Menuju konten utama
Edusains

Teknologi vs Anatomi: Gawai Mendegradasi Kemampuan Tubuh Manusia

Penggunaan gawai dalam frekuensi yang terlalu tinggi dapat menyebabkan sejumlah organ tubuh berubah atau melemah. 

Teknologi vs Anatomi: Gawai Mendegradasi Kemampuan Tubuh Manusia
Human In Wall e Movie. FOTO/Pixar Animation Studios
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Apa yang terjadi pada tubuh manusia yang selama ratusan tahun senantiasa bergantung pada robot untuk melakukan segala hal? Pada 2008, sebuah film animasi dari Pixar berjudul Wall-E berusaha menjawab pertanyaan tersebut.

Wall-E, yang jadi judul film tersebut, adalah sesosok robot pemadat sampah yang bertugas di Bumi pada tahun 2805. Di masa depan itu, dikisahkan bahwa Bumi sudah penuh dengan sampah dan tak lagi ditinggali manusia, dan Wall-E satu-satunya robot yang masih aktif bertugas.

Selama ratusan tahun, ia mampu mengembangkan kecerdasan sekaligus kesadarannya sendiri. Maka, meskipun terbuat dari benda mati, Wall-E pada dasarnya "berevolusi menjadi makhluk hidup".

Lantas, bagaimana dengan kondisi manusianya? Mereka yang tersisa hidup di atas sebuah pesawat luar angkasa mewah bernama Axiom. Manusia-manusia di situ tidak lagi punya daya dan kekuatan untuk hidup layaknya manusia. Tubuh mereka "mengembang" dan tak lagi bisa digunakan untuk beraktivitas, sehingga mereka harus duduk di kursi terbang untuk berpindah tempat.

Inilah, pada dasarnya, yang terjadi ketika manusia, selama ratusan tahun, menggantungkan hidupnya pada bantuan robot. Mereka menjadi malas, lemah, dan terputus dengan realitas, saat planet mereka telah berubah menjadi tempat sampah permanen.

Organ Mana Saja yang Berubah atau Melemah?

Apa yang terjadi dalam film Wall-E tentu saja hanya fiksi dan masih jauh dari kenyataan saat ini. Akan tetapi, bukan berarti tanda-tandanya belum terlihat. Sebab, sudah cukup banyak riset dan temuan yang mendapati bahwa penggunaan teknologi secara berlebihan benar-benar mampu mengubah tubuh manusia, mulai dari bentuk sampai kekuatannya.

Salah satu perubahan yang paling kentara kini ada pada leher dan tulang belakang. Dokter menyebutnya "tech neck", yakni kondisi ketika leher dan bahu mengalami nyeri serta ketegangan akibat penggunaan layar dalam waktu lama, terutama saat kepala menunduk untuk menatap ponsel.

Posisi menunduk semacam ini bukan sekadar kebiasaan sepele. Sebab, saat kepala dimiringkan ke depan, beban yang harus ditopang leher meningkat drastis, dengan tekanan pada tulang belakang leher yang bisa mencapai sekitar 27 kilogram.

Kondisi ini punya nama yang lebih ilmiah, yaitu "forward head posture" atau postur kepala condong ke depan. Postur ini terjadi ketika kepala bergeser ke arah depan relatif terhadap garis gravitasi tubuh karena seseorang terus-menerus menunduk saat membaca layar ponsel, tablet, atau laptop. Efeknya menjalar ke banyak bagian tubuh sekaligus, mulai dari otot leher bagian belakang seperti trapezius yang dipaksa bekerja lebih lama dari semestinya untuk menahan kepala tetap tegak, hingga timbulnya kekakuan dan kelelahan.

Bukti dari dunia medis pun mendukung kekhawatiran ini. Sebuah studi di Turki yang memindai tulang belakang leher pasien muda dengan MRI mendapati bahwa kelompok yang menggunakan ponsel lebih dari empat jam sehari menunjukkan kelengkungan leher, atau sudut Cobb, yang jauh lebih kecil dibanding kelompok yang menggunakan ponsel kurang dari itu.

Sudut Cobb yang mengecil ini sebenarnya menandakan bahwa lengkungan alami leher, yang seharusnya melengkung lembut ke dalam untuk menopang beban kepala secara efisien, perlahan mengempis dan menjadi lebih lurus dari semestinya. Ketika lengkungan ini hilang, beban dari kepala tidak lagi tersebar merata sepanjang tulang belakang leher, melainkan tertumpu lebih langsung pada cakram dan sendi di titik-titik tertentu.

Inilah yang diduga menjelaskan mengapa kelompok pengguna ponsel berat dalam studi tersebut juga menunjukkan lebih banyak perubahan Modic, yaitu semacam tanda peringatan dini di tulang belakang yang biasanya baru muncul pada usia yang jauh lebih tua. Dengan kata lain, leher para pengguna berat ponsel tadi menunjukkan pola keausan yang seharusnya belum sepatutnya terjadi di usia dua puluhan.

Penelitian lain di Korea Selatan mengukur langsung kelelahan otot menggunakan elektromiografi pada orang dewasa yang memakai ponsel selama 10, 20, dan 30 menit. Hasilnya, makin lama durasi penggunaan, makin besar kelelahan pada otot trapezius atas dan otot erector spinae di leher, serta makin tinggi pula skor nyeri yang dirasakan peserta. Studi ini bahkan menyarankan agar orang beristirahat setidaknya setiap 20 menit ketika menggunakan ponsel dalam waktu lama.

Bukan cuma otot dan sendi yang terdampak, kapasitas paru-paru pun ikut kena getahnya. Sebuah tinjauan sistematis yang merangkum enam studi tentang forward head posture menemukan bahwa postur ini berkaitan dengan penurunan kapasitas vital paksa atau forced vital capacity (FVC), atau jumlah udara maksimal yang bisa diembuskan setelah menarik napas sedalam mungkin.

Penurunannya berkisar antara 0,25 hingga 0,81 liter dibanding orang dengan postur kepala normal. Penyebabnya diduga karena otot-otot bantu pernapasan di leher dan dada, seperti sternocleidomastoid dan trapezius atas, ikut memendek dan melemah akibat postur yang buruk, sehingga mengganggu pergerakan diafragma saat menarik napas dalam.

Perubahan lain yang lebih mengejutkan terjadi pada tulang tengkorak. Seorang ilmuwan kesehatan dari University of the Sunshine Coast di Australia, David Shahar, memindai lebih dari seribu foto rontgen tengkorak dan mendapati adanya tonjolan tulang kecil di bagian belakang kepala, tepat di atas leher, yang merupakan external occipital protuberance yang membesar. Tonjolan ini sebagian besar ditemukan pada kelompok usia 18-30 tahun, alih-alih kelompok yang lebih tua.

Shahar menduga tonjolan ini terbentuk karena tubuh berusaha beradaptasi dengan tekanan berulang akibat kepala yang terus-menerus menunduk. Ia berteori bahwa tubuh merespons tekanan itu dengan menumbuhkan lapisan tulang baru di titik tempat otot leher menempel ke tengkorak, sebagai cara untuk menyebarkan beban ke area yang lebih luas. Meski begitu, perlu dicatat bahwa metodologi studi ini kemudian dipertanyakan oleh sejumlah pihak, sehingga temuannya sebaiknya dilihat sebagai indikasi awal, bukan kesimpulan final.

Ilustrasi Sakit Leher

Ilustrasi Sakit Leher. foto/istockphoto

Selain tengkorak dan leher, perubahan juga terjadi pada tangan. Ternyata, kekuatan genggaman atau grip strength, yang selama ini dipakai sebagai salah satu indikator kesehatan tubuh secara keseluruhan, juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan pada generasi yang lebih muda.

Sebuah studi besar yang menganalisis data dari Jerman, Swedia, dan Spanyol antara tahun 2004 hingga 2013, menemukan bahwa kekuatan genggaman pada kelompok lanjut usia yang sudah sangat tua justru meningkat, tetapi pada kelompok dewasa yang lebih muda, kekuatan itu justru stagnan atau bahkan menurun.

Johannes Beller, salah satu peneliti dalam studi tersebut, mengatakan bahwa penurunan kekuatan genggaman pada generasi muda bisa menjadi semacam peringatan dini soal kesehatan fisik jangka panjang mereka. Pasalnya, kekuatan genggaman yang lemah bisa menjadi prediktor risiko kematian dini yang lebih akurat dibanding tekanan darah.

Beller menyebut bahwa pergeseran menuju pekerjaan yang lebih banyak duduk di depan komputer kemungkinan besar turut berkontribusi pada penurunan kebugaran fisik ini. Dia juga menekankan bahwa penurunan kekuatan genggaman bukan disebabkan penggunaan gawai berlebihan saja, melainkan oleh perubahan gaya hidup secara lebih luas.

Bahaya pada Anak

Lantas, bagaimana dengan anak-anak yang sejak kecil sudah akrab dengan layar sentuh? Di sinilah muncul temuan yang cukup menarik sekaligus mengkhawatirkan soal keterampilan motorik halus, yaitu kemampuan mengontrol gerakan kecil pada jari dan tangan yang dibutuhkan untuk hal-hal seperti menulis, memegang pensil, atau mengancingkan baju.

Sebuah studi di Jerman yang mengikuti 141 anak prasekolah selama satu tahun menemukan bahwa, makin banyak waktu yang dihabiskan anak untuk bermain gawai, makin buruk perkembangan keterampilan motorik halus mereka setahun kemudian.

Penelitian ini juga membandingkan dampak dari televisi dan media yang lebih baru seperti ponsel, tablet, dan konsol permainan. Hasilnya, media yang lebih baru berkaitan lebih kuat dengan penurunan keterampilan motorik halus dibanding menonton televisi, sebuah temuan yang terdengar "aneh" mengingat menggeser dan mengetuk layar seharusnya melatih jari.

Para peneliti menduga gerakan pada layar sentuh cenderung berulang dan kurang bervariasi, berbeda dengan aktivitas seperti bermain balok, menggambar, atau bermain di pasir yang melibatkan gerakan tiga dimensi yang jauh lebih kompleks.

Sebastian Suggate, salah satu peneliti di balik studi tersebut, juga menegaskan bahwa pola serupa dia temukan dalam riset-riset berikutnya. Suggate mengatakan bahwa dampak screen time pada keterampilan motorik anak memang tergolong kecil hingga sedang secara individu, tetapi jika diakumulasikan pada level populasi lintas generasi, dampaknya bisa berarti kemunduran kemampuan tangan manusia secara kolektif, mengingat tangan adalah salah satu titik kontak utama manusia dengan dunia nyata.

Selain leher, paru-paru, dan tangan, mata juga tak ketinggalan terkena dampak. Namun, dampaknya tidaklah bersifat langsung.

Donald Mutti, profesor optometri di Ohio State University yang terlibat dalam studi jangka panjang CLEERE mengenai rabun jauh atau miopi pada anak, mengatakan bahwa penelitiannya tidak menemukan hubungan sebab akibat langsung antara aktivitas jarak dekat seperti membaca layar dengan meningkatnya risiko miopi. Yang justru berperan penting, menurut Mutti, adalah berkurangnya waktu yang dihabiskan anak-anak di luar ruangan akibat lebih banyak waktu di depan layar.

Cahaya matahari alami diduga merangsang produksi dopamin pada retina, yang berperan penting dalam perkembangan mata yang sehat, sehingga anak yang jarang terpapar cahaya luar ruangan berisiko lebih tinggi mengalami gangguan penglihatan meski penyebabnya bukan layar itu sendiri secara langsung. Di sini, gawai atau teknologi tidak menghasilkan perubahan secara langsung, tetapi cara hidup yang muncul akibat kehadirannya tetap berkontribusi pada penurunan kualitas organ.

Apa yang dituturkan Mutti ditegaskan oleh temuan lain. Sebuah studi yang memanfaatkan data jam tangan pintar bahkan menyimpulkan bahwa sekitar dua jam di luar ruangan setiap hari memberi perlindungan maksimal terhadap miopi. Syaratnya, setiap sesi di luar ruangan berlangsung minimal 15 menit dan intensitas cahaya mencapai 2.000 lux, sebuah tingkat pencahayaan yang sebenarnya mudah didapat bahkan di tempat teduh sekalipun.

anak main handphone

ilustrasi anak main handphone.foto/shutterstock

Adaptasi Tidak Selalu Baik

Semua temuan ini, entah soal leher yang menunduk, tengkorak yang menumbuhkan tonjolan baru, genggaman yang melemah, atau jari-jari yang kurang luwes, sebenarnya menunjukkan satu pola yang sama. Yakni, bagaimana hebatnya tubuh manusia dalam beradaptasi. Akan tetapi, adaptasi ini tidak selalu berarti baik untuk kesehatan jangka panjang.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam ilmu anatomi. Penelitian klasik dari tahun 1942 tentang seekor kambing yang lahir tanpa kaki depan dan belajar melompat dengan dua kaki belakangnya menunjukkan bahwa tulang panggul dan tungkainya perlahan berubah bentuk untuk menopang cara berjalannya yang baru.

Ini menjadi bukti bahwa kerangka makhluk hidup memang dirancang untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan mekanis yang berulang. Tubuh manusia modern pun, dengan caranya sendiri, perlahan menyesuaikan diri dengan dunia yang lebih banyak dihabiskan sambil menunduk menatap layar.

Untungnya, berbeda dengan manusia dalam film Wall-E yang sudah kehilangan kendali penuh atas tubuhnya sendiri, manusia di dunia nyata masih punya banyak pilihan untuk mengubah arah.

Para ahli yang disebutkan di atas kompak menyarankan hal-hal sederhana, mulai dari mengangkat ponsel setinggi mata alih-alih menunduk untuk menatapnya, mengambil jeda setiap 20 menit untuk meregangkan leher dan bahu, memperbanyak waktu di luar ruangan, hingga melatih tangan lewat aktivitas seperti menulis tangan, memasak, atau bermain alat musik.

Artinya, kita tidak harus serta-merta putus hubungan dengan teknologi dan gawai karena, ya, tidak bisa dipungkiri kehidupan modern menuntut kita untuk selalu menggunakannya. Namun, kita masih punya kesempatan untuk memastikan tubuh kita tidak berakhir seperti para penumpang Axiom, yang begitu nyaman bergantung pada teknologi hingga lupa caranya untuk bergerak sendiri.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN ILMIAH atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi