tirto.id - Brasil datang ke Piala Dunia 2026 dengan sesuatu yang tak biasa, bahkan seolah menantang pakem. Bagaimana tidak? Salah satu negara dengan bakat sepak bola paling melimpah ini ditukangi oleh pelatih asing: Carlo Ancelotti.
Pengalaman, kemampuan, dan pencapaian allenatore asal Italia itu di level klub memang tanpa keraguan. Tapi, ini Brasil, negara peraih trofi Piala Dunia terbanyak yang sejatinya tidak pernah kekurangan sosok juru taktik mumpuni.
Di tengah dahaga juara Piala Dunia yang terakhir kali direngkuh pada 2002, CBF alias Konfederasi Sepak Bola Brasil membuat publik bertanya-tanya lantaran menunjuk Don Carlo untuk memimpin anak-anak Samba di Piala Dunia 2026.
Dan, di Piala Dunia 2026, Brasil gagal ke perempat final besar usai dibekuk Norwegia dengan skor 1-2. Sosok sekaliber Ancelotti pun bahkan belum sanggup membawa mengakhiri puasa juara Selecao di Piala Dunia.
Tinggalkan Tradisi Demi Ambisi?
Hingga kini, Brasil masih memegang rekor negara tersukses di Piala Dunia dengan mengoleksi 5 kali juara. Semua gelar juara Piala Dunia yang diraih Selecao itu tercapai bersama pelatih lokal alias juru taktik dari negara sendiri.
Pele dan kawan-kawan mengawali goresan tinta emas Brasil dengan menjadi kampiun Piala Dunia 1958 di Swedia. Kala itu, Tim Samba dibesut oleh Vicente Feola, putra daerah asal Sao Paulo.
Selecao back to back juara 4 tahun berselang. Sang juara bertahan jadi yang terbaik di Piala Dunia 1962 yang dihelat di Chili, kali ini bersama pelatih yang juga mantan kiper Selecao, Aymoré Moreira.
Piala Dunia 1970 di Meksiko menjadi momen juara ke-3 Brasil. Pelatihnya adalah Mário Zagallo, yang hebatnya, waktu itu baru menginjak 38 tahun dan belum genap 6 tahun gantung sepatu sebagai pesepakbola.
Carlos Alberto Parreira menjadi lokal ke-4 yang sukses membawa pasukan Samba menambah titel juara Piala Dunia. Di Amerika Serikat pada 1994, Romario dan kolega membuat skuad Italia yang diperkuat Roberto Baggio menangis di final.

Terakhir, giliran skuad era Cafu, Ronaldo Nazario, Rivaldo, Ronaldinho, Roberto Carlos, hingga Kaka yang mengangkat trofi Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan. Bersama pelatih Luiz Felipe Scolari, Selecao mengukuhkan diri sebagai negara terbanyak menjuarai Piala Dunia, yakni 5 kali.
Sejak itu, Brasil belum mampu lagi memperbarui koleksi gelarnya, bahkan hingga lebih dari 2 dekade. Padahal, Selecao senantiasa nguri-nguri tradisi, selalu memakai pelatih pribumi, termasuk Carlos Alberto Parreira (2006) dan Luiz Felipe Scolari (2014) yang dipanggil lagi tapi gagal mengulang prestasi.
Begitu pula ketika mantan kapten tim Dunga (2010) lalu Tite (2018 dan 2022) ditunjuk sebagai pelatih. Keduanya tidak kuasa mengantarkan skuad Samba juara dunia lagi. Singkat kata, Selecao selalu menemui jalan buntu dalam upaya meraih gelar Piala Dunia ke-6.
Selalu taat tradisi tapi tanpa hasil, atau barangkali mencoba berjudi, CBF lantas mempercayakan Carlo Ancelotti untuk menangani Selecao di Piala Dunia 2026. Don Carlo adalah pelatih asing pertama yang menukangi Brasil di Piala Dunia sepanjang sejarah.
Jogo Bonito: Keindahan Adalah yang Utama
Bagi sepak bola negeri Samba, seperti dikutip dari laman FootTheBall, Jogo Bonito dianggap sebagai filosofi bahkan jalan hidup yang mengutamakan gairah kegembiraan dan kesenangan, baik untuk pemain maupun penikmat olahraga ini.
Di atas lapangan, bola dimainkan dengan penuh gaya ketika menyusun serangan. Para pemain dapat menyentuh bola dengan ujung jari kaki, menari-nari bersama bola, aksi atraktif dengan segala variasinya, melewati lawan dengan dribble indah, serta manuver memukau lainnya.
"Keindahan adalah yang utama. Yang terpenting tentu sebuah kebahagiaan," ucap Sócrates, mantan gelandang Brasil era 1980-an.
Jurnalis olahraga senior asal Inggris, Barney Corkhill, menyebut Pele menjadi gambaran nyata penerapan Jogo Bonito. Legenda sepak bola Brasil sepanjang masa ini, tulis Corkhill di Bleacher Report, selalu bermain dengan setulus hati, sarat kehormatan, dan penuh kegembiraan.
Oleh Pele, sepak bola dimaknai sebagai permainan yang indah untuk pria, wanita, dan anak-anak di seluruh dunia. Jogo Bonito adalah sebuah ungkapan untuk memberikan keadilan bagi sepak bola.

Pele merasa bahwa dialah yang berutang budi pada permainan ini, bukan sebaliknya. Peraih juara Piala Dunia 1958, 1962, dan 1970 ini adalah bagian kunci dalam menjadikan sepak bola sebagai fenomena seperti sekarang.
"Rahasia besarnya adalah improvisasi. Ia memiliki persepsi yang luar biasa tentang permainan,” demikian kesan Kapten Timnas Brasil yang memenangkan Piala Dunia 1970, Carlos Alberto Torres, terhadap Pele, dilansir website FIFA.
Dari masa ke masa, Brasil melahirkan para pelaku Jogo Bonito yang kian menegaskan karakter Selecao. Selain Pele, ada Garrincha, Rivellino, dan Jairzinho sebagai generasi emas sekaligus angkatan perintis pada dekade 1950 sampai 1970-an. Lalu, sepanjang 1980-an, terdapat Zico, Sócrates, Falcao, serta Junior.
Berlanjut ke era emas berikutnya bersama Dunga, Bebeto, Romario, Cafu, sampai Ronaldo Nazario yang menghasilkan trofi Piala Dunia 1994. Sebagian nama itu, ditambah sejumlah sosok baru macam Ronaldinho, Roberto Carlos, dan Kaka, lantas mengantarkan Brasil juara Piala Dunia 2002.
Brasil Semestinya Atraktif, Bukan Defensif
Sedari mula, penunjukan Ancelotti memunculkan tanda tanya. Gaya sepak bola Brasil berlabel Jogo Bonito yang indah, atraktif, serta menonjolkan teknik individu tentunya amat berbeda dengan karakter sepak bola Italia yang lebih taktis, adaptif, bahkan cenderung defensif.
Di skuad terbaru Brasil yang dibawa ke Piala Dunia 2026, Jogo Bonito setidaknya masih bisa dikaitkan dengan Neymar, Vinicius Junior, Estevao, Bruno Guimarães, Lucas Paqueta, Raphinha, Luiz Henrique, hingga Endrick.
Di sinilah persoalannya. Ancelotti, yang didatangkan dengan harapan mampu mengakhiri puasa gelar Piala Dunia sejak 2002, bukan penganut sepak bola indah ala Jogo Bonito. Don Carlo seringkali menerapkan strategi yang taktis, efisien, bahkan fleksibel, demi meraih kemenangan.
Dan itulah yang terjadi, misalnya, pada laga kontra Norwegia di babak 16 besar Piala Dunia 2026 yang ternyata menjadi aksi terakhir Brasil. Di bawah ramuan Ancelotti, Selecao justru tampil pragmatis, kaku, dan tanpa identitas alias jati diri aslinya.
Analis sepak bola berdarah Italia, Matteo Bonetti, bahkan menyebut Brasil ala Ancelotti telah kehilangan auranya. “Jogo Bonito sudah lama hilang,” tulis Bonetti sebagaimana dikutip dari FoxSports.
“Brasil bermain seperti tim provinsi, tidak ada kepercayaan diri, tidak ada identitas, tidak ada apa pun yang membuat seragam kuning legendaris itu berarti sesuatu. Hanya tim kelabu dan tanpa kegembiraan yang menunggu untuk melakukan serangan balik,” lanjutnya.
Saat menghadapi Norwegia, menurut analisis The Athletic, Ancelotti sengaja memasang blok pertahanan 4-4-2 yang rapat. Skema ini memaksa Brasil hanya menunggu momen serangan balik lewat kecepatan Vinícius Júnior ketimbang berupaya menguasai permainan.
Statistik pertandingan yang disajikan FoxSports setidaknya menguatkan analisis itu: penguasaan bola yang ditunjukkan skuad asuhan Ancelotti kalah jauh dari Norwegia: 34 persen berbanding 64 persen!
Meskipun Selecao mampu melepaskan total 12 tembakan, sedangkan Norwegia 9 tembakan, namun Erling Haaland dan kawan-kawan lebih efektif serta unggul untuk urusan shots on goal. Hasil akhirnya pun menyakitkan bagi Brasil: Kalah 1-2 dan terdepak.
Kritikus Jonathan Wilson di kolom The Guardian pernah menyebut bahwa Carlo Ancelotti adalah “seorang pragmatis, selalu beradaptasi dengan keadaan, dan mungkin itu berarti ia kurang dihargai.”
Ancelotti memang bukan penganut Catenaccio murni, ia cenderung adaptif atau pragmatis. Namun, Don Carlo bisa menerapkan strategi bertahan sangat dalam jika dibutuhkan. Bahkan, banyak yang bilang bahwa ia tahu cara untuk "menang dengan cara yang buruk".

Dengan cara seperti itu, Ancelotti menorehkan begitu banyak prestasi bersama klub-klub mapan di dunia macam Juventus, AC Milan, Chelsea, PSG, Real Madrid, hingga Bayern Munchen.
Don Carlo adalah salah satu pelatih tersukses dalam sejarah sepak bola dunia. Ia memegang rekor sebagai satu-satunya pelatih yang mampu menjuarai liga domestik di 5 kompetisi top Eropa (Italia, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol), serta pencatat rekor trofi Liga Champions terbanyak (5 kali).
Maka, melihat gelimang portofolio itu, bukan sepenuhnya keputusan yang salah ketika CBF menunjuk Carlo Ancelotti sebagai pelatih Timnas Brasil untuk Piala Dunia 2026, meskipun hasilnya ternyata jauh panggang dari api.
Ya, langkah Brasil bersama Ancelotti di Piala Dunia 2026 resmi terhenti. Alih-alih mengakhiri dahaga gelar, Don Carlo yang berusaha memadukan Jogo Bonito dengan gaya taktisnya justru gagal, dan ironisnya, itu barangkali seperti yang sudah diduga sebelumnya.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id





























