Menuju konten utama
GWS

Seni Menunda Kematian

Berdasarkan hasil penelitian, orang-orang yang aktif terlibat dalam kegiatan seni dan budaya menunjukkan tanda-tanda penuaan biologis yang lebih lambat.

Seni Menunda Kematian
Ilustrasi apresiasi seni. FOTO/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Banyak jalan menuju Roma. Begitu pula dengan panjang umur. Ada banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mewujudkannya. Ada cara-cara "klasik" seperti rutin berolahraga, makan makanan sehat, dan menghindari konsumsi rokok atau alkohol, tetapi ada pula cara yang, bisa dibilang, sedikit tidak konvensional. Misalnya, lewat apresiasi seni.

Apresiasi seni tidak hadir dalam satu wujud yang saklek. Ada banyak cara untuk melakukannya, mulai dari menyanyi atau menggambar di waktu senggang, sampai mengunjungi museum dan mendatangi konser-konser musik. Yang terpenting adalah melekatkan diri pada aktivitas kesenian, entah sebagai penikmat maupun pelaku.

Apresiasi seni dapat memperpanjang usia merupakan kesimpulan yang didapatkan dari sebuah studi para peneliti University College London yang hasilnya diterbitkan di jurnal Innovation in Aging milik Oxford University Press belum lama ini. Studi tersebut dipimpin Daisy Fancourt, seorang ahli psikobiologi dan epidemiologi yang pernah dipercaya WHO untuk melakukan studi tentang efek seni bagi kesehatan manusia.

Fancourt et al., dalam studi terbarunya itu, menganalisis data lebih dari 3.500 orang dewasa di Inggris Raya dan mendapati bahwa orang-orang yang aktif terlibat dalam kegiatan seni budaya menunjukkan tanda-tanda penuaan biologis yang lebih lambat. Lain itu, efek dari kegiatan seni budaya tersebut terhadap kondisi biologis manusia sama manjurnya dengan efek aktivitas fisik seperti berolahraga.

Penuaan biologis tidak bisa dipisahkan dari apa yang disebut sebagai usia biologis. Tiap manusia memiliki dua jenis usia, yakni usia kronologis dan usia biologis. Usia kronologis bisa dengan mudah dilacak dengan menghitung tahun yang sudah dilalui sejak seseorang lahir. Namun, usia biologis jauh lebih kompleks. Misalnya, seseorang yang berusia 35 tahun di KTP belum tentu berusia 35 tahun secara biologis. Bisa jadi lebih tua karena kebiasaan buruk seperti jarang berolahraga dan merokok, bisa pula lebih muda karena selalu makan makanan sehat dan jarang terkena stres.

Untuk mengukur usia biologis, ilmuwan menggunakan alat yang disebut jam epigenetik. Alat ini bekerja dengan melacak perubahan kimia pada DNA yang terakumulasi seiring waktu, tepatnya pada pola metilasi DNA. Dalam studi yang dipimpin Fancourt tadi, tim menggunakan tujuh jam epigenetik sekaligus untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif.

Hasilnya, mereka menemukan pola yang konsisten. Peserta yang rutin terlibat dalam seni dan budaya, baik yang aktif seperti menyanyi, menari, melukis, atau memotret, maupun yang pasif seperti mengunjungi pameran seni, museum, perpustakaan, atau situs warisan budaya, memiliki skor penuaan biologis yang lebih rendah pada tiga dari tujuh jam epigenetik.

Jam Epigenetik dan Variabel Lain

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita dalami terlebih dahulu apa itu jam epigenetik.

Dalam biologi molekuler, DNA kita tidak hanya menyimpan informasi genetik seperti cetak biru bangunan. Di atas DNA itu, ada lapisan instruksi tambahan yang disebut epigenom, yang mengatur gen mana yang "dinyalakan" dan gen mana yang "dimatikan". Salah satu mekanismenya adalah metilasi DNA: proses di mana gugus kimia kecil menempel pada titik-titik tertentu di rangkaian DNA kita, yang disebut situs CpG. Pola metilasi ini berubah seiring usia, dan perubahan itulah yang dibaca oleh jam epigenetik.

Sekarang, bayangkan DNA Anda sebagai sebuah manuskrip kuno. Jam epigenetik bekerja seperti seorang paleograf yang membaca tanda-tanda penuaan di manuskrip itu, seperti warna kertas yang menguning, tinta yang memudar, dan jamur yang mulai muncul di sudut halaman, untuk menaksir sudah berapa abad naskah itu ada. Namun, tidak semua paleograf membaca tanda yang sama, dan tidak semua tanda sama informatifnya. Di sinilah perbedaan antargenerasi jam menjadi krusial.

Ilustrasi apresiasi seni

Ilustrasi apresiasi seni. FOTO/istockphoto

Jam generasi pertama, seperti Hannum dan Horvath 2013, dilatih semata-mata untuk menebak usia kronologis seseorang berdasarkan pola metilasi DNA. Jam ini cukup akurat. Akan tetapi, karena dilatih menggunakan data lintas-seksi, bukan data longitudinal, mereka cenderung memilih penanda yang berkorelasi dengan usia tanpa benar-benar mencerminkan proses penyebab penuaan.

Jam generasi kedua, seperti PhenoAge, selangkah lebih jauh. Mereka tidak hanya dilatih dengan usia kronologis, tapi juga dengan penanda biologis (biomarker) klinis seperti kadar albumin, kreatinin, glukosa, dan penanda peradangan dalam darah. Dengan kata lain, jam ini mencoba mengukur seberapa tua tubuh Anda secara fungsional.

Jam generasi ketiga, yakni DunedinPoAm dan DunedinPACE, lebih canggih lagi. Keduanya dikembangkan dari studi Dunedin di Selandia Baru yang mengikuti sekelompok orang dari lahir hingga dewasa dan mengukur 18 biomarker kesehatan secara berulang selama bertahun-tahun. Bedanya dengan jam sebelumnya, jam ini mengukur kecepatan penuaan Anda. Jika PhenoAge seperti odometer yang menunjukkan jarak tempuh, DunedinPACE lebih seperti speedometer yang menunjukkan seberapa kencang Anda melaju.

Nah, tiga dari tujuh jam epigenetik yang menunjukkan hasil dalam studi University College London tadi adalah PhenoAge, DunedinPoAm, dan DunedinPACE.

Pada jam PhenoAge, orang yang rutin melakukan apresiasi seni tiap bulan memiliki skor penuaan sekitar 1,02 tahun lebih rendah dibanding mereka yang hanya terlibat sekali atau dua kali setahun. Kemudian, mereka yang aktif secara mingguan menunjukkan selisih 0,8 tahun. Sebagai perbandingan, mereka yang berolahraga mingguan menunjukkan selisih sekitar 0,59 tahun pada jam yang sama. Dengan kata lain, efek seni sedikit lebih besar dari efek olahraga, setidaknya pada ukuran ini.

Selain soal frekuensi, faktor penting lainnya ternyata terletak pada variasi atau ragam kegiatan. Orang-orang dengan keragaman tertinggi menunjukkan skor PhenoAge yang hampir satu tahun lebih rendah dibanding kelompok dengan keragaman rendah. Artinya, semakin beragam aktivitas seni yang kita lakukan, semakin banyak hal menyehatkan yang kita konsumsi, mulai dari stimulasi kognitif, interaksi sosial, ekspresi kreatif, hingga pengalaman estetis.

Temuan ini cenderung lebih terlihat pada orang-orang berusia 40 tahun ke atas. Ini menunjukkan bahwa usia tersebut adalah titik krusial. Bukan berarti kebiasaan seperti ini baru layak dikembangkan saat seseorang sudah mencapai usia tersebut. Justru, semakin dini kebiasaan terbangun, semakin baik hasilnya.

Meski demikian, studi ini bersifat observasional. Artinya, kita tidak bisa serta merta menyimpulkan bahwa apresiasi seni adalah satu-satunya faktor, karena bisa jadi ada hal-hal lain yang menunjang panjang umurnya seseorang, seperti tidak mengalami stres finansial, misalnya. Para peneliti sebetulnya sudah berupaya mengontrol berbagai variabel yang bisa "merusak" hasil, seperti pendapatan, tingkat pendidikan, serta kondisi kesehatan bawaan. Namun, mereka tetap mengingatkan bahwa seni hanyalah salah satu cara, bukan satu-satunya.

Seni Mustajab Mengurangi Stres

Pertanyaannya, apa yang membuat seni bisa begitu mujarab dalam memperpanjang usia manusia?

Pertama, keterlibatan dalam aktivitas dan apresiasi seni terbukti mengurangi penanda stres psikofisiologis, dan stres kronis adalah salah satu pendorong utama percepatan penuaan epigenetik. Kedua, seni juga diketahui menekan jalur inflamasi dalam tubuh. Peradangan kronis atau inflammaging adalah salah satu tanda khas penuaan. Ketiga, ada bukti eksperimental bahwa mendengarkan musik, misalnya, secara nyata mengubah ekspresi gen yang terkait dengan sekresi dopamin, neurogenesis, dan plastisitas sinapsis.

Ini bukan spekulasi baru. Sebuah studi besar yang diterbitkan di BMJ pada 2019 mengamati 6.710 orang dewasa berusia 50 tahun ke atas di Inggris Raya selama 14 tahun dan menemukan bahwa mereka yang secara rutin menghadiri pertunjukan seni, opera, teater, atau pameran memiliki risiko kematian 31 persen lebih rendah dibanding mereka yang tidak pernah. Bahkan, mereka yang hanya pergi sesekali, satu atau dua kali setahun, memiliki risiko kematian 14 persen lebih rendah. Temuan ini bertahan setelah faktor demografis, sosial-ekonomi, kesehatan, dan perilaku dikontrol.

Di sisi otak dan psikologi, peneliti di bidang neuroestetika menemukan bahwa ketika seseorang tergerak oleh karya seni yang bermakna bagi mereka, jaringan default mode otak mereka, bagian yang biasanya aktif saat kita melamun, merencanakan masa depan, atau merenung ke dalam diri, justru ikut menyala. Ini tidak biasa. Otak kita biasanya menonaktifkan jaringan ini saat kita memperhatikan dunia luar. Tapi seni, dalam momen-momen tertentu, mampu mengaktifkan keduanya sekaligus: perhatian ke luar sekaligus refleksi ke dalam.

Sebuah studi lain yang lingkupnya lebih kecil mengamati 92 orang berusia muda yang mengikuti tur galeri seni kontemporer di Firenze, Italia. Hasilnya, tingkat kecemasan turun secara signifikan setelah kunjungan. Empati dan rasa kasih sayang terhadap orang lain pun turut meningkat. Efek ini lebih besar pada mereka yang awalnya memiliki kecemasan tinggi, empati rendah, atau rasa kasih sayang yang rendah.

Ilustrasi apresiasi seni

Ilustrasi apresiasi seni. FOTO/istockphoto

Bagi kita yang tinggal di Indonesia, apresiasi seni yang bisa dilakukan mungkin akan berbeda dengan orang-orang Eropa. Namun, sebenarnya opsi yang kita miliki tak kalah banyak. Pertunjukan seni tradisional bisa jadi opsi yang, sering kali, lebih murah ketimbang pertunjukan seni "impor". Tak cuma itu, di kota-kota seperti Surakarta, saban akhir pekan selalu ada pertunjukan musik gratisan di tengah kota yang selalu bisa dihadiri. Sekali lagi, yang penting bukan jenis seninya, tetapi variasi serta frekuensi keterlibatan kita.

Selain menghadiri acara-acara macam itu, menjadi praktisi seni juga bisa dilakukan siapa pun. Di sini kita tidak bicara soal bagaimana seseorang tiba-tiba jadi Raden Saleh atau Cornel Simanjuntak baru. Namun, kita bisa mengikuti saran yang diberikan Kurt Vonnegut pada seorang siswa SMA pada tahun 2006 dulu.

"Berlatihlah seni apa pun, musik, menyanyi, menari, bermain peran, menggambar, melukis, memahat, puisi, fiksi, esai, reportase, tidak peduli seberapa baik atau buruk, bukan untuk mendapatkan uang dan ketenaran, tetapi untuk mengalami proses menjadi, untuk menemukan apa yang ada di dalam dirimu, untuk mengembangkan jiwamu," tulis Vonnegut dalam suratnya.

Usia Vonnegut terbilang panjang. Lahir pada 1922, penulis Slaughterhouse-Five itu wafat pada 2007 dalam usia 84 tahun. Mungkin, menemukan jati diri, membiarkan jiwa bertumbuh, dan merasakan proses menjadi seseorang yang baru itulah yang pada akhirnya meregenerasi sel-sel tubuh sehingga kita bisa merasakan usia yang panjang dan penuh manfaat.

Baca juga artikel terkait PANJANG UMUR atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - GWS
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi