Menuju konten utama

Wamen Stella Sebut RI Tak Perlu Perbanyak Jurusan Ilmu Komputer

Wamendiktisaintek Stella Christie menilai pendidikan tak perlu fokus menambah prodi komputer karena AI akan menggantikan banyak pekerjaan teknis.

Wamen Stella Sebut RI Tak Perlu Perbanyak Jurusan Ilmu Komputer
Wamendikti Stella Christie di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (15/1/2026). tirto.id/Mochammad Fajar Nur
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menilai perguruan tinggi tidak perlu menambah program studi (prodi) sains komputer (computer science) untuk menghadapi perkembangan artificial intelligence (AI).

Menurut dia, pekerjaan yang bersifat teknis semakin mudah dikerjakan oleh AI seiring perkembangan teknologi tersebut.

“Banyak yang berpikir bahwa yang harus kita lakukan itu menambah misalnya prodi computer science atau bahwa yang paling penting itu adalah mempunyai kemampuan teknis digital. Ini salah, salah besar,” ucapnya dalam acara High Level Talk Woman di Jakarta Pusat, Jumat (25/9/2026).

“Kenapa? Karena justru dengan perkembangan AI, segala sesuatu yang teknis itu akan bisa dikerjakan oleh AI. Akan tergantikan, manual teknis itu akan tergantikan,” lanjut dia.

Stella mengatakan investasi yang terlalu berfokus pada pendidikan teknis dapat membuat Indonesia tertinggal dari negara lain di tengah perkembangan AI. Karena itu, menurut dia, Indonesia perlu mengevaluasi kebutuhan sumber daya manusia (SDM) jika ingin berkompetisi dengan negara lain.

Ia menilai kemampuan berpikir kritis masyarakat Indonesia masih perlu diperkuat. Hal tersebut, kata dia, juga tercermin dari penggunaan AI dalam bidang pendidikan.

Stella menyebut Indonesia menempati peringkat pertama dalam penggunaan AI untuk pendidikan berdasarkan data Statista Consumer Insights. Sementara itu, Belanda berada di posisi terakhir dalam daftar tersebut.

“Nah, ini kan tapi jadi bertanya-tanya, ‘Lho, kok kayaknya itu bagus atau jelek? Kan nomor satu. Tapi bagus atau jelek.’ Ini jawabannya bisa berbeda-beda dari masing-masing orang,” tuturnya.

“Tapi kalau saya, akan saya lihat sebagai ilmuwan kognitif, saya akan bisa bilang bukti dan data menunjukkan bahwa menggunakan AI di pelajaran dan di pendidikan menurunkan kemampuan berpikir kritis,” lanjut dia.

Karena itu, Stella menyatakan Indonesia tidak cukup hanya memperkenalkan AI kepada masyarakat. Menurut dia, kemampuan untuk berinovasi, mengevaluasi penggunaan AI, dan berpikir kritis justru perlu menjadi bagian yang lebih penting dalam pendidikan.

“Harus diingat-ingat agar jangan kita menjadi kesalahan, membuat, menginvestasikan yang salah dalam pendidikan kita. Kemampuan untuk berinovasi, mengevaluasi AI, berpikir kritis itu menjadi yang lebih penting lagi. Dari dulu penting, sekarang lebih penting lagi,” sebut dia.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana