Menuju konten utama

Tamatnya Inggris Langgengkan Kutukan Keramat Juara Piala Dunia

Sepanjang sejarah, belum pernah ada pelatih asing yang mampu membawa tim besutannya juara Piala Dunia. Tersingkirnya Inggris melanggengkan kutukan itu.

Tamatnya Inggris Langgengkan Kutukan Keramat Juara Piala Dunia
Pemain Timnas Inggris, Harry Kane. (ANTARA FOTO/Action Images via Reuters/Lee Smith/rwa/NBL).
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kiprah Inggris di Piala Dunia 2026 tamat usai kalah dari Argentina dengan skor 1-2 di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, Amerika Serikat, pada Rabu (15/7/2026) waktu setempat. Terdepaknya The Three Lions di semifinal sekaligus melanggengkan kutukan keramat yang belum pernah tercemar sejak Piala Dunia pertama kali digelar. Apakah itu?

Di Piala Dunia 2026, tim nasional Inggris ditangani oleh pelatih asing, yakni Thomas Tuchel. Faktanya, juru racik asal Jerman itu gagal memungkasi dahaga juara yang terakhir kali direngkuh pasukan Tiga Singa pada Piala Dunia 1966 silam. Football's coming home pun lagi-lagi cuma menjadi kicauan yang entah kapan bisa tercapai.

Kandasnya Harry Kane dan kawan-kawan menjadi babak baru dan misteri terbesar dalam perjalanan riwayat Piala Dunia. Sepanjang sejarah semenjak Piala Dunia dihelat di Uruguay pada 1930, belum pernah ada negara yang bisa juara bersama pelatih ekspatriat.

Timnas Inggris

Inggris usai kalah dari Argentina dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Atlanta, AS, 15 Juli 2026. AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA

Hal-hal yang Terkadang Mustahil Dipadukan

Mengapa pelatih ekspatriat atau pelatih asing teramat sulit mengantarkan negara yang dibesutnya meraih juara di Piala Dunia yang bahkan belum pernah terjadi hingga saat ini?

Di Piala Dunia 2026, sebenarnya bukan hanya Tuchel, ada juga Carlo Ancelotti yang menukangi Brasil. Di level klub, dua pelatih ini memang bergelimang prestasi. Namun, itu ternyata tidak cukup ketika harus mengusung misi juara Piala Dunia untuk timnas negara lain.

Kenapa bisa begitu? Dinamika sosiologis tim nasional bisa menjadi jawabannya. Di tingkatan klub, seorang pelatih asing bisa meminta manajemen untuk membeli pemain yang sejalan dengan sistemnya. Namun, itu berbeda jika sudah di level timnas.

Pelatih timnas harus selaras dengan identitas kultural sebuah bangsa. Untuk pelatih lokal, hal itu barangkali tidak terlalu menjadi masalah karena memang sudah memiliki keterikatan batin, budaya termasuk bahasa, juga jiwa nasionalisme serta perasaan emosional, sebangsa dan setanahair.

Pelatih Chelsea Thomas Tuchel

Thomas Tuchel yang kini menjadi pelatih Timnas Inggris. ANTARA FOTO/REUTERS/Anton Vaganov/foc/cfo

Sebaliknya, sosok pelatih dari bangsa lain tidak bakal pernah bisa atau setidaknya sulit untuk memiliki kesan rasa batiniah seperti itu. Seberapa keras mereka mencoba belajar atau menghafal lagu kebangsaan, misalnya, getaran yang dirasakan tentunya tidak sekuat atau sedalam bangsa sendiri.

Teori ini didukung oleh Thomas Peeters, guru besar Erasmus School of Economics (ESE), Erasmus University Rotterdam, Belanda, yang juga memiliki spesialisasi serta keahlian di bidang ekonomi olahraga (sports economics).

Menurut Peeters, adanya keterikatan budaya antara negara asal dan negara tempat seseorang bekerja, termasuk pelatih tim nasional, cenderung memiliki kemungkinan keberhasilan yang lebih besar. Bahasa, sejarah, dan tradisi yang sama bakal semakin memudahkan terjalin sebuah ikatan.

Itulah kenapa, misalnya, Haiti mengambil pelatih tim nasional asal Prancis, atau Curaçao menunjuk juru taktik dari Belanda. Unsur kedekatan budaya karena keterkaitan sejarah, termasuk kolonialisme di masa lalu, menjadi alasan kuat atas keputusan tersebut.

"Kita tidak membahas formasi atau gaya bermain. Kita juga tidak tahu apa yang mereka katakan kepada para pemain di ruang ganti," tulis Peeters di laman Erasmus University Rotterdam.

Kebijakan merekrut pelatih luar untuk timnas, lanjut Peeters, biasanya dilakukan oleh negara-negara sepak bola yang lebih lemah. Untuk negara-negara mapan di ranah sepak bola, hal tersebut lebih jarang terjadi, meskipun Inggris, juga Brasil, di Piala Dunia 2026 boleh dianggap sebagai anomali.

Karakter permainan sepak bola dari negara itu juga bisa menjadi persoalan. Contoh terbaru yang paling nyata adalah Brasil dan Ancelotti. Apakah gaya taktis -bahkan defensif- ala Italia Don Carlo bisa berpadu sempurna dengan sepak bola indah Jogo Bonito yang atraktif khas anak-anak Samba? Ternyata tidak!

Sempat Nyaris, tapi Selalu Berakhir Miris

Riwayat Piala Dunia sudah menginjak usia 96 tahun, hampir satu abad. Namun, sepanjang gelaran sepak bola terbesar sejagat itu dari masa ke masa, sejak 1930 hingga 2026, juaranya selalu tim yang dibesut oleh pelatih lokal alias pelatih dari negara itu sendiri.

Menukil laporan pertandingan dari laman FIFA, George Raynor sebenarnya nyaris saja memecahkan mitos tersebut di Piala Dunia 1958. Juru taktik asal Inggris ini secara mengejutkan mampu memimpin tim nasional Swedia hingga ke partai puncak untuk menghadapi Brasil.

Sayangnya, harapan Raynor dan seluruh rakyat Swedia seketika dihancurkan oleh remaja Samba yang waktu itu masih berumur 17 tahun, Pele. Brasil menang dengan skor telak 5-2 dan berhak membawa pulang trofi Jules Rimet untuk pertama kalinya.

Berikutnya, ada Ernst Happel asal Austria yang kala itu menangani Belanda. Tanpa menyertakan Johan Cruyff, De Oranje di bawah tangan dingin Happel justru melenggang sampai ke final Piala Dunia 1978 yang diselenggarakan di Argentina.

Hanya saja, lagi-lagi hukum alam rupanya belum selaras dengan pelatih asing. Di final, dikutip dari laman Sports Illustrated, Belanda takluk 1-3 dari Argentina melalui babak perpanjangan waktu yang penuh drama. Happel dan pasukan oranye harus melupakan trofi Piala Dunia.

George Raynor, sosok asal Inggris yang membawa Swedia ke final Piala Dunia 1958 meskipun gagal juara.

George Raynor. wikimedia/Publik domain

Thomas Tuchel sebenarnya juga masuk dalam jajaran terbaik pelatih asing Piala Dunia sepanjang sejarah. Eks juru taktik Borussia Dortmund, PSG, Bayern Munchen, dan Chelsea ini setidaknya sanggup membawa Inggris sampai ke semifinal Piala Dunia 2026.

Capaian itu membuat Tuchel sejajar dengan Guus Hiddink (asal Belanda) pelatih Korea Selatan di Piala Dunia 2002, Luiz Felipe Scolari (asal Brasil) yang memimpin skuad Portugal di Piala Dunia 2006, juga Roberto Martinez (asal Spanyol) bareng tim nasional Belgia di Piala Dunia 2018.

Namun, bagaimana pun juga, tersingkirnya Inggris mempertegas bahwa trofi Piala Dunia adalah sebuah entitas yang sangat protektif. Juara Piala Dunia hanya diperuntukkan bagi pelatih yang punya ikatan kebatinan yang sama dengan tanah air yang mereka bela.

Setidaknya hingga Piala Dunia 2026 ini, kutukan keramat itu belum tergoyahkan. Kenyataan yang terjadi sejauh ini seolah membisikkan kebenaran mutlak kepada semesta sepak bola: untuk bisa juara dunia harus dimulai dengan memimpin bangsa sendiri.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya & Beni Jo

tirto.id - Horizon
Penulis: Iswara N Raditya & Beni Jo
Editor: Iswara N Raditya