Menuju konten utama
Byte

Robot Humanoid Bisa Lari Kencang, tapi Tak Punya Otak Cemerlang

Robot humanoid mampu melampaui rekor olahraga manusia, tetapi gagal melakukan tugas sederhana yang membutuhkan adaptasi, presisi, dan otonomi.

Robot Humanoid Bisa Lari Kencang, tapi Tak Punya Otak Cemerlang
Ratusan robot 'humanoid' beraksi dalam pembukaan World Humanoid Robot Games (WHRG) 2026 di National Speed Skating Oval, Beijing, China, Sabtu (22/8/2026). Pertandingan yang berlangsung pada 22-26 Agustus itu melibatkan 2.056 robot yang bertanding dalam kompetisi olahraga seperti atletik, sepak bola, tenis meja maupun kompetisi berbasis skenario kerja seperti perakitan perkakas listrik, membuka kotak kemasan, menyambungkan kabel maupun keterampilan lainnya. ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tujuh belas tahun lalu, di hadapan puluhan ribu pasang mata yang memadati Stadion Olimpiade Berlin, sprinter Jamaika Usain Bolt melakukan sesuatu yang belum pernah bisa dilakukan siapa pun, baik sebelum maupun sesudah itu. Hari itu, 16 Agustus 2009, Bolt berhasil memecahkan rekor dunia lari 100 meter dengan catatan waktu 9,58 detik sekaligus memenangi Kejuaraan Dunia Atletik.

Tujuh belas tahun telah berlalu sejak momen ikonik itu, belum ada satu manusia pun yang sanggup mematahkan catatan milik Bolt. Di sini, kata "manusia" perlu diberi garis bawah karena, belum lama ini, rekor Bolt sudah berhasil dipecahkan dengan catatan waktu yang sulit diterima akal: 8,64 detik. Hanya saja, yang memecahkan rekor itu bukanlah manusia, melainkan satu unit robot humanoid bernama Tiangong Ultra.

Rekor Bolt itu dipecahkan di Beijing dalam ajang bernama World Humanoid Robot Games edisi kedua, yang berlangsung pada 22 hingga 26 Agustus 2026 di National Speed Skating Oval, arena yang sebelumnya dipakai untuk Olimpiade Musim Dingin 2022. Ajang ini kerap disebut media sebagai "Olimpiade Robot" karena memang meniru format Olimpiade manusia, lengkap dengan upacara pembukaan dengan defile tim peserta. Ajang itu juga mempertandingkan cabang-cabang olahraga seperti lari, angkat besi, tinju, dan sepak bola.

Tahun ini, lebih dari 2.000 robot humanoid yang bertanding, mewakili 666 tim dari 16 negara, naik tajam dari sekitar 500 robot dan 280 tim pada 2025. Meski begitu, sekitar 96 persen dari seluruh peserta tetap berasal dari Tiongkok, yang menegaskan dominasi negara itu dalam industri robotika humanoid saat ini.

Tiangong Ultra bukanlah satu-satunya robot yang meraih hasil mencengangkan. Pada hari pembukaan, robot dari perusahaan X-Humanoid berhasil melompat setinggi 2,88 meter dari posisi berdiri, jauh melampaui rekor lompat tinggi manusia 2,45 meter yang dipegang atlet Kuba, Javier Sotomayor, sejak 1993. Belakangan, robot yang sama dilaporkan media Pemerintah Tiongkok, Global Times, berhasil melompat hingga 3,4 meter. Sementara itu, di nomor lari 400 meter, sebuah robot menyelesaikan lomba dalam 39,7 detik, lebih cepat dari rekor dunia 43,03 detik milik pelari Afrika Selatan, Wayde van Niekerk.

Sepintas, deretan rekor tersebut menunjukkan bahwa kini robot sudah jauh melampaui kemampuan fisik manusia. Akan tetapi, realitasnya tidaklah sesederhana itu. Di "Olimpiade Robot" ini, ujian kemampuan para robot tak berhenti sampai di sana. Dari 50 cabang yang dipertandingkan, 30 di antaranya berbentuk kompetisi olahraga, sementara 20 sisanya berbasis skenario kerja sehari-hari seperti menyortir buku, merawat taman, memasang sekrup dengan alat listrik, menimbang bubuk, memasang paku, membuka tutup botol, membongkar kotak kemasan, hingga memungut kacang dengan alat penjepit.

Meski mampu memecahkan rekor milik atlet-atlet top macam Bolt dan Sotomayor, robot-robot itu justru gagal ketika diminta melakukan hal-hal sepele seperti di atas. Mengapa itu bisa terjadi?

Hari terakhir kompetisi robot humanoid di Beijing

Robot berkompetisi pada ajang World Humanoid Robot Games (WHRG) 2026 di National Speed Skating Oval, Beijing, Rabu (26/08/2026). ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia/kye

Alasannya karena cara "berpikir" robot yang bisa dibilang hanya terbatas pada satu dimensi. Gerakan seperti lari cepat atau salto mengikuti lintasan gerak yang sudah ditentukan sebelumnya. Setiap milidetik, sebuah robot tahu persis apa yang harus dilakukan dan berapa besar torsi yang perlu dihasilkan motornya, tanpa perlu benar-benar "berpikir" dalam pengertian mengambil keputusan di tengah situasi yang berubah-ubah.

Masalahnya, dunia tidak bekerja seperti itu. Dalam laporan Reuters, disebutkan bahwa robot-robot ini kesulitan menyikapi dan merespons berbagai situasi tidak sempurna yang sekilas tampak remeh, seperti kabel yang berada pada sudut yang salah, benda yang posisinya sedikit di luar jangkauan, atau paket yang bergeser secara tak terduga. Situasi-situasi itu menuntut robot untuk mengenali objek secara akurat, memosisikan tangan dan tubuhnya dengan presisi, menerapkan gaya yang terkontrol, dan yang paling penting, memulihkan diri dari kesalahan tanpa campur tangan manusia.

Sistem penilaian dalam Olimpiade Robot ini dirancang untuk mendorong otonomi penuh. Pada cabang berbasis skenario kerja, robot yang menyelesaikan tugas secara mandiri mendapat nilai penuh, sementara robot yang masih dikendalikan manusia dari jarak jauh hanya mendapat separuh nilai. Menurut Huawei, salah satu mitra teknologi ajang ini, lebih dari 40 persen dari seluruh cabang perlombaan mengharuskan robot beroperasi sepenuhnya otonom tanpa bantuan manusia sama sekali.

Hasilnya beragam, dan di titik inilah kesenjangan antara tubuh dan otak robot terlihat paling jelas. Dilaporkan dalam jurnal Nature, pada salah satu video yang dirilis kantor berita Pemerintah Tiongkok, CCTV+, sejumlah robot mencoba memaku papan kayu dengan palu. Akan tetapi, hasilnya bisa dibilang masih jauh dari harapan, bahkan ketika dikendalikan oleh operator manusia yang mengenakan sarung tangan sensor gerak sekalipun.

Sejumlah robot lain bahkan mengalami kegagalan yang lebih spektakuler. Gizmodo secara khusus mengompilasi momen-momen kegagalan lucu sekaligus mengkhawatirkan yang terekam selama Olimpiade berlangsung. ​​Ada yang gagal salto depan dan langsung tersungkur, ada yang lengannya lepas kendali saat mencoba mengangkat beban ringan lalu menabrak meja, hingga ada robot penari yang gerakannya begitu limbung sampai terlihat seperti sedang mabuk.

Lalu, ada pula insiden di trek lari, ketika sebuah robot terbakar tepat setelah melintasi garis finis karena menabrak penghalang di ujung lintasan. Robot-robot ini tidak bisa langsung berhenti karena cara mereka berlari berbeda dengan manusia. Dalam analisis Reuters, terlihat bagaimana pada awal lomba robot-robot justru tertinggal dari manusia. Namun, begitu proses start rampung, mereka terus melaju dengan kecepatan penuh.

Dalam proses start, Bolt hanya butuh waktu reaksi 0,146 detik. Sementara Tiangong Ultra butuh waktu hampir satu detik penuh untuk mulai bergerak. Iain Hunter, profesor ilmu olahraga di Brigham Young University, memperkirakan Bolt sebenarnya sudah mencapai jarak lima meter sekitar dua detik lebih dulu dibanding Tiangong.

Namun, setelah itu, Tiangong Ultra unggul. Dengan desain khusus di bagian torso dan pinggang untuk mengurangi beban, serta modifikasi pada motor dan perangkat lunak, Tiangong Ultra akhirnya mampu memenangi lomba. Tiangong Ultra memang butuh 50 langkah, jauh lebih banyak dari Bolt yang hanya perlu 41 langkah. Akan tetapi, langkah-langkah si robot jauh lebih cepat ketimbang sang sprinter. Selain itu, robot juga tidak mengenal kata lelah. Saat manusia mulai melambat di 20 meter terakhir akibat kelelahan otot dan saraf, kecepatan robot tetap bertahan tanpa deselerasi.

Matt Bundle, pakar biomekanika University of Montana, menekankan bahwa percuma saja mencapai kecepatan puncak yang mengagumkan kalau ujung-ujungnya robot itu berakhir jadi rongsokan karena tak mampu berhenti. Parunchaya Jamkrajang, ilmuwan olahraga dari Mahidol University Thailand, menambahkan bahwa kemampuan berbelok dan mengambil keputusan secara mandiri, seperti memutuskan untuk memperlambat laju demi menghindari tabrakan, jauh lebih mengesankan ketimbang sekadar bertambah cepat, dan itu belum terlihat pada robot-robot di Beijing

Pada akhirnya, muncullah sebuah pertanyaan. Apa gunanya robot yang bisa berlari kencang tapi tidak bisa berpikir dan melakukan hal-hal sederhana yang sejatinya jauh lebih membantu bagi manusia? Wang Xingxing, pendiri Unitree, salah satu perusahaan robotika terkemuka Tiongkok yang produknya viral di Polandia, secara terbuka mengakui keterbatasan itu di tengah gegap gempita ajang ini.

Kompetisi robot humanoid di Beijing

Ratusan robot 'humanoid' beraksi dalam pembukaan World Humanoid Robot Games (WHRG) 2026 di National Speed Skating Oval, Beijing, China, Sabtu (22/8/2026). Pertandingan yang berlangsung pada 22-26 Agustus itu melibatkan 2.056 robot yang bertanding dalam kompetisi olahraga seperti atletik, sepak bola, tenis meja maupun kompetisi berbasis skenario kerja seperti perakitan perkakas listrik, membuka kotak kemasan, menyambungkan kabel maupun keterampilan lainnya. ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia/YU

Wang menyebut robot humanoid belum cukup mumpuni untuk diproduksi dan digunakan secara massal, dan bahwa keterbatasan pada model kecerdasan buatan yang mengatur pengambilan keputusan dan interaksi robot masih menjadi hambatan terbesar industri ini. Wang bahkan memperkirakan butuh waktu satu dekade lagi sebelum robot humanoid mencapai "momen ChatGPT", yaitu titik ketika teknologinya benar-benar berguna secara umum dan meledak ke pasar mainstream.

Pengakuan semacam itu penting untuk dicatat, mengingat konteks di balik ajang ini bukan sekadar hiburan atau eksperimen sains semata. Tiongkok sudah lama melakukan ini, dari sekadar acara kampus berbudget rendah pada akhir 1990-an hingga akhirnya menyita perhatian nasional. Pada 2015, Presiden Xi Jinping menyebut robotika sebagai "permata mahkota" dari dunia manufaktur mutakhir dan sejak itulah ajang robotika Tiongkok senantiasa dipromosikan besar-besaran oleh pemerintah.

Dengan kata lain, Tiongkok bertaruh dan berharap banyak pada industri ini, dan hal itu tidak bisa dipisahkan dari muatan politis. Ajang World Humanoid Robot Games 2026 digelar hanya beberapa pekan sebelum Xi dijadwalkan bertemu Donald Trump di Amerika Serikat (AS). Pertemuan itu, salah satunya, akan membahas persaingan teknologi kedua negara.

Dalam percaturan politik Tiongkok-AS, robot sudah menjadi salah satu bidak yang digunakan oleh Trump. Presiden berkulit oranye itu telah secara resmi melarang impor robot humanoid dan anjing asal Tiongkok dengan alasan "keamanan siber dan nasional". Bahkan, Unitree masuk daftar hitam Pentagon lantaran dianggap punya hubungan dengan militer Tiongkok.

Berdasarkan data Mercator Institute for Chinese Studies yang dikutip The Guardian, tahun lalu Tiongkok memproduksi 12.800 unit robot humanoid, atau sekitar 90 persen dari total produksi global. Artinya, untuk saat ini, Tiongkok memang tidak punya lawan sepadan dan itulah yang, ditengarai, membuat mereka percaya diri saja menyiarkan berbagai kegagalan yang dialami robot-robot buatan mereka.

Dari semua ini, bisa disimpulkan bahwa, pertama, Tiongkok untuk saat ini masih jadi pemimpin industri robotika dunia. Mereka tak cuma jadi produsen terbesar tetapi juga jadi negara yang mengirimkan paling banyak wakil di Olimpiade Robot. Akan tetapi, dari Olimpiade Robot itu pula terlihat jelas betapa masih terbatasnya kemampuan robot-robot tersebut, khususnya dalam berpikir dan mengerjakan hal-hal yang sebenarnya bakal sangat membantu manusia.

Namun, seperti kata Xi, robotika adalah "permata mahkota" dari dunia manufaktur mutakhir. Inilah puncak dari kemampuan rekayasa manusia, mulai dari mekanika sampai komputasi. Olimpiade Robot 2026 menunjukkan bahwa keselarasan rekayasa itu masih jauh panggang dari api. Namun, dari situ pula, pertanyaan soal robot yang bisa membantu pekerjaan manusia secara penuh bukan lagi "mungkinkah" melainkan "kapan".

Baca juga artikel terkait ROBOT atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi