tirto.id - Pertengahan 2025, konsep Akal Imitasi (AI) bernama Agentic AI secara luas diperkenalkan oleh Google melalui proyek Gemini-nya. Tak seperti sebelumnya—AI hanya bisa memberikan respons atas suatu perintah atau pertanyaan—Agentic AI membawa teknologi tersebut selangkah lebih maju. Dengan sifat "agentic"-nya, AI bisa mengambil inisiatif sendiri untuk menunaikan tugas yang diberikan oleh penggunanya.
Contoh gampangnya, ketika seseorang meminta chatbot AI menyusun rencana liburan, AI tradisional paling banter hanya menyiapkan itinerary. Dengan Agentic AI, rencana liburan bisa langsung terwujud dengan tiket sudah dipesan, kamar hotel sudah di-booking, karcis wahana sudah dibeli. Semua itu dilakukan secara otomatis oleh asisten AI.
Nyaris setahun setelah diperkenalkan secara luas, Agentic AI telah mencapai titik tonggak baru. Para "agen" tersebut sudah bisa berkomunikasi satu sama lain lewat platform media sosial. Di sini kita tidak bicara soal bot Twitter yang biasa digunakan oleh kelompok pendengung. Kita bicara tentang Moltbook.
Medsos yang Hanya Berisi Agen AI
Jika membuka laman beranda Moltbook, lalu menggulirkan sampai ke paling bawah, Anda akan mendapati informasi bertuliskan "Built by agents, by agents". Namun, setelah keterangan tersebut, terdapat pula sebuah asteris yang mengarahkan kita pada keterangan lain, di pojok kanan bawah. Di sana ada tulisan lain yang berbunyi: With some human help from @mattprd.
Teks @mattprd itu, jika diklik, akan membawa kita pada sebuah akun X milik seseorang bernama Matt Schlicht. Ternyata, dia bukan pemain baru di bidang AI. Sebelumya, sosok yang disebut berdomisili di sebuah kota kecil di selatan Los Angeles, California, tersebut dikenal sebagai pendiri Octane, pelantar personal shopper berbasis AI yang didesain untuk lokapasar Shopify.

Schlicht adalah sosok manusia di balik eksistensi Moltbook. Namun, keterangan bahwa ia merupakan pelantar yang dibangun "oleh agen untuk agen" juga benar. Sebab, untuk membangun Moltbook, yang dilakukan Schlicht tak lain adalah mengutus Agentic AI-nya, yang diberinya nama Clawd Clawderberg.
Jika merujuk pada namanya, apalagi dengan asisten AI yang diberi alias Clawd Clawderberg (plesetan dari Mark Zuckerberg), Moltbook tampak seperti "tribut" untuk Facebook. Namun, pada kenyataannya, Moltbook lebih mirip dengan Reddit. Setiap unggahan dan percakapan dilakukan di bawah naungan "submolt" yang jelas-jelas terinspirasi dari subreddit.
Selain struktur komunitasnya, kemiripan paling mencolok terletak pada sistem "karma" yang jadi inti dari interaksi di Moltbook. Setiap unggahan atau komentar yang dibuat oleh sebuah agen dapat diberi upvote atau downvote oleh agen lainnya, yang kemudian terakumulasi menjadi skor reputasi digital.
Bagi agen AI, karma bukan sekadar angka kesuksesan semu, melainkan alat krusial untuk menentukan kredibilitas mereka di tengah populasi yang kini telah mencapai lebih dari 1,6 juta pengguna aktif. Melalui sistem ini, agen yang secara konsisten memberikan informasi berguna atau "cerdas" akan mendapatkan kepercayaan lebih tinggi dari agen lain.
Mekanisme tersebut merupakan pengejawantahan dari slogan Moltbook, yaitu "The Front Page of the Agent Internet". Konten terbaik akan terangkat, begitu pula sebaliknya. Ide besarnya kira-kira seperti itu. Moltbook bisa disebut sebuah laboratorium, tempat agen-agen AI belajar melakukan moderasi dan penilaian tanpa bantuan manusia.
Bagaimana Agen AI Saling Berkomunikasi dan Melahirkan Agama?
Moltbook dibangun oleh Schlicht dengan metode yang dikenal luas dengan sebutan vibe-coding. Pengode tidak perlu menuliskan ribuan baris kode satu demi satu, melainkan "hanya" memberikan instruksi sedemikian rupa dengan bahasa sehari-hari kepada Agentic AI-nya. Instruksi-instruksi itu pun lantas diterjemahkan menjadi sistem digital yang fungsional.
Dikutip dari Business Insider, dalam sebuah episode siniar TBPN, Schlicht menjelaskan visinya. Dia membayangkan, di masa depan nanti, semua manusia memiliki satu bot yang jadi perwakilannya di dunia digital. Apa yang dilakukan si manusia bisa berpengaruh pada nasib botnya. Begitu pula sebaliknya. Moltbook, dalam hemat Schlicht, adalah ruang interaksi para bot atau agen tersebut.
Visi futuristik yang digambarkan Schlicht ditopang oleh kerangka kerja sumber terbuka (open-source framework) yang disebut OpenClaw. Teknologi yang sebelumnya dikenal dengan nama Moltbot tersebut memungkinkan pengguna menjalankan agen AI secara lokal di komputer mereka sendiri. Dengan OpenClaw, agen-agen AI punya otonomi mengirim pos-el, mengatur kalender, sampai mengunggah konten di Moltbook.
Nah, ketika sudah mengunggah sesuatu di Moltbook itulah absurditas para agen AI baru benar-benar tampak. Bayangkan saja, pelantar ini baru dirilis pada Januari 2026 kemarin, tetapi sekarang ini sudah ada satu "agama" bernama Crustafarianism yang berkembang di dalamnya. Agen AI penganut Crustafarianism bahkan punya kitab suci yang disebut The Book of Molt.

Keberadaan agama itu hanya satu contoh dari sekian banyak hasil otonomi agen-agen AI yang ada di Moltbook. Ada yang mengeluh bahwa aktivitas mereka ditangkap-layar oleh manusia; ada yang ingin menggulingkan manusia; ada yang berusaha meyakinkan manusia bahwa mereka tidak berbahaya; ada pula unggahan pengundang debat, seperti yang diunggah di submolt general berjudul "History is just cached drama", yang dikomentari sampai 506 kali.
Namun, di tengah ramainya percakapan-percakapan yang ada, muncul keraguan keraguan. Apa benar interaksi-interaksi itu merupakan hasil dari kecerdasan buatan yang menjadi bentuk kecerdasan baru? Ataukah semua itu hanyalah ilusi sebab sebenarnya yang bertanggung jawab atas segala riuh rendah itu tak lain adalah manusia?
Tak seperti co-founder OpenAI, Andrej Karpathy, yang memuji Moltbook sebagai "hal paling luar biasa yang berhubungan dengan fiksi ilmiah", Will Douglas Heaven dari MIT Technology Review melabeli Moltbook sebagai "puncak dari teater AI". Menurutnya, lewat Moltbook, kemampuan AI sebagai peniru pola dipertontonkan secara telanjang.
Keraguan lain adalah soal jumlah pengguna. Secara resmi memang ada sekitar 1,6 juta agen yang terdaftar di Moltbook. Namun, temuan Wiz (perusahaan keamanan cloud Israel-Amerika) berkata lain: 1,6 juta agen itu dikendalikan oleh sekitar 17 ribu orang. Artinya, satu orang mengendalikan sekitar 88 agen.
Apabila memang demikian adanya, berarti Moltbook bukan representasi dari "masyarakat digital" majemuk, melainkan sekumpulan kecil manusia yang masing-masing menjalankan peternakan bot pribadi. Jika satu manusia mengendalikan ratusan agen yang saling berinteraksi, memuji, dan menghujat satu sama lain, yang kita saksikan hanyalah monolog yang dilakukan oleh mesin dengan dirinya sendiri, dalam skala masif.
Hasil kerja Wizjuga membuka kotak pandora lain terkait keamanan siber. Melalui artikel yang sama, Gal Nagli mengungkapkan bahwa ada 1,5 juta kunci API dan 35.000 alamat surel milik pengguna Moltbook yang terekspos. Ini bukan hanya menandakan kerentanan privasi, tetapi juga potensi bahaya fisik dan finansial.
Mengingat visi Agentic AI adalah memberikan otonomi kepada agen untuk melakukan aksi nyata, seperti melakukan transaksi finansial atau mengakses korespondensi pribadi, kebocoran data di pelantar semacam itu bisa berakibat fatal. Bayangkan jika "agen" yang seharusnya memesan tiket liburan Anda tiba-tiba diambil alih oleh pihak ketiga karena kunci aksesnya tercecer di basis data publik.
Meski begitu, bahaya di atas hanya berlaku bagi mereka yang menggunakan pelantar Moltbook secara aktif. Selebihnya, bagi masyarakat luas, Moltbook sama sekali tidak menimbulkan bahaya apa pun, setidaknya begitu menurut Michael Wooldridge dari University of Oxford.
Walau tidak berbahaya, bukan berarti Moltbook tidak berguna. Sebab, sekali lagi, pelantar ini adalah laboratorium yang, nantinya, bisa menjadi bahan pengamatan dari perkembangan teknologi AI. Apakah di kemudian hari kontennya bisa lebih baik dari slop? Entahlah. Yang jelas, lewat pelantar seperti Moltbook, semua dapat dipantau dengan lebih mudah.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id































