tirto.id - Spanyol punya filosofi tiki-taka; Italia sohor dengan taktik catenaccio yang efektif untuk bertahan serta mengunci pergerakan lawan; Brasil adalah jagonya menampilkan seni “tarian indah” jogo bonito kala menggiring bola. Namun, ada pula yang tak kalah unik dari ketiga filosofi sepak bola tersebut. Ialah viveza criolla, yang berkembang dan masyhur di Argentina.
Berbeda dari tiga negara sebelumnya, viveza criolla bukanlah strategi sepak bola yang sepenuhnya berkaitan dengan teknik permainan. Ia merupakan karakter masyarakat, budaya yang tidak langsung masuk lapangan hijau, tetapi cukup mampu memengaruhi gaya bermain sepak bola Argentina.
Dalam bahasa Spanyol, viveza bermakna harfiah kelincahan. Mendapatkan imbuhan criolla, frasa tersebut diterjemahkan sebagai kelincahan kreol. Makna kreol dalam hal ini diartikan sebagai pribumi indigenous, yang bermaksud menunjukkan karakteristik cerdik orang-orang pribumi. Karakteristik itu mencirikan cara hidup orang-orang berumpun Bahasa Spanyol di Amerika Latin, seperti Argentina, Kolombia, Ekuador, Peru, Uruguay, Cile, dan Venezuela.
Di Argentina, viveza criolla dikaitkan dengan budaya penduduk lokal Buenos Aires (porteños). Budaya tersebut dianggap lahir dari cacatnya moral akibat krisis ekonomi dan politik. Masyarakat Argentina dipaksa beradaptasi dari krisis dengan cara “mengakalinya”. Bagi mereka, segala bentuk cara bertahan hidup—meski amoral dan ilegal—merupakan suatu kewajaran.
Namun, karena kebiasaan itu, masyarakat Argentina dinilai kurang menghormati orang lain dan abai terhadap sesama. Mereka hanya mementingkan kesenangan individu, sektoral, dan perusahaan.
Lewat filosofi viveza criolla, masyarakat Argentina bercorak oportunistis. Mereka akan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan peluang, tanpa menyia-nyiakan sarana, meski harus mengabaikan konsekuensi yang dapat membahayakan orang lain.
Misalnya dalam permainan kartu el truco, yang dianalisis oleh Miguel Rodriguez Villafane dengan membandingkannya lewat realitas politik. Dalam permainan itu, hanya pemain licik yang akan keluar sebagai pemenang, karena berhasil menipu lawannya.
Dinamika el truco mewakili realitas politik dan sosial. Permainan itu menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kartu adalah pemegang kuasa, dan penonton sebagai pakar atau ahli tafsir hanya dapat menjustifikasi situasi.
Begitu pula ketika inflasi ekonomi mengguncang Argentina pada 2019. Masyarakat memboyong berbagai obat-obatan dari toko, menimbunnya dalam jangka tertentu, lalu menjualnya kembali di toko yang sama dengan harga lebih tinggi. Dari sudut pandang hukum, tentu praktik jual-beli tersebut menyalahi aturan. Namun, di tengah kemelut krisis, pakar menilai praktik yang dilakoni masyarakat Argentina adalah strategi cerdas.
Manifestasi di Lapangan Hijau
Dalam sejarahnya, nenek moyang viveza criolla kemungkinan berasal dari budaya Italia. Dalam rentang 1850-1950, sejumlah besar migran Italia berbondong-bondong ke Argentina, lalu melahirkan lebih dari 30 juta generasi keturunan Italia (62,5 persen dari populasi).
Ketika bertransformasi ke lapangan hijau, viveza criolla laksana tikaman yang menghunjam celah kecil. Filosofi tersebut berubah menjadi karakter bermain yang pragmatis. Para pemain sepak bola Argentina dikabarkan kerap melakukan “penipuan kecil” kepada wasit, memprovokasi lawan, atau mencuri momentum lewat trik-trik sederhana tetapi cukup manjur.
Itu mirip, tetapi tidak identik, dengan jeitinho di Brasil atau enchufe di Spanyol. Bilamana dalam suatu pertandingan mereka harus menggunakan cara-cara licik dan kotor, pemain bola Argentina tak berpikir dua kali. Oleh masyarakat Argentina, kultur tersebut tidak dicap sebagai dosa atau kejahatan, melainkan strategi taktis yang patut diapresiasi.
Contoh nyatanya adalah aksi Emiliano Martinez saat menjaga gawang Argentina pada babak adu penalti kontra Prancis di final Piala Dunia 2022. Martinez dengan sengaja menyerang psike pemain Prancis lewat intimidasi verbal dan gerakan provokatif. Hasilnya, lawan terpancing emosi, dan dianggap lemah secara intelektual karena gagal mencetak gol penentu juara.

Jika menilik budaya lokal yang berkembang di Argentina, praksis viveza criolla dapat dengan mudah ditemukan di el potrero. Itu merupakan sepak bola jalanan yang digelar di lapangan sepak bola informal di jalanan yang sempit, keras, atau tanah kosong yang tidak rata di lingkungan urban Argentina.
Salah satu gelanggang el potrero yang terkenal adalah Villa Fiorito, tanah kelahiran dan klub masa kecil legenda Argentina, Diego Armando Maradona. Uniknya, para pemain amatir di Villa Fiorito tak melakukan pemanasan sebagaimana dilakukan oleh para profesional sebelum bertanding. Mereka justru menghirup “serbuk putih” yang diduga narkoba, meminum bir, dan tertawa-tawa, seolah menganggap situasi itu lumrah dan menyenangkan.
Belakangan, el potrero punya panggung turnamennya sendiri. Kompetisi sepak bola 7 vs. 7 diselenggarakan sejak 2024 atas inisiasi Sergio el Kun Agüero, mantan pemain Manchester City yang sekaligus pernah menjadi menantu Maradona.
Di kesempatan lain, para penggemar juga tampak bersorak-sorai mempertaruhkan dan memanipulasi pertandingan lewat judi. Bahkan, ketika pemain jagoan para penggemar ditekel keras pemain lawan, suporter bisa bebas masuk ke lapangan, mengintervensi pertandingan, sampai memukuli pemain lawan yang tak mereka suka.
Pengalaman itu salah satunya dirasakan oleh mantan kiper profesional Boca Juniors, Josué Ayala, yang beralih profesi sebagai penjaga gawang Alejo FC (TyC del Potrero). Martabatnya dielu-elukan layaknya juru selamat usai berhasil menepis tendangan penalti yang menghasilkan “hadiah turnamen” senilai 13 juta peso.
Sumber hadiah turnamen itu pun tak pernah jelas dan bersih. Namun yang jelas, bandar judi berperan dan turut terlibat memanipulasi pertandingan.
Bagi masyarakat Argentina, mengimplementasikan viveza criolla adalah bentuk pengarakteran sosok legendaris El Picaro dari serial TV komedi Spanyol yang pertama kali tayang pada 1974. El Picaro merupakan tokoh kelas bawah yang tak berkekuatan fisik maupun finansial, tetapi selalu berhasil memenangkan pertaruhan hidup karena otaknya lebih encer dari penguasa.
Kontroversi Viveza Criolla
Manifestasi sempurna viveza criolla terjadi pada babak perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko. Kala itu, Maradona berhasil mencetak gol ke gawang Inggris menggunakan tangan kirinya.
Pada menit ke-51, Maradona seolah berhasil menunjukkan sejauh mana viveza criolla diimplementasikan. Ketika bola diumpan lambung ke arahnya, Maradona tahu bahwa kiper Inggris, Peter Shilton, hendak meninjunya. Maka, sekelebat dia menjulurkan lengan di atas kepala (agar tampak seolah sundulan), lalu memukul bola menuju gawang.
Di mata publik Inggris atau prinsip fair play, tindakan Maradona terlihat seperti kecurangan disengaja. Namun, pada saat bersamaan, wasit tidak melihat ada yang salah dengan gol Maradona. Di samping itu, teknologi Video Assistant Referee (VAR) belum dibuat, dan keputusan semata-mata hanya mengandalkan intuisi serta pengamatan wasit.
Gol yang dikenal dengan Hand of God itu menjadi legenda. Sebab, Argentina tak hanya berhasil menang atas Inggris 2-1, tetapi berhasil menjadi kampiun Piala Dunia setelah melenggang sampai partai puncak dan memenangi final.
Bagi rakyat Argentina, gol Hand of God adalah mahakarya, simbol perlawanan cerdik untuk "menggulingkan" raksasa Eropa setelah Perang Falkland/Malvinas (sejak 1833, dan memuncak pada 2 April-14 Juni 1982).
Perselisihan antara Argentina dan Inggris itu tak hanya bertahan dalam urat tegang politik, melainkan memori publik sepak bola. Maradona menangkap persoalan itu dan mempraktikannya di lapangan. Bahkan, dia dengan terang menyatakan kemenangannya atas Inggris sebagai bagian dari balas dendam.
Sejarah seolah terulang kembali. Pada 16 Juli 2026, Argentina menang atas Inggris dengan skor persis 2-1 pada laga semifinal Piala Dunia 2026. Ada yang menarik sekaligus menjadi kontroversi di luar lapangan saat perayaan kemenangan Argentina. Dua pemain Argentina, Lisandro Martinez dan Giovani Lo Celso, membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas Son Argentinas" di tengah lapangan.
Tak hanya itu, di ruang ganti, mereka lanjut menari dan menyanyikan "La Cuarta Estrella (Bintang Keempat)", lagu yang dimaksudkan sebagai harapan Albiceleste merengkuh gelar keempat Piala Dunia.
Saya orang Argentina sejak lahir hingga meninggal,
Untuk Malvinas, untuk Diego, untuk gelar terakhir Leo,
Argentina, saya ingin melihat kalian menjadi juara lagi.
Nyanyian itu tak hanya menautkan Perang Falkland/Malvinas, melainkan perjuangan legenda mereka, Maradona, dan sang pewaris kejayaan, Lionel Messi. Bagi publik Argentina, Inggris adalah musuh bebuyutan yang harus dikalahkan.
Penyebutan kepulauan itu sebagai Kepulauan Malvinas, alih-alih Kepulauan Falkland, juga bagian dari strategi mendekonstruksi bahasa. Itu dikarenakan nama “Falkland Island” lebih mengarah pada unsur teritorial Inggris, sedangkan “Islas Malvinas”, yang berbahasa Spanyol, mengarah pada identitas lokal Argentina.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































