tirto.id - Sepak bola bukan sekedar permainan biasa. Ia cabang olahraga paling populer di dunia. Tak mengherankan jika sepak bola lantas menjadi salah satu alat "permainan" politik, mobilisasi massa, juga propaganda.
Asumsi tersebut dikuatkan oleh Martin J Power lewat tulisan berjudul “Football and Politics: The Politics of Football”, yang menjelaskan bahwa sepak bola sejatinya berhubungan dinamis dengan politik.
Belakangan, hal itu tampak dalam relasi antara Presiden FIFA Gianni Infantino dan Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS), salah satu negara tuan rumah Piala Dunia 2026.
Donald Trump dikenal sebagai salah satu presiden AS paling kontroversial. Gaya kepemimpinannya jauh dari norma politik tradisional. Dalam dirinya mengalir darah pengusaha yang kental dari keluarga. Karena itu, ia kerap memakai metode transaksional, serta tak segan memilih cara nirpopuler untuk mencapai tujuan, termasuk yang memantik pertikaian, perang, bahkan invasi militer.
Di sisi lain, sepak bola dunia saat ini dalam kendali Gianni Infantino, sosok berkebangsaan Swiss-Italia yang dikenal oportunis dan pandai membaca situasi.
Kombinasi dua sosok berpengaruh inilah yang kemudian berpeluang menyeret sepak bola kian jauh dari semangat sportivitas.
Awal Relasi Donald Trump dan Gianni Infantino
Januari 2017, Donald Trump secara resmi mengawali periode pertamanya sebagai presiden. Namun, momen itu memantik gejolak protes publik, terutama dari kubu lawan, Partai Demokrat. Demonstrasi pecah di mana-mana, termasuk di di New York, Los Angeles, Chicago, dan Portland.
Demi kepercayaan publik sekaligus membungkam para penentangnya, Trump melakukan sejumlah langkah populis. Salah satunya dengan mendukung program United Bid pada April 2017.
United Bid adalah proposal pencalonan AS, bersama Meksiko dan Kanada, untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026.
Setahun kemudian, Juni 2018, dalam Kongres FIFA ke-68 di Moskow, Rusia, proposal United Bid resmi meraih suara terbanyak, mengalahkan kandidat lain, Maroko. AS pun resmi menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026, bersama Meksiko dan Kanada.
Keputusan itu tak mengejutkan mengingat AS menjanjikan potensi keuntungan hingga 11 miliar dolar AS, jauh lebih tinggi ketimbang potensi keuntungan Maroko (5,7 miliar dollar AS). Terlebih, sejak awal, para petinggi FIFA, bahkan presiden Gianni Infantino, condong mendukung proposal United Bid, demikian menurut The Whistler.
Kepentingan transaksional itulah yang menjadi pemantik awal hubungan Trump dan Infantino.
Tak lama setelah penentuan tuan rumah Piala Dunia 2026, Trump mengundang Infantino berkunjung langsung ke Gedung Putih. Hari Selasa, 28 Agustus 2018, tercatat sebagai pertemuan perdana keduanya.
Kolaborasi 2 Sosok Penganut Politik Transaksional
Kedekatan Trump dan Infantino terbilang unik. Sebab, keduanya berlatar belakang sangat berbeda.
Oleh para lawan politiknya, Donald Trump diidentikkan sebagai perundung kaum lemah. Sebaliknya, Infantino, semasa kecilnya, justru sempat menjadi korban perisakan di sekolah.
Kehidupan perekonomian keluarga Trump sangat berkecukupan. Saat dewasa pun bisnisnya tak sedikit, dari properti sampai kasino.
Sementara itu, Infantino terlahir dari keluarga imigran Italia di Swiss, dengan ekonomi sederhana. Kondisi itulah yang membentuknya menjadi seorang pekerja keras, tetapi sekaligus diplomatis dan pragmatis.
Bakat transaksional Infantino mulai terlihat ketika maju sebagai calon presiden klub amatir FC Brig-Glis di usia yang masih 18 tahun. Saat itu ia memenangkan pemilihan lewat janji unik, bahwa ibunya bakal mencuci jersei pemain tiap pekan.
Beranjak dewasa dan paruh baya, kemampuan diplomasi Infantino makin matang. Kecerdikan itu bahkan tambah "berguna" saat ia jadi presiden FIFA dan menangani gelaran Piala Dunia 2018 (Rusia) dan Piala Dunia 2022 (Qatar). Ia paham betul soal cara kerja politik kekuasaan.
Jelang Piala Dunia 2018, Eropa Barat berpandangan negatif terhadap Rusia, terutama sejak aneksasi Krimea pada 2014. Infantino menjawabnya dengan menerima status warga kehormatan Order of Friendship dari presiden Rusia, Vladimir Putin.
Jelang Piala Dunia 2022, tuan rumah Qatar diterpa isu pelanggaran hak asasi manusia yang menimpa pekerja migran. Infantino secara diplomatis tetap melindungi Qatar di depan media massa. Ia bahkan membawa keluarganya tinggal di Doha, ibu kota Qatar.
Oleh karenanya, jelas bukan kebetulan jika saat ini Infantino berhubungan dekat dengan Donald Trump. Tapi, mengapa Infantino membidik Trump, bukan presiden Meksiko ataupun Kanada?
AS adalah tuan rumah utama di Piala Dunia 2026. Negeri Abang Sam punya 11 kota penyelenggara, jauh lebih banyak ketimbang Meksiko (3 kota) dan Kanada (2 kota). Dengan jumlah peserta putaran final sebanyak 48 tim, bakal ada total 104 laga digelar, yang mayoritas berlangsung di AS.
Artinya, potensi pundi-pundi keuntungan yang akan diperoleh pun lebih banyak dan terbuka. FIFA memperkirakan turnamen tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 40,9 miliar dolar AS.
Antusiasme Infantino terhadap AS kembali muncul saat Donald Trump masuk Gedung Putih untuk periode kedua. Ia bahkan menyempatkan datang langsung dalam inagurasi dan duduk di barisan depan.
Namun demikian, cukup sulit menentukan siapa pihak yang paling besar mengambil keuntungan; siapa memanfaatkan siapa; atau justru itu merupakan simbiosis mutualisme setara?
Trump adalah sosok narsistik yang butuh citra baik, sementara Infantino juga diuntungkan terkait relasi erat dengan pemimpin negara adidaya.

Setelah menjalin hubungan dengan Infantino, Ivanka Trump dilibatkan dalam program pendidikan bernama FIFA Global Citizen Education Fund. Dalam proyek senilai 100 juta USD ini, anak dari Donald Trump tersebut duduk sebagai anggota Dewan Penasihat.
FIFA Global Citizen Education Fund saat ini memiliki kantor di Trump Tower, New York. Bahkan, mereka berencana membangun sekretariat pusat lebih besar di Miami.
Bagi Infantino, kedekatan dengan Donald Trump juga berbuah manis bagi FIFA, termasuk pembebasan pajak tiket Piala Dunia 2026 yang lahir berkat negosiasi kebijakan luar negeri AS.
Pemerintahan Trump juga tak segan mengucurkan dana besar untuk menjamin keamanan Piala Dunia 2026, tanpa sepeserpun membebani kas FIFA. Di antaranya termasuk dana hibah 625 juta dolar AS untuk keamanan di 11 kota tuan rumah, 500 juta dolar AS sistem penangkal drone, serta pembentukan pusat koordinasi keamanan bersama Departemen Keamanan Dalam Negeri dan FBI.
Ironi FIFA Peace Prize Award untuk Donald Trump
Sabtu, 28 Februari 2026, militer Israel dan AS (di bawah komando Donald Trump) melancarkan pengeboman besar-besaran di wilayah Iran. Operasi militer bersandi Epic Fury itu menewaskan sejumlah pejabat penting di Teheran, termasuk pemimpin tertingginya, Ali Khamenei.
Denuklirisasi alias pelucutan senjata nuklir serta penggulingan rezim menjadi dalih serangan AS terhadap Iran. Langkah sembrono itu berbuntut rusaknya stabilitas kawasan Asia Barat Daya.
Sebelumnya, 3 Januari 2026, Trump juga mengerahkan militer AS untuk melancarkan operasi kilat di Venezuela. Mereka menculik Presiden Nicolas Maduro beserta sang istri. Kala itu, tuduhan terorisme narkotika disematkan kepada Maduro.
Apapun dalihnya, tindakan sepihak militer AS yang dengan enteng mengacak-acak negara berdaulat, bahkan sampai menimbulkan korban pemimpin tertinggi, jelas menyalahi hukum internasional.
Ironisnya, aksi koboi tersebut dilakukan hanya sebulan selepas Trump dianugerahi penghargaan FIFA Peace Award oleh Gianni Infantino, 5 Desember 2025. Ketika itu FIFA berdalih, bahwa presiden AS itu berandil besar dalam gencatan senjata di Palestina antara Israel dan Hamas. Ia juga dianggap berjasa menghentikan konflik senjata di perbatasan Thailand-Kamboja.

Ide terkait penghargaan FIFA Peace Prize pertama muncul dalam Kongres FIFA ke-74 (2024) di Bangkok, Thailand. Ketika itu pada awal pidatonya, Infantino menekankan pentingnya slogan “Football United The World” yang diusung FIFA.
Namun, kenyataan bahwa edisi perdana penghargaan tersebut justru jatuh ke tangan Donald Trump jelas menuai kontroversi. Kecurigaan pun muncul, apakah Infantino benar-benar tengah memperjuangkan perdamaian dunia, atau justru hanya menyuapi ego Donald Trump?
Apalagi, sejumlah anggota Dewan FIFA (FIFA Council) tidak dilibatkan ketika proses pemilihan tokoh penerima penghargaan. Infantino juga dianggap sudah merusak citra FIFA sebagai organisasi yang seharusnya netral dari sisi politik.
Lebih parah lagi, beberapa bulan sebelum menerima penghargaan, tepatnya 22 Juni 2025, Trump melancarkan operasi pemboman di Iran menggunakan pesawat B-2 Spirit, yang menyasar kota Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Belum lagi deretan kontroversi bertentangan dengan prinsip perdamaian yang sudah mewarnai periode pertama rezim Donald Trump (2017-2021).
Pada periode itu, ia sempat menerapkan larangan perjalanan terhadap warga dari negara mayoritas muslim untuk masuk ke AS.
Trump juga memindahkan secara resmi Kedutaan Besar AS di Israel, dari Tel Aviv ke Yerusalem. Kebijakan tersebut menuai protes besar, serta dinilai merusak upaya solusi dua negara.
Sosok yang namanya berkali-kali disebut dalam Epstein Files tersebut juga pernah memperketat kebijakan imigrasi di wilayah perbatasan AS-Meksiko. Ia sama sekali tak memberi toleransi, bahkan tega memisahkan para orang tua imigran dan anak-anaknya yang lahir di AS.
Tak hanya itu. Pada 3 Januari 2020, Trump melancarkan serangan udara di dekat Bandara Internasional Baghdad, Irak, membunuh Jenderal Qassem Soleimani, komandan IRGC Iran.
Berkaca pada deretan fakta di atas, tentu sangat jauh di luar logika ketika FIFA menganugerahkan penghargaan perdamaian kepada Donald Trump.
Kecurigaan pun tak terhindarkan. Berbagai pihak mengkritik, menuntut, bahkan melaporkan, berbagai kebijakan Infantino dan kedekatan khususnya dengan Trump.
FairSquare, lembaga nonprofit yang berfokus pada HAM dan olahraga, mengajukan komplain kepada Komite Etik FIFA terkait sepak terjang Presiden Gianni Infantino yang dianggap terlalu jauh melanggar netralitas politik, sebagaimana tercantum dalam Pasal 15 Kode Etik FIFA.
Human Rights Watch, organisasi HAM berbasis di New York, juga mengkritik pemberian penghargaan tersebut kepada Trump. "Catatan hak asasi manusia yang mengerikan dari pemerintahannya jelas tidak menunjukkan tindakan luar biasa untuk perdamaian dan persatuan," tulis mereka.
Nasi sudah menjadi bubur, alias Trump sudah kadung mengalungi penghargaan perdamaian dari Trump. Namun, FIFA sebenarnya bisa melakukan otokritik dan membatalkan klaim tersebut.
Itu penting, mengingat hingga awal Maret 2026, konflik AS-Iran, yang dipicu oleh serangan sepihak oleh rezim Trump, belum memperlihatkan tanda mereda. Akibatnya, FIFA sendiri yang akan bertanggung jawab terhadap tantangan serius jelang agenda besar Piala Dunia 2026, baik dari sisi jaminan keamanan maupun potensi mundurnya timnas Iran.
Apakah langkah FIFA menunjuk Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026, serta relasi erat Trump-Infantino bakal jadi blunder terbesar? Waktu yang akan menjawab.
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































