Menuju konten utama

Keliru, Sejumlah Klaim Terkait Vaksin Human Papillomavirus Anak

Kemenkes menjelaskan, vaksin HPV dipastikan aman. Efek samping yang umum terjadi antara lain nyeri, kemerahan atau pembengkakan di lokasi suntikan, & demam.

Keliru, Sejumlah Klaim Terkait Vaksin Human Papillomavirus Anak
PEriksa Fakta Vaksin HPV. foto/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Facebook mengklaim Menteri Kesehatan periode 2004–2009, Siti Fadilah Supari mempertanyakan bahwa vaksin HPV massal pada anak dilakukan untuk kebutuhan medis atau kepentingan bisnis global.

Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Lynaa Marlinaa” (arsip) pada Jumat (7/8/2026). Unggahan tersebut menampilkan gambar Siti Fadilah Supari dengan dituliskan narasi:

VAKSIN HPV MASSAL PADA ANAK: KEBUTUHAN MEDIS ATAU KEPENTINGAN BISNIS GLOBAL?

ANAK KITA BUKAN TARGET BISNIS! KRITIS HARI INI, SELAMATKAN MASA DEPAN! Dr.dr.Siti Fadilah Supari,So.JP(K).”

Pengunggah juga menuliskan keterangan pada unggahan, “OPINI: ​Vaksin HPV Massal pada Anak: Kebutuhan Medis atau Kepentingan Bisnis Global? Oleh: Dr.dr.Siti Fadilah Supari,Sp.JP(K) (Menteri Kesehatan Republik Indonesia 2004–2009)

​Belakangan ini, program pemberian vaksin Human Papillomavirus (HPV) pada anak-anak semakin gencar dilakukan. Awalnya, vaksin ini ditargetkan khusus untuk anak perempuan, khususnya yang berada di usia 12 tahun atau baru saja menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD). Narasi utama yang digaungkan adalah untuk mencegah kanker serviks (leher rahim) di masa depan.

​Namun, sebagai pihak yang pernah merumuskan kebijakan kesehatan nasional, saya merasa perlu mengajak masyarakat dan pemerintah untuk membedah kebijakan ini lebih dalam dan kritis. Ada beberapa kejanggalan struktural dan medis yang patut kita pertanyakan: apakah ini murni kebutuhan medis yang mendesak, atau ada kepentingan industri multinasional yang menungganginya?” Begitu keterangan dituliskan dalam unggahan.

Dalam keterangan unggahan tersebut terdapat sejumlah klaim yang mempertanyakan kebijakan vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) pada anak. Di antaranya, vaksin HPV pada anak usia 12 tahun disebut tidak memiliki dasar medis yang kuat karena kanker serviks umumnya baru terjadi pada perempuan dewasa. Tulisan itu juga menyebut hanya sekitar lima persen infeksi HPV yang berkembang menjadi kanker serviks.

Selain itu, unggahan tersebut menyatakan vaksin HPV berpotensi menyebabkan kesulitan hamil atau kemandulan sementara selama lima hingga tujuh tahun. Perluasan vaksinasi HPV kepada anak laki-laki juga dikaitkan dengan kepentingan bisnis industri farmasi global. Bahkan, tulisan itu menyebut potensi pendapatan dari komersialisasi vaksin HPV global mencapai 800 miliar hingga 800 triliun dolar AS.

Sampai artikel ini ditulis pada Senin (17/8/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 2,8 ribu tanda suka, 740 komentar, dan 2 ribu kali dibagikan. Kolom komentar dipenuhi komentar pro dan kontra terhadap pelaksanaan vaksin HPV.

Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Andhika Yudha Purnomo,” dan “Rika Maharani Richelle Maren,” yang menampilkan gambar dan klaim serupa terkait vaksin HPV.

Lantas, bagaimana kebenaran klaim tersebut?

Periksa Fakta Vaksin HPV

Periksa Fakta Vaksin HPV. foto/hotline periksa fatka tirto

Penelusuran Fakta

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menuliskan bahwa vaksinasi HPV pada anak usia sekitar 12 tahun justru sesuai dengan rekomendasi kesehatan global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan vaksinasi HPV sebagai prioritas bagi anak perempuan usia 9–14 tahun, sebelum mereka terpapar HPV.

Tujuan pemberian vaksin pada usia tersebut bukan karena anak sedang berisiko mengalami kanker serviks, melainkan untuk memberikan perlindungan sebelum kemungkinan terjadinya infeksi HPV.

Menurut WHO, Human papillomavirus (HPV) merupakan penyebab hampir seluruh kasus kanker serviks. Memang, sebagian besar infeksi HPV dapat hilang dengan sendirinya. Namun, sebagian infeksi yang menetap dapat menyebabkan perubahan prakanker dan kemudian berkembang menjadi kanker.

WHO menyebut proses tersebut dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Karena itu, pemberian vaksin sebelum seseorang terpapar HPV menjadi bagian penting dari pencegahan kanker serviks.

Dengan demikian, pernyataan bahwa kanker serviks merupakan penyakit yang baru muncul ketika seseorang dewasa tidak menjadi alasan untuk menunda vaksinasi hingga usia dewasa. Justru, vaksin diberikan pada masa remaja karena efektivitas perlindungannya lebih optimal sebelum paparan HPV.

WHO juga menyebutkan bahwa klaim hanya sekitar lima persen infeksi HPV yang berkembang menjadi kanker juga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa vaksinasi tidak diperlukan.

Selain itu, angka yang disebutkan dalam unggahan yang beredar, tidak disertai sumber yang jelas dan berpotensi mencampurkan beberapa tahapan perjalanan infeksi HPV.

Tidak semua orang yang terinfeksi HPV akan mengalami kanker, tetapi infeksi HPV berisiko tinggi yang menetap, merupakan faktor penting dalam perkembangan kanker serviks. WHO menyatakan sekitar 99 persen kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV.

Lebih lanjut, klaim mengenai vaksin HPV yang menyebabkan kemandulan sementara selama lima hingga tujuh tahun juga tidak didukung bukti ilmiah.

WHO melalui Global Advisory Committee on Vaccine Safety telah meninjau berbagai penelitian mengenai hubungan vaksin HPV dengan infertilitas. Berdasarkan tinjauan tersebut, bukti yang tersedia tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat antara vaksin HPV dengan infertilitas maupun primary ovarian insufficiency (POI).

Senada dengan hal tersebut, Kementerian Kesehatan RI juga pernah menyatakan bahwa klaim vaksin HPV menyebabkan kemandulan merupakan informasi palsu. Kemenkes menjelaskan bahwa vaksin HPV telah dipastikan keamanannya dan efek samping yang umum terjadi antara lain nyeri, kemerahan atau pembengkakan di lokasi suntikan serta demam yang biasanya bersifat sementara.

Sementara itu, anggapan bahwa vaksin HPV tidak memiliki dasar medis untuk diberikan kepada laki-laki juga keliru. HPV tidak hanya berkaitan dengan kanker serviks. Virus tersebut juga dapat menyebabkan sejumlah kanker lain, termasuk kanker anus, penis, serta kanker di area kepala dan leher.

WHO menyebut vaksinasi laki-laki sebagai salah satu kelompok sasaran sekunder yang dapat dilakukan apabila memungkinkan dan terjangkau.

Dalam penelitian yang diterbitkan melalui International Agency for Research on Cancer (IARC) juga menunjukkan bahwa vaksin HPV dapat memberikan respons imun yang baik dan aman pada anak laki-laki maupun perempuan usia 9–14 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian vaksin kepada laki-laki tidak semata-mata berkaitan dengan pencegahan kanker serviks.

Melansir Centers for Disease Control and Prevention United States (CDC), HPV tidak hanya berkaitan dengan kanker serviks pada perempuan, tetapi juga dapat menyebabkan kanker penis pada laki-laki, kanker anus pada laki-laki dan perempuan, serta kanker orofaring atau kanker di bagian belakang tenggorokan, termasuk pangkal lidah dan amandel.

Hal ini juga disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Dian Nuswantoro, dr. Andreas Wilson Setiawan, M.Kes.

Pada laki-laki, vaksin HPV dapat membantu mencegah beberapa penyakit berikut: Kanker penis, kanker anus, kanker orofaring, kanker mulut dan tenggorokan, kutil kelamin,” papar Wilson.

Wilson menambahkan, vaksin HPV direkomendasikan tidak hanya untuk perempuan, tetapi juga laki-laki sebagai upaya pencegahan terhadap penyakit terkait HPV dan untuk mengurangi penularan virus sebab laki-laki dapat menjadi pembawa (carrier) virus HPV.

Laki-laki dapat menjadi pembawa (carrier) virus HPV dan menularkannya kepada pasangan, meskipun seringkali mereka tidak memiliki gejala sama sekali. HPV menular melalui kontak seksual, termasuk hubungan vaginal, anal, maupun oral,” jelasnya.

Wilson memaparkan infeksi HPV pada laki-laki sering tanpa gejala, seseorang bisa menularkan virus tanpa menyadarinya. Inilah sebabnya vaksinasi pada laki-laki penting, bukan hanya untuk melindungi dirinya sendiri, tetapi juga membantu memutus rantai penularan ke pasangan.

Adapun klaim bahwa perluasan vaksinasi HPV didorong kepentingan bisnis industri farmasi global tidak disertai bukti yang menunjukkan bahwa motif bisnis merupakan dasar kebijakan vaksinasi.

Dalam unggahan yang beredar juga tidak mencantumkan sumber yang dapat memverifikasi angka potensi pendapatan vaksin HPV sebesar 800 miliar hingga 800 triliun dolar AS. Karena itu, angka tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya kepentingan bisnis dibalik kebijakan vaksinasi.

Melansir laman Kementerian Kesehatan RI, vaksin HPV telah masuk dalam program imunisasi nasional sejak tahun 2023 dan diberikan melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) sebagai upaya pencegahan kanker serviks.

Sebagaimana dalam pemberitaan Tirto, beberapa hoaks terkait vaksin HPV pernah beredar di media sosial yaitu:

  1. Hoaks, Vaksin HPV Bahayakan Nyawa Anak-anak. Faktanya, berdasarkan studi, anak-anak memiliki respons imun lebih kuat. Jadi, pemberian vaksin sangat dianjurkan, guna mendapatkan efektivitas perlindungan maksimal.
  2. Keliru, Anak Laki-laki Tidak Memerlukan Vaksin HPV. Faktanya, vaksin HPV tidak hanya ditujukan untuk mencegah kanker serviks pada perempuan, tetapi juga melindungi laki-laki dari berbagai penyakit terkait infeksi HPV.
  3. Hoaks, Vaksin HPV Sebabkan Autoimun dan Vaskulitis hingga Kematian. Faktanya, tidak terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa vaksin HPV menyebabkan vaskulitis serebral atau kematian.
  4. Benarkah Vaksin HPV Bisa Sebabkan Mandul & Penjelasan Lengkapnya. Faktanya, vaksin HPV diberikan dengan tujuan untuk membuat perempuan mandul adalah tidak benar. Vaksin HPV adalah salah satu vaksin penting yang bisa menjaga kesehatan perempuan.
Adapun tujuan vaksin HPV diberikan yaitu untuk mencegah berbagai penyakit akibat infeksi HPV, bukan hanya kanker serviks. Pemberian vaksin HPV pada anak dilakukan sebagai upaya pencegahan sejak dini dan anak laki-laki juga membutuhkan perlindungan dari HPV. Tidak ada bukti ilmiah bahwa vaksin HPV menyebabkan kemandulan dan keamanan serta efektivitas vaksin HPV telah didukung bukti ilmiah.

Dengan demikian, klaim yang beredar tidak didukung bukti ilmiah yang kuat. Faktanya, vaksin HPV direkomendasikan untuk mencegah infeksi HPV dan kanker terkait HPV, diberikan sejak usia remaja sebelum paparan HPV, termasuk pada laki-laki, serta tidak terbukti menyebabkan kemandulan.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelusuran, klaim dalam unggahan yang menyatakan vaksin HPV pada anak tidak memiliki dasar medis yang kuat, dapat menyebabkan kemandulan sementara, pemberian kepada laki-laki tidak memiliki alasan medis, serta program vaksinasi didorong kepentingan bisnis global adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).

Sejumlah informasi dasarnya memang benar, seperti kanker serviks lebih banyak terjadi pada usia dewasa dan sebagian besar infeksi HPV dapat sembuh secara alami. Namun, fakta tersebut dipakai untuk menarik kesimpulan yang tidak sesuai dengan bukti ilmiah mengenai tujuan vaksinasi, keamanan vaksin, dan alasan vaksin HPV diberikan sejak usia remaja.

Faktanya, vaksin HPV diberikan sejak remaja untuk melindungi sebelum terpapar HPV. Vaksin ini juga bermanfaat bagi laki-laki karena HPV dapat menyebabkan beberapa jenis kanker selain kanker serviks.

Klaim vaksin HPV menyebabkan kemandulan dan programnya didorong kepentingan bisnis juga tidak didukung bukti ilmiah. WHO menyatakan tidak ada bukti hubungan vaksin HPV dengan infertilitas.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Tim Riset Tirto

tirto.id - Periksa Fakta
Penulis: Tim Riset Tirto
Editor: Tim Riset Tirto