tirto.id - Ada pepatah lama di dunia jurnalisme: "Bad news is good news [berita buruk adalah berita bagus]." Mengapa? Ya, karena itulah yang laku dibaca orang. Akan tetapi, berapa banyak sebenarnya berita buruk yang bisa dikonsumsi sebelum akhirnya ia berhenti menjadi “bagus” untuk siapa pun? Jawabannya tak bisa diukur pasti. Namun yang jelas, makin hari, makin banyak orang yang menghindari berita buruk.
Survei Reuters Institute Digital News Report 2025 terhadap 48 negara mencatat, sebanyak 40 persen orang di seluruh dunia kini kadang-kadang atau sering menghindari berita. Angka itu naik dari 29 persen pada 2017, sekaligus menjadi rekor tertinggi. Alasan yang diungkapkan responden antara lain: berita yang ada membuat mereka merasa murung (39 persen), merasa kewalahan (31 persen), terlalu banyak membahas konflik dan perang (30 persen), serta merasa tidak berdaya (20 persen).
Dari situ bisa ditarik hipotesis bahwa menghindari bukan berarti orang-orang merasa malas atau apatis. Orang-orang mulai kelelahan. Mereka tidak sanggup lagi mengatasi kabar buruk yang datang bertubi-tubi. Fenomena tersebut punya penjelasan ilmiah kuat.
Ali Jasemi, pakar psikologi dari Wilfrid Laurier University, menulis bahwa kelelahan mengonsumsi berita bukan kelemahan atau kemunduran. Menurutnya, itu terjadi karena otak manusia memang tidak pernah didesain untuk berhadapan dengan kabar buruk atau ancaman yang tingkat dan jumlahnya seperti sekarang: membeludak dan bertubi-tubi.
Kita Cenderung Lebih Tertarik pada Berita Negatif
Untuk menjelaskan semua itu, kita mesti mulai dari hal yang disebut negativity bias, yakni kecenderungan bawaan manusia untuk memberikan perhatian dan bobot lebih besar pada informasi negatif dibanding informasi positif.
Studi eksperimental yang melibatkan lebih dari 1.100 responden dari 17 negara di 6 benua—Brasil, Kanada, Cile, Cina, Denmark, Prancis, Ghana, India, Israel, Italia, Jepang, Selandia Baru, Rusia, Senegal, Swedia, Inggris, dan Amerika Serikat (AS)—menemukan bahwa rata-rata manusia menunjukkan respons fisiologis lebih kuat terhadap berita negatif dibanding berita positif.
Penelitian terbitan jurnal PNAStersebut mengukur kemampuan menghantarkan listrik pada kulit dan variasi detak jantung responden saat menonton klip berita video. Ketika menonton berita negatif, detak jantung mereka berubah secara terukur, setara dengan 10 persen dari rentang variasi normal yang umum ditemukan di antara para peserta studi. Artinya, ketika ada satu hal yang membuat tidak nyaman, tubuh akan bereaksi lebih dulu, sebelum pikiran sempat menilai apakah ancaman itu nyata atau relevan bagi mereka.
Merespons ancaman adalah hal lumrah bagi manusia. Yang bikin segalanya jadi runyam adalah kenyataan bahwa kecenderungan tersebut kini dieksploitasi secara sistematis oleh media digital.
Studi terbitan jurnal Nature Human Behaviour menganalisis lebih dari 105 ribu variasi judul berita dari platform Upworthy, yang menghasilkan sekitar 5,7 juta klik dari 370 juta tayangan lebih. Hasilnya, setiap kata negatif tambahan dalam judul berita meningkatkan angka klik sebesar 2,3 persen. Sementara itu, kata-kata positif justru menurunkan tingkat klik. Di sinilah kecenderungan alami manusia menjadi bagian tak terpisahkan dari algoritma dunia maya.
Masalahnya, struktur otak manusia tidak berubah sejak zaman leluhur kita. Yang berubah adalah skala dunia yang harus dipindai.
Dalam sebagian besar sejarah manusia, ancaman yang diproses oleh sistem saraf kita bersifat lokal, entah itu tetangga yang problematik, kekeringan, ataupun adanya seseorang yang sakit. Informasi dari tempat-tempat jauh nyaris tidak pernah sampai, dan kalaupun sampai, biasanya tidak relevan dengan kelangsungan hidup secara langsung.
Namun kini, sistem neurologis yang sama diminta menyerap informasi perang di Timur Tengah, guncangan finansial di negara tetangga, bencana iklim di Amerika Selatan, dan peristiwa penjambretan di kelurahan sebelah sekaligus. Semuanya tersaji lewat satu sumber yang sama: internet. Masalahnya lagi, tak sedikit di antaranya yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup, meski secara tak langsung.
Kekalahan Akibat Terlalu Banyak Mengonsumsi Berita Buruk
Ketika paparan berita buruk tidak terkendali, dampaknya bisa melewati batas kelelahan biasa dan masuk ke wilayah klinis. Para peneliti memperkenalkan konsep bernama Problematic News Consumption (PNC), yaitu pola konsumsi berita yang ditandai oleh keasyikan berlebihan, ketidakmampuan meregulasi emosi, dan gangguan pada fungsi kehidupan sehari-hari.
Studi terbitan jurnal Health Communication menemukan, orang yang terklasifikasi mengalami PNC parah menunjukkan gangguan mental dan fisik jauh lebih besar dibanding kelompok dengan konsumsi berita lebih terkendali. Menurut penelitian lanjutannya, sebanyak 7,5 persen dari sampel yang disurvei masuk kategori PNC parah, dengan skor tinggi pada semua lima dimensi: keasyikan, preokupasi (pikiran tersita ke satu hal terus-menerus) , misregulasi, kurangnya kontrol diri, dan gangguan pada kehidupan sehari-hari.

Lalu, mengapa sebagian orang bisa jatuh ke dalam PNC, sementara yang lain tidak? Sebagian jawabannya ada di dalam otak.
Dalam kondisi normal, bagian otak yang disebut inferior frontal gyrus (IFG) secara selektif menyaring berita buruk saat memperbarui keyakinan berdasarkan informasi baru. Filter tersebut membuat orang secara tidak sadar berkecenderungan merasa hal-hal buruk lebih kecil kemungkinannya menimpa dirinya dibanding orang lain.
Namun, filter itu tidak selalu bekerja. Para ilmuwan di University of London menemukan, IFG bisa berhenti berfungsi saat otak mendeteksi ancaman.
Dalam konteks evolusi, itu masuk akal. Ketika predator mendekat, otak tidak boleh menyaring informasi apa pun. Semua data, termasuk yang buruk, harus masuk agar kita bisa bertahan hidup.
Masalahnya, otak tidak bisa membedakan antara ancaman nyata di depan mata dengan ancaman yang hanya dibaca di layar ponsel. Ketika kita terus-menerus mengonsumsi berita buruk, yang dalam bahasa sehari-hari sering disebut doomscrolling, otak kita masuk ke mode siaga yang sama. Filter IFG mati, dan makin lama kita berada di mode itu, makin sulit otak kita kembali menyaring informasi negatif secara normal.
Namun, bukan berarti kita harus berhenti mengonsumsi berita, apalagi jika memang kondisi faktual-aktual mengharuskan arus informasi didominasi kabar buruk.
Setidaknya kita bisa tetap membiarkan kabar terkini masuk, tetapi tetap menjaga kewarasan. Misalnya dengan membatasi waktu konsumsi, berfokus pada berita mendalam dan komprehensif, alih-alih perintilan-perintilan; membedakan antara berita dan rage bait; serta mencoba melakukan aksi konkret, untuk mengurangi tekanan psikologis.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































