Menuju konten utama

Mitos Musik Klasik Bikin Bayi Pintar & Asal-usul Mozart Effect

Mitos Mozart Effect diyakini hingga kini oleh banyak orang. Padahal banyak studi menemukan tidak ada keterkaitan musik Mozart dengan kecerdasan janin.

Mitos Musik Klasik Bikin Bayi Pintar & Asal-usul Mozart Effect
Ilustrasi Janin (Bayi) dalam Anatomi Rahim. (FOTO/iStockphoto)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepercayaan tentang memperdengarkan musik klasik kepada janin di dalam kandungan atau membiasakan anak mendengarkan musik klasik sejak bayi dapat membuat jenius masih diyakini oleh masyarakat luas. Padahal, ini hanyalah mitos ilmiah dan dogma budaya.

Studi psikolog Frances Rauscher tahun 1993 menjelaskan bahwa sekelompok mahasiswa memiliki peningkatan penalaran spasial setelah memperdengarkan musik karya komponis Austria Wolfgang Amadeus Mozart. Namun, peningkatan kemampuan tersebut bersifat temporal dan hanya bertahan 10-15 menit.

Penemuan ini diberitakan oleh media massa secara berlebihan hingga menciptakan opini publik yang keliru. Bahkan, kekeliruan ini berpengaruh pada kebijakan negara dan dunia industri yang memanfaatkannya. Meski begitu, musik secara umum dapat berdampak positif pada kesehatan mental seseorang.

Apa Itu Mitos Mozart Effect? Begini Asal-Usulnya

Di dunia pengasuhan anak, mitos Mozart Effect masih diyakini hingga kini oleh sejumlah kalangan. Mitos Mozart Effect merujuk pada klaim bahwa mendengarkan musik karya komponis Mozart dapat meningkatkan kecerdasan umum atau IQ janin di kandungan.

Gagasan ini muncul dari sebuah penilitian sekitar tahun 1993 di University of California, Irvine. Rauscher dan rekan-rekannya meminta 36 mahasiswa untuk mengerjakan tes penalaran spasial.

Hasil penelitian menunjukkan subjek memiliki kemampuan penalaran spasial yang jauh lebih baik dibandingkan saat mendengarkan instruksi relaksasi yang dirancang untuk menurunkan tekanan darah atau dalam kondisi hening.

Rata-rata skor IQ spasial tercatat 8 dan 9 poin lebih tinggi setelah mendengarkan musik tersebut dibandingkan pada dua kondisi lainnya. Efek peningkatan ini pun tidak bertahan lebih dari 10–15 menit. Rauscher menegaskan bahwa efek Mozart terbatas pada penalaran spasial-temporal dan tidak mencakup peningkatan kecerdasan umum.

Dalam budaya populer, mitos Mozart Effect merujuk pada klaim bahwa mendengarkan musik Mozart dapat meningkatkan kecerdasan umum atau IQ seseorang. Padahal, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa sekadar mendengarkan musik Mozart dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kecerdasan umum.

Melansir laman Parenting Science, meski tidak ada bukti ilmiah kecerdasan janin dengan memperdengarkan musik, bukan berarti musik tidak relevan bagi perkembangan kognitif. Bayi bisa jadi mempelajari sesuatu tentang bahasa saat mendengarkan musik dan mendengar nyanyian.

Bayi baru lahir dapat menunjukkan tanda-tanda mengenali melodi yang pernah mereka dengar selama masa kandungan, terutama musik yang menyenangkan dan berirama. Meski begitu, belum ada bukti kuat yang mendukung argumen bahwa paparan musik sebelum kelahiran bermanfaat bagi perkembangan bayi.

Seiring waktu, banyak orang meragukan penelitian mitos Mozart Effect ini. Pada tahun 1999, Penelitian lanjutan dengan analisis meta menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan akibat musik Mozart tersebut sangat kecil atau bahkan tidak ada sama sekali.

Lalu tinjauan-tinjauan pada tahun 2000-an juga mengonfirmasi tidak adanya bukti bahwa mendengarkan musik klasik secara pasif dapat meningkatkan perkembangan kognitif pada bayi. Rauscher sendiri akhirnya menyatakan bahwa efek tersebut hanyalah mitos. Itu artinya, efek Mozart adalah sebuah mitos ilmiah.

"Tidak ada bukti kuat yang menyatakan bahwa anak-anak yang mendengarkan musik klasik akan mengalami peningkatan kemampuan kognitif," ujar Rauscher, dikutip dari The Classical Station, Kamis (11/9/2025).

Peningkatan kemampuan penalaran spasial setelah mendengarkan musik Mozart dapat dikaji dengan menelaah cara otak memproses musik, yaitu dengan memahami lokalisasi persepsi musik.

Studi mengenai lesi otak terlokalisasi telah menunjukkan bahwa mendengarkan musik mengaktifkan berbagai area otak yang tersebar luas.

Jurnal The Mozart effect (2021) karya J S Jenkins yang dimuat di laman National Library of Medicine menjelaskan bahwa otak bagian kiri manusia memiliki kemampuan untuk membedakan ritme dan nada. Sementara, timbre dan melodi diproses terutama di belahan otak kanan.

Area otak yang berkaitan dengan pencitraan mental yang menguji tugas spasial-temporal juga dipetakan menggunakan pemindaian. Hasilnya menunjukkan bahwa area yang aktif mencakup wilayah prefrontal, temporal, dan precuneus, yang tumpang tindih dengan area yang terlibat dalam pemrosesan musik.

Area tumpang tindih ini diduga adanya keterkaitan mendengarkan musik dapat memicu aktivasi area otak yang berkaitan dengan penalaran spasial.

Ilustrasi otak

Ilustrasi Pertemuan dan analisis tim dokter kedokteran. Diagnosis memeriksa hasil pengujian otak. FOTO/iStockphoto

Kenapa Orang Salah Kaprah dengan Mitos Mozart Effect?

Meski fakta ilmiah menunjukkan tidak adanya keterkaitan mendengarkan musik Mozart dengan kecerdasan umum, tetapi mitos ini telah diyakini oleh banyak orang.

Popularitas mitos Mozart Effect tidak berdiri begitu saja. Ada peran media yang bombastis, pengusaha, kepentingan teoritis, dan kecemasan manusia yang saling berkelindan sebagai pemicunya.

Penemuan ilmiah Mozart Effect menjadi isu yang menarik bagi publik. Meski hanya mengingat sebagian isi penelitian, media massa secara masif memberitakan secara terus menerus dengan berbagai framing hingga menciptakan narasi publik yang keliru.

Hasil penelitian Rauscher tentang Mozart Effect menerangkan bahwa studi tersebut tidak berkaitan dengan kecerdasan secara keseluruhan ataupun tes IQ, tetapi unsur-unsur dasarnya memang ada. Di paragraf terakhir menjelaskan bahwa efek peningkatan penalaran spasial ini tidak bertahan lebih dari 10 hingga 15 menit.

Setelah penelitian ilmiah diterbitkan, Dr. Rauscher mendapat panggilan telepon pertama dari Associated Press. Seketika itu, studi berskala kecil ini keluar dari lingkup akademis yang eksklusif.

Melansir laman mcgill.ca, Dr. Rauscher juga diwawancarai oleh Tom Brokaw dalam siaran berita malam dan harus mempekerjakan seorang asisten untuk menangani panggilan telepon yang masuk.

Ketika pernyataannya dikutip secara keliru oleh media --seolah-olah ia menyiratkan bahwa mendengarkan musik rock tidak baik bagi otak-- Dr. Rauscher mulai menerima ancaman pembunuhan. Setelah ancaman itu, Dr. Rauscher memutuskan untuk tidak lagi mencantumkan nomor teleponnya di direktori publik.

Di sinilah media memiliki peran penting dalam dalam transformasi studi menjadi mitos ilmiah. Setelah hasil penelitian Mozart Effect populer, dua ilmuwan dari Stanford University menelusuri bagaimana jurnalis meliput kisah ini dari waktu ke waktu.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sejak tahun 1997 dan seterusnya, banyak artikel berita yang menyebutkan Mozart Effect yang diteliti Dr. Rauscher menggunakan objek penelitian bayi daripada mahasiswa saat membahas efek Mozart. Padahal, penelitian Dr. Rauscher sebenarnya tidak pernah dilakukan pada bayi.

Meski begitu, di tahun itu, Rauscher dan Shaw menerbitkan hasil studi di mana anak-anak menerima pelatihan musik, yang kemudian meningkatkan kemampuan mereka dalam memanipulasi bentuk di ruang spasial. Namun, objek kajian ini bukanlah bayi. Perlu diketahui, objek ini tidak sedang mendengarkan musik Mozart, melainkan sedang belajar bermain piano.

Pergeseran objek mahasiswa menjadi bayi diteliti oleh Clémentine Beauvais, seorang doktor di bidang pendidikan tahun 2015. Penelitian ini mengkaji Mozart Effect dari sudut pandang sosiologi.

Clémentine Beauvais mengkaji bagaimana konteks sosial mitos yang berkembang kala itu yang turut mempengaruhi penelitian Mozart Effect dari Rauscher. Terdapat beberapa peristiwa penting yang dikaji oleh Beauvais, yaitu perayaan dua abad kematian Mozart di 1991 dan perlombaan Antariksa (1950-an dan 1960-an) telah memicu kecemasan warga Amerika mengenai kemampuan mereka dalam membesarkan anak-anak cerdas yang kelak akan meraih kesuksesan.

Lalu Presiden George H. W. Bush mencanangkan tahun 1990-an sebagai Decade of the Brain. Kala itu, Mozart menjadi simbol aspirasi intelektual dan artistik. Wolfgang Amadeus Mozart adalah satu-satunya komponis musik klasiknya dianggap berkelas sekaligus digemari khalayak luas.

Di tahun 1990-an, musik Mozart disebut Beauvais sebagai sihir yang menular. Musik Mozart itu dianggap menyimpan kejeniusan sang maestro, sehingga dengan memutarnya, para orang tua yang cemas bisa menjamin masa depan gemilang bagi anak-anaknya.

Melansir laporan Britannica, temuan ini kemudian dikembangkan menjadi klaim yang jauh lebih bombastis oleh musisi sekaligus pengusaha Don Campbell. Pada tahun 1997 menerbitkan buku terlaris berjudul The Mozart Effect: Tapping the Power of Music to Heal the Body, Strengthen the Mind, and Unlock the Creative Spirit. Klaim Campbell mengenai khasiat ajaib musik Mozart terus-menerus diberitakan di media dan memicu tren kegiatan pengayaan berbasis musik Mozart.

Apakah Musik Klasik Bermanfaat untuk Bayi?

Ilustrasi Janin

Ilustrasi Janin (Bayi) dalam Anatomi Rahim. (FOTO/iStockphoto)

Secara fakta ilmiah, tidak ada keterkaitan pengaruh musik klasik terhadap kecerdasan umum bayi. Namun, penelitian terdekat dilakukan oleh Rauscher dan tim tahun 1998 menunjukkan studi eksperimental pada hewan pengerat yang melaporkan memiliki peningkatan kognitif setelah diperdengarkan Sonata K.448 karya Mozart saat masih bayi.

Dibandingkan dengan kelompok yang mendengarkan musik lain, hewan pengerat yang diperdengarkan musik Mozart menunjukkan kemampuan lebih unggul dalam menavigasi labirin

Meski dampak musik klasik pada bayi sangat minim, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bayi benar-benar dapat "mendengar" saat ibu hamil bernyanyi atau mendengarkan musik. Ketika peneliti menguji bayi tak lama setelah lahir, bayi baru lahir bahkan menunjukkan tanda-tanda mengenali melodi yang pernah mereka dengar selama masa kandungan.

Meski begitu, belum ada bukti penelitian yang menujukkan bahwa paparan musik sebelum kelahiran bermanfaat bagi perkembangan bayi. Namun sebuah studi yang dilakukan oleh Movalled dan tim (2023) berjudul The Impact of Sound Stimulations During Pregnancy on Fetal Learning: A Systematic Review yang dimuat di laman europepmc.org menunjukkan bahwa tujuh eksperimen menunjukkan bayi telah mempelajari stimulus suara yang diberikan saat janin. Lalu satu studi menunjukkan bahwa bayi yang menerima stimulasi prenatal memiliki performa yang jauh lebih baik pada tes perilaku neonatal.

Penelitian The Effects of Music-Based Interventions for Pain and Anxiety Management during Vaginal Labour and Caesarean Delivery: A Systematic Review and Narrative Synthesis of Randomised Controlled Trials (2026) ditulis Amy Rose Hunter dan tim dalam International Journal of Environmental Research and Public Health menjelasakan bahwa memperdengarkan musik saat proses persalinan juga tampaknya membantu ibu mengatasi kecemasan dan rasa nyeri.

Penelitian ini dilakukan pada 28 studi yang diidentifikasi dengan total 2835 peserta. Sebagian besar, menilai intervensi berbasis musik menghasilkan pengurangan kecemasan dan nyeri selama persalinan pervaginam dan operasi caesar.

Dalam hal ini, musik sebagai bagian dari strategi pengobatan komprehensif. Musik yang dipilih peserta, musik yang dipadukan dengan terapi lain, dan musik relaksasi/instrumental secara khusus bermanfaat untuk mengurangi nyeri ringan hingga sedang dan kecemasan.

Intervensi berbasis musik menunjukkan efek yang menjanjikan dalam mengurangi nyeri dan kecemasan pada perempuan selama persalinan. Namun, efek jangka panjang dari intervensi ini masih perlu dikaji lebih lanjut.

Secara umum, pasien merasakan manfaat musik sebagai peredaa kecemasan yang paling optimal ketika mereka dapat memilih sendiri musik yang ingin didengarkan. Itu artinya, preferensi pribadi tentang genre musik memegang peranan penting.

Mendengarkan musik juga kemungkinan memiliki dampak positif bagi kesehatan, setidaknya karena musik dapat membantu seseorang mengatasi stres. Namun, belum ada bukti yang cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa musik Mozart memberikan manfaat medis yang spesifik.

Jika merasa bosan atau lesu, mendengarkan musik yang menyenangkan dan menggugah semangat selama beberapa menit mungkin bisa membuat seseorang merasa lebih waspada dan terlibat aktif, meski bukan satu-satunya cara untuk mencapai kondisi tersebut.

Lebih lanjut, mendengarkan musik merupakan bagian yang mendalam dan penting dari pengalaman manusia. Termasuk membagikan musik kepada anak-anak, terlepas dari manfaat praktis apa pun yang mungkin dimilikinya. Namun, tidak perlu berharap lebih bahwa sekadar mendengarkan musik akan membuat seseorang cerdas secara instan.

Baca juga artikel terkait KECERDASAN ANAK atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora