over-The-Top (OTT) berlomba menawarkan serial berdurasi sekitar 60 menit per episode, mikro dracin melakukan sebaliknya. Satu episode satu-dua menit selesai, jalan ceritanya ngebut, konflik disulut sejak 90 detik pertama. Mereka memanen ledakan-ledakan emosi yang memang sudah dirancang secara presisi: marah, kaget, puas, lalu penasaran sehingga menggulir episode berikutnya.
Hampir semua mikro dracin mengandalkan formula identik. Putra keluarga konglomerat menyembunyikan identitas aslinya; seorang perempuan kembali ke masa lalu untuk balas dendam ke orang-orang yang sudah menghancurkan hidupnya; atau sepasang kekasih, yang terpisah karena salah paham, akhirnya berjumpa lagi lewat serangkaian kebetulan acak yang kalau dipikir-pikir sebenarnya mustahil.
Industri hiburan Cina tak butuh waktu lama membaca selera penonton. Begitu formula tersebut terbukti ampuh, roda bisnis berputar makin kencang. Pada 2024, nilai transaksi konsumen pasar mikro dracin di Cina menembus 50 miliar yuan (Rp132,2 triliun), untuk pertama kalinya melampaui pendapatan box office bioskop.
Dua tahun setelahnya, gelombang mikro dracin merambah Korea Selatan, Asia Tenggara, sampai Amerika Serikat (AS). Di Negeri Abang Sam, industri mikro drama itu membukukan laba sekitar Rp13,3 triliun pada 2024, kemudian diproyeksikan melonjak sampai Rp61,8 triliun pada 2030.
Di Indonesia, mikro dracin laris manis via Melolo, aplikasi mikro drama besutan ByteDance, raksasa teknologi Cina di balik TikTok. Ribuan rumah produksi berlomba menyuplai kisah baru ke platform video sejenis, sementara volume produksinya terus meroket. Seturut Sixth Thone, sepanjang 2021-2025 saja, industri itu sudah memproduksi lebih dari 150 ribu judul!
Akan tetapi, seperti kebanyakan industri lain yang digarap ugal-ugalan, ada ongkos tak kasat mata di baliknya. Ada kisah-kisah manusia yang pelan tapi pasti mulai tersisih oleh tuntutan efisiensi. Kisahnya dimulai dari seorang penulis muda di Kota Xi'an, Cina, yang pada satu malam menemukan cerita bikinannya hidup di layar gawai jutaan orang.
Ketika Cerita Itu Tiba-Tiba Menjadi Milik Orang Lain
Awal 2026, Yang Xing melakukan kebiasaan seperti jutaan warganet lain di China. Setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai dosen di Kota Xi'an, perempuan berusia 28 tahun itu membuka aplikasi drama pendek di HP-nya, lalu menggulir layar, sekadar mencari hiburan sebelum rehat. Setidaknya begitu sampai sebuah adegan membuat jemarinya berhenti.
Di layar, seorang gadis diceritakan lahir kembali dengan satu tujuan, yaitu balas dendam kepada kakaknya yang pernah mencuri sertifikat UTBK miliknya.
Alur itu terasa begitu akrab. Terlalu akrab, malah.
Beberapa tahun sebelumnya, Yang Xing pernah menulis kisah hampir sama di sebuah web novel. Saat itu, harapan sempat muncul, barangkali ada rumah produksi yang membeli hak adaptasi novelnya. Mungkin itu kesempatan melihat tokoh-tokoh yang selama ini hanya hidup lewat tulisan untuk bisa hadir dalam bentuk audiovisual.
Harapan itu hanya bertahan sesaat. Tidak ada izin, tidak ada hak karya dibeli. Namun, kian banyak episode dia tonton, makin jelas mikro dracin itu memplagiat novelnya. Dialog-dialog di dalamnya identik. Urutan peristiwa dalam video nyaris sama. Bahkan, beberapa bagian narasi diadaptasi ke layar tanpa ada perubahan berarti.
Naskahnya menjelma jadi mikrodrama blockbuster sepanjang 45 episode. Tayangan dari naskah plagiat itu mencatat heat index 14 juta, angka yang di dalam industri berarti tontonan massal penghasil jutaan yuan. Namun, saat Yang Xing menuntut haknya, pihak studio hanya menyodorkan kompensasi receh 3.000 hingga 5.000 yuan (Rp8-13 juta).
Setelah debat panjang dan menyusun bukti kesamaan teks baris demi baris, Yang Xing akhirnya menerima total kompensasi sebesar 39.000 yuan (Rp103 juta). Ironisnya, itu masih harus dipotong setengah untuk diserahkan kepada platform web novel tempatnya bermitra.
Ketidakberdayaan para penulis dirawat oleh lambatnya mekanisme hukum digital. Wang Yu, pengacara hak cipta dari Beijing Yingke Law Firm yang berbasis di Shenzhen, memahami betapa timpang posisi para penulis independen berhadapan dengan hukum.
"Bahkan ketika kami membawa kasus-kasus plagiarisme ini ke meja hijau, proses hukumnya bisa berlarut-larut enam bulan sampai dua tahun, dan nilai kompensasi yang didapat biasanya sangat kecil," papar Wang Yu.
Dunia novel web memang sudah lama jadi fondasi industri hiburan digital Negeri Tirai Bambu. Sejak awal 2000-an, jutaan pembaca mengikuti kisah-kisah berseri yang diperbarui hampir tiap hari. Mirip di Indonesia, banyak karya populer dari web novel diadaptasi menjadi serial televisi, film, gim, serta animasi. Bagi penulis, ekosistem itu membuka kans memperoleh penghasilan dari karya yang mereka ciptakan.
Namun, ledakan industri mikro dracin mengubah hubungan tersebut. Novel web berubah menjadi gudang cerita siap panen. Zhu Guli, direktur konten di salah satu studio mikro dracin, mengakui praktik itu sudah jadi rahasia umum. Dia bahkan berani bilang sedikitnya 70 persen drama pendek yang beredar saat ini meminjam plot dari web novel.
Alasannya sederhana. Cerita-cerita itu terbukti disukai pembaca, alurnya sudah teruji di pasar, pun basis penggemarnya sudah tersedia. Bagi rumah produksi yang hampir tiap hari mesti melahirkan judul baru, mengambil cerita populer jauh lebih murah sekaligus aman dibanding membangun naskah orisinal dari awal.

Maraknya pencurian hak cipta tidak lepas dari budaya industri yang kerap menutup mata. Studi Journal of Jishou University (2025) menyebut, industri mikro dracin terjebak lingkaran setan plagiarisme akibat rendahnya bujet produksi dan siklus kerja yang menuntut pasokan cerita baru dalam tempo cepat.
Tekanan tersebut mendorong praktik text spinning atau ronggeng (融梗), yakni membongkar struktur cerita asli lalu membalutnya ulang dengan latar atau identitas tokoh sedikit berbeda.
Yang Xing akhirnya menyadari, di tengah ledakan industri yang nilainya mencapai triliunan rupiah, cerita tak lagi diperlakukan sebagai hasil kerja kreatif yang harus dihargai, alias hanya bahan baku produksi saja. Selama mampu menarik atensi pemirsa, naskah disalin, diperas, lalu diganti dengan cepat ketika tren mulai bergeser.
Namun, ongkos efisiensi industri mikro dracin tak berhenti di penulis. Setelah cerita dipanen semurah mungkin, tekanan berikutnya bergeser ke proses produksi. Aktor yang selama ini jadi wajah utama mikro dracin menghadapi nasib serupa. Zhang Xiaolei salah satu korbannya.
Aktor CEO Beralih jadi Petani dan Jual Sayur di Desa
Setiap pagi, Zhang Xiaolei memetik sayur, memasukkannya ke karung, lalu membawanya ke pasar di Haidong, Provinsi Qinghai, Cina. Sulit membayangkan pria berusia 28 tahun itu pernah jadi salah satu wajah paling dikenal di industri mikro dracin, sebelum dipecat karena digantikan oleh karakter AI.
Selama membintangi lebih dari 200 judul serial, Zhang hampir selalu memerankan ba zong (bos kaya raya dengan pembawaan dingin, berkuasa, dan nyaris tak tersentuh). Di depan layar, ia tampil rapi berbalut jas mahal, memimpin rapat dari balik meja eksekutif, lalu mengambil keputusan senilai miliaran yuan hanya dengan beberapa kalimat.
Jelang akhir 2023, saat industri mikro dracin mencapai puncak popularitas, jadwal syuting Zhang nyaris tak menyisakan waktu istirahat. Demi mengejar target produksi, dia bahkan mengaku sanggup kerja tiga hari beruntun nyaris tanpa tidur.
Sekarang, semua tinggal kenangan. Zhang balik kampung, berkebun dan bertani, lalu menjualnya di pasar. Ia berbagi keseharian melalui konten yang diunggahnya di akun Douyin (TikTok versi Cina) Zhang Xiaolei, dengan 12 ribu lebih pengikut.

Sementara industri mikro dracin terus menikmati lonjakan penonton, cara rumah produksi membuat konten berubah seiring meningkatnya tekanan biaya. Satu episode dengan aktor manusia butuh biaya minimal 10.000 yuan (sekitar Rp26,44 juta). Angka itu belum mencakup ongkos promosi di platform digital.
Beban terbesar pun muncul setelah proses syuting selesai. Sebab, sebuah drama harus lebih dulu tembus algoritma platform agar bisa muncul di hadapan pengguna. Demi dapat tempat di laman utama aplikasi, banyak studio membeli lalu lintas digital (paid traffic), strategi yang menyerap sekitar 80 sampai 85 persen pendapatan.
Profesor komunikasi dari Tsinghua University, Anbin Shi, menyebutnya sebagai bagian dari fenomena Chinese Digital-Intelligent Flows. Menurutnya, industri kreatif Cina kini sudah bergeser, dari eksportir produk budaya jadi eksportir model produksi berbasis analisis data dan algoritma.
Di lapangan, perubahan itu terlihat sederhana, ditandai oleh kian banyaknya karakter virtual yang menggantikan manusia. The Standard melaporkan, penggunaan karakter AI untuk produksi mikro dracin melonjak 21 persen selama setahun terakhir (Januari 2025-Januari 2026.
Zhang bukan satu-satunya aktor yang terdampak disrupsi AI. Xu Peng, aktor lulusan Central Academy of Drama yang juga kondang lewat peran CEO, memilih pulang kampung setelah frekuensi tawaran syuting merosot tajam. Ia kini membantu keluarganya menjual hasil panen sayur di pasar tradisional.
Pada masa jaya, aktor utama mikro dracin mampu mengantongi honor sampai 20.000 yuan (sekitar Rp52,88 juta). Sekarang, banyak aktor kesulitan, bahkan hanya untuk mencari proyek syuting harian dengan bayaran sekitar 1.200 yuan (Rp3 juta).
Ledakan industri mikro dracin memang melahirkan pasar hiburan baru bernilai triliunan rupiah. Namun, di balik satu-dua menit episode penuh ledakan itu, penulis mulai kehilangan hak atas karya, sementara aktor kehilangan ruang di depan kamera.
Demi kejar tayang dan menekan ongkos produksi, kreativitas pelan-pelan bergeser menjadi komoditas. Sementara itu, manusia, yang melahirkan dan menghidupkan cerita, tersisih dari industri yang ikut mereka bangun.
Seberapa jauh lagi industri hiburan digital bersedia mengorbankan hak-hak dasar pekerja kreatifnya, demi mengejar keuntungan instan atas nama efisiensi?
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































