Menuju konten utama
Mozaik

Mengenang yang Mati lewat Fotografi Post-Mortem

Menggabungkan seni, kehidupan, dan kematian dalam satu bingkai, fotografi post-mortem menghadirkan tantangan estetika yang unik.

Mengenang yang Mati lewat Fotografi Post-Mortem
Header Mozaik Memotret Jasad. tirto.id/Tino

tirto.id - Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, sebuah praktik fotografi muncul dengan cara unik untuk mengabadikan orang yang telah meninggal. Sampai tahun 1950-an, genre ini kurang diminati atau tak banyak diketahui.

Jenis fotografi ini dikenal sebagai fotografi post-mortem, potret peringatan. Ia populer di Inggris pada era Victoria, juga di Amerika Serikat.

Menggabungkan seni, kehidupan, dan kematian dalam satu bingkai, fotografi post-mortem menghadirkan tantangan estetika yang unik, sekaligus mencerminkan pandangan masyarakat terhadap kematian.

Meskipun terdengar mengerikan dan mungkin tidak biasa bagi banyak orang, fotografi post-mortem merupakan praktik yang menarik dan mengundang perdebatan dalam sejarah fotografi.

Tingginya Kematian Era Victoria

Era Victoria adalah periode sejarah yang berlangsung dari tahun 1837 hingga 1901 selama pemerintahan Ratu Victoria di Britania Raya. Era ini ditandai oleh kemajuan industri, ekspansi kolonial, dan perubahan sosial yang signifikan.

Selama Era Victoria, Britania Raya mengalami revolusi industri yang mengubah negara tersebut menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Perkembangan teknologi seperti mesin uap, kereta api, dan telegraf mempercepat pertumbuhan industri dan perdagangan.

Di sisi lain, berbagai masalah muncul, di antaranya perumahan yang padat, pekerjaan yang tidak terjamin, dan kondisi kesehatan yang buruk telah terjadi pada tahun 1850-an. Selain itu, angka kematian anak-anak sangat tinggi, terutama di kota-kota industri yang padat penduduk dan London.

Sejumlah faktor menjadi penyebab tingginya angka kematian, salah satu kondisi sanitasi yang buruk. Di kota-kota besar, banyak orang hidup di lingkungan yang kotor dan padat penduduk hingga menyebabkan penyebaran penyakit dengan cepat.

Faktor lain adalah kurangnya pengetahuan tentang kesehatan. Saat itu, mereka tidak tahu cara mencegah penyakit atau merawat diri sendiri jika sakit. Banyak orang yang meninggal karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah atau diobati.

Perang juga menjadi penyebab tingginya angka kematian. Perang Krimea yang berlangsung dari tahun 1853 hingga 1856 menyebabkan kematian lebih dari 300.000 orang. Perang juga menyebabkan munculnya berbagai penyakit baru seperti kolera yang kemudian menyebar ke pelbagai belahan dunia.

Tingginya angka kematian melahirkan duka. Banyak yang tidak memiliki foto orang yang dicintai saat mereka masih hidup, sehingga fotografi post-mortem menjadi satu-satunya cara untuk mengabadikan kenangan.

Lewat medium tersebut, fotografer dan keluarga yang berduka berusaha merayakan hidup dalam kematian. Hasilnya, foto-foto post-mortem menempatkan orang mati di sepanjang garis batas antara hidup dan mati.

Foto post-mortem dianggap sebagai harta berharga yang menjaga ikatan dan hubungan antara orang yang meninggal dan yang masih hidup. Foto-foto ini sering dipajang di rumah keluarga, bahkan dijadikan sebagai hadiah untuk kerabat dan teman.

Karena harganya mahal, hanya orang kaya yang mampu membelinya.

Mempersiapkan Diri Menghadapi Kematian

Berbeda dengan sikap masyarakat Barat modern terhadap kematian, masyarakat era Victoria secara terbuka mengakui dan mempersiapkan diri menghadapi kematian.

Pada masa itu, orang-orang berduka dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan zaman sekarang. Mereka sering mengadakan prosesi pemakaman yang rumit dan memperlihatkan tanda-tanda berduka yang jelas, seperti mengenakan pakaian hitam selama beberapa tahun sebagai tanda penghormatan kepada orang yang meninggal.

Orang-orang memiliki pandangan yang berbeda tentang kematian dan cara berduka. Kematian dianggap sebagai bagian alami dari kehidupan dan dijadikan momen penting untuk diabadikan.

Praktik berkabung juga meluas ke perhiasan duka, yang menyertakan pengingat fisik akan almarhum, seperti helaian rambut atau barang favorit mereka.

Fotografi post-mortem menjadi bagian dari prosesi ini. Keluarga akan mengatur jenazah dengan posisi yang alami, terkadang dalam pose yang mirip saat mereka masih hidup, menggunakan bantuan penyangga atau tali tersembunyi.

Foto-foto orang meninggal itu biasanya digambarkan dalam keadaan tidur, terlihat sangat tenang. Kadang-kadang, keluarga mereka yang masih hidup akan ikut berpose di samping jenazah, seakan tidak terjadi apa-apa.

Misalnya sebuah foto yang diambil oleh Alphonse Le Blondel pada tahun 1850, memperlihatkan seorang ayah tampak menjaga anaknya saat sedang tidur. Ini mungkin seperti pemandangan biasa sehari-hari. Jika bukan karena cahayanya yang menyilaukan, mungkin foto itu tidak terlalu menarik perhatian.

Melania Borgo dkk. dalam makalah berjudul "Post-mortem Photography: the Edge Where Life Meets Death?" menyebut bahwa dalam foto Blondel garis merah tipis antara tidur dan kematian diperjelas, secara kiasan, melalui dualisme buaian dan peti mati.

"Pada gambar, di satu sisi kita menemukan buaian (tanda lahir dan penjaga tidur) dan di sisi lain, tepat di luar buaian, ada peti mati (tanda kematian dan penjaga tidur abadi)," ungkapnya.

Adegan dan pose yang diatur dengan cermat dalam foto-foto post-mortem memberikan rasa kendali atas kematian, memungkinkan orang yang berduka untuk mengingat orang yang mereka cintai, seperti sedang tidur nyenyak atau masih hidup.

Metode foto post-mortem berperan menggantikan lukisan potret yang lebih mahal bagi sebagian kelas sosial era Victoria. Selain harus menyewa seorang pelukis, prosesnya juga membutuhkan waktu yang lama untuk diselesaikan.

Praktik ini menjadi kian luas dengan ditemukannya daguerreotype, sebuah proses fotografi pertama yang berhasil pada tahun 1839-1860. Ini melibatkan pembuatan gambar unik di atas pelat tembaga berwarna perak.

Pada awalnya, diperlukan waktu pencahayaan yang lama sekitar satu setengah menit untuk memotret seseorang. Tetapi waktu pemaparan menurun dengan cepat seiring perkembangan teknologi hingga mampu mencapai sekitar 8 detik pada tahun 1850.

Daguerreotypes sangat akurat dan detail, terutama digunakan untuk foto potret. Selain itu, proses foto ini juga lumrah digunakan untuk subjek lain seperti topografi dan dokumentasi.

Infografik Mozaik Memotret Jasad

Infografik Mozaik Memotret Jasad. tirto.id/Tino

Teknik Fotografi Post-Mortem

Seiring kian meluasnya permintaan memotret orang meninggal, harga foto post-mortem pun makin terjangkau sehingga memungkinkan demografi yang lebih luas untuk mengikuti tren praktik berduka.

Apalagi pada tahun 1850-an saat foto cetak di atas kaca (ambrotype) dan kertas mulai dikenalkan untuk mengambil foto potret, popularitas fotografi post-mortem kian tak terbendung.

Para fotografer foto post-mortem akan melakukan manipulasi pada tubuh jenazah agar terlihat seperti masih hidup dengan beberapa cara. Mereka berusaha mengatur tubuh jenazah dalam posisi kaku yang menyerupai posisi tidur atau duduk alami, termasuk memiringkan kepala, menahan mata agar tetap terbuka, dan menata tangan serta kaki agar terlihat santai.

Lalu jenazah dikenakan pakaian yang sering kali merupakan pakaian terbaik mereka. Dekorasi seperti bantal, bunga, atau selimut juga biasanya digunakan untuk menambah kesan kehidupan dalam gambar.

Terkadang, alat bantu seperti kursi akan digunakan untuk menjaga tubuh jenazah dalam posisi yang diinginkan agar tercipta ilusi bahwa orang tersebut masih hidup. Konsep ini juga yang banyak diyakini masyarakat kala itu sebagai bagian dari "A Good Death", saat kematian merupakan proses damai menuju alam lain yang baik hati.

Setelah pengambilan gambar, fotografer dapat melakukan pemrosesan foto dan mengatur kontras, pencahayaan, dan detail wajah.

Fotografi post-mortem mulai berkurang pada pertengahan abad ke-20. Dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut: perubahan sikap terhadap kematian, peningkatan kualitas hidup, dan perkembangan teknologi fotografi.

Orang-orang mulai mengambil lebih banyak foto diri mereka sendiri. Gambar post-mortem kehilangan popularitas dan sekarang lebih banyak digunakan dalam pekerjaan forensik kepolisian dan patologi.

Baca juga artikel terkait FOTOGRAFI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi