Menuju konten utama

Ketika Tak Ada Lagi Ahmad Dhani

Ahmad Dhani adalah salah satu musisi jenius. Karya-karyanya di masa lalu selalu menorehkan prestasi. Sayang, semuanya kini tenggelam di balik manuver-manuver dan pernyataan kontroversialnya.

Ketika Tak Ada Lagi Ahmad Dhani
Musisi Ahmad Dhani mengunjungi area lokalisasi Kalijodo, Jakarta Utara, senin (15/2). [Antara foto/yossy widya/foc/16]

tirto.id - Ini memang bukan peraturan tak tertulis tapi kerap diamini: vokalis adalah nyawa dari sebuah band.

Sewaktu Jim Morrison meninggal tahun 1971, The Doors tak akan bisa bersatu lagi. Meski mereka terus aktif bermusik, tak ada yang bisa menggantikan Jim. Begitu pula saat John Lennon ditembak pada 1980. The Beatles yang berencana reuni, langsung membatalkan rencana itu. Sebab George Harrison, Paul McCartney, dan Ringo Starr tahu bahwa tanpa Lennon tak akan ada Beatles. Begitu pula saat Queen kehilangan Freddie Mercury, mereka tak akan pernah sama lagi.

Di Indonesia, kisahnya juga nyaris sama. Bisa membayangkan bagaimana Gigi tanpa Arman Maulana, Soneta tanpa Rhoma Irama, AKA tanpa Ucok, God Bless tanpa Achmad Albar, atau katakanlah: ST12 tanpa Charlie Van Houten?

Tak banyak band yang bisa bertahan saat kehilangan vokalis. Sedikit yang berhasil itu adalah AC/DC dan Van Halen. AC/DC sempat limbung ketika ditinggal Bon Scott yang begitu berkharisma. Begitu pula Van Halen saat ditinggal David Lee Roth yang energis dan membuat Van Halen jadi begitu menyenangkan didengar dan ditonton. Tapi ternyata AC/DC mendapatkan Brian Johnson dan membuat album magnum opus mereka, Back in Black yang terjual 22 juta keping di seluruh dunia. Sammy Hagar berhasil menggantikan David Lee Roth dan membuat album 5150 yang fenomenal itu bersama Van Halen. Tapi tentu kisah seperti ini tak banyak. Kehilangan vokalis dalam sebuah band adalah sehelai rambut tipis yang memisahkan hidup dan mati.

Ahmad Dhani dan Dewa 19 berhasil melalui fase genting dengan gemilang itu walau berdarah-darah.. Band ini dibentuk Dhani bersama kawan-kawan satu sekolah di SMP Negeri 6 Surabaya pada 1986. Nama Dewa adalah inisial para personel awal mereka: Dhani, Erwin, Wawan, dan Andra. Bongkar pasang personel kemudian terjadi, hingga pada 1992 mereka merilis album pertama bertajuk Dewa 19. Waktu itu personel mereka adalah Dhani, Andra, Ari Lasso, Erwin, dan Wawan.

Album itu mempopulerkan lagu "Kangen" yang di kemudian hari direkam ulang oleh Chrisye dan Sophia Latjuba. Album perdana Dewa 19 ini berhasil terjual 300.000 keping. Mereka juga mendapat 2 penghargaan di ajang BASF Award untuk kategori Pendatang Baru Terbaik dan Album Terlaris.

Indonesia kemudian mengenal Dewa 19 sebagai grup musik pop yang terpengaruh sedikit jazz. Dhani juga dikenal sebagai pembuat lagu yahud dan penulis lirik jempolan yang menguasai berbagai tema. Lagu "Cukup Siti Nurbaya" adalah kritik terhadap orang tua otoriter, "Satu Hati (Kita Semestinya)" adalah lagu cinta yang meneguhkan, "Terbaik-Terbaik" menampilkan erotika dengan sangat anggun, hingga "Selatan Jakarta" yang merupakan salah satu lagu terbaik tentang ibu kota yang akan relevan hingga kapanpun.

Namun kemudian, seperti kebanyakan band besar, ada masalah yang terjadi dalam tubuh Dewa 19. Beberapa personel kecanduan narkoba, termasuk Ari Lasso. Hal itu berujung pada pemecatan Ari pada 1999. Ari, dalam berbagai kisah, bercerita bahwa dia yang memilih untuk mundur. Dewa 19 memutuskan untuk vakum dan mengeluarkan album The Best Of.

Di sela vakumnya Dewa 19, Dhani memilih untuk membuat band baru bernama Ahmad Band. Kali ini formatnya super band. Bersama Andra, Pay dan Bongky dari Slank, dan Bimo Sulaksono. Mereka merilis satu album, Ideologi Sikap Otak. Dibandingkan dengan penjualan album Dewa 19, album itu memang berada dalam kelas semenjana. Namun, secara pencapaian artistik, album ini termasuk juara. Album ini berhasil menelurkan hits seperti "Distorsi", "Bidadari di Kesunyian", "Ode Buat Extrimist", dan tentu saja lagu legendaris "Aku Cinta Kau dan Dia" yang ditulis Dhani bersama Bebi Romeo.

Karena Dewa vakum dan Dhani serta Andra sibuk dengan proyek lain, banyak orang menduga inilah akhir dari karier Dewa 19. Banyak orang setuju kalau Ari Lasso adalah nyawa dari band ini. Karakter vokalnya begitu lekat dengan Dewa 19.

Tepat di sana Dhani membuktikan dua hal: orang-orang itu salah; dan Dhani adalah otak dari Dewa 19. Untuk mengisi kekosongan personel, pria yang menggemari Queen ini merekrut dua personel baru, yakni Elfonda Mekel alias Once untuk departemen vokal, dan Tyo Nugros untuk jadi drummer. Dewa 19 format baru ini merilis album Bintang Lima.

Di luar dugaan, album ini laris manis. Laku sekitar 1,7 juta keeping: album Dewa 19 yang paling laris. Nyaris semua lagu di album ini menjadi hits. Dan tentu saja nyaris semuanya dibuat oleh Dhani. Lagu seperti "Roman Picisan", "Dua Sejoli", "Risalah Hati", hingga "Separuh Nafas" dengan segera menjadi klasik.

Album berikutnya adalah Cintailah Cinta yang melahirkan lagu hits seperti "Pupus", "Arjuna", dan "Kasidah Cinta". Meski tak bisa menyamai penjualan Bintang Lima, album ini masih bisa terjual sebanyak 1 juta keping.

Selain menjadi musisi, Dhani juga sukses sebagai produser. Dia menjadi produser sekaligus pembuka pintu popularitas bagi mantan penyanyi latar Dewa 19, Reza Artamevia. Dua album Reza, Keajaiban dan Keabadian adalah buah tangan dingin Dhani. Selain itu Dhani juga pernah jadi produser Krisdayanti, Denada, hingga Ratu.

Ratu adalah duo yang terdiri dari istri Dhani, Maia Estianty dan Mulan. Tak ada yang menduga kalau duo ini menjadi salah satu titik kejatuhan Dhani. Mulan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Dhani. Tentu tidak penting membahas soal ini. Tapi bagaimanapun juga, masalah personal seperti ini yang sekarang dijadikan nama tengah Ahmad Dhani.

Alih-alih membikin musik bagus seperti saat bersama Dewa 19 dulu, kini Dhani dibicarakan karena kontroversinya. Hal ini diperparah dengan masuknya Dhani ke ranah politik. Membincang Dhani sekarang berarti bicara tentang kebodohan memakai kostum Nazi, kecelakaan anak bungsunya, komentar-komentar rasisnya, hingga usulnya untuk meminta maaf pada ISIS. Tak lebih.

Soal musik? Apa yang lebih menyedihkan ketimbang Dhani, yang dulu pernah menciptakan lagu-lagu dahsyat macam "Restoe Boemi" atau "Selatan Jakarta", membeli (iya, dia sampai harus membeli) lagu ultra aneh berjudul... "Neng Neng Nong Neng".

Dhani sempat mengemukakan ide untuk jadi bakal calon Gubernur DKI Jakarta. Dhani berkoar dia akan diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa. Namun ternyata gagal. Target diturunkan: jadi Wakil Gubernur. Tapi tak ada yang mau menggandengnya. Maka kini targetnya adalah mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama.

Soal musik dan politik, mungkin Dhani harus belajar ke Bim Bim dan Iwan Fals. Sebagai musisi, dua nama itu jelas punya penggemar yang jauh lebih banyak dan fanatik ketimbang Dhani. Apalagi Iwan Fals yang dulu sempat didapuk sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Asia. Kalau cuma sekadar ingin jadi anggota DPRD atau DPR, urusan gampang itu. Besar kemungkinan akan lolos. Tapi toh mereka tidak serta merta masuk ke gelanggang politik. Masalah dukung mendukung di dunia politik, ya itu wajar dan sudah hak mereka.

Iwan masih tetap melakukan konser. Sesekali jadi bintang iklan. Begitu pun Bim Bim. Drummer Slank ini masih aktif konser bersama bandnya, juga membuat album baru, reStart Hati, yang sekaligus menandai album ke 21 Slank. Bahkan tak cukup ngeband bersama Slank, ia membentuk band keluarga bernama The Sidhartas.

Lebih baik Dhani melupakan politik. Namanya sudah buruk, terutama di kalangan perempuan yang pasti mendukung Maia. Menurut Harry B Rahmadi, Kepala Lembaga Demografi FEB Universitas Indonesia, pemilih pemilu DKI sebagian besar adalah perempuan.

Seharusnya memang Dhani kembali ke khittahnya: dunia musik. Meski namanya sudah kadung bopeng, tapi tak bisa dipungkiri kalau dia merupakan seorang jenius. Baik sebagai musisi ataupun produser. Sebagai produser musik, dia punya segalanya. Insting kuat, selera musik bagus, tamak, oportunis, dan tentu sedikit bumbu culas.

Pilihan lainnya adalah: serius menggarap reuni Dewa 19. Karena sekarang sedang zaman band 90-an yang reuni. Uangnya besar. Makin banyak festival yang mengundang band-band 90-an. Dewa 19 juga tak akan sendirian. Mulai dari Base Jam, KLa Project, hingga Java Jive. Sudah sejak beberapa tahun terakhir Dewa 19 reuni dengan Ari Lasso, Once, dan Tyo. Konser mereka selalu dipenuhi penonton. Bagaimana kalau reuni ini dibawa ke jalan yang lebih jauh: bikin album baru.

Tentu itu semua adalah pilihan. Kalau Dhani memang masih mau terus berkubang di dunia politik, tentu itu haknya. Tapi selama cara berpolitiknya masih tidak tentu arah seperti ini, hal itu berarti dua hal: kita sudah kehilangan Ahmad Dhani yang dulu membentuk Dewa 19; dan betapa benar lirik lagu Silampukau, band folk asal Surabaya dalam lagu “Doa 1”.

Aku cemas, Gusti, suatu nanti,

Aku berubah murahan seperti Ahmad...

Baca juga artikel terkait PILKADA DKI JAKARTA atau tulisan lainnya dari Nuran Wibisono

tirto.id - Musik
Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti