Menuju konten utama
Byte

Seedance 2.0, Model AI yang Bikin Hollywood Ketar-ketir

Tekanan dari stakeholder perfilman membuat ByteDance menunda peluncuran Seedance 2.0. Meski demikian, perkembangan AI jadi tantangan serius di dunia film.

Seedance 2.0, Model AI yang Bikin Hollywood Ketar-ketir
Contoh AI Seedance 2.0. (Instagram/@gmanonair)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Video pendek berdurasi 15 detik menampilkan Tom Cruise dan Brad Pitt baku hantam di atas atap gedung yang hancur, lengkap dengan sudut kamera sinematik, koreografi aksi yang mulus, efek suara memukau, dan musik latar mencekam. Sepintas, adegan itu tampak seperti penggalan film Hollywood.

Namun, ternyata video itu bukan cuplikan film sungguhan. Video tersebut dibuat oleh sutradara asal Irlandia, Ruairí Robinson, hanya dengan dua baris perintah teks (prompt) menggunakan alat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terbaru bernama Seedance 2.0 milik ByteDance, perusahaan teknologi Tiongkok di balik TikTok.

Ketika Robinson mengunggah video itu ke media sosial pada pertengahan Februari 2026, dunia hiburan langsung terguncang.

Yang Khawatir dan yang Meremehkan

Seedance sebenarnya bukan nama baru. Versi pertamanya sudah diluncurkan pada Juni 2025, tapi nyaris tak mendapat perhatian. Sementara Seedance 2.0 adalah versi keduanya yang dirilis pada 12 Februari 2026. Hanya dalam setahun, alat ini sudah berkembang begitu pesat hingga hasilnya bisa mengecoh mata-mata yang tak awas.

Seedance 2.0 mampu menghasilkan video pendek berkualitas sinematik dari perintah teks maupun gambar, audio, serta video yang diunggah pengguna. Hasilnya pun bisa dibilang luar biasa. Gerakan karakternya lebih mulus, kualitas visual antar-frame lebih konsisten, dan ia mampu mengolah adegan dengan banyak karakter sekaligus. Dengan kata lain, Seedance 2.0 mampu menyelesaikan apa yang selama ini jadi masalah bagi generator video AI lainnya.

"Untuk pertama kalinya, saya tidak berpikir ini terlihat bagus untuk AI. Saya justru berpikir ini seperti keluar langsung dari jalur produksi yang nyata," kata Jan-Willem Blom dari studio kreatif Videostate kepada BBC.

David Kwok, pemilik studio animasi yang berbasis di Singapura, Tiny Island Productions, menggambarkan kualitasnya dengan lebih lugas. "Rasanya seperti memiliki sinematografer atau director of photography yang ahli dalam mengarahkan film aksi," ujarnya, juga kepada BBC.

Hasil yang dikeluarkan Seedance 2.0 sudah sangat jauh berbeda ketimbang video hasil AI tiga tahun lalu, khususnya video Will Smith makan spageti yang viral dan terlihat mengerikan. Alih-alih tampak seperti seseorang yang sedang menyantap makanan, "Will Smith" dan spagetinya tampak seperti dua monster yang saling bertarung. Baru-baru ini, seorang pengguna X membagikan video Will Smith makan spageti buatan Seedance 2.0 dan, ya, hasilnya memang jauh lebih realistis.

Video Tom Cruise vs Brad Pitt tadi bukan satu-satunya video "karya" Seedance 2.0 yang diunggah dan viral. Saya sempat menyaksikan salah satu hasil keluaran alat ini dalam sebuah unggahan di pelantar Threads yang menunjukkan transformasi sebuah truk menjadi robot raksasa layaknya dalam film-film Transformers. AI tiga tahun lalu mustahil bisa membuat sesuatu seperti itu.

Maka, bukan hal mengherankan apabila industri perfilman menanggapi kemunculan Seedance 2.0 dengan nada khawatir. Rhett Reese, misalnya. Menanggapi video perkelahian Cruise vs Pitt, penulis skenario waralaba Deadpool dan Zombieland itu menulis di akun X-nya, "Aku benci mengatakannya. Sepertinya tamat sudah riwayat kita."

Lebih jauh lagi, dalam wawancara dengan The New York Times, Reese mengaku video Cruise-Pitt "mengirimkan rasa dingin yang menusuk" ke tulang punggungnya. "Bagi kami semua yang bekerja di industri ini dan mendedikasikan karier serta hidup kami untuknya, ini sungguh menakutkan. Aku bisa membayangkan bagaimana ini nantinya bisa membuat PHK terjadi di mana-mana," ujar Reese.

Ketakutan Reese ini pun lantas diikuti oleh respons konkret dari sejumlah institusi dalam industri perfilman dalam wujud somasi. Disney, Paramount, Netflix, Sony Pictures, serta Motion Pictures Association (MPA) telah mengirimkan "surat sakti" tersebut kepada ByteDance.

Somasi itu tak lepas dari kemunculan karakter-karakter yang merupakan properti intelektual milik studio-studio tadi di "karya-karya" Seedance 2.0. Dari Disney ada Spider-Man (Marvel) hingga Anakin Skywalker (Star Wars), dari Netflix ada karakter-karakter Stranger Things hingga Squid Game, dan dari Paramount ada karakter-karakter Star Trek hingga SpongeBob SquarePants.

Studio-studio itu menggunakan kata-kata yang cukup keras kepada Seedance 2.0. Disney menyebut ByteDance menyuplai Seedance 2.0 dengan "perpustakaan hasil pembajakan". Paramount menyebut itu semua sebagai "pelanggaran terang-terangan". Netflix bahkan mengecap Seedance 2.0 sebagai "mesin pembajakan berkecepatan tinggi". Sementara itu, Sony menuding ByteDance merilis Seedance 2.0 tanpa "guardrail" atau pagar pengaman.

"Dalam satu hari, layanan AI Tiongkok Seedance 2.0 telah melakukan penggunaan tidak sah atas karya-karya berhak cipta AS dalam skala masif. Dengan meluncurkan layanan yang beroperasi tanpa perlindungan berarti terhadap pelanggaran, ByteDance mengabaikan hukum hak cipta yang melindungi hak para kreator dan menopang jutaan pekerjaan Amerika," kata Charles Rivkin, CEO MPA, dikutip dari Axios.

Tak cuma itu, serikat pekerja SAG-AFTRA pun turut mengeluarkan kecaman. Pada 2023 lalu serikat pekerja terbesar di dunia ini pernah terlibat dalam aksi mogok yang, utamanya, disebabkan oleh wacana penggunaan AI untuk menggantikan pekerjaan mereka. Kesepakatan dengan studio kala itu memang berhasil dicapai, tetapi kemunculan Seedance 2.0 membuat mereka kembali bersuara lantang.

Kendati demikian, tidak semua pelaku industri di Hollywood mengeluarkan pernyataan keras. Aktor Zachary Levi, misalnya, mengaku hanya kagum dengan kecepatan perkembangan teknologi AI. Pemeran Shazam itu menulis, "Aku tidak membagikan unggahan tentang perkembangan konten AI karena aku menyukainya, atau bahkan berpikir itu, saat ini, setara dengan kreativitas dan seni manusia. Aku membagikannya untuk menunjukkan proses evolusi dari apa yang pada akhirnya akan jadi sesuatu yang TIDAK BISA DIBEDAKAN dari seni dan hiburan buatan manusia."

Sementara itu, Heather Anne Campbell, produser eksekutif dan penulis di serial animasi Rick and Morty, malah mengaku belum terkesan dengan kemampuan AI dan tidak takut kehilangan pekerjaan.

"Semua orang, kurasa, terpukau oleh sirkus yang datang ke kota dan ikut-ikutan pamer. Aku belum melihat sesuatu yang bagus. Tidak ada yang membuat napasku tertahan, tidak ada yang mengharukan, tidak ada yang provokatif. Semuanya hanya sampah," katanya kepada The New York Times.

Sikap Campbell tersebut senada dengan apa yang disuarakan para kritikus teknologi. Charles Pulliam-Moore dari The Verge menyebut, meski kemajuan teknisnya memang signifikan, hasil yang dikeluarkan Seedance 2.0 tetaplah sampah alias slop. Lance Ulanoff dari TechRadar, yang menonton banyak video Seedance 2.0 secara mendalam, bahkan menemukan sederet keanehan: karakter yang matanya tidak berkedip, dialog yang kaku, duplikat musisi dalam satu band, fisika yang kadang tidak masuk akal, dan kulit karakter yang terkadang tampak seperti plastik.

Christopher Gwinn, seorang kreator digital yang berkarya menggunakan Seedance 2.0, mengungkapkan kepada TechRadar bahwa proses pembuatan sebuah video tidak cuma melibatkan satu prompt ajaib. Ia adalah kombinasi dari penggunaan berbagai alat, penulisan dialog secara “manual”, dan penggunaan ulang karakter di berbagai adegan. Sudah begitu, hasilnya pun masih harus disunting lewat Adobe Premiere dan CapCut.

Artinya, bagi mereka yang benar-benar memahami teknologi, khususnya, Seedance 2.0 tidaklah impresif dan, jelas, tidak akan bisa menggantikan peran manusia dalam proses pembuatan film. Kalaupun digunakan, alat seperti Seedance 2.0 paling-paling hanya bisa untuk membuat storyboard dengan cepat atau memberi efek spesial bagi film bujet rendah, seperti dracin-dracin yang durasi per episodenya cuma 2 menit dan terdiri dari 80 episode. Setidaknya begitulah menurut Kwok dari Tiny Island Productions.

Respons ByteDance, Biaya, dan Tantangan Dunia Film

Usai menerima tekanan bertubi-tubi, ByteDance akhirnya angkat bicara. Perusahaan yang berbasis di Beijing itu mengatakan bahwa mereka "menghormati hak kekayaan intelektual" dan "mengambil langkah-langkah untuk memperkuat perlindungan yang ada" guna mencegah penggunaan kekayaan intelektual dan kemiripan seseorang secara tidak sah oleh pengguna.

ByteDance pun akhirnya menunda peluncuran global API Seedance 2.0 yang semula dijadwalkan pada 24 Februari 2026. API, atau Application Programming Interface, adalah akses yang memungkinkan pengembang pihak ketiga mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam produk mereka.

Dalam dunia AI, peluncuran API dianggap sebagai peluncuran resmi sebuah layanan. Tanpa API, Seedance 2.0 belum sepenuhnya tersedia untuk publik umum secara global dan, hingga kini, ByteDance belum bisa menyampaikan kapan Seedance 2.0 bakal dirilis secara resmi.

Kendati begitu, MPA belum puas. Mereka menuntut supaya, paling lambat pada 27 Februari ini, ByteDance sudah harus mengonfirmasi secara tertulis langkah-langkah apa saja yang bakal mereka tempuh untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran intelektual seperti sebelumnya.

Perlu dicatat, kemarahan Hollywood tidak bisa disamaratakan. Ada pihak seperti Reese yang khawatir karena AI dapat menghilangkan lapangan pekerjaan, ada pula studio-studio yang mencak-mencak atas alasan berbeda. Studio-studio itu tidak terima karena produk mereka dipakai tanpa izin. Tidak seperti OpenAI, yang sudah menandatangani kontrak $1 miliar dengan Disney untuk menggunakan karakter-karakter macam Mickey Mouse di video generator mereka, Sora.

Artinya, ini soal bisnis. ByteDance bisa saja menyelesaikan urusan ini semua dengan cara membayar sejumlah uang. Akan tetapi, biaya untuk menempuh jalur itu jelas akan sangat besar mengingat studio yang ada di Hollywood tidak cuma satu. Oleh karenanya, ByteDance memang perlu memasang guardrail yang jauh lebih ketat untuk menghindari somasi atau urusan hukum lainnya.

Namun, kalaupun ByteDance nantinya bisa memuluskan semua urusan dengan pihak studio, bukan berarti semua kembali tenang seperti sediakala. ByteDance, lewat Seedance 2.0, telah menunjukkan betapa cepatnya perkembangan teknologi AI yang berarti ancaman bagi para pekerja, mulai dari aktor, penulis skenario, hingga desainer masih sangat nyata, bahkan semakin membesar.

Apa yang terjadi pada dunia perfilman ini tak ubahnya automasi yang dulu membuat industri padat karya mesti merumahkan banyak pegawainya. Dengan ancaman sebesar ini, tidak mengejutkan apabila nantinya institusi seperti SAG-AFTRA bakal kembali turun ke jalan untuk mendesak negosiasi ulang terkait penggunaan AI dengan pihak studio. Semua demi mencegah slop masuk ke dunia yang sepanjang hayatnya selalu bergantung pada emosi, daya kreasi, dan keajaiban dari manusia itu sendiri.

Baca juga artikel terkait KECERDASAN BUATAN atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi