Menuju konten utama

Isi Paper Nobel MBG yang Cantumkan Prabowo sebagai Penulis

Paper Nobel MBG mencantumkan nama Prabowo sebagai penulis. Isinya membahas manfaat program bagi gizi, ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, dan perdamaian.

Isi Paper Nobel MBG yang Cantumkan Prabowo sebagai Penulis
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke SMP N 11 Jakarta Barat. foto/Sekretariat Presiden
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebuah makalah akademik yang mengusulkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bahan pertimbangan Nobel Perdamaian 2026 menjadi sorotan setelah mencantumkan nama Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagai salah satu penulis.

Dokumen berjudul “Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by The National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth” tersebut membahas program MBG sebagai kebijakan yang dinilai tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga penguatan ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Paper setebal 69 halaman itu tercatat diunggah ke platform Social Science Research Network (SSRN) pada 31 Maret 2026. Dalam dokumen tersebut, Prabowo tercantum sebagai penulis pertama dengan afiliasi Presiden Republik Indonesia, bersama sejumlah akademisi dan pihak lain dari berbagai institusi.

Pemerintah melalui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) menyatakan masih melakukan penelusuran untuk memastikan keaslian, proses penyusunan, serta pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan dokumen tersebut.

Isi Paper Nobel MBG yang Mencantumkan Nama Prabowo

Berdasarkan informasi dari laman SSRN, dokumen sepanjang 69 halaman tersebut membahas MBG yang dijalankan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai sebuah kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga dikaji sebagai model pembangunan ekonomi berbasis ketahanan pangan.

Naskah tersebut ditulis oleh sejumlah akademisi dan tokoh dari berbagai institusi, antara lain:

  • Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto,
  • Prof. Dr. Dian Damayanti dari European Alliance for Innovation dan Universitas Borobudur Jakarta,
  • Ashar Sunarso dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri,
  • Dr. Norhidayah Azman dari Management and Science University Malaysia,
  • Iwan dari Universitas Negeri Jakarta,
  • Prof. Dr. Ir. Gimbal Doloksaribu dari Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta,
  • Prof. Dr. Cicih Ratnasih dari Universitas Borobudur Jakarta,
  • Mansuri dari Universitas Borobudur Jakarta,
  • Dr. Sugiyanto Saleh dari Universitas Borobudur Jakarta, serta
  • Prof. Dr. Ninuk Lustyantie dari Universitas Negeri Jakarta.
Dokumen tersebut tercatat ditulis pada 13 Februari 2026 dan dipublikasikan di SSRN pada 31 Maret 2026.

Dalam abstraknya, penelitian tersebut menjelaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis dipandang sebagai upaya untuk menggabungkan tujuan sosial dengan konsep smart business model atau model bisnis cerdas.

Artinya, program ini tidak hanya dilihat sebagai bantuan pemerintah untuk memberikan makanan kepada masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga sebagai sebuah sistem yang dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru.

Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Action Design Research (ADR), yaitu pendekatan penelitian yang menggabungkan analisis akademik dengan proses perancangan solusi secara berulang melalui keterlibatan langsung para pemangku kepentingan.

Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan berbagai pihak, diskusi kelompok terarah (focus group discussion), serta analisis dokumen kebijakan.

Menurut penelitian tersebut, Program Makan Bergizi Gratis memiliki dua tujuan utama. Pertama, mengatasi persoalan ketimpangan gizi, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan keluarga berpenghasilan rendah.

Kedua, membangun ekosistem ekonomi pangan yang lebih kuat dengan meningkatkan permintaan terhadap produk pertanian, bahan pangan lokal, jasa pengolahan makanan, hingga sektor distribusi.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa pemberian makanan bergizi kepada masyarakat bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi harian, tetapi juga berkaitan dengan pembangunan kualitas sumber daya manusia.

Anak-anak yang memperoleh asupan gizi lebih baik dinilai memiliki peluang untuk tumbuh dengan kesehatan dan kemampuan belajar yang lebih optimal. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dianggap dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia.

Selain dampak terhadap kesehatan masyarakat, penelitian itu juga menyoroti efek ekonomi dari program tersebut. Keterlibatan UMKM dan produsen lokal dalam rantai pasok makanan dinilai dapat membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, serta memperkuat industri pangan nasional.

Penelitian tersebut juga menilai bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, serta masyarakat. Pemerintah berperan sebagai pembuat kebijakan dan pengarah program, sementara sektor usaha dan masyarakat dapat mendukung melalui inovasi, produksi pangan, teknologi distribusi, dan pengelolaan rantai pasok.

Dalam dokumen tersebut, para penulis mengaitkan Program Makan Bergizi Gratis dengan konsep positive peace atau perdamaian positif. Konsep ini tidak hanya berarti tidak adanya konflik, tetapi juga terciptanya kondisi sosial yang adil, seperti berkurangnya kemiskinan, meningkatnya akses terhadap kebutuhan dasar, serta terciptanya kesempatan ekonomi yang lebih merata.

Dari perspektif tersebut, pemenuhan kebutuhan pangan dan pengurangan ketimpangan dianggap sebagai bagian dari upaya mencegah munculnya konflik sosial akibat ketidakadilan ekonomi.

Dokumen itu juga memuat pernyataan bahwa pengajuan Program Makan Bergizi Gratis sebagai nominasi Nobel Perdamaian 2026 dilakukan dengan prinsip integritas akademik dan tanggung jawab publik.

Para penulis menyatakan bahwa pengajuan tersebut tidak bertujuan memberikan keuntungan pribadi, kepentingan politik, maupun keuntungan komersial tertentu, melainkan untuk mengangkat sebuah model kebijakan publik yang dinilai memiliki relevansi terhadap isu global seperti ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan berkelanjutan.

Baca juga artikel terkait MBG atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra