Menuju konten utama
Edusains

Perdebatan Soal Messi vs. Ronaldo Dipengaruhi oleh Ideologi?

Cara orang membela mati-matian Ronaldo maupun Messi bisa jadi dilandasi oleh ideologi tertentu. Survei akademis dari NTU, Korea, mencoba memvalidasi itu.

Perdebatan Soal Messi vs. Ronaldo Dipengaruhi oleh Ideologi?
Seorang seniman memberikan sentuhan akhir pada lukisan yang menampilkan pemain sepak bola Lionel Messi dari Argentina dan Cristiano Ronaldo dari Portugal di Amritsar pada 11 Juni 2026, menjelang turnamen Piala Dunia FIFA 2026. AFP/Narinder NANU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Benjamin Franklin pernah berkata, di dunia ini tidak ada yang pasti kecuali pajak dan kematian. Akan tetapi, tokoh besar AS itu tidak hidup pada abad ke-21. Dia tidak pernah tahu, selain pajak dan kematian, satu hal yang pasti terjadi lainnya adalah kenyataan bahwa penggemar sepak bola tidak henti-hentinya memperdebatkan siapa yang layak disebut pemain terhebat sepanjang masa, Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo.

Jika ada yang berpikir perdebatannya sudah berhenti semenjak Messi membawa Argentina jadi juara dunia empat tahun lalu, mereka salah besar. Warganet di berbagai belahan bumi masih terus membicarakan keduanya, di kolom komentar, di unggahan Instagram, di siniar, dan sebagainya.

Di Piala Dunia 2026 Messi dan Ronaldo pun masih berpartisipasi. Itu adalah gelaran keenam yang diikuti oleh keduanya.

Meski belum pernah jadi juara dunia bersama Timnas Portugal, Ronaldo masih punya kesempatan di turnamen kali ini. Di sisi lain, Messi pun masih memiliki kans untuk makin menegaskan keunggulannya atas Ronaldo di ajang Piala Dunia.

Hingga memasuki babak 32 besar, Messi telah mengemas enam gol, yang membuatnya jadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah Piala Dunia. Di sisi lain, Ronaldo membubuhkan total dua gol sejauh ini, menjadikan dirinya satu-satunya pemain yang sanggup mencetak gol dalam enam edisi Piala Dunia.

Bisa dibilang, untuk sementara, Messi unggul atas Ronaldo di Piala Dunia 2026. Walau begitu, perdebatan belum juga berhenti, bahkan mungkin tak pernah berhenti. Seakan-akan, di dunia ini hanya ada dua jenis manusia: penggemar Messi dan penggemar Ronaldo.

Pertanyaannya sekarang bukan mengapa perdebatan masih terus juga berlangsung, melainkan apa sebenarnya yang membedakan penggemar Messi dan penggemar Ronaldo?

Penggemar Messi dan Ronaldo Punya Kecenderungan Ideologi Berbeda

Belum lama ini, sekelompok peneliti Nanyang Technological Institute (NTU) di Singapura berhasil menemukan benang merah dari perdebatan fans Messi dan Ronaldo. Menurut hasil riset pimpinan Saifuddin Ahmed itu, fans Messi cenderung berpandangan politik liberal, sementara penggemar Ronaldo cenderung berasal dari kelompok konservatif.

Bagaimana bisa muncul kesimpulan seperti itu? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami terlebih dahulu hal yang sebetulnya diperdebatkan soal Messi versus Ronaldo.

Secara statistik, keduanya sama-sama berada di level tertinggi sepak bola dan mendominasi selama dua dekade terakhir. Ketika dua pilihan sama-sama mumpuni secara objektif, yang membedakan keduanya justru adalah nilai dan citra yang diproyeksikan.

Messi secara konsisten digambarkan sebagai sosok yang pendiam, rendah hati, berorientasi keluarga, dan mengutamakan tim. Sementara itu, Ronaldo dikenal sebagai individu yang dominan, terbuka dalam mempromosikan diri, dan tegas dalam mengejar keunggulan personal. Dua citra yang kontras itu, menurut para peneliti NTU, mencerminkan sumbu psikologis yang juga membelah dunia politik: nilai komunitarian di satu sisi dan nilai dominansi di sisi lain.

Kesimpulan itu diperoleh setelah tim peneliti NTU menyurvei 10.661 responden secara daring. Partisipannya bervariatif, berasal dari 26 negara berbeda, dari enam benua berlainan. Pelaksanaannya dimulai sejak April hingga Mei 2026. Setiap responden diminta menilai Messi dan Ronaldo dalam skala tujuh poin, lalu menjawab sejumlah pertanyaan soal pandangan politik, kepribadian, dan kebiasaan mengonsumsi media.

Hasilnya, ideologi politik terbukti menjadi prediktor individu paling kuat. Responden yang lebih liberal dari rata-rata negaranya secara signifikan lebih cenderung memilih Messi, sementara yang lebih konservatif lebih cenderung memilih Ronaldo. Kesimpulannya tak berubah, bahkan setelah para peneliti memperhitungkan faktor-faktor lain, seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan kelas sosial.

Pola itu tidak hanya berlaku di negara-negara demokrasi liberal, seperti Amerika Serikat atau negara-negara Eropa Barat. Efek ideologi tersebut muncul secara konsisten di berbagai negara dengan jenis pemerintahan berbeda-beda, mulai dari demokrasi yang sudah mapan, sistem multi-partai, hingga negara-negara otoriter. Artinya bisa dibilang, hubungan antara identitas politik dan selera budaya merupakan sesuatu yang universal dan tidak ditentukan oleh lingkungan domisili.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Di antara 26 negara yang diteliti, Indonesia tercatat sebagai negara dengan preferensi terkuat terhadap Ronaldo. Responden Indonesia secara konsisten memberi nilai lebih tinggi kepada Ronaldo dibandingkan dengan Messi. Itu sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara paling pro-Ronaldo dalam survei tersebut, mengungguli Turki, Meksiko, Mesir, dan Malaysia.

Para peneliti tidak menyimpulkan bahwa kecenderungan Indonesia terhadap Ronaldo semata-mata disebabkan oleh pandangan politik. Faktor-faktor lain turut berperan, salah satunya konsumsi berita melalui video pendek di TikTok dan Instagram. Responden yang lebih sering mengonsumsi berita lewat format video pendek berkecenderungan menyukai Ronaldo. Hal itu masuk akal mengingat kehadiran Ronaldo di media sosial visual jauh lebih masif dan agresif dibandingkan Messi.

Dua faktor lain yang juga memprediksi preferensi terhadap Ronaldo adalah tingkat harga diri (self-esteem) yang lebih tinggi dan kecenderungan otoriter. Para peneliti juga menduga bahwa orang yang berempati tinggi mungkin lebih tertarik pada Messi, mengingat citranya yang lebih pendiam dan mengutamakan tim. Namun, dugaan itu tidak terbukti karena tingkat empati seseorang tidak berpengaruh pada pilihan pemain.

Dari hasil riset di atas, ada satu temuan lain yang layak digarisbawahi. Efek ideologi terhadap preferensi kedua pemain paling kuat terasa di kalangan responden muda, dan melemah secara signifikan pada kelompok lebih tua. Para peneliti menduga itu berkaitan dengan cara generasi muda dibentuk oleh zamannya. Mereka yang tumbuh di tengah iklim politik yang makin terpolarisasi cenderung berpandangan lebih seragam dan bulat. Pilihan politik mereka tidak hanya menentukan di hari pemilu, tetapi juga merembes ke hal-hal yang tampaknya jauh dari politik praktis, termasuk pesepak bola favorit.

Fenomena itu sebetulnya bukan hal baru dalam kajian akademis soal hubungan antara olahraga dan politik. Alan Bairner dari Loughborough University sudah lama menulis bahwa olahraga bukanlah ruang yang steril dari ideologi. Berbagai nilai politik, mulai dari konservatisme, nasionalisme, hingga sosialisme, sudah sejak lama tertanam di dalam cara olahraga diorganisasi, dimainkan, dan ditonton, bahkan jauh sebelum era media sosial.

Penelitian lain dari Amerika Serikat bahkan menunjukkan, paparan terhadap sepak bola bisa menggeser pandangan politik seseorang. Johan Rewilak dari University of South Carolina menemukan bahwa negara bagian AS yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994 mengalami peningkatan perolehan suara Partai Demokrat pada pemilihan presiden berikutnya, dan efek serupa juga terlihat pada Piala Dunia Wanita 1999 dan 2003. Artinya, hubungan antara sepak bola dan politik bisa berjalan dua arah.

Namun, para peneliti NTU mengingatkan agar kita tidak terlalu jauh menarik kesimpulan. Ahmed menegaskan bahwa efek ideologi tersebut kecil secara absolut. Seluruh prediktor individu yang diteliti hanya mampu menjelaskan sekitar tiga persen dari variasi preferensi pemain. Sebagian besar alasan seseorang menyukai Messi atau Ronaldo tetap bersifat personal, seperti pemain tertentu yang pertama kali dilihat di layar kaca, klub yang didukung, pengaruh orang tua, serta kebiasaan menonton sejak kecil.

Yang membuat temuan ini tetap bermakna bukan besaran efeknya, melainkan konsistensinya. Sinyal politik itu muncul di 26 negara yang satu sama lain hampir tidak memiliki kesamaan apa pun, selain kenyataan bahwa warganya mengenal Messi dan Ronaldo. Itulah yang membuat studi tersebut lebih dari sekadar riset tentang sepak bola. Ini adalah cermin tentang bagaimana identitas politik kita, tanpa kita sadari, ikut membentuk cara kita melihat dunia, termasuk dunia olahraga.

Jadi, lain kali Anda berdebat soal siapa yang lebih hebat antara Messi dan Ronaldo, mungkin ada baiknya Anda bertanya pada diri sendiri. Apakah itu murni soal sepak bola, atau jangan-jangan, ada nilai yang diam-diam sedang Anda perjuangkan?

Baca juga artikel terkait MESSI VS RONALDO atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin