Menuju konten utama
Mozaik

Ketika Prambors Memantik Revolusi Musik Pop Picisan

Lomba Cipta Lagu Remaja gagasan Prambors membuat musik pop Indonesia '70-an mulai beragam, dari yang sebelumnya monoton penuh cerita duka cinta dan lara.

Ketika Prambors Memantik Revolusi Musik Pop Picisan
Sampul Album LCLR Prambors 1979. wikimedia/Hidra

tirto.id - Warsa 1977, genre musik pop Indonesia tengah dalam kondisi genting. Kritikus musik paling tajam di periode itu, Remy Sylado, mengeluh dengan sinis di majalah Prisma bahwa hampir semua lagu pop yang didengarnya di radio dan kaset pita berlirik sama.

Kata mengapa ada di mana-mana; rerata berinti soal ratapan patah cinta.

“Kata mengapa, rata-rata telah menjadi suatu manifestasi ketidak-tentuan maknawi. Seni pop hanya mengapa melulu dan tak pernah memberi jawaban tentang itu,” kritiknya, dalam "Musik Pop Indonesia: Satu Kebebalan Sang Mengapa" (Prisma, Juni 1977, hlm. 23-31).

Salah satu finalis Festival Lagu Populer Indonesia 1975, Tina Roy, melalui dendang "Sampai Menutup Mata" gubahan Mus K. Wirya, juga dikritik lantaran bercumbu dengan sang mengapa.

Menurut Remy Sylado, rentetan kata mengapa yang kerap mengisi puluhan lirik lagu pop Indonesia hanya bicara itu-itu saja. Kebanyakan lirik pasaran itu juga dibalut dengan nada yang dicapnya menye-menye.

"... Pop Indonesia memang hanya catatan tentang orang-orang yang sakit jiwa, yang menangisi hidupnya karena mengapa ditinggalkan cinta,” ucapnya, seolah muak.

Tak pandang bulu, berbagai musisi kenamaan nasional dilibas oleh pena pedas Remy, mulai dari kugiran yang kepalang besar namanya, A. Riyanto, hingga kelompok yang disebutnya “pejantan”, macam God Bless dan Panbers. Bahkan, Koes Ploes, lewat lagu "Seminggu Yang Lalu", juga tak luput dari coretan gusar wartawan kelahiran Makassar tersebut.

Sekonyong-konyong demi merespons kemuakan itu, Prambors Rassisonia, stasiun radio yang getol pada musik dan kawula muda, mencetus ide gila. Dengan enteng mereka bertanya ke anak-anak SMA dan mahasiswa Jakarta, "Kamu punya lagu? Kirim ke sini dan kita lombakan!"

Prambors menghelat ajang bertajuk Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR), kontes yang kemudian berturut melejitkan nama-nama musisi dan komponis terkenal di kancah nasional hingga mancanegara.

Laksana jembatan budaya, lahirlah lagu-lagu baru, yang mewarnai cakrawala musik pop Indonesia. LCLR mengusung misi cukup ambisius. Mereka mencoba mendobrak stagnasi dalam industri musik pop yang kala itu nyaris tak ada terobosan anyar.

Stagnasi Lirik Seragam dari Hati yang Muram

Pada periode 1970-an, sajian musik pop Indonesia didominasi kelompok kenamaan, seperti Koes Plus, Panbers, Favourite’s Group, The Mercy’s, serta The Lloyd. Namun, ada satu masalah besar.

Sebagaimana diungkapkan Sys NS (Soerio Soebagio), "Sersan Prambors" sekaligus politikus Indonesia pendiri Partai Demokrat, yang kala itu didapuk sebagai salah satu panitia LCLR:

“Saat itu musik pop kita tak ubahnya dagangan yang hampir tidak memikirkan kualitas,” demikian dikutip dari memoar pribadi Denny Sakrie, kritikus dan pengamat

musik Indonesia.

Melodi yang dibawakan sederhana juga repetitif, dengan akord seadanya serta lirik nyaris seragam, seolah ada templat yang disepakati semua orang.

Karakter musik semacam itu dianggap oleh Denny dan Remy hanya bertujuan mengeruk pundi komersial dari kuping para pendengar. Akhirnya, musik pop Indonesia menjadi “tunggal nada” dan telah mencapai titik kulminasi.

Kendati nuansa kompetisi macam Festival Lagu Populer Indonesia sejak 1971 telah digelar, pola yang sama tak kunjung berubah, seolah terkungkung templat.

Sebenarnya, dari lorong sekolah menengah dan kamar mandi muda-mudi, ada gelombang kebaruan yang menyambar pelan-pelan. Tapi masalahnya, penyambung antara bakat dan pendengar masih terbatas sehingga mereka hanya menonjol di lingkungannya sendiri.

Celah itulah yang mampu dilihat Prambors Rassisonia. Sebagai stasiun musik nomor satu untuk medium radio—sebagaimana klaim mereka—membangun interaksi antargenerasi dengan memanfaatkan kondisi genting adalah kesempatan yang tak boleh lewat.

Secara eksplisit, LCLR menyasar para kawula muda. Syaratnya enteng. Para kontestan hanya diwajibkan menciptakan lagu pop dengan lirik berkualitas, dengan aransemen musik progresif yang lebih berani.

Hasilnya, album 10 Lagu Terbaik untuk edisi perdana langsung mendentum keras sejak edaran pertama.

Hampir-hampir seperti berjudi, tak ada yang menduga karya-karya yang dikirim ke LCLR tahun perdana merupakan deretan lagu-lagu luar biasa. Sebagian besar pengirimnya anak-anak SMA. Tiga di antaranya berasal dari Vokal Grup SMA III Jakarta: "Akhir dari Sebuah Opera", "Angin", dan "Di Malam Sang Sukma Datang".

Siswa-siswa SMA III jakarta yang menulis lagu-lagu tersebut adalah Fariz RM, Adjie Soetama, Raidy Noor, serta Iman RN, yang kemudian hari dikenal sebagai tulang penggerak musik pop Indonesia.

Kelahiran para Legenda

Memang benar bahwa "Kemelut" karya Junaedi H. Salat merebut juara pertama pada pagelaran perdana. Namun, yang jadi primadona di telinga para pendengar bukan itu, melainkan "Lilin-Lilin Kecil" gubahan James F. Sundah. Prambors bahkan menjulukinya "Lagu Tersayang".

Lagu tersebut sederhana dan hangat, dinyanyikan oleh pemuda yang kala itu belum banyak diketahui orang. Pemuda itu bernama Chrismansyah Rahardi, yang hari ini beken dikenal sebagai Chrisye.

Nama Chrisye sebelumnya memang sudah ada di lingkaran musisi muda Jakarta. Dia memetik bas, juga bergaul dengan Eros Djarot dan Jockie Surjoprajogo. Namun, momen dirinya dikenal oleh publik luas baru hadir saat "Lilin-Lilin Kecil" dirilis.

Logo prambors

Logo prambors. FOTO/pramborsfm.com

Kalau-kalau LCLR 1977 adalah letupan, maka edisi selanjutnya, LCLR 1978 adalah ledakan penuh.

Juara pertama diraih "Khayal" karya Christ Kaihatu dan Tommy WS, dinyanyikan oleh Purnama Sultan.

Namun, lagi-lagi seperti tahun sebelumnya, lagu yang lebih diminati pasar bukan sang juaranya, melainkan "Kidung", buah pikir Chris Manusama, yang dibawakan trio: Bram, Dianne, dan Chris.

"Kidung" adalah wujud revolusi musik tanah air di periode itu. Liriknya tak lagi melulu tentang cinta, melainkan kemesraan hamba dengan Tuhannya. Melodinya pun bukan lagi nada dasar arus utama, tetapi percampuran antara mayor dan minor, yang pada masanya sangat jarang ditemukan di komposisi musik pop.

Bintang berkelip dengan jenaka

Seakan tahu arti dan rasa

Oh, kidung yang indah, kauluputkan aku

Dari sebuah dosaku

Album LCLR 1978 juga mengorbitkan nama Keenan Nasution, musisi Batak yang sukses melantunkan "Awan Putih" dan "Saat Harapan Tiba".

Bersama Sys NS, Imran Amir, dan Mohammad Noor, LCLR mengusung album kompilasi kedua dengan tajuk Dasa Tembang Tercantik, dinamai oleh kreator Prambors, Temmy Lesanpura.

Album tersebut kelak mendapat penghargaan sebagai salah satu album Indonesia terbaik sepanjang masa, peringkat ketiga dalam daftar “150 Album Indonesia Terbaik” versi majalah Rolling Stone Indonesia edisi ke-32, Desember 2007.

Kompilasi album tersebut masih diaransemen penuh oleh "Petualang Musikal” Jockie Surjoprajogo, dengan instrumen piano, organ, synthesizer bass, dan mellotron. Dalam nuansa musik 1978, suara-suara yang melengking dari tiap lagunya seolah berasal dari masa depan: modis, trendi, dan segar.

Memasuki tahun ketiga, LCLR tampil berbeda dengan gaya klasik dan rhythm and blues, kali ini digodok oleh duo Debby Nasution dan Addie MS. Debby tampak dipengaruhi atmosfer klasik J.S. Bach sehingga banyak menghadirkan suara hammond organ, sedangkan Addie MS condong mengadopsi soul music R&B ala Earth Wind & Fire.

Meski senantiasa mempertahankan nama album Dasa Tembang Tercantik, ia masih menjadi salah satu edaran paling ditunggu-tunggu.

Salah satu nama ikonik di edisi ketiga tersebut adalah Ikang Fawzi. Di album LCLR 1979, lagu ciptaan Ikang berjudul "Cahaya Kencana", yang dinyanyikan oleh Achmad Albar, menempati peringkat tiga terbaik.

Sampul Album LCLR Prambors 1980

Sampul Album LCLR Prambors 1980. wikimedia/Fair Use

Candradimuka Pop Kreatif Indonesia

Memasuki ’80-an, LCLR laksana gelanggang tempat para musisi muda ditempa dan diuji, agar siap terjun ke industri.

Di LCLR edisi 1980, Dian Pramana Poetra, maestro yang kelak menjadi salah satu pencipta lagu paling produktif sepanjang sejarah Indonesia, meraih juara ketiga lewat lagu "Pengabdian".

Pada tahun berikutnya, LCLR edisi 1981, vokal unik dan musik jaz khas ala Utha Likumahuwa menggemparkan tiap-tiap jemala. Tembang "Pribumi" yang dibawakannya sukses menjadi lagu top.

Kompilasi Dasa Tembang Tercantik 1982/1983 juga tak luput menjadi momen bersejarah. Sampul albumnya berlukis wajah seorang wanita muda yang baru saja boyong dari Jerman.

Dialah Vina Panduwinata, yang mengguncang panggung tarik suara dengan aksen Jerman yang masih kental. Parasnya yang terpampang di album LCLR 1982/1983 merupakan simbol bahwa generasi baru telah tiba dan siap merebak.

Di era itulah muncul pop kreatif, nama subgenre baru yang dipopulerkan oleh jurnalis Seno M. Hardjo dan Bens Leo untuk membedakan musik-musik orbitan LCLR dan musik picisan yang dicap menye-menye. Subgenre tersebut menggabungkan pengaruh global dan lokal, dikenal dengan melodi halus, ritme ceria, lengkap dengan nuansa nostalgia.

Pop kreatif muncul sebagai bentuk musik yang berbeda dari arus utama pada masanya, dan acap kali diasosiasikan dengan kultur “pop kontemporer”, “pop trendi”, dan “pop kelas atas”. Pada masa itu, mendengarkan lagu-lagu LCLR dianggap memiliki karsa megah, cap kelas kakap dengan sense tinggi.

Menghilang Tanpa Perpisahan

Usai menelurkan album 1982/1983, penyelenggaraan LCLR vakum hampir empat tahun, ditengarai akibat perubahan industri musik dan mulai menjamurnya era kaset.

Selain itu, kawula muda juga bergeser menyelami skena musik indi, dan menganggapnya lebih leluasa melakukan apa pun, baik menulis, memproduksi, maupun mengedarkan lagu sendiri.

Sekalipun kembali berusaha mengudara kembali pada 1987-1991 dengan menghasilkan rentetan album dan nama-nama baru, nyatanya LCLR tiarap. Mereka vakum kembali hingga 1995. Lalu tiba-tiba, ia mengucap salam perpisahan dengan menyuguhkan jamuan terakhir Dasa Tembang Tercantik edisi 1996.

Musiknya masih digarap oleh Jockie Surjoprajogo, penata musik yang tampil sejak peluncuran perdana 1977. Di titik ini, Jockie serupa imam, mengawali ajang tersebut lepas landas, lalu memimpin tambatan kompilasinya di labuhan terakhir.

Setelah itu, apakah LCLR benar-benar berakhir? Secara harfiah, kontes dan pialanya memang berselimut kusam. Namun, lagunya senantiasa menggema di panggung-panggung hiburan.

Vidi Aldiano melanjutkan jejak lantunannya lewat "Nuansa Bening", hit Keenan Nasution. Titi DJ, yang baru populer sejak kepiawaiannya merinai "Salahkah Aku" pada LCLR edisi 1990/1991, juga membawakan beberapa remastered lagu-lagu lama edisi awal LCLR.

Prambors melahirkan lebih dari sekadar lagu hit, melainkan sebuah ekosistem baru. LCLR lahir lantaran kegelisahan dan terobosan anyar tentang musik, bukti legenda dapat lahir bukan hanya lewat roman picisan, tetapi juga puisi yang bernada.

Yang tak kalah penting adalah kekuatan siaran radio. LCLR menandakan bahwa gebrakan radio mampu merevolusi dan mencetak identitas musik bangsa.

Baca juga artikel terkait SEJARAH MUSIK atau tulisan lainnya dari Abi Mu'ammar Dzikri

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Abi Mu'ammar Dzikri
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin