Nafsu FIFA Memperluas Piala Dunia

Presiden FIFA Gianni Infantino [Foto/yahoo.com]
Oleh: Iswara N Raditya - 15 Oktober 2016
Dibaca Normal 2 menit
Gagasan menambah peserta Piala Dunia dari 32 menjadi 40 bahkan 48 tim yang diusulkan oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, memantik pro dan kontra. Namun, Infantino yakin bahwa ide tersebut akan memberikan banyak manfaat. Benarkah?
tirto.id - FIFA baru-baru ini telah menggelar sidang dan menghasilkan dokumen visi yang diberi nama “FIFA 2.0”. Salah satu poinnya adalah rencana memperluas keikutsertaan Piala Dunia. Dengan kata lain, ajang sepakbola terakbar sejagat itu akan melibatkan lebih banyak peserta, dari yang semula 32 tim menjadi 40, atau bahkan 48 kontestan.

Meskipun menuai kritik, Gianni Infantino selaku Presiden FIFA tetap bersikukuh dengan gagasan tersebut. Ia menepis anggapan yang meyakini bahwa semakin banyaknya peserta akan mereduksi mutu Piala Dunia. FIFA sendiri berencana bakal menerapkan gagasan itu mulai Piala Dunia 2022 atau 2026 mendatang.

Infantino memaparkan contoh di Piala Dunia 2014 lalu di mana Inggris dan Italia disingkirkan oleh Kosta Rika yang di atas kertas tidak diperhitungkan. Artinya, lanjut pria Swiss pengganti Sepp Blatter ini, superioritas tim-tim mapan dari Eropa atau Amerika Selatan tidak lagi menjadi mitos yang mustahil untuk diruntuhkan.

“Saya tidak sepakat bahwa ide penambahan peserta berpotensi menurunkan mutu Piala Dunia. Kualitas turnamen bahkan akan meningkat dengan terlibatnya 48 tim karena 32 tim bakal bertarung secara play-off,” tandas Infantino seperti dikutip dari The Guardian.

Misi “Mulia” Presiden FIFA

Infantino sejatinya bukan orang pertama yang berpikiran ingin menambah kontestan Piala Dunia. Mantan bosnya semasa masih menjadi sekretaris jenderal konfederasi sepakbola Eropa atau UEFA, Michel Platini, pernah mencetuskan gagasan serupa meskipun dengan kepentingan yang berbeda.

Platini, legenda sepakbola Perancis yang dipecat dari jabatannya sebagai Presiden UEFA lantaran terlibat skandal korupsi FIFA yang menggegerkan tahun lalu, menawarkan penambahan kontestan Piala Dunia menjadi 40 tim.

Harapan Platini adalah, dengan ditambahnya peserta, UEFA yang memiliki jatah terbanyak, yakni 13 tim, tidak dikurangi lantaran suara-suara yang menyerukan wacana tersebut kian santer terdengar kala itu.

Infantino berbeda. Kini, dengan predikat menjulang selaku orang nomor satu di FIFA, ia justru tidak melanjutkan harapan Platini. Klaim pria 45 tahun ini adalah mengusung “tujuan yang lebih adil dan mulia” dengan ide penambahan peserta Piala Dunia tersebut.

Tak tanggung-tanggung, Infantino menunjuk angka 48 peserta, atau bertambah 16 tim, sebagai jumlah ideal untuk Piala Dunia. Katanya, semakin banyak tim yang terlibat akan kian menggairahkan sepakbola di seluruh penjuru semesta. "Tentu saja ini akan menjadi menyenangkan, baik untuk negara, pemain, maupun fans,” sebut Infantino.

Lelaki berdarah Italia ini sama sekali tidak menyinggung kemungkinan bahwa nantinya ada 16 tim yang hanya sekali bertanding di laga play-off dan langsung pulang jika menelan kekalahan dalam satu kali laga tersebut.

Di kepala Infantino yang termaktub dalam konsep “FIFA 2.0”, 48 tim peserta Piala Dunia kelak terdiri atas 16 negara unggulan, ditambah 32 tim yang harus saling bunuh dulu di fase play-off: 16 tim yang menang lolos ke babak penyisihan grup, sementara 16 tim lainnya harus angkat koper.

Terlepas dari apa yang dicontohkan Infantino tentang sepenggal fakta bagaimana Kosta Rika mendepak Inggris dan Italia di Piala Dunia 2014 silam, catatan sejarah menunjukkan bahwa dari pertama kali digelar sejak tahun 1930 hingga kini, belum pernah ada negara selain dari Eropa dan Amerika Selatan yang berhasil membawa pulang trofi juara dunia.



Peserta Bertambah, Mengharap Berkah

Di luar persoalan teknis, membengkaknya jumlah peserta Piala Dunia akan menjadi berkah bagi FIFA. Ini tentu saja terkait dengan keuntungan yang akan diperoleh dari berbagai sektor pemasukan. Asumsi inilah yang menjadi kekhawatiran pihak-pihak penentang gagasan Infantino dan FIFA tersebut.

UEFA dan dua konfederasi sepakbola dari benua Amerika yakni CONMEBOL (Amerika Selatan) serta CONCACAF (Amerika Selatan, Utara, dan Kawasan Karibia) telah merasakan nikmatnya menggelar event besar dengan peserta yang terkesan sengaja digelembungkan.

Peserta Piala Eropa besutan UEFA sejak edisi 2016 lalu telah ditambah dari yang semula 16 tim menjadi 24 tim, sementara Copa America Centenario 2016 yang merupakan proyek hasil duet CONMEBOL dan CONCACAF juga meningkatkan kuantitas kontestannya dari 12 menjadi 16 peserta.

Untuk UEFA, misalnya, total pemasukan dari Piala Eropa 2016 mencapai 1,93 miliar euro (sekitar 28 triliun rupiah) atau naik 34 persen dari laba Piala Eropa 2012 yang “hanya” menghasilkan 1,4 miliar euro. Pemasukan terbesar didapat dari hak siar televisi yakni 1,5 miliar euro, kemudian sponsorship (480 juta euro), dan tiket pertandingan (400 juta euro).

Nah, dengan rencana ditambahnya peserta secara frontal, dari 32 menjadi 48 tim sesuai usulan Infantino, maka jumlah laga dan tempo perhelatan pun semakin banyak dan lama yang pastinya berimbas pada melimpah-ruahnya laba yang bakal dituai FIFA.

Jika Piala Eropa sebagai turnamen sepakbola terpopuler kedua saja mampu menjadi mesin uang dengan keuntungan sebanyak itu, belum terbayangkan berapa pundi-pundi euro yang akan diraup FIFA jika peserta Piala Dunia bertambah menjadi 48 tim nantinya.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight