Menuju konten utama
Horizon

Riwayat Gelar "Wan" yang Dipakai Orang Melayu dan Keturunan Arab

Sebagian peneliti mengaitkan gelar "Wan" dengan aristokrasi Melayu, sebagian lain dengan Pattani, Muslim Hui dari Tiongkok, atau tradisi silsilah tertentu.

Riwayat Gelar
Masyarakat muslim melayu melakukan acara selamatan, circa 1870. FOTO/Wikicommon
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - "Usia muda harus diisi dengan kerja! Usaha! Duit tidak akan jatuh dari langit, nyaho?"

"Persis, Bi. Fulus bukan jatuh dari langit, tapi dari ane punya engkong," sahut Wan Abud.

Itu adalah salah satu dialog dalam film komedi Ikut-ikutan (1990) yang dibintangi Fuad Alkhar sebagai Wan Abud dan Robert Syarif sebagai ayahnya. Bagi banyak orang Indonesia, nama Wan Abud yang diperankan Fuad Alkhar menjadi salah satu tokoh komedi paling diingat dari era 1990-an hingga awal 2000-an. Dalam budaya populer, sebutan "Wan" sering dilekatkan pada tokoh keturunan Arab.

Di Malaysia, maknanya jauh berbeda. Gelar ini melekat pada nama politikus, ulama, akademisi, hingga keluarga bangsawan. Meski hanya terdiri atas tiga huruf, asal-usul "Wan" hingga kini tidak memiliki satu jawaban. Sebagian peneliti mengaitkannya dengan aristokrasi Melayu, sebagian lain dengan Pattani, Muslim Hui dari Tiongkok, maupun tradisi silsilah tertentu.

Ketika "Wan" Menjadi Penanda Kaum Elite Melayu

Dalam tradisi Kesultanan Melayu, gelar "Wan" sejak lama menjadi penanda kalangan elite. Persebarannya meliputi Kelantan, Terengganu, Kedah, Johor, Pahang, Perlis, hingga Pattani. Di bawah sultan, para pembesar seperti bendahara, temenggung, dan laksamana mengelola pemerintahan, pertahanan, serta urusan adat. Banyak jabatan strategis itu diisi oleh keluarga bergelar "Wan".

Di Pahang, Bendahara Wan Ahmad menjadi tokoh penting yang meletakkan dasar Kesultanan Pahang modern pada abad ke-19 melalui jaringan bangsawan Johor-Riau. Di Kedah, kaum "Wan" juga menempati posisi penting, mulai dari Laksamana Wan Ismail hingga Perdana Menteri Wan Muhammad Saman yang memimpin modernisasi negeri pada akhir abad ke-19.

Pengaruh kaum "Wan" tidak berhenti di birokrasi. Di Terengganu, misalnya, Syeikh Wan Abdul Kadir Bukit Bayas diangkat sebagai mufti pada masa Sultan Omar. Seturut Mohd Ridzuan Mohamad & Ahmad Azrin Adnan (2023), manuskrip wakafnya bertarikh 1830 menunjukkan tingginya otoritas keagamaan, literasi, dan kedudukan sosial yang dimiliki tokoh bergelar "Wan".

Di Kelantan, Long Yunus tampil sebagai tokoh pemersatu setelah mengakhiri konflik antarfaksi pada pertengahan abad ke-18. Keberhasilannya meletakkan fondasi Kesultanan Kelantan menunjukkan bahwa jaringan bangsawan bergelar "Wan" juga memainkan peran penting dalam pembentukan negara.

Dari istana hingga pusat-pusat keilmuan Islam, keluarga bergelar "Wan" menunjukkan bahwa pengaruh bangsawan Melayu tidak hanya bertumpu pada garis keturunan, tetapi juga pada peran mereka dalam pemerintahan dan kehidupan keagamaan.

Ragam Asal-usul Gelar "Wan"

Meski peran kaum "Wan" dalam sejarah Melayu relatif jelas, asal-usul gelarnya justru masih diperdebatkan. Berbagai teori bermunculan, mulai dari tradisi aristokrasi Melayu hingga pengaruh Pattani, Muslim Hui, dan silsilah keluarga.

Salah satu penjelasan yang paling banyak diterima berasal dari sistem pewarisan aristokrasi Melayu. Mengutip buku Sejarah Pertumbuhan Pemerintahan Kesultanan Langkat, Deli dan Serdang (2022:38-39), dalam beberapa kesultanan di Sumatra Timur, anak laki-laki dari garis ayah bergelar Tengku tetap mewarisi gelar tersebut. Sebaliknya, anak dari perempuan bergelar Tengku yang menikah dengan laki-laki tanpa gelar bangsawan biasanya memperoleh gelar "Wan" sebagai bentuk penghormatan terhadap garis keturunan ibunya.

Praktik adat tersebut melembagakan "Wan" sebagai lapisan bangsawan di bawah keluarga sultan yang tetap dihormati dan kerap menduduki jabatan penting dalam birokrasi kerajaan.

Teori lain menempatkan Pattani sebagai pusat perkembangan gelar "Wan". Seturut Haji Abdul Halim Bahsah dalam Raja Campa dan Dinasti Jembal dalam Patani Besar Patani, Kelantan dan Terengganu (1994:67), terdapat tokoh agama seperti Wan Husein yang pernah belajar di Jawa lalu mendirikan metode pondok pesantren di Patani.

Merujuk Hikayat Patani terjemahan Andries Teeuw dan David K. Wyatt (1970), setelah kerajaan itu berulang kali diserang Siam pada abad ke-17 dan ke-18, banyak bangsawan serta ulama bermigrasi ke Kelantan, Terengganu, Kedah, dan Pahang. Mereka membawa jaringan keluarga, tradisi keilmuan, serta gelar "Wan" yang kemudian menyatu dengan masyarakat setempat.

Di luar itu, berkembang pula tradisi silsilah yang menghubungkan sebagian keluarga "Wan" dengan tokoh Faqih Ali al-Malbari atau Andik Ali, yang dijuluki Nakhoda Wangkang karena kemahirannya berlayar. Tradisi ini menyebut keturunannya kemudian menyebar ke Pattani dan melahirkan sejumlah ulama serta pembesar negeri. Namun hubungan genealogis tersebut hingga kini lebih banyak bertumpu pada catatan keluarga daripada bukti sejarah primer.

Ada pula teori yang mengaitkan gelar "Wan" dengan komunitas Muslim Hui di Tiongkok. Hubungan dagang dan migrasi ke pantai timur Semenanjung memang terdokumentasi dalam sejumlah penelitian seperti Tan Chee Beng berjudul "Note on the Orang Yunnan in Terengganu" (1991). Namun, hubungan langsung antara marga Wang dan gelar "Wan" tidak dibahas secara eksplisit dalam artikelnya.

Hipotesis lain menelusuri asal-usul "Wan" hingga era pra-Islam melalui wangsa-wangsa berakhiran Warman atau Varman di Asia Tenggara daratan. Menurut teori ini, perubahan bahasa dan proses islamisasi menyebabkan penyebutan Warman lambat laun berubah menjadi "Wan".

Di tengah beragam teori tersebut, Shukri Janudin dalam risetnya berjudul "Wangsa Wan: Merungkai Genealogi Asal-Usul dan Keturunan" (2023) menawarkan pendekatan berbeda. Menurutnya, Wangsa "Wan" tidak lahir dari satu garis keturunan tunggal, melainkan terbentuk melalui pembauran panjang elite Melayu dengan jaringan Persia, Arab, India, dan Tiongkok sejak masa kerajaan-kerajaan awal di Semenanjung. Meski demikian, rekonstruksi tersebut masih berupa sintesis historiografis dan belum menjadi konsensus di kalangan sejarawan.

Mengapa Gelar "Wan" Juga Ditemukan di Indonesia?

Jejak gelar "Wan" tidak berhenti di Semenanjung Melayu. Di wilayah Melayu Indonesia, terutama di pesisir timur Sumatra dan Kepulauan Riau, gelar ini berkembang melalui jaringan perdagangan, perkawinan politik, dan migrasi antarkerajaan.

Di Siak dan Riau, kemunculan gelar tersebut erat kaitannya dengan percampuran elite Melayu dan diaspora Arab Hadrami. Perkawinan antara keluarga Sayyid dengan bangsawan lokal melahirkan garis keturunan baru yang tetap memperoleh pengakuan sosial melalui gelar "Wan". Tradisi ini kemudian melahirkan sejumlah tokoh birokrasi dan cendekiawan Melayu.

"Nama 'Wan' itu berasal dari kata tuan, syekh, yang berasal dari Arab," ucap budayawan Riau, OK Nizami Jamil.

Menurutnya, perkawinan antara pendatang Arab dan perempuan Melayu melahirkan keturunan yang kemudian menyandang gelar "Wan", sedangkan keturunan Sayyid tetap menggunakan gelar Sayyid.

Di Deli dan Serdang, penyematan gelar "Wan" juga mencerminkan proses Melayunisasi elite lokal. Sejumlah pemimpin berlatar marga Karo dari Urung Senembah, seperti Wan Guntar Alam Barus dan Wan Abdul Rahman Barus, mengadopsi gelar tersebut sebagai bagian dari integrasi ke dalam lingkungan aristokrasi Melayu.

Menukil Muhammad Akbar Maulana dan Jufri Naldo dalam jurnalnya "The Development of the Urung Senembah Kingdom and Its Legacy in Patumbak, 1620-2023" (2024), setelah tahun 1870-an, gelar "Wan" kemudian ditempatkan di depan nama keturunan Barus Raja Urung Senembah, baik untuk anak laki-laki dan perempuan, yang menandakan asalnya dari Karo, Barus Jahe, dan Barus Rumah Siberas.

Di Natuna dan Kepulauan Riau, sejumlah Datuk Kaya secara turun-temurun juga menyandang gelar "Wan", seperti Datuk Kaya Wan Teras, Wan Husin, dan Wan Mohammad Benteng. Tradisi lokal menghubungkan mereka dengan bangsawan Pattani yang bermigrasi ke wilayah kepulauan setelah pergolakan politik di utara Semenanjung.

Kajian Saepuddin (2019) mengenai Johor–Pahang–Riau–Lingga menunjukkan bahwa perkawinan politik, migrasi, dan pembauran antarelite menjadi fondasi terbentuknya identitas Melayu di kawasan Selat Malaka.

Dalam konteks itu, penyebaran gelar "Wan" memperlihatkan bahwa identitas Melayu tidak dibentuk oleh satu garis keturunan, melainkan oleh pertemuan kerajaan, perdagangan, dakwah, dan perkawinan selama berabad-abad. Karena itu, asal-usul gelar "Wan" hingga kini tetap memiliki lebih dari satu jawaban.

Baca juga artikel terkait MELAYU atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi