tirto.id - Ada semacam kecemburuan sosial yang melatari gelaran Piala Dunia 2026. Itu bukan soal tiket yang harganya kelewat mahal bagi orang kebanyakan, bukan pula soal tarif transportasi umum yang sempat dinaikkan beberapa kali lipat saat pertandingan tertentu berlangsung. Kecemburuan tersebut datang dari para pemain National Football League (NFL) yang tidak terima dengan nasib buruk mereka.
Pemain sepak-bola-Amerika dan nasib buruk sejatinya bukanlah kombinasi yang biasa beriringan. Mereka adalah orang-orang berpendapatan selangit dengan gaya hidup ekstravagan. Namun nyatanya, ketidakadilan tetap saja bisa mereka rasakan. Sebab, sebagian besar dari mereka terpaksa bermain di lapangan yang tidak disukainya.
Lima belas dari 30 stadion NFL menggunakan rumput artifisial (turf) sebagai permukaan bermain. Padahal, menurut survei internal asosiasi pemain, 92 persen pemain NFL ingin bermain di permukaan rumput alami, persis seperti para pesepak bola level elite pada umumnya.
Di Piala Dunia 2026 nanti, ada tujuh stadion NFL yang akan menjadi arena laga. Seluruh stadion tersebut, normalnya, menggunakan turf sebagai rumput lapangan. Namun, demi mengikuti standar FIFA, turf itu harus disingkirkan sementara waktu dan digantikan dengan rumput alami berkualitas terbaik.
Di situlah kecemburuan itu muncul. Para pemain NFL dipaksa melihat para tamu diperlakukan sangat istimewa. Namun, setelah para tamu pulang ke negara masing-masing, para pemain NFL itu tidak akan bisa merasakan kenikmatan bermain di atas rumput yang biaya risetnya saja mencapai 5 juta dolar AS.
JC Tretter, direktur eksekutif NFL Players Association (NFLPA), menyuarakan kegelisahan itu dengan gamblang. Dalam sebuah siniar bersama pemain Pittsburgh Steelers, Cam Heyward, dia berkata, "Yang kami inginkan adalah rumput berkualitas. Tubuh kami merasakan sesuatu yang berbeda saat berdiri di rumput. Impaknya terasa sangat berbeda bagi tubuh para pemain."
Tretter membantah narasi yang sering dipakai pihak liga, bahwa tingkat cedera di turf dan rumput alami sudah hampir setara. Menurutnya, jika dilihat lebih dalam, angka cedera di turf relatif stagnan, sementara angka cedera di rumput alami cenderung memburuk karena kualitas rumput itu memang tidak memadai. Dengan kata lain, yang berbahaya bukanlah rumput alami, melainkan rumput alami yang kualitasnya abal-abal.
Para pemilik klub NFL lebih menyukai turf bukan semata-mata karena alasan keselamatan, melainkan karena faktor ekonomi. Turf lebih murah perawatannya dan jauh lebih tahan terhadap pemakaian intensif. Turf memungkinkan mereka menggelar konser, acara Monster Jam, pertandingan antarkampus, dan berbagai acara lain yang mendatangkan pendapatan tambahan.
Pemilik klub Dallas Cowboys, Jerry Jones, bahkan sudah menyatakan secara terbuka pada Maret 2026 soal rencananya memasang kembali turf di AT&T Stadium, segera setelah Piala Dunia selesai. Baginya, rumput alami tidak membuat pemain lebih aman dan turf lebih masuk akal secara finansial.
Tretter melihat itu sebagai bentuk ketidakadilan. Para pemain tidak mendapat bagian sepeser pun dari acara-acara itu, tetapi merekalah yang menanggung konsekuensi berupa permukaan bermain yang lebih buruk.
Emang Sebagus Apa Rumput Piala Dunia 2026?
Di balik hamparan hijau yang akan diinjak Ousmane Dembele dan kawan-kawan nanti, ada lima tahun riset intensif, lebih dari 170 eksperimen, dan investasi senilai lebih dari 5 juta dolar AS dari FIFA.
Dua orang paling bertanggung jawab atas semua itu adalah John Sorochan, profesor ilmu rumput di University of Tennessee, dan John Trey Rogers, kolega sekaligus mentor Sorochan di Michigan State University.
Mereka pertama kali bekerja sama pada 1994, ketika FIFA meminta Rogers melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya: memasang rumput alami di lapangan Pontiac Silverdome, stadion berkubah di Michigan, untuk Piala Dunia saat itu.
Kini, pada perhelatan Piala Dunia 2026, Sorochan dan Rogers mesti memastikan setiap lapangan di 16 stadion tuan rumah terasa sama di bawah kaki setiap pemain, di mana pun pertandingan digelar. Bola harus menggelinding dengan cara sama, pantulannya harus konsisten, dan pijakan kaki pemain harus memberikan respons yang bisa diprediksi.
Untuk mencapai itu, ada beberapa masalah yang mesti dipecahkan sekaligus.
Pertama, soal jenis rumput. Tidak ada satu jenis rumput yang bisa tumbuh optimal di Miami sekaligus di Toronto. Maka, mereka membagi stadion berdasarkan iklim kota. Kota-kota beriklim hangat menggunakan Bermuda grass, sementara kota-kota beriklim sejuk memakai campuran Kentucky bluegrass dan perennial ryegrass.
Kedua, soal cara menumbuhkan rumput, karena metode konvensional tidak bisa dipakai.
Biasanya, sod (lembaran rumput) ditanam di tanah biasa dan dipanen dengan cara memotong akarnya. Namun, proses pemotongan seperti itu membuat tanaman stres dan butuh waktu beberapa minggu untuk pulih sebelum bisa diinjak. Di Piala Dunia, beberapa lapangan harus siap pakai 10 hari setelah pemasangan. Tidak ada waktu pemulihan.
Solusinya adalah teknik yang disebut sod on plastic. Rumput ditanam di atas lapisan pasir yang diletakkan di atas lembaran plastik. Lalu, ketika tumbuh ke bawah dan menyentuh plastik, akar-akar rumput tidak bisa menembus lebih jauh. Mereka akan tumbuh menyamping dan saling menyilang, membentuk anyaman sangat padat.
Rogers menggambarkannya seperti mengangkat piza dari loyang. Ketika sod dipanen, seluruh sistem akar terangkat utuh tanpa satu pun terpotong. Tanaman tidak mengalami stres. Begitu dipasang di stadion, rumput bisa langsung beradaptasi dan siap dimainkan dalam waktu singkat.
Sod on plastic sebenarnya sudah dikenal selama sekitar 40 tahun. Namun, ada sejumlah penyempurnaan yang dilakukan Rogers dan tim. Di antaranya yakni menemukan rasio campuran benih yang optimal.
Riset mereka menunjukkan, campuran 84 persen Kentucky bluegrass dan 16 persen perennial ryegrass menghasilkan sod lebih kuat dibandingkan Kentucky bluegrass murni. Sebab, perennial ryegrass berkecambah lebih cepat dan membantu menstabilkan struktur sod sejak awal.
Namun, menumbuhkan rumput baru menyelesaikan separuh persoalan. Separuh lainnya adalah cara membuatnya tetap hidup, terutama di stadion-stadion berkubah yang tidak mendapatkan cahaya matahari alami.
Di situlah teknologi pencahayaan LED berperan krusial. Setiap stadion berkubah dilengkapi dengan deretan lampu LED yang bisa diturunkan hingga beberapa meter di atas permukaan lapangan untuk membanjiri rumput dengan cahaya buatan selama 12 jam sehari.
Cahaya itu tampak berwarna magenta karena komposisinya adalah 90-95 persen cahaya merah dan 5-10 persen cahaya biru. Cahaya merah mendorong pertumbuhan lebih memanjang, sementara cahaya biru menghasilkan tanaman lebih pendek, kuat, dan tahan tekanan akibat pergerakan kaki pemain.

Di bawah lapisan sod, tertanam sistem ventilasi vakum yang bekerja dua arah. Dalam kondisi normal, sistem tersebut mengalirkan oksigen ke akar rumput. Saat hujan deras, air akan terisap otomatis agar tak ada genangan.
Untuk memperkuat permukaan lapangan agar tahan terhadap beban hingga sembilan pertandingan selama enam minggu, tim peneliti mengembangkan sistem hybrid turfgrass.
Serat-serat plastik sintetis akan disisipkan ke lapangan rumput alami. Fungsinya seperti tulang besi dalam beton. Akar rumput akan melilit serat-serat itu, lalu menciptakan permukaan yang jauh lebih stabil dan meminimalisasi terjadinya divot atau cekungan yang bisa membahayakan pemain.
Memastikan Kondisi Semua Lapangan Konsisten
Para peneliti menggunakan mesin bernama fLEX. Alat ciptaan Sorochan dan koleganya itu berwujud sebuah kaki tiga dimensi yang dicetak dengan printer 3D, dilengkapi sepatu bola sungguhan, dan dikelilingi sensor.
Mesin fLEX mampu menyimulasikan hentakan kaki pemain sepak bola dengan berat rata-rata 76 kilogram (rata-rata berat pemain di dua Piala Dunia putra terakhir). Sensor-sensor itu mengukur jumlah energi yang dikembalikan oleh permukaan ke tubuh pemain, ukuran traksi atau cengkeraman yang diberikan, serta kedalaman ketika kaki ambles sehingga memicu cedera lutut atau engkel.
Ide penciptaan mesin itu terpantik oleh insiden pada 2018, ketika pertandingan NFL antara Kansas City Chiefs dan Los Angeles Rams harus dipindahkan dari Mexico City ke Los Angeles karena kondisi lapangan tidak aman.
Lapangan hibrida di Estadio Azteca saat itu sudah lulus uji standar, tapi setelah diguyur hujan deras, dipakai konser, dan beberapa pertandingan sepak bola, sod-nya terangkat seperti, kata Sorochan, "rambut yang disisir ke samping tertiup angin."
Sejak itu, fLEX telah digunakan untuk menguji lebih dari 130 stadion dalam kompetisi NFL, MLB, dan liga-liga lain di lima negara.
Di Piala Dunia 2026, alat tersebut akan digunakan untuk mengukur 77 titik di setiap lapangan.
Soal ketinggian rumput pun tidak luput dari penelitian. Menurut Sorochan, perbedaan lima milimeter saja berpengaruh sangat signifikan.
Bermuda grass harus dipotong pada ketinggian 16 milimeter, sementara Kentucky bluegrass dipotong lebih tinggi sedikit, yakni 22 milimeter. Angka-angka ini didapatkan dengan menembakkan bola dari mesin ke berbagai jenis rumput pada berbagai ketinggian, lalu mengukur kecepatan dan pantulannya secara teliti.
Semua itu, tentu saja, bukan hanya soal estetika atau gengsi turnamen. Lapangan yang baik secara langsung memengaruhi cara pemain bergerak dan mengambil keputusan.
Gabrielle Carle, pemain profesional Washington Spirit, mengaku bahwa hal pertama yang ia lakukan sebelum pertandingan adalah mengamati kondisi lapangan: seberapa panjang rumputnya dan ada-tidaknya titik divot.
Rogers menyebut, urusan rumput lapangan berpengaruh terhadap rasa percaya diri pemain. Pemain yang tidak yakin dengan kondisi lapangan cenderung bermain lebih hati-hati dan menghindari manuver tajam karena takut cedera.
Sorochan punya definisi sederhana untuk menggambarkan lapangan sempurna. Baginya, lapangan terbaik adalah yang tidak dibicarakan orang setelah pertandingan, kecuali untuk menyebut betapa indah tampilannya. Jika pemain dan pelatih tidak mengeluhkan lapangan, itu berarti pekerjaan mereka telah berhasil.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































