Menuju konten utama

Kamera Analog Tren Lagi dan Disukai Gen Z, Ada Alasan Psikisnya

Fotografi analog digandrungi Gen Z pada era kamera digital. Bukan sekadar nostalgia, di balik tren tersebut ada penjelasan psikologis soal kesehatan mental.

Kamera Analog Tren Lagi dan Disukai Gen Z, Ada Alasan Psikisnya
Kamera Analog. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kamera digital, termasuk di dalamnya kamera ponsel pintar, mampu menangkap detail paling kecil saat memotret. Kamera tersebut juga bisa langsung dilihat hasilnya, atau dihapus filenya jika dianggap tidak memuaskan. Potret yang tercipta cenderung tajam, bersih, bebas noise, bahkan bisa disempurnakan dengan filter instan atau AI.

Dari semua keunggulan kamera digital itu, cukup unik melihat sebagian anak muda generasi (Gen Z) justru berlomba kembali memakai kamera analog. Mereka tidak sedang bernostalgia pada masa lalu yang belum pernah dijumpai. Mereka memilih langkah "mundur" dengan kamera yang butuh kehati-hatian saat membidik, kapasitasnya terbatas, dan memakan waktu yang jauh lebih lama.

Mengapa fenomena beralihnya Gen Z ke kamera analog bisa muncul? Padahal, benda tersebut lahir dari zaman yang lebih tua dan generasi yang berbeda pula? Bukankah kamera digital, dengan kelengkapan teknologi terbaru, sekilas lebih mendekati kesempurnaan, jauh dibandingkan dengan fotografi analog?

Mengapa Kamera Analog Kembali Populer?

Jika niatan Gen Z hanyalah menciptakan foto dengan nuansa atau suasana vintage atau kuno, sebenarnya filter sudah cukup. Filter vintage mudah ditemui di berbagai aplikasi foto dewasa ini.

Di samping itu, jika kita memahami dasar-dasar fotografi, mengedit sebuah foto hingga terkesan vintage juga dapat dilakukan. Bahkan, kita dapat mengandalkan teknologi kecerdasan artifisial (artificial intelligence, AI) untuk mengedit foto dengan prompt yang sedemikian rupa.

Namun, sebagian Gen Z justru memilih kembali menggunakan kamera analog dengan segala kerumitannya. Mengacu pada laporan Market Reports World, pada tahun 2025, sebanyak 35% dari 42 juta pengguna aktif kamera film di seluruh dunia adalah mereka yang berada dalam rentang usia 18 hingga 30 tahun. Mereka dapat dikategorikan sebagai Gen Z, orang yang lahir sekitar 1997 hingga 2012. Sebagian besar dari jumlah tersebut mengaku terdorong oleh media sosial.

Temuan unik lainnya, ada kenaikan 27 persen soal pencarian seputar kamera film di internet pada 2024. Data lain yang mendukung, penjualan rol film 35mm melonjak hingga 18 juta unit pada 2023. Itu adalah permintaan tertinggi nyaris dalam dua dekade sejak 2004.

Jika melihat dari jenis kamera yang paling laris, sekitar 58% dari pembelian kamera film adalah jenis kamera pakai ulang (reusable), sementara 41% hingga 42% sisanya adalah kamera sekali pakai (disposable).

Data tersebut menunjukkan bahwa fenomena beralihnya Gen Z ke kamera analog bukanlah tren musiman semata. Dominasi kelompok usia muda (35%) dalam kepemilihan kamera film, juga lonjakan pencarian internet (27%) yang beriringan dengan rekor penjualan rol film tertinggi sejak 2004 membuktikan tingginya keterlibatan Gen Z.

Apa yang menyebabkan kenaikan angka-angka ini?

Kamera Analog

Kamera Analog. FOTO/iStockphoto

Dalam sebuah wawancara dengan BBC, salah satu pendiri Film Safe, perusahaan cuci dan pindai film di Inggris, Jack Cole-Bailey, menyebut ada dua faktor utama.

Pertama, romantisme di balik seni kamera analog, yakni sebuah nostalgia. Selain itu, kamera analog mengajarkan penggunanya untuk mempertimbangkan tindakan secara sadar. Pasalnya, dalam sebuah rol film, maksimal foto yang diambil biasanya hanya sejumlah 36 foto.

"(Dengan kamera analog) Anda jadi mengambil langkah mundur dan sedikit memperlambat ritme. Sekarang ini semuanya serba instan, jadi (dengan kamera analog yang) hanya memiliki 36 jepretan (dalam satu rol), Anda dituntut untuk membuat keputusan yang lebih matang," papar Cole-Bailey.

Dilansir dari laman Parents (20/10/2025), minat para Gen Z terhadap kamera analog atau kamera sekali pakai tidak lantas memisahkan mereka dari penggunaan kamera ponsel pintar. Artinya, mereka bisa menggunakan kamera ponsel pintar dan kamera analog secara bersamaan.

"Meskipun minat terhadap kamera sekali pakai secara keseluruhan meningkat, situasinya tampaknya tidak bersifat pilihan mutlak. Kelompok usia (Gen Z) ini menggunakan kamera sekali pakai dan kamera ponsel secara bersamaan dalam keseharian mereka, tetapi kami melihat kamera sekali pakai dimanfaatkan secara lebih spesifik untuk acara sosial, liburan, dan saat berkumpul bersama teman-teman mereka," papar Ashley Reeder Morgan, Wakil Presiden Pemasaran dan Produk Konsumen di Fujifilm North America Corporation.

Kamera analog punya kelebihan khusus dibandingkan kamera digital. Salah satunya, mengurangi waktu menatap layar. Tanpa fitur layar untuk melihat atau mengedit hasil, kamera analog membebaskan Gen Z dari kerumitan berpikir dan membuat mereka fokus sepenuhnya pada momen. Ditambah lagi, kehadiran estetika retro yang autentik serta pengalaman unik saat mencetak film, menjadikan proses ini sebagai aktivitas menyenangkan bagi Gen Z.

Makna di Balik Keterbatasan

Maraknya kembali penggunaan kamera analog viral bukanlah fenomena musiman. Menurut Kristin Diehl, Gal Zauberman, dan Alixandra Barasch dalam “How Taking Photos Increases Enjoyment of Experiences” (2016), mengambil foto dapat membuat seseorang menikmati peristiwa daripada yang tidak melakukannya.

Dalam eksperimen yang melibatkan 2.000 peserta di lapangan dan di laboratorium, orang yang mengambil foto melaporkan tingkat kesenangan yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak. Ini cukup untuk menyangkal anggapan bahwa mengambil foto bisa mengurangi keseluruhan pengalaman.

Namun, pengambilan foto juga perlu disertai partisipasi aktif. Setiap individu perlu memutuskan apa yang ingin diabadikan melalui sebuah kamera agar dia tetap bisa menikmati momen tersebut.

Jika pengambilan foto dilakukan tanpa keputusan aktif individu, kemungkinan besar tidak akan memberikan efek yang sama. Hal ini kemudian berkaitan dengan paradoks pilihan dalam tindakan memotret.

Kamera Analog

Kamera Analog. FOTO/iStockphoto

Mengutip laman The Decision Lab, paradoks pilihan adalah konsep yang diperkenalkan oleh psikolog Barry Schwartz. Konsep ini menyatakan bahwa semakin banyak pilihan yang dimiliki, semakin kurang puas kita dengan keputusan kita.

Fenomena ini terjadi karena dengan memiliki terlalu banyak pilihan, hal itu justru membutuhkan lebih banyak upaya kognitif. Akibatnya, akan terjadi kelelahan pengambilan keputusan hingga meningkatnya penyesalan atas pilihan atau keputusan final.

Hal ini umum terjadi ketika menggunakan kamera biasa dengan teknologi canggih dan kapasitas penyimpanan besar. Biasanya, seseorang bisa mengambil foto tanpa batas dan nantinya bisa dipilih dan dipilah untuk dicetak atau diunggah di media sosial.

Tak jarang, kumpulan foto yang berhasil diambil itu justru menumpuk di ruang penyimpanan. Alasannya, tidak punya cukup waktu dan energi untuk memilih foto terbaik agar bisa diunggah atau dicetak.

Semakin banyak foto yang diambil, artinya semakin banyak pilihan; dan semakin banyak pilihan, semakin lelah dan semakin tinggi juga kemungkinan penyesalan atas keputusan yang diambil.

Namun, dengan penggunaan kamera analog, pilihan yang dimiliki pengguna semakin terbatas. Mereka tidak perlu menyeleksi puluhan hingga ribuan foto dari sebuah momen untuk bisa dibagi.

Kapasitas atau ruang atau kesempatan memotret melalui kamera analog atau kamera sekali pakai cukup terbatas, hanya sekitar 36 film. Artinya, selain tindakan sadar dalam memotret, hasil foto nantinya juga lebih mudah dipilih karena terbatasnya opsi.

Dari sinilah, keterbatasan justru memiliki makna di tengah kerumitan hidup manusia hari ini. Seseorang bisa kembali menjadi manusia berkesadaran, sekaligus memaknai kesederhanaan hingga membuat setiap momen dan peristiwa menjadi lebih berharga.

Apakah Tren Kamera Analog akan Bertahan Lama?

Sebuah tren biasanya dengan mudah dan cepat berganti tren lainnya. Lantas, bagaimana dengan tren kamera analog di kalangan Gen Z ini?

Ashley Reeder Morgan dari Fujifilm North America Corporation menyebutkan dalam wawancara dengan Parents (tayang pada 20 Oktober 2025) mengatakan bahwa tidak ada tanda-tanda penurunan permintaan kamera sekali pakai.

Hal ini bisa dikaitkan dengan semakin populernya hobi tanpa layar di kalangan remaja atau Gen Z. Penggunaan kamera analog setidaknya adalah salah satu faktor yang membantu Gen Z untuk mengurangi durasi menatap layar dalam keseharian, yang ujungnya mendukung kesehatan mental mereka.

Temuan ini sejalan dengan hasil survei Frame of Mind (2025) yang dirilis oleh Fujifilm bekerja sama dengan psikolog klinis Dr. Lauren Cook. Survei tersebut mengungkap bahwa fotografi, khususnya yang berfokus pada momen nyata, memiliki dampak emosional yang mendalam bagi kesehatan mental.

Sebanyak 71% responden menyatakan bahwa mengambil foto secara sadar justru meningkatkan kenikmatan mereka terhadap suatu aktivitas. Selain itu, hampir 80% responden sepakat bahwa melihat-lihat foto lama atau mengenang momen fisik mampu mendatangkan kebahagiaan. Tidak hanya itu, memandangi foto lama juga mampu mengurangi kecemasan serta menghadirkan ketenangan.

Di tengah gempuran dunia digital yang serba cepat dan melelahkan, kamera analog menawarkan pelarian yang bermakna. Tren ini bertahan bukan sekadar karena estetika retronya. Penggunaan kamera analog memberi ruang bagi Gen Z untuk bernapas sejenak: merajut kenangan nyata yang kelak dapat mereka tengok kembali di hari tua.

Baca juga artikel terkait GEN Z atau tulisan lainnya dari Umu Hana Amini

tirto.id - Byte
Kontributor: Umu Hana Amini
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Iswara N Raditya