Darah Indonesia di Belantika Musik Belanda

Oleh: Petrik Matanasi - 29 Oktober 2016
Dibaca Normal 4 menit
Mereka mungkin hanya punya tetesan darah Indonesia atau menumpang lahir saja di Indonesia. Sebagian dari mereka ternyata masih ingat atau rindu pada Indonesia ketika mereka sudah punya nama sebagai musisi di Negeri Belanda.
tirto.id - Setelah Indonesia merdeka, Belanda harus segera angkat kaki dari negara yang pernah dijajahnya selama 3 abad itu. Banyak orang-orang Indo atau Belanda totok harus meninggalkan Indonesia. Ada juga sebagian orang Indonesia asli yang merasa tidak nyaman di Indonesia karena perubahan situasi politik yang begitu drastis bagi mereka. Belanda pun menjadi sebuah tempat penampungan besar di Eropa pada periode 1950an.

Keturunan Indo Belanda atau Indonesia asli itu lalu beranak-pinak di Negeri Kincir Angin itu. Mereka kemudian mengambil jalan hidup yang sangat beragam di negara perantauan. Ada keturunan Ambon yang punya geng motor besar dan suka memakai rompi bertuliskan 'Satu Darah'. Ada juga yang masih berambisi menegakkan Republik Maluku Selatan. Ada yang bermain sepak bola dan terkenal seperti Giovani van Bronckhorst. Ada juga yang kemudian terkenal sebagai musisi.

Menurut diplomat Abdul Irsan, dalam bukunya Hubungan Indonesia Belanda: Antara Benci dan Rindu (2003), banyak dari generasi kedua dan ketiga pendatang dari orang-orang Ambon, mulai melupakan cita-cita RMS. Mereka lebih suka sibuk dengan dunia musik dari pada politik. Tentu saja tak cuma keturunan Ambon saja yang sibuk dengan dunia musik. Tapi keturunan Indonesia dari etnis lain juga. Sebutlah nama Daniel Sahuleka sebagai simbol kesuksesan keturunan Ambon di Belanda sebagai musisi.

Tanah Air Sudah Jauh

Kane adalah band rock yang cukup populer di Belanda. Band yang eksis sejak 1998 dan terakhir rilis album pada 2013 ini, terpengaruh oleh U2, Nirvana, Queen dan Pearl Jam. Beberapa kali, album mereka mendapat mendapat penghargaan platinum atau gold. Lagu-lagu mereka sering berada di tiga besar tangga lagu pop Belanda, bahkan beberapa kali di posisi puncak. Dinand Woesthoff,sang vokalis, ternyata masih punya darah Indonesia. Ayah Dinand adalah seorang Indo alias berdarah campuran Indonesia - Belanda.

Dalam sebuah acara, Dinand Woesthoff pernah tampil bersama Andy Tielmans. Andy Tielmans menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki. Dinand menyahuti dengan nyanyian.

“Olesio sayange rasa sayang sayange. Tanah air sudah jauh, rasa sayang sayange,” dendang Dinand.

Dinand bukan satu-satunya musisi yang punya beberapa tetes darah Indonesia. Ada banyak musisi berdarah Indonesia di Negeri Belanda. Bicara popularitas, Kane jelas kalah pamor dengan Van Halen. Generasi yang besar di dekade 1980 dan 1990 pasti mengenalnya. Band rock ini digawangi dua van Halen bersaudara, Alex dan Eddie. Ayah mereka adalah Jan van Halen, seorang pemain saksofon keturunan Swedia yang sedang dapat kontrak main musik di Hindia Belanda. Ibu mereka, Eugenia van Beers Indo Eropa asal Rangkasbitung, Banten.

Konon kedua orang tua Eddie dan Alex bertemu di Rangkasbitung. Lalu menikah di Jakarta, pada 11 Agustus 1950. Pasangan itu lalu hidup di Belanda. Namun, keduanya anaknya jadi musisi kelas dunia di Amerika. Orang yang ingin dua bersaudara itu jadi musisi adalah ibu mereka yang asal Rangkasbitung. Tanah yang jauh dari keluarga van Halen itu belum pernah dikunjungi Eddie maupun Alex.

Van Halen tidak merintis karier dan terkenal di Belanda. Beda dengan musisi pop bernama Daniel Sahuleka. Daniel merintis kariernya sambil bekerja sebagai buruh pabrik di Negeri Belanda. Pelantun You Make My World So Colorful (1976) dan Don't Sleep Away the Night (1981), ini adalah keturunan Sunda-Ambon. Dia lahir di Rumah Sakit Elizabeth Bandung pada 6 Desember 1950. Keluarga Daniel pergi ke Belanda tahun 1950an juga.

Meski sudah jauh dan sukses negeri orang, Daniel tak pernah lupa pada Indonesia. Dia suka datang dan bernyanyi di Indonesia. Ketika Erupsi Merapi 2010, dia ikut menyumbangkan uang sebesar Rp33 juta. Daniel termasuk orang yang mengecam kerusuhan agama di Ambon. Dia tak menginginkannya, karena ibunya Islam. Daniel Sahuleka tetap mencintai Indonesia meski sudah bermil-mil jaraknya.

Dua Pemuda Kelahiran Surabaya

Sebelum Daniel Sahuleka populer dengan You Make My World So Colorful di tahun 1976, ada dua pemuda kelahiran Surabaya yang juga bermusik di Belanda. Mereka adalah Ludwig Lemans atau Ahmad Albar. Mereka pernah rekaman dan mendapat tanggapan yang lumayan baik di Belanda.

Ludwig Lemans yang dikenal sebagai gitaris ini, lahir di Surabaya pada 8 Juli 1948. Ahmad Albar alias Iyek juga kelahiran Surabaya, pada 16 Juli 1946. Ludwig lebih dulu ke Belanda, di tahun 1958 dan menjadi gitaris. Sementara Iyek di Belanda sekitar dekade 1960an.

Keduanya sama-sama jadi anak band. Iyek lebih dulu bergabung dengan Clover Leaf pada 1967. Lagu mereka Time Will Show (1969) dikenal publik Belanda. Ludwig akhirnya masuk di tahun 1970 sebagai gitaris Clover Leaf. Band ini berhasil merekam sembilan lagu, dan cukup populer di Belanda.

Clover Leaf bubar di tahun 1972 lantaran ada perbedaan visi bermusik antar anggotanya. Tiga personil band ini ternyata lebih tertarik dengan musik pop. Sementara dua personel berdarah Indonesia, Ludwig dan Iyek, lebih tertarik pada Rock Progresive, yang berjaya di tahun 1970an. Mereka berdua lalu berlibur ke Indonesia dan membangun sebuah band yang belakangan menjadi raksasa dalam musik rock Indonesia, God Bless.

Ludwig hanya sebentar di band itu dan tak sempat ikut rekaman album pertama band itu. Ludwig akhirnya kembali ke Belanda. Tinggallah Iyek di Indonesia sebagai vokalis rock legendaris Indonesia.

Wietake, Wolff Bersaudara dan Anneke

Wieteke van Dort, Anneke Gronloh, Blue Diamond dan Tielman Brothers adalah deretan musisi yang sangat senior dalam dunia musik di negeri Belanda. Saat ini mereka sudah tua dan beberapa ada yang sudah meninggal.

Wieteke van Dort yang lahir di Surabaya pada 16 Mei 1943 ini terpaksa menetap di Belanda. Kondisi politik Indonesia di tahun 1950an membuat orang Indo sepertinya tak bisa pulang ke Indonesia yang dia anggap tanah airnya. Dia tetap suka bernyanyi dalam bahasa Indonesia meski ayahnya pernah dimatikan bisnisnya oleh kebijakan politik pemerintah Orde Lama.

Curahan hatinya tentang dinginnya Belanda dan kerinduannya pada Indonesia, terutama pada makanan Indonesia, menjadi inspirasi dalam menulis lagu berirama keroncong Geef Mij Maar Nasi Goreng (1979). Lagu ini populer di Belanda dan Indonesia saja. Di publik Belanda, Wieteke van Dort cukup terkenal sebagai penyanyi dan presenter yang mengasuh acara sendiri, Late Lien Show.

Keroncong, yang punya akar sejarah panjang dengan mengalami banyak pengaruh dari berbagai bangsa. Mulai dari Portugis, Tionghoa dan Indonesia sendiri. Selama masa kolonialisasi orang Eropa di Indonesia ,musik ini berkembang. Wieteke van Dort sering memainkan lagu keroncong di acara televisi Belanda.

Untuk lagu Pop, keturunan Indo dari grup duo vokal Blue Diamond cukup terkenal. Blue Diamond adalah dua vokalis dengan gaya mirip Everly Brothers. Mereka adalah Riem dan Ruud de Wolff. Konon, dua bersaudara yang hijrah ke Belanda bersama orangtua mereka ini, adalah Belanda Depok yang lahir di sekitar Jakarta. Mereka sukses membawakan ulang lagu Ramona. Lagu itu masuk ke peringkat ke-72 di tangga lagu Billboard Hot 100 Amerika di tahun 1960. Di Belanda rekaman lagu mereka sukses terjual 250 ribu keping di Belanda dan 1 juta keping di Jerman.

Di tahun 1964, dalam Kontes lagu Eurovision, Belanda mengirimkan wakilnya. Bukan Belanda totok, melainkan wanita muda Indo bernama Anneke Gronloh. Anneke sering bernyanyi lagu-lagu Indonesia di Televisi Belanda. Dia mempopulerkan lagu Nina Bobo yang sudah ada sedari zaman kolonial. Juga lagu lain seperti Bengawan Solo ciptaan Gesang ke publik Belanda. Anneke yang kelahiran Tondano, 7 Juni 1942, merupakan aak dari seorang Sersan Mayor tentara kolonial Belanda KNIL yang ditawan Jepang ketika Perang Pasifik. Di tahun 1949, Anneke dan keluarganya hijrah ke Belanda.



Legenda Indo Rock

Anak-anak Kapten KNIL Herman Dirk Tielmans tak kalah populer. Herman, yang keturunan Kupang itu, menularkan kegemaran bermusik ke anak-anaknya. Anak-anak Tielman, dari hasil perkawinannya dengan wanita keturunan Eropa bernama Flora Laurentine Hass, memang berbakat dalam seni musik dan tari. Jauh sebelum berangkat ke Negeri Belanda di tahun 1957, ketika masih kecil anak-anak Tielmans pernah tampil dengan tari-tarian di hadapan Presiden Soekarno.

Anak-anak itulah yang menjadi bagian dari Tielmans Brothers. Mereka mengikuti perkembangan musik dengan sangat baik. Sedari kecil, anak-anak itu terbiasa dengan musik keroncong, country atau Jazz. Sebelum musik rock n roll populer, di tahun 1949, anak-anak itu sering memainkan country dengan tempo yang dipercepat. Lagu Rock Little Baby of Mine (1958) milik band keluarga itu dianggap sebagai lagu rock n roll pertama oleh pemerintah Belanda.

Mereka sering tampil aktraktif di televisi Belanda. Menurut George Lipsitz dalam American Studies in a Moment Danger (2001), Tielmans Brother bermain atraktif dan “liar” dalam sebuah festival di Brusel. Jatah bermain mereka hanya lim abelas menit, tetapi mereka bermain lebih dari itu. Lipsetz menulis, konon, Goerge Harison sang gitaris Beatles menjuluki Andy sebagai Andy: The Indo Man. Andy Tielman yang lahir di Makassar dan besar di Surabaya ini dianggap pelopor Indorock.

Tielman bersaudara itu memperkanalkan cara baru aktraktif bermain gitar. Memainkan gitar dengan gigi, meletakkan gitar di tengkuk, memukul senar dengan stik drum, berdiri diatas bas besar sambil bermain gitar. Andy Tielman sudah memainkan gitar dengan gigi. Sebelum Jimi Hendrix melakukannya.

Semua anggotanya sudah tiada. Andy Tielman sang gitaris legendaris dari keluarga itu sudah meninggal di tahun 2011. Sebelum meninggal, Andy Tielman pernah ikut mengisi acara di Festival Tong Tong. Dia pernah berkolaborasi bersama musisi lain. Termasuk dengan Dinand Woesthoff menyanyikan Rayuan Pulau Kelapa.

Andy Tielman dan saudara-saudaranya harusnya dijadikan salah satu dari sekian banyak musisi kebanggaan Indonesia, meski bukan warga negara Indonesia. Dia tak jauh beda dengan Daniel Sahuleka dan lainnya. Mereka memang hidup di Belanda. Namun, darah mereka tak bisa menyangkal jika mereka adalah orang Indonesia juga.

Baca juga artikel terkait MUSISI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Musik)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti