tirto.id - Semua bermula pada 22 Juni 2014 di Manaus, Brasil. Pertandingan Piala Dunia 2014 Grup G antara Portugal vs Amerika Serikat (AS) memasuki menit ke-40 ketika wasit Nestor Pitana dari Argentina memutuskan untuk menghentikan permainan. Alasannya? Panas tak lagi tertahankan.
Bermain di stadion dengan suhu 32 derajat Celcius, tanpa embusan angin yang berarti, membuat para pemain kedua kesebelasan sudah bermandikan keringat sejak menit awal. Dan pada menit ke-40, wasit tak punya pilihan lain kecuali memberlakukan water break.
Itulah pertama kalinya ada jeda khusus untuk melakukan rehidrasi dalam pertandingan Piala Dunia. Dan, memang, sejak sebelum turnamen digelar, FIFA sudah mengumumkan bahwa hal semacam itu bakal diberlakukan.
Mereka paham bahwa musim panas di Brasil bukan ekosistem yang ramah bagi sepak bola level tertinggi. Itulah mengapa wasit diberikan diskresi untuk menyetop laga sementara, seraya memberikan waktu bagi para pemain dan tim pengadil merehedirasi tubuh mereka.
Sejak itu, water break jadi pemandangan umum di semua pertandingan sepak bola resmi, termasuk di kompetisi liga. Namun, selama ini, water break tidak pernah bersifat wajib. Ini adalah sesuatu yang keputusannya didasarkan pada kebijaksanaan wasit serta perangkat pertandingan. Biasanya, water break diberlakukan ketika sebuah pertandingan digelar di atas temperatur 30 derajat Celcius.
Pada Piala Dunia 2026, situasinya berbeda. Water break bukan lagi sesuatu yang dibolehkan, melainkan sebuah kewajiban. Di tiap babak, masing-masing pada menit ke-22, wasit akan menghentikan pertandingan lalu water break, atau hydration break, atau jeda hidrasi selama tiga menit.
Praktis, pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2026 terasa seperti digelar tidak dalam 2 x 45 menit, melainkan 4 x 22,5 menit. Sepak bola tidak lagi dihelat dalam dua babak, melainkan empat "kuarter" layaknya bola basket atau sepak bola Amerika.
Apakah ini semua dilakukan karena mayoritas pertandingan Piala Dunia 2026 digelar di AS, atau adakah sebab lain yang benar-benar kuat urgensinya?
Jeda Hidrasi Menurut Sains
FIFA dalam pengumuman resminya pada Desember 2025 menyebut bahwa jeda hidrasi bagian dari komitmen mereka terhadap kesejahteraan pemain. Manolo Zubiria, Chief Tournament Officer Piala Dunia 2026 untuk AS, menjelaskan bahwa di setiap pertandingan, di mana pun digelar, tanpa memandang ada atau tidaknya atap stadion maupun suhu udara, akan ada jeda hidrasi tiga menit, dihitung dari peluit ke peluit, di setiap babak.
FIFA secara eksplisit menyebut tak akan ada syarat cuaca atau suhu tertentu yang menentukan apakah jeda ini diberlakukan atau tidak. Semua pertandingan, di semua kondisi, akan menerapkan jeda yang sama. Ini berbeda jauh dari kebijakan sebelumnya, di mana cooling break baru diterapkan jika suhu wet-bulb globe temperature (WBGT) melampaui ambang 32 derajat Celcius.
Dari sisi sains, kebijakan FIFA punya dasar yang kuat. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Sports Medicine pada akhir 2025 meneliti efek jeda hidrasi dan jeda pendinginan terhadap pemain sepak bola muda di Meksiko.
Studi yang sama juga menemukan bahwa jeda tiga menit, baik berupa jeda minum biasa maupun jeda pendinginan dengan handuk dingin dan minuman dingin, mampu menahan kenaikan suhu inti tubuh yang terus-menerus terjadi selama pertandingan tanpa jeda. Dengan jeda, kenaikan suhu ini bisa ditahan, bahkan pada kondisi cuaca yang relatif moderat di 25 derajat WBGT.
Sebelum Piala Dunia 2026, FIFA membolehkan jeda hidrasi diberikan pada menit ke-30 dan ke-75. Alasannya, karena suhu inti tubuh biasanya mencapai puncaknya di sekitar waktu tersebut. Namun, pada studi yang diterbitkan di jurnal Sports Medicine tadi, para peneliti berargumen bahwa apabila puncaknya terjadi pada menit ke-30, jeda hidrasi seharusnya diberikan sebelum itu. Mereka memberikan usul supaya jeda diberikan pada menit ke-25 tiap babak dan akhirnya kebijakan akhir FIFA jatuh pada menit ke-22, yang sekaligus membuat satu babak terbagi dua nyaris sama panjangnya.
Kekhawatiran soal panas bukan isapan jempol. BBC melaporkan bahwa sekelompok ilmuwan terkemuka dari berbagai negara, termasuk AS, Kanada, Australia, Inggris, dan sejumlah negara Eropa lainnya, mengirim surat terbuka yang menyebut langkah-langkah FIFA terkait panas justru tidak cukup dan berisiko membahayakan keselamatan pemain. Mereka menyoroti bahwa 14 dari 16 stadion yang digunakan berisiko mengalami kondisi panas ekstrem, dengan suhu rata-rata pada siang hari di sebagian wilayah AS bagian selatan dan Meksiko bagian utara bisa mencapai 40 derajat Celcius pada periode tertentu.

Analisis dari World Weather Attribution bahkan menyebut bahwa risiko cuaca panas dan lembap ekstrem di Piala Dunia 2026 jauh lebih tinggi dibanding Piala Dunia 1994 yang juga digelar di benua yang sama. Sekitar seperempat pertandingan diperkirakan akan dimainkan di atas 26 derajat WBGT, dan sekitar lima pertandingan bisa melampaui 28 derajat WBGT. Asosiasi pemain FIFPro menilai, situasi ini sudah tidak aman bagi para pesepak bola.
Para ilmuwan ini meminta FIFA untuk memperpanjang jeda hidrasi menjadi minimal enam menit, menunda atau menjadwal ulang pertandingan jika suhu WBGT di atas 28 derajat, serta memperbaiki fasilitas pendinginan bagi pemain. Douglas Casa dari University of Connecticut, salah satu penanda tangan surat tersebut, secara spesifik menyebut bahwa jeda hidrasi semestinya berdurasi setidaknya lima hingga enam menit, bukan tiga menit seperti yang diterapkan FIFA saat ini.
FIFA menanggapinya dengan menyebut bahwa mereka akan menerapkan model mitigasi panas berjenjang, dengan dukungan pemantauan cuaca secara real-time di setiap kota penyelenggara, serta penjadwalan pertandingan yang sudah memperhitungkan risiko panas di masing-masing lokasi. Jadi, dari sudut pandang ilmiah, ada justifikasi nyata untuk jeda hidrasi.
Selain menguntungkan pemain, jeda hidrasi juga punya pengaruh positif bagi performa wasit. Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Athletic Training menyoroti bahwa wasit pun mengalami dehidrasi ringan selama bertugas, yang bisa berdampak pada penurunan performa fisik, psikomotor, dan kognitif mereka.
Studi ini menyebut bahwa dehidrasi sekitar 2 persen dari berat badan saja sudah cukup untuk memengaruhi atensi, daya ingat, dan kemampuan penalaran, yang semuanya penting dalam pengambilan keputusan di lapangan. Dengan kata lain, jeda hidrasi punya potensi untuk meningkatkan kualitas pertandingan karena, apabila konsentrasi wasit terjaga, kans terciptanya keputusan-keputusan kontroversial pun menipis.
Jeda Hidrasi Jadi Slot Iklan
Di balik narasi kesejahteraan pemain dan wasit, ada cerita lain yang berkembang, dan ini erat kaitannya dengan uang. Pasalnya, FIFA memang memberikan izin kepada stasiun televisi yang menayangkan Piala Dunia 2026 untuk menayangkan iklan komersial selama jeda hidrasi berlangsung.
Michael Johnson, analis riset industri olahraga AS dari S&P Global, menyebut potensi nilai slot iklan pada jeda hidrasi berpotensi menyamai harga slot iklan ala Super Bowl yang berkisar tujuh hingga sembilan juta dolar AS. Johnson menjelaskan bahwa penonton di AS sudah terbiasa dengan format olahraga semacam NFL atau NBA yang terbagi dalam beberapa kuarter dengan jeda iklan di antaranya, dan Piala Dunia kali ini pun pada dasarnya mengikuti format serupa.
Namun, langkah ini tidak diterima dengan mulus di semua tempat. Di Inggris, ITV memutuskan untuk tidak menayangkan iklan apa pun selama jeda hidrasi, karena alasan regulasi dari Ofcom, badan pengawas penyiaran Inggris, sekaligus mempertimbangkan ekspektasi penonton. Francois Godard, analis independen industri olahraga, menyebut bahwa meski penyiar berbasis langganan seperti Sky di Inggris kemungkinan akan senang punya lebih banyak slot iklan, ia ragu penonton Inggris akan menyambut baik tambahan iklan tersebut.
Reuters juga menyoroti potensi keresahan dari basis penggemar di luar AS, terutama Eropa, yang khawatir akan "Amerikanisasi" sepak bola. Menambah jumlah jeda yang justru bisa membuat penonton jenuh atau merasa terganggu oleh iklan yang terlalu sering dan berlebihan. Kekhawatiran ini diperparah dengan fakta bahwa survei dari Football Supporters' Association di Premier League menunjukkan hanya 3,3 persen suporter yang merasa pengalaman menonton mereka membaik dengan adanya VAR, sehingga ada kemungkinan jeda hidrasi yang terstruktur ini bisa berakhir dengan reaksi serupa atau lebih buruk.
Praktiknya di lapangan pun tidak selalu sesuai aturan. The Guardian melaporkan bahwa pada pertandingan pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan, stasiun TV Fox di AS melanggar pedoman FIFA dengan baru kembali ke tayangan langsung 10 detik setelah pertandingan dimulai kembali di babak kedua, padahal aturan FIFA mewajibkan penyiar untuk kembali ke laga setidaknya 30 detik sebelum permainan dilanjutkan.
Iklan Fox bahkan tayang 40 detik lebih lama dari yang seharusnya, karena wasit Wilton Sampaio memberi sinyal jeda hidrasi lebih awal setelah gol kedua Meksiko yang dicetak Raúl Jiménez, sehingga Fox terlambat memotong ke iklan dan akhirnya kelebihan waktu. FIFA akhirnya menerima penjelasan Fox dan tidak menjatuhkan sanksi apa pun.

Sebagai perbandingan, Telemundo, penyiar berbahasa Spanyol untuk Piala Dunia 2026 di AS, memilih tidak memotong ke iklan layar penuh selama jeda hidrasi, dan tetap menampilkan apa yang terjadi di lapangan, termasuk diskusi taktik antarpemain dan staf pelatih. The Athletic mencatat di Jerman ada perbedaan pendekatan antara saluran Magenta yang menayangkan iklan dan ARD yang tidak.
Adapun di Indonesia, sejauh ini TVRI selaku pemegang hak siar juga memutuskan untuk tidak menampilkan iklan. Setidaknya tidak secara penuh. Dalam beberapa kesempatan mereka menampilkan iklan dari salah satu sponsor tetapi tayangan tetap berjalan utuh tanpa dipotong apa pun.
Memengaruhi Taktik dan Momentum
Bicara soal jeda hidrasi, The Athletic juga mencatat sesuatu yang agak membingungkan soal bagaimana jeda ini diterapkan di lapangan pada pertandingan-pertandingan awal. Meski jeda seharusnya berdurasi tiga menit dan wajib di setiap babak, pada dua pertandingan pembuka, wasit membiarkan jam pertandingan tetap berjalan selama jeda hidrasi, alih-alih menghentikannya. Akibatnya, di laga Meksiko melawan Afrika Selatan, wasit keempat menambahkan empat menit waktu tambahan di akhir babak pertama, padahal tidak ada pergantian pemain atau penghentian permainan yang signifikan lainnya.
Pada laga Korea Selatan melawan Republik Ceko, situasinya bahkan lebih unik. Korea Selatan mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-66 dan 37 detik di babak kedua, dan setelah selebrasi serta pergantian pemain, permainan kembali dilanjutkan pada menit ke-68 dan 45 detik. Hanya 17 detik kemudian, terjadilah pelanggaran, dan wasit baru memberi sinyal jeda hidrasi pada saat itu, sebelum permainan dilanjutkan lagi pada menit ke-71 plus 52 detik.
Artinya, dari saat gol dicetak hingga permainan benar-benar berlanjut usai jeda hidrasi, hanya ada 17 detik sepak bola sungguhan, sementara jam terus berjalan selama lima menit 16 detik. Meski ada tiga penghentian tambahan untuk pergantian pemain dan dua gol lagi di babak itu, wasit keempat hanya menambahkan enam menit waktu tambahan.
Pemberian jeda seperti ini pun memiliki efek yang nyata terhadap momentum pertandingan. Karena jeda diberikan begitu bola keluar dari permainan setelah menit ke-22, sebuah tim yang sedang unggul tekanan atau dalam momentum bagus bisa kehilangan ritme begitu jeda diberlakukan, mirip seperti efek jeda turun minum. Pada laga Korea Selatan melawan Republik Ceko, misalnya, Republik Ceko sedang mendominasi babak pertama, tetapi momentum mereka terhenti begitu jeda hidrasi diberlakukan, dan permainan setelahnya berjalan jauh lebih lambat.
Dari sisi pemain, reaksi terhadap jeda hidrasi cenderung positif, meski dengan beberapa catatan. Pemain tim nasional Selandia Baru, Callum McCowatt, menyebut bahwa jeda ini sangat membantu, terutama saat pertandingan persiapan melawan Inggris di Tampa, di mana suhu mencapai 33 derajat Celcius dan terasa lebih panas lagi karena kelembapan. Ia bahkan menyebut bahwa tanpa jeda semacam itu, performa tim bisa menurun drastis menjelang akhir babak pertama.
McCowatt juga membandingkan dengan pengalamannya bermain di A-League Australia, di mana jeda pendinginan diterapkan berdasarkan kasus per kasus, dan ia pernah mengalami pertandingan di Ballarat dengan suhu mencapai 36 derajat Celcius. Menurutnya, jika ada pertandingan yang digelar di wilayah panas AS, jeda semacam ini memang diperlukan, tapi harus diterapkan secara adil untuk semua tim.
Rekan satu timnya, Eli Just yang bermain untuk Motherwell di Skotlandia, juga menyambut baik jeda ini, meski ia menambahkan catatan menarik soal tujuan jeda ini di stadion beratap seperti SoFi Stadium, tempat Selandia Baru menghadapi Iran. Menurutnya, jika stadion tertutup, jeda hidrasi mungkin tidak terlalu dibutuhkan dari sisi pemain, dan lebih banyak untuk kepentingan komersial.
Dr. Chris Mullington dari Imperial College London punya perspektif lain lagi. Ia menyebut bahwa di tengah suhu tinggi seperti yang diperkirakan terjadi di sejumlah laga, persoalan utamanya bukan lagi soal kesehatan semata, tapi soal performa. Menurutnya, karena pemain-pemain elite ini sudah teraklimatisasi dan bukan atlet ketahanan seperti pelari maraton, mereka kemungkinan akan melakukan pengaturan kecepatan sendiri secara alami, dan ini berpotensi membuat permainan jadi lebih lambat dan kurang mengambil risiko.
Lantas, bagaimana semua ini akan berlanjut ke depan? Reuters mencatat bahwa FIFA belum menyatakan apakah jeda hidrasi ini akan menjadi fitur permanen di turnamen-turnamen berikutnya. Yang jelas, Piala Dunia 2030 akan digelar di Spanyol, Portugal, dan Maroko, sementara 2034 di Arab Saudi. Ini semua adalah kawasan-kawasan dengan suhu tinggi pada bulan Juni-Juli.
Jika tren ini berlanjut, kombinasi antara siklus hak siar yang makin besar dan jeda hidrasi yang menguntungkan secara komersial bisa memicu persaingan ketat antara platform streaming dan penyiar tradisional untuk memperebutkan hak siar kedua turnamen tersebut. Nama-nama besar seperti Apple, Amazon, dan terutama Netflix disebut sebagai kandidat yang berpotensi masuk ke perebutan hak siar tersebut.
Jadi, kembali ke pertanyaan awal, apakah jeda hidrasi ini murni soal sains dan keselamatan pemain, atau soal uang? Jawabannya adalah dua-duanya.
Riset ilmiah memang menunjukkan bahwa suhu inti tubuh pemain di kondisi panas Amerika Utara bisa mencapai level yang berbahaya, dan jeda tiga menit terbukti membantu menahan kenaikan suhu tersebut. Tapi pada saat yang sama, jeda ini juga membuka jendela waktu yang sangat berharga bagi penyiar televisi untuk menjual slot iklan dengan harga setara Super Bowl, sesuatu yang sebelumnya mustahil dilakukan dalam format sepak bola dua babak yang mengalir tanpa henti.
Dengan kata lain, jeda hidrasi tidak hanya menguntungkan satu pihak. Meski tentu saja ada yang tidak menyukai hal ini, faktanya sulit untuk dibantah. Oleh karena itu, rasanya, langkah paling bijak, khususnya bagi para pelatih, adalah dengan memanfaatkan jeda hidrasi sebaik mungkin untuk memilih taktik yang paling tepat. Sementara bagi para penonton, ya, beginilah realitasnya. Sampai ada solusi yang lebih praktis lagi, kemungkinan besar jeda hidrasi bakal terus dipertahankan di turnamen-turnamen berikutnya.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





































