Menuju konten utama
30 Maret 2007

Chrisye, Sang Lilin Kecil yang Terus Berpendar

Serpih pelangi.
Kepak merpati putih
dalam simponi.

Chrisye, Sang Lilin Kecil yang Terus Berpendar
Ilustrasi Chrisye. tirto.id/Gery

tirto.id - Chrisye adalah satu jenis penyanyi langka. Jika kamu mendengarnya tanpa melihat, kamu sudah tahu bahwa itu adalah suara Chrisye. Menariknya, Chrisye menekuni karier sebagai pemusik bukan sebagai biduan, melainkan pemain bass.

Ia lahir di Jakarta pada 16 September 1949. Nama lengkapnya adalah Christian Rahadi, yang kemudian berubah jadi Chrismansyah Rahadi. Orang tuanya adalah Laurens Rahadi dan Hana Rahadi. Pada 1954, keluarga Chrisye pindah ke Jalan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat. Chrisye bertetangga dengan keluarga Nasution, paling akrab dengan Gauri Nasution. Menurut sejarawan musik Denny Sakrie, rumah keluarga Nasution dengan Rahadi hanya dipisah satu rumah.

Gauri dan Chrisye sering main gitar dan bernyanyi bareng. Chrisye kemudian belajar bass. Karena, ujar Chrisye, alat musik itu tampak sebagai alat musik yang paling mudah. Singkat cerita, keluarga Nasution kemudian membentuk band bernama Sabda Nada, dan mengajak Pontjo Sutowo, anak pejabat Pertamina Ibnu Sutowo. Tapi tak ada Chrisye di sana.

Barulah pada 1969, Gauri mengajak Chrisye masuk ke Sabda Nada untuk menggantikan pemain bass yang sedang sakit. Kemampuan Chrisye dianggap memuaskan, ia kemudian menjadi pemain tetap. Mereka sering manggung di klub Mini Disko yang terletak di Jalan Juanda. Beberapa kali pula Chrisye diminta untuk menyanyi.

Di tahun 1969 itu pula, Sabda Nada mengganti nama jadi Gipsy. Di buku Musisiku (2007), formasinya adalah Chrisye (bass), Keenan Nasution (drum), Gauri Nasution (gitar), Tammy Daudsyah (flute dan saks), Atut Harahap (vokal), dan Onan Soesilo yang menggantikan Pontjo di organ. Mereka memainkan musik-musik dari Jethro Tull, Blood Sweat and Tears, juga Chicago.

Pada 1972, Ibnu Sutowo menawari Gipsy sebagai band untuk Restoran milik Pertamina, Ramayana, yang terletak di New York. Mereka setuju. Namun Chrisye harus tertinggal karena sang ayah tak setuju. Saat itu Chrisye masih terdaftar sebagai mahasiswa di Akademi Pariwisata Trisakti. Karena dilarang itu, Chrisye sempat jatuh sakit.

Ayahnya kemudian melunak dan memberikan izin. Chrisye kemudian mengundurkan diri sebagai mahasiswa, dan pergi ke New York bersama Pontjo. Setelah kontrak mereka selesai, Gipsy pulang ke Indonesia.

Pada 1975, Chrisye kembali ke Amerika Serikat untuk berkarier bersama The Pro's. Namun suatu hari, Chrisye mendapat kabar bahwa adik lelakinya, Vicky, meninggal dunia. Karena tak bisa langsung pulang ke Indonesia, pikiran Chrisye kalut. Dalam Chrisye: Sebuah Memoar Musikal (2007), disebutkan bahwa ketika akhirnya bisa pulang, Chrisye terus menangis di pesawat dan depresi.

Chrisye sempat lama tak bermusik. Hingga suatu hari Nasution Bersaudara kembali menghubungi Chrisye untuk proyek terbaru keluarga Nasution bersama Guruh Soekarnoputra: Guruh Gipsy. Mereka memainkan musik rock progresif ala Emerson, Lake & Palmer yang dibungkus dengan musik gamelan Bali.

Setelah rekaman di Laboratorium Pengembangan dan Penelitian Audio Visual Tri Angkasa yang memakan waktu lebih dari setahun, album Guruh Gipsy dirilis pada 1977 (beberapa sumber menulis dirilis pada akhir 1976). Pendanaan dibantu oleh kawan lama mereka yang sudah jadi pengusaha sukses, Pontjo.

Keenan dan Chrisye menjadi vokalis utama di album ini. Chrisye bersenandung di "Chopin Larung" dan "Smaradhana". Sedangkan di lagu "Djanger 1897 Saka", Chrise berduet dengan Keenan. Suara Chrisye di "Chopin Larung" amat menghantui. Suaranya lamat dan pelan, diikuti oleh bebunyian piano dan synth yang kelam.

Album ini mendapat sambutan baik dari kritikus. Hal ini membuat Chrisye yakin bahwa dirinya bisa bernyanyi dan dinikmati oleh penggemar maupun kritikus.

Berkat "Lilin-Lilin Kecil"

Kepopuleran Chrisye di jagat musik pop terjadi ketika pada 1977 ia menjadi penyanyi lagu "Lilin-Lilin Kecil" karya James F. Sundah. Lagu itu diciptakan Sundah untuk ajang Lomba Cipta Lagu Remaja 1977 yang dibuat oleh Radio Prambors.

Awalnya, seperti dikisahkan dalam Chrisye: Sebuah Memoar Musikal (2007) yang disusun Alebrthiene Endah, Chrisye sempat menolak ketika diajak Yockie Suryoprayogo untuk jadi vokalis di album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors ini. Namun Sys NS berhasil meyakinkan Chrisye untuk menyanyikan "Lilin-Lilin Kecil". Sys mungkin sudah bisa meramal bahwa lagu itu akan meledak jika Chrisye yang jadi vokalis.

Nubuat Sys benar, lagu "Lilin-Lilin Kecil" jadi hit laris. Album LCLR 1977 jadi album paling laris tahun itu. Kesuksesan ini membuat Chrisye makin mantap menapaki jalur sebagai penyanyi. Kelak, Rolling Stone Indonesia, memasukkan lagu ini di peringkat 13 dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik.

Label Pramaqua Records kemudian melihat Chrisye sebagai calon penyanyi dahsyat. Mereka menawarkan Chrisye untuk membuat album. Ia setuju. Tak main-main, musisi pengiringnya semua kelas wahid. Yockie main keyboard, Ian Antono mengisi departemen gitar, dan Teddy Sujaya menggebuk drum. Chrisye kebagian bernyanyi dan bermain bass. Album itu kemudian diberi judul Jurang Pemisah.

Meski album ini dahsyat secara kualitas, tapi ternyata penjualannya dianggap gagal. Dalam autobiografinya, Chrisye menyebut album ini, "hangat-hangat tahi ayam, dan tidak mencapai ledakan yang diharapkan."

Di saat itu, musisi dan sutradara Eros Djarot mengajak Yockie dan Chrisye untuk menggarap lagu latar film Badai Pasti Berlalu. Mereka setuju. Pengisi album ini adalah Chrisye, Berlian Hutauruk (vokal), Fariz R.M (drum), Yockie (kibor), Keenan (drum), dan Debby Nasution (kibor). Chrisye menggarapnya dengan santai. Ia tak memikirkan apa-apa, termasuk uang maupun royalti.

"Dalam kepala saya saat itu hanya terlintas pemikiran, mana ada sih orang menguber album berisi lagu-lagu dalam film, kecuali yang sangat fanatik dengan filmnya," kata Chrisye.

Di album itu, Chrisye pertama kali menciptakan lagu: "Merepih Alam". Lagu ini diciptakan ketika Chrisye sedang melamun di teras. Liriknya digarap mengikuti mood yang sedang bersemangat.

Saat itu, Chrisye, Eros, dan Yockie tidak menerima royalti, melainkan sistem bayar putus. Jadi ketika pekerjaan mereka selesai dan menerima bayaran, tak ada lagi honor lanjutan dari royalti. Ini merupakan praktik yang lazim pada masa itu.

Ketika album itu dirilis pada 1977, ternyata pasar menyambut dengan sangat baik. Chrisye menyebut album ini dengan istilah: meledak di pasaran! Banyak lagu dari album itu diputar terus menerus di radio, termasuk "Merepih Alam" ciptaannya.

"Bukan itu saja," tutur Chrisye, "kritikus musik menyebutkan album itu sebagai dobrakan besar di kancah musik Indonesia. Sebuah terobosan yang mengisyaratkan pembaruan dalam warna musik pop. Bahkan ada yang menyebut album ini sebagai karya monumental yang sangat penting dalam industri musik Indonesia."

Apa yang diucapkan Chrisye bukanlah bualan. Tiga dekade kemudian, majalah Rolling Stone Indonesia membuat senarai 150 Album Indonesia Terbaik. Peringkat satunya adalah Badai Pasti Berlalu. Hebatnya, di peringkat dua adalah album Guruh Gipsy, album yang turut digarap oleh Chrisye.

Infografik Mozaik Chrisye

Terus Berselancar di Ombak Zaman

Waktu berlalu, Chrisye tidak seperti banyak bintang pop lain yang dilupakan zaman. Chrisye tetap diingat, dan terus berkarya. Banyak lagu yang dinyanyikan terasa betul karakternya, sehingga susah untuk dinyanyikan ulang penyanyi lain.

Chrisye berhasil berselancar di segala zaman. Termasuk dengan cara menggandeng musisi yang lebih muda. Ia pernah bekerja sama dengan Ahmad Dhani, Peterpan (cikal bakal Noah), Ungu, Naif, hingga Eross Chandra dari Sheila On 7.

Dalam autobiografinya, Chrisye pernah bilang bahwa ia tak akan pernah berhenti bermusik hingga ia tak mampu lagi. Ia menepati janjinya. Ia terus bernyanyi, bahkan saat dokter mengumumkan Chrisye mengidap kanker paru stadium 4 pada 2005.

Ketika diberitahu ia mengidap kanker dan harus menjalani kemoterapi, Chrisye tidak histeris. Dalam The Last Words of Chrisye (2010), Chrisye hanya diam dan bersikap tenang ketika mendapat kabar buruk itu. Ia hanya punya satu pertanyaan.

"Dokter, apakah rambut saya akan rontok?"

Tahun 2006 Chrisye sempat merilis album Chrisye By Request dan Chrisye Duet By Request. Ia menggandeng banyak musisi di album ini. Ada Vina Panduwinata, Waldjinah, Titi DJ, Berlian Hutauruk, bahkan Project Pop. Namun setelah itu, kondisi kesehatannya berulang kali memburuk.

Pada 30 Maret 2007, tepat hari ini 11 tahun lalu, Chrisye meninggal dunia di usia 57. Ia dimakamkan di TPU Jeruk Purut. Hari itu, Indonesia berkabung karena kehilangan salah satu musisi terbesarnya. Sepanjang kariernya, ia berkontribusi di 9 album proyek, 4 album soundtrack (termasuk Ali Topan Anak Jalanan), dan menghasilkan 20 album solo.

Chrisye pada akhirnya sama dengan lilin yang pernah ia nyanyikan pada 1977 silam—lagu yang membuat namanya dikenal khalayak luas. Hidupnya menerangi banyak orang. Ia terus menyala hingga tak lagi sanggup berpendar.

Baca juga artikel terkait PENYANYI LEGENDARIS atau tulisan lainnya dari Nuran Wibisono

tirto.id - Musik
Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Ivan Aulia Ahsan