Menuju konten utama

Curacao Terdepak dari Piala Dunia tapi Jejak Magisnya Selalu Ada

Curacao tersingkir lebih cepat dari Piala Dunia 2026, namun negara Karibia ini telah mengukir cerita membanggakan dalam perjalanan ke putaran final.

Curacao Terdepak dari Piala Dunia tapi Jejak Magisnya Selalu Ada
Para pemain Curacao usai menghadapi Jerman di laga pertama Grup E Piala Dunia 2026 di Stadion Houston, Houston, pada 14 Juni 2026. AFP/ RONALDO SCHEMIDT
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Barangkali banyak yang menduga Curacao bakal jadi bulan-bulanan di Piala Dunia 2026. Prasangka itu tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya tepat. Curacao dihajar 1-7 oleh Jerman di laga pembuka, tapi sempat membuka asa usai menahan Ekuador 0-0 di pertandingan kedua berkat aksi heroik sang kiper, Eloy Room.

Perjalanan debut Curacao di putaran final Piala Dunia tampaknya sudah cukup. Di laga ketiga yang digelar di Stadion Lincoln Financial Field, Philadelphia, Amerika Serikat, pada 26 Juni 2026 lalu, tim berjuluk The Blue Wave ini harus segera mengemas koper lebih cepat usai dikandaskan Pantai Gading dengan skor 0-2.

Jika dibandingkan Jerman, Ekuador, atau Pantai Gading yang sama-sama menghuni Grup E, Curacao memang bukan siapa-siapa. Tidak pernah ada yang mengira Curacao bisa tembus putaran final Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Namun, seburuk-buruknya penampilan Curacao, kehadiran mereka di putaran final tetap akan menjadi kenangan indah bagi segenap rakyat negara mungil di Kepulauan Karibia itu. Eloy Room dan kawan-kawan sudah terlanjur mengguratkan kisah magis menuju Piala Dunia 2026.

Timnas Curacao

Curacao saat menghadapi Jerman di laga Grup E Piala Dunia 2026 di Stadion Houston, Houston, pada 14 Juni 2026. AFP/RONALDO SCHEMIDT

Curacao adalah negara paling kecil di antara tim-tim yang tampil di panggung sepakbola terbesar sejagat itu. Luas negara ini adalah 444 km², hanya selisih sedikit dengan Kabupaten Kudus di Jawa Tengah yang luasnya 425 km².

Berdasarkan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), populasi warga negara Curacao saat ini tercatat sekitar 185.490 jiwa, jumlah penduduk yang bahkan bisa dilampaui cuma dengan menggabungkan dua kecamatan padat di Jakarta atau Surabaya.

Miniatur Belanda di Karibia

Bisa dibilang, Curacao adalah Belanda dalam versi yang lebih mini. Selain memang bekas jajahan kompeni, lolosnya tim nasional Curacao ke Piala Dunia 2026 juga dipengaruhi faktor Dutch connection, termasuk sosok sang pelatih, Dick Advocaat.

Dikutip dari The Athletic, hampir semua pemain yang berada di skuad Advocaat untuk Piala Dunia 2026 adalah kelahiran Belanda meskipun mereka memang punya darah keturunan Curacao.

Hanya satu anggota timnas mereka yang lahir di Curacao, yakni mantan gelandang Manchester United, Tahith Chong. Itu pun, Chong sudah hijrah ke Belanda saat masih bocah, ketika usianya baru menginjak 10 tahun.

Banyak pemain Timnas Curacao yang pernah memperkuat De Oranje di berbagai kelompok usia. Bahkan, ada 2 sosok yang sempat membela skuad senior Belanda sebelum akhirnya pindah kewarganegaraan, yakni Riechedly Bazoer dan Joshua Brenet.

Peta Curacao

Peta Curacao. foto/istockphoto

Sebagian besar pengisi skuad Curacao saat ini berkiprah -atau setidaknya pernah- di Liga Belanda. Bahkan, setidaknya ada 11 nama di tim Advocaat yang menjadi andalan klub-klub negeri kincir angin, baik di Eredivisie maupun Eerste Divisie.

Tak hanya pemain, deretan pelatih yang pernah membesut Curacao pun identik dengan “negeri induknya”. Eks bomber De Oranje, Patrick Kluivert, menjadi orang Belanda pertama yang menangani The Blue Wave, yakni pada periode 2015-2016 dan sempat menjadi pelatih interim pada 2021.

Kemudian berturut-turut ada barisan juru taktik yang juga berasal dari Belanda: Remko Bicentini (2016-2020 dan 2022-2023), Guus Hiddink (2020-2021), Art Langeler (2022), Dean Gorré (2023-2024), hingga Dick Advocaat sejak Januari 2024.

Berkat Pelatih yang Tepat: Dick Advocaat

Di tangan Dick Advocaat, Curacao mulai mengukir kisah magis mereka menuju Piala Dunia 2026. Advocaat memang bukan pelatih sembarangan. Pelatih berusia 78 ini sudah makan asam garam menangani tim nasional di berbagai penjuru bumi.

Tercatat, Advocaat pernah membesut Belanda dalam 3 kali kesempatan yang berbeda. Ia juga mantan juru taktik Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Belgia, Rusia, Serbia, hingga Irak. Di awal karier kepelatihannya pada 1987, Advocaat sempat pula menahkodai timnas putri Belanda kendati tak lama.

 Dick Advocaat

Pelatih Timnas Curacao asal Belanda, Dick Advocaat, memberikan keterangan pers sehari sebelum pertandingan (MD-1) di Stadion Kansas City, Kansas City, pada 19 Juni 2026, menjelang laga sepak bola Grup E Piala Dunia 2026 antara Ekuador dan Curacao. AFP/ JUAN MABROMATA

Curacao berada di tangan yang tepat bersama Advocaat. Sang pelatih sudah berpengalaman di Piala Dunia. Sosok bernama asli Dirk Nicolaas Advocaat ini setidaknya sudah 2 kali mendampingi skuad besutannya di putaran final.

Pertama adalah di Piala Dunia 1994 yang dihelat di Amerika Serikat saat ia menjadi juru racik Belanda. Advocaat membawa De Oranje melaju hingga babak perempat final sebelum disingkirkan Brasil dengan skor ketat 2-3.

Advocaat kembali menapak altar Piala Dunia pada edisi 2026 di Jerman, kali ini bersama tim nasional Korea Selatan. Sempat menang 2-1 atas Togo di laga pertama, sayangnya Korsel gagal lolos dari fase grup setelah kalah bersaing dengan Prancis dan Swiss.

Di level klub, jejak rekam kepelatihan Advocaat lebih panjang lagi. Selain klub-klub semenjana dan tak perlu disebut saking banyaknya, ia pernah membesut PSV Eindhoven, Rangers, Netherlands, Zenit Saint Petersburg, AZ Alkmaar, Sunderland, Fenerbahçe, Sparta Rotterdam, Utrecht, Feyenoord, sampai ADO Den Haag.

Mengukir Sejarah Tanpa Kalah

Menuju Piala Dunia 2026 bersama Advocaat, Curacao mengawali langkah dari putaran 2 kualifikasi di Zona CONCACAF. Tahith Chong dan kolega tampil perkasa dengan melibas Barbados (4-1), Aruba (2-0), Saint Lucia (4-0), serta Haiti (5-1).

Curacao berada di grup yang cukup berat di putaran 3 bersama Jamaika, Trinidad & Tobago, juga Bermuda. Seperti yang diketahui, dua negara yang disebut di awal punya pengalaman tampil di pentas Piala Dunia.

The Blue Wave ternyata tampil menggila dalam rangkaian laga home and away, termasuk melumat Bermuda dengan hasil mencolok 7-0. Puncaknya terjadi pada 18 November 2025. Skor kacamata melawan Jamaika memastikan Curacao lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Hebatnya lagi, di sepanjang kualifikasi hingga meraih tiket ke putaran final, anak-anak besutan Advocaat belum pernah tersentuh kekalahan dengan raihan 7 kali menang dan 3 kali imbang. Selain itu, Curacao melesakkan 28 gol dan hanya kebobolan 5 gol.

Timnas Curacao

Timnas Curacao di Piala Emas CONCACAF 2025 pada 21 Juni 2025 di Houston, Texas. Tim Warner/Getty Images/AFP

Kendati begitu, di sela-sela euforia, ada drama yang terjadi dalam persiapan menuju Piala Dunia 2026. Advocaat, si pelatih tua bertuah itu, mengundurkan diri dengan alasan keluarga. Dilansir The Guardian, putri Advocaat dikabarkan sakit keras dan sang pelatih ingin fokus terhadap kesehatan anak gadis terkasihnya itu.

Advocaat terpaksa meninggalkan pasukan Curacao yang telah dibawanya ke panggung terbesar sepakbola sejagat raya. Posisi pelatih kepala kemudian diserahkan kepada Fred Rutten -yang juga asal Belanda- sejak Februari 2026.

Berkah semesta, kesehatan putri Advocaat berangsur membaik dalam beberapa bulan. Dan, atas desakan dari berbagai pihak, sosok berjuluk The Little General itu akhirnya resmi kembali memimpin Curacao hanya sekitar sebulan sebelum Piala Dunia 2026 dimulai.

Seperti yang telah terjadi, Curacao memang ibarat anak bawang di putaran final. Namun, semisal nantinya terdepak, mereka patut pulang dengan kepala tegak juga rasa bangga. Kisah magis anak-anak Karibia itu terlanjur ada dan tercatat dalam almanak Piala Dunia.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Horizon
Penulis: Beni Jo
Editor: Iswara N Raditya