tirto.id - Dari sekian banyak rule of thumb dalam berinvestasi di pasar modal, ada sejumlah tips yang dapat menjadi pegangan bagi investor pemula, terutama mereka yang memiliki bujet terbatas dan profil risiko menengah. Dua di antaranya adalah melirik emiten dengan harga saham yang relatif terjangkau dan memilih perusahaan dengan model bisnis yang familiar serta dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Lantas, mengapa kedua hal tersebut penting dan bagaimana cara menilai saham berdasarkan kerangka tersebut? Financial Educator dan Content Creator Kayleen M menyarankan investor tidak berhenti pada harga saham, tetapi terlebih dahulu memahami bisnis perusahaan dan mencocokkannya dengan kinerja keuangan.
“Karena di Bursa Efek sendiri kan ada ratusan [saham/emiten], mungkin sudah hampir 1.000 sekarang. Jadi kita memang harus memilih mana yang sesuai kompetensi kita dan kita memang tahu barang-barangnya,” dalam Talk Show Sessions #TENTHACLES: Mozaik 10 Tahun Tirto.id bertajuk “Mindfull Spending” di Kopikina, Kemang, beberapa waktu lalu.
Menurut Kayleen, investor pemula dapat mempersempit pilihan dengan memulai dari perusahaan yang bisnisnya sudah dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami produk atau layanan yang ditawarkan, investor setidaknya memiliki gambaran awal tentang bagaimana perusahaan menjalankan bisnis dan menghasilkan pendapatan.
“Kalau dalam keseharian kita ke minimarket, ada namanya Alfamart, itu ada emitennya. Kemudian kalau bank digital juga ada, misalnya Bank Jago. Atau kalau sehari-hari transportasi umum, itu mungkin ada GoTo. Kita mengerti model bisnisnya,” ujarnya.
Apa yang disampaikan Kayleen dapat dilihat dari bisnis PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Model bisnis perusahaan relatif mudah dikenali investor ritel melalui layanan Gojek dan GoPay yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Namun, mengenal produk perusahaan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa sahamnya menarik. Investor tetap perlu melihat apakah bisnis tersebut mampu menghasilkan kinerja yang baik dan apakah perbaikan itu tercermin dalam laporan keuangan.
Dalam konteks tersebut, GoTo menjadi salah satu emiten yang menarik untuk dicermati karena dinilai sahamnya undervalued alias tidak mencerminkan fundamental yang sudah positif.
Sejumlah analis menilai saham GOTO memiliki fundamental yang mulai membaik, terutama setelah perseroan mencatatkan laba dalam dua kuartal beruntun dan meningkatkan efisiensi operasional. Di sisi lain, harga sahamnya masih berada di level bawah, bahkan sempat bertahan di level Rp50 per saham dalam beberapa waktu terakhir.
Perbaikan kinerja tersebut terlihat dari laba bersih. Pada kuartal II-2026, GoTo mencatat laba bersih Rp252 miliar, naik 47,4 persen dibandingkan Rp171 miliar pada kuartal sebelumnya. Dengan demikian, perseroan telah membukukan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut.
Capaian tersebut menjadi sinyal bahwa model bisnis GoTo yang sebelumnya menghadapi pertanyaan mengenai kemampuannya menghasilkan keuntungan mulai menunjukkan jalur menuju profitabilitas yang lebih jelas.
Pertumbuhan juga terlihat dari sisi pendapatan. Pendapatan bersih GoTo pada kuartal II-2026 mencapai Rp5,7 triliun, naik 31 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan GTV inti yang meningkat 83 persen menjadi Rp164 triliun dan jumlah pengguna yang bertransaksi secara tahunan yang tumbuh 19 persen menjadi 71 juta.
Profitabilitas operasional perseroan juga terus membaik. EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat 137 persen secara tahunan dan untuk pertama kalinya menembus Rp1 triliun. Artinya, pertumbuhan bisnis mulai berjalan beriringan dengan kemampuan perseroan meningkatkan efisiensi dan menghasilkan keuntungan.
Kerangka penilaian tersebut, menurut Kayleen, tidak hanya berlaku untuk GOTO, tetapi juga dapat diterapkan pada emiten di sektor lain, termasuk industri yang bisnisnya tidak mudah diamati secara langsung seperti pertambangan.
Untuk sektor tersebut, investor dapat mempelajari proyek dan rencana ekspansi perusahaan melalui berbagai sumber informasi, kemudian mencocokkannya dengan laporan keuangan. Dengan cara itu, investor dapat melihat apakah rencana bisnis yang ditawarkan perusahaan benar-benar memiliki dampak terhadap kinerja.
“Jadi ketika ceritanya itu cocok dengan angkanya, nah itu baru sebagai investor itu punya keyakinan ya berinvestasi di situ,” kata Kayleen. “Memang kita bisa cari dari laporan riset sejumlah analis. Tapi tentu tidak bisa ditelan mentah-mentah. Kita bisa melihat kerangka berpikir yang mereka gunakan, lalu menyimpulkan sendiri apakah saham tersebut undervalued dan layak dipertimbangkan,” sambungnya.
Setelah melihat kinerja perusahaan, persoalan berikutnya adalah memastikan bahwa perbaikan tersebut memiliki nilai bagi bisnis dalam jangka lebih panjang. Sebab, harga saham yang rendah tidak otomatis berarti murah secara fundamental. Investor tetap perlu melihat apakah produk atau layanan perusahaan memiliki kebutuhan pasar yang kuat dan apakah prospek bisnisnya cukup untuk menopang pertumbuhan ke depan.
Di sektor batu bara, misalnya, sejumlah saham seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga dinilai sejumlah masih memiliki valuasi yang relatif terdiskon. Namun, daya tariknya bukan semata karena harga saham lebih murah, melainkan karena prospek bisnis, potensi perbaikan kinerja, serta kemampuan menghasilkan dividen.
Dengan kata lain, harga murah baru menjadi menarik jika ditopang bisnis yang produknya dibutuhkan dan prospeknya masih terbuka. Pandangan ini sejalan dengan sosiopreneur sekaligus pegiat investasi Fajar Widi yang menilai investor sebaiknya tidak membeli saham hanya karena melihat harganya berada di level rendah.
Fajar juga mengambil GoTo sebagai contoh. Menurut dia, selain profitabilitas dan tren EBITDA yang mulai membaik, investor perlu melihat bagaimana produk perusahaan telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. “Kita memang harus mengerti kita yang kita belikan bukan sahamnya kan, tapi bisnisnya kan,” tuturnya dalam sesi diskusi yang sama.
Ia kemudian menggambarkan bagaimana layanan digital seperti Gojek telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Masyarakat dapat memesan makanan dari rumah, sementara pengemudi ojek daring memperoleh penghasilan melalui platform yang sama.
“Ketika zaman sudah se-digital ini kita bisa semudah ini pesan makanan dari dalam kamar, terus tiba-tiba pemerintah menghentikan operasionalnya Gojek misalkan. Kita kira-kira marah-marah gak? Ngamuk,” ujarnya.
Menurut Fajar, reaksi tersebut menunjukkan bahwa sebuah layanan telah melewati batas sebagai sekadar produk dan mulai menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika investor menilai prospek sebuah perusahaan.
“Artinya aplikasi itu sudah jadi bagian dari, bagian esensial dari hidup seseorang, manusianya. Nah, ketika sebuah bisnis sudah menyentuh ranah esensi itu, itu yang menurut saya keren banget. Karena the rest is just data,” kata Fajar.
Karena itu, harga saham yang berada di level rendah seharusnya bukan menjadi alasan utama investor mengambil keputusan. Dalam kasus GoTo, misalnya, Fajar menilai investor perlu melihat perbaikan kinerja dan nilai yang diberikan ekosistem perusahaan kepada masyarakat sebelum mempertimbangkan harga sahamnya.
“Jadi kita, menurut saya, membelinya bukan karena gocapnya, tetapi karena situasi lapangannya sudah ada value-nya, menolong manusianya. Pemerataan ekonomi berjalan, sisanya conviction kita,” terangnya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































