Menuju konten utama
Horizon

Membedah Adidas Trionda, Bola yang Bertugas di Piala Dunia 2026

Di luar rekayasa permukaan dan aerodinamika, Trionda dilengkapi sistem chip yang dipasang di sisi dalam bola. Teknologi ini belum pernah ada sebelumnya. 

Membedah Adidas Trionda, Bola yang Bertugas di Piala Dunia 2026
TRIONDA Bola Resmi Piala Dunia 2026. Instagram/adidasfootball
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - John Eric Goff bukanlah seorang pesepak bola, pelatih, maupun administrator. Namun, ia memiliki peran penting dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026, meski "hanya" dari balik layar.

Sebagai pakar fisika di bidang olahraga, Goff adalah tokoh kunci dalam studi mengenai bola Adidas Trionda yang jadi bola resmi turnamen. Dalam sebuah wawancara dengan BBC Science Focus, Goff punya pandangan menarik soal mengapa di tiap turnamen besar selalu ada bola baru meskipun tidak pernah ada komplain terhadap bola-bola sebelumnya.

Sudah tiga Piala Dunia berlalu sejak terakhir kali ada komplain berarti terhadap kualitas dan performa bola resmi turnamen. Ketika itu, pada Piala Dunia 2010 yang digelar di Afrika Selatan, nama Jabulani mengemuka di mana-mana lantaran performanya yang sulit sekali diprediksi. Bola itu disebut terlalu bulat dan terlalu halus, sehingga pergerakannya di udara jadi demikian liar.

Sudah tiga Piala Dunia berlalu sejak itu, dan Brazuca (Piala Dunia 2014), Telstar 18 (Piala Dunia 2018), dan Al-Rihla (Piala Dunia 2022) sama sekali tidak mengundang protes berarti. Artinya, Adidas, selaku pengembang bola-bola tersebut, sebenarnya sudah sukses menciptakan bola-bola yang "sempurna". Maka, sah apabila pertanyaan seperti tadi diajukan. Mengapa harus ada bola baru di setiap turnamen besar?

Menurut Goff, pengembangan bola ini sama halnya dengan misi ke Bulan. "Ide besarnya adalah bagaimana mencari bentuk bulat yang sempurna. Akarnya dari rasa ingin tahu, bisakah kita melakukan ini? Dalam sains dan rekayasa, sering kali motivasinya hanya seperti itu. Sama saja seperti pada dekade 1960-an. Mengapa kita ngebet sekali ingin ke Bulan? Ya, karena Bulan itu ada," ujarnya.

Dengan begitu, ada setidaknya dua pertanyaan lanjutan yang perlu dijawab. Apa yang membuat Trionda berbeda dengan para pendahulunya, dan apa saja produk sains dan teknologi yang tersemat padanya?

Bagaimana Adidas Trionda Dibuat?

Lapisan luar Trionda terbuat sepenuhnya dari poliuretana, yang menciptakan permukaan luar mulus untuk meningkatkan daya tahan, karakteristik sentuhan, dan ketahanan terhadap cuaca. Lapisan ini dikombinasikan dengan lapisan internal dari poliester, viscose, dan ethylene-vinyl acetate (EVA) untuk memperkuat struktur dan menjaga bentuk bola.

Di dalamnya, kantung udara terbuat dari sistem berbasis butyl atau karet untuk menjaga tekanan udara. Panel poliuretana kemudian dilas secara termal untuk menghasilkan bola dengan penyerapan air yang lebih rendah, performa lebih konsisten dalam kondisi basah, dan presisi manufaktur yang lebih tinggi.

Setiap jahitan pada bola mengubah cara udara mengalir di sekitarnya. Selama bertahun-tahun, bola Piala Dunia terus mengubah jumlah panel karena para insinyur mencari keseimbangan ideal antara kecepatan, stabilitas, dan kontrol. Dari 14 panel pada Teamgeist 2006, turun menjadi delapan pada Jabulani 2010, enam pada Brazuca 2014 dan Telstar 18 2018, lalu naik lagi menjadi 20 pada Al Rihla 2022. Di Trionda, untuk pertama kalinya dalam sejarah bola Piala Dunia memiliki empat panel.

Angka empat itu dihasilkan dari hitung-hitungan matematika. Trionda didasarkan pada bangun ruang yang disebut tetrahedron, yakni padatan platonis yang tersusun dari empat segitiga, di mana tiga sisi bertemu di setiap titik sudut. Meski memiliki tiga sudut seperti segitiga biasa, tepi-tepi panel tersebut dibuat melengkung sehingga bisa menutup permukaan bola dengan lebih bulat. Metode ini mirip dengan cara kerja Brazuca, bola berenam panel berbasis bentuk kubus yang digunakan di Piala Dunia 2014.

Namun, ada satu perbedaan krusial soal simetri. Karena Trionda didasarkan pada tetrahedron, ia memiliki lebih sedikit simetri dibandingkan bola Telstar klasik. Sementara bola Telstar terlihat persis sama dari 60 posisi berbeda, Trionda hanya memiliki 12 simetri rotasional. Ini menjadi salah satu hal yang paling dicermati para peneliti sebelum turnamen dimulai.

Dengan hanya empat panel, Trionda secara teori bisa menghadapi masalah yang sama seperti Jabulani. Semakin sedikit panel berarti semakin sedikit jahitan, dan semakin sedikit jahitan berarti permukaan bola semakin halus. Kehalusan permukaan penting karena lapisan tipis udara yang menempel pada permukaan bola, yang dalam fisika disebut boundary layer, menentukan di mana aliran udara terpisah dari permukaan bola, seberapa besar pusaran yang terbentuk di belakangnya, dan seberapa besar hambatan yang dialami bola.

Itulah yang dulu menghantui Jabulani. Dengan hanya delapan panel dan sangat sedikit jahitan, aliran udara yang melewati permukaan bola memiliki jalur yang jauh lebih mulus, dan jika bola tidak berputar, perbedaan aliran udara akan cukup untuk mendorong bola keluar jalur secara tak terduga.

Untuk Trionda, Adidas memilih pendekatan yang berbeda. Berdasarkan pengukuran menggunakan pemindai laser beresolusi tinggi, para peneliti menemukan bahwa jahitan Trionda lebih panjang, lebih dalam, dan lebih lebar dibandingkan Jabulani.

Tiap panel Trionda juga memiliki tiga alur dalam yang menonjol. Untuk alur yang representatif, bagian terlebar memiliki lebar 9,04 mm dan kedalaman 1,29 mm, bagian menengah berukuran 6,08 mm lebar dan 0,85 mm dalam, dan bagian tersempit berukuran 3,26 mm lebar dan 0,48 mm dalam. Alur-alur ini, bersama mikrotekstur yang diukir pada permukaan, dirancang untuk memastikan turbulensi di sekitar bola tetap cukup simetris agar bola bergerak dalam lintasan yang dapat diprediksi.

Untuk membuktikan apakah semua rekayasa permukaan itu berhasil, Goff bersama koleganya dari Universitas Tsukuba di Jepang dan Seoul Women's University di Korea melakukan serangkaian uji terowongan angin. Bola dipasang pada batang baja di dalam terowongan, dan angin dialirkan pada kecepatan 7 hingga 35 meter per detik, sesuai dengan kecepatan bola dalam pertandingan nyata.

Bola resmi Piala Dunia 2026

Bola resmi Piala Dunia 2026, Trionda. (ANTARA/FIFA)

Yang diukur dari uji terowongan angin itu adalah koefisien drag, yakni angka yang menggambarkan seberapa besar hambatan udara yang dialami bola saat bergerak. Setiap bola memiliki apa yang disebut drag crisis, yaitu titik kecepatan tertentu di mana hambatan udara berubah secara drastis. Semakin mulus sebuah bola, semakin tinggi kecepatan kritis tersebut. Inilah mengapa bola golf memiliki cekungan-cekungan di permukaannya untuk menurunkan kecepatan kritis dan membantu bola bergerak lebih jauh di udara.

Jika drag crisis terjadi di tengah kisaran kecepatan yang relevan dalam pertandingan, perubahan kecil dalam kecepatan tendangan atau orientasi bola dapat menggeser bola dari satu rezim aerodinamika ke rezim lainnya. Itulah yang membuat Jabulani jadi begitu liar. Drag crisis-nya terjadi pada kecepatan sekitar 79 hingga 97 km/jam, tepat di kisaran yang relevan dalam pertandingan, khususnya saat bola ditembakkan ke gawang atau dioper dari jarak jauh.

Bagaimana dengan Trionda? Hasil uji terowongan angin menunjukkan bahwa Trionda mencapai drag crisis-nya pada kecepatan sekitar 43 km/jam, jauh di bawah kisaran 50 hingga 65 km/jam yang tercatat pada Al-Rihla, Telstar 18, dan Brazuca, dan jauh lebih rendah dari Jabulani. Ini berarti, pada kecepatan yang relevan untuk tendangan sudut dan tendangan bebas, Trionda sudah berada di rezim turbulen yang stabil, sehingga perilakunya lebih bisa diprediksi.

Namun, di balik itu ada konsekuensi tersendiri. Meski Trionda mengalami drag crisis pada kecepatan yang lebih rendah, koefisien drag-nya di kecepatan tinggi sedikit lebih besar dibandingkan bola-bola pendahulunya. Artinya, tendangan jarak jauh berkecepatan tinggi mungkin memiliki jangkauan yang sedikit lebih pendek. Goff memperkirakan, pada tendangan jarak jauh, perbedaannya bisa mencapai beberapa meter.

Menurut Goff, yang paling mungkin merasakan perbedaan Trionda adalah penjaga gawang dan pemain yang biasa menendang bola dari jarak jauh. Namun, ia juga menekankan bahwa sebagian besar tendangan dalam pertandingan nyata disertai putaran bola, dan putaran itu menghasilkan apa yang disebut efek Magnus, yakni gaya angkat tambahan yang secara parsial mengimbangi hambatan udara yang lebih besar pada Trionda.

"Yang sering mereka lakukan adalah menendang bola dengan backspin. Ada efek Magnus di mana udara terdorong ke bawah dan bola mendapat sedikit daya angkat selama penerbangan dari putaran tersebut," jelas Goff.

Dilengkapi Sistem Chip

Di luar semua rekayasa permukaan dan aerodinamika, Trionda juga menyimpan teknologi digital yang belum pernah ada sebelumnya. Setiap bola Trionda dilengkapi dengan sistem chip yang dipasang di sisi dalam bola. Chip ini merupakan unit pengukuran inersia (IMU) berkecepatan 500 Hz yang dikembangkan oleh Adidas bekerja sama dengan perusahaan teknologi Jerman Kinexon, ditempatkan di dalam lapisan khusus di salah satu dari empat panel bola. Tiga panel lainnya dilengkapi dengan penyeimbang untuk memastikan stabilitas penerbangan dan keseimbangan bola tetap terjaga.

Ini adalah perubahan arsitektur yang signifikan dibandingkan bola Piala Dunia 2022. Pada Al-Rihla, unit pengukuran itu ditempatkan di tengah-tengah bola melalui sistem suspensi. Dengan Trionda, sensor kini berada di dalam lapisan khusus di salah satu panel. Sensor ini bekerja bersama kamera dan sistem pelacak yang dipasang di seluruh stadion.

Data yang dikumpulkan dikirimkan ke sistem VAR secara real-time untuk membantu wasit dalam dua hal utama: keputusan offside, dengan mengukur pergerakan bola 500 kali per detik untuk menghitung momen tepat saat bola ditendang, dan identifikasi sentuhan, yakni mendeteksi momen tepat saat bola disentuh pemain untuk membantu keputusan soal handball dan pelanggaran lainnya. Untuk memastikan sensor berfungsi optimal, setiap bola harus diisi daya secara nirkabel selama sekitar 90 menit sebelum pertandingan. Satu kali pengisian penuh memberikan cadangan daya hingga enam jam.

Hannes Schaefke, pemimpin inovasi sepak bola Adidas, menggambarkan betapa sulitnya memindahkan posisi sensor tanpa memengaruhi performa bola. Adidas memulai dengan uji acak, dengan menyelipkan bola ke sesi latihan klub tanpa memberitahu pemain apa pun. Kemudian, para pemain itu diiminta mengidentifikasi mana yang ada chip-nya. "Kesimpulannya bagi kami adalah tidak ada pemain yang mampu mendeteksinya atau membedakannya, dan ini merupakan hal yang luar biasa," ujar Schaefke kepada Gulf News.

Adidas bahkan menyebut Trionda sebagai bola yang paling banyak diuji dalam sejarah perusahaan, dengan proses pengujian yang mencakup robot penendang yang menendang 100 bola dengan kecepatan spesifik, uji laboratorium, dan pengujian lapangan langsung di enam kota tuan rumah.

Dari ini semua, kita bisa simpulkan bahwa Trionda benar-benar dipersiapkan dengan matang dan, sejauh ini, belum ada komplain berarti tentang bola tersebut. Ini berarti, kekurangan yang dimiliki bola ini, terutama dalam hal jarak tempuh, tidak terasa secara signifikan. Lagipula, dari laga-laga yang sudah berjalan, sudah ada sejumlah gol yang dicetak dari jarak jauh, termasuk dua gol Swedia ke gawang Tunisia yang dilesakkan Yasin Ayari. Artinya, Trionda bekerja dengan baik, kendati bukan produk yang sempurna. Dan ketidaksempurnaan itulah yang nantinya akan mendorong pengembangan bola yang lebih baru lagi.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Horizon
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi