Menuju konten utama
Byte

Piala Dunia 2026, Piala Dunianya Akal Imitasi

Piala Dunia 2026 sekaligus akan jadi panggung unjuk gigi kecanggihan AI, dari urusan pengadil di lapangan sampai kenyamanan penikmatnya di depan layar kaca.

Piala Dunia 2026, Piala Dunianya Akal Imitasi
Ilustrasi Piala Dunia 2026 dan AI. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Teknologi dan sepak bola sudah lama jadi kawan karib. Dari ketika Valeriy Valeriy Lobanovskyi dan Anatoly Zelentsov menggunakan komputer untuk mengoptimalkan performa pemain pada awal 1970-an hingga penggunaan alat bantu untuk wasit, seperti teknologi garis gawang dan Video Assistant Referee (VAR), sepak bola selalu punya tempat untuk teknologi temutakhir.

Piala Dunia 2026 pun demikian. Bisa dibilang, turnamen yang diikuti 48 negara tersebut akan menjadi Piala Dunia pertama di era Akal Imitasi (AI). Memang, sejak Piala Dunia 2022 di Qatar, AI sudah cukup banyak dipakai. Namun, cakupan di Piala Dunia 2026 jauh lebih besar.

Kehadiran AI di Piala Dunia 2026 tidak bisa dilepaskan dari peran Lenovo. Secara resmi, mereka diamanahi sebagai Official Technology Partner FIFA untuk Piala Dunia 2026 dan Piala Dunia Wanita 2027.

Dalam praktiknya, mereka bertanggung jawab menyediakan perangkat, infrastruktur, perangkat lunak, solusi, dan layanan di dua kompetisi teratas FIFA tersebut. Itu berarti, Lenovo menjadi tulang punggung teknologi, dari server siaran hingga perangkat yang digunakan staf FIFA di lapangan.

FIFA dan Lenovo telah mengumumkan serangkaian inovasi teknologi berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk meningkatkan teknologi wasit, kemampuan analisis pertandingan, dan pengalaman penonton menjelang Piala Dunia 2026.

AI sebagai Analis, Asisten Wasit, hingga Wakil Penonton di Lapangan

Inovasi pertama disebut Football AI Pro, asisten pengetahuan berbasis AI generatif yang dikembangkan untuk membantu seluruh tim peserta. Fungsi utama alat tersebut adalah membantu staf pelatih dan analis pertandingan dalam memproses data, memberikan wawasan taktik, serta merumuskan rekomendasi strategi dengan cepat.

Selama ini, hanya tim-tim kaya dan mapan yang bisa betul-betul memanfaatkan data berkat kemampuannya menyewa tim analis, menyediakan akses, serta membeli perangkat canggih.

Football AI Pro berupaya mengatasi ketimpangan itu dengan memberikan alat bantu bagi 48 tim peserta agar memiliki kemampuan analisis pertandingan yang sama canggihnya. Dari Portugal sampai Curacao, dari Argentina sampai Haiti, semua punya akses teknologi yang sama persis.

Didukung oleh Football Language Model milik FIFA, Football AI Pro menganalisis ratusan juta poin data sepak bola untuk menghasilkan wawasan dalam bentuk teks, video, grafik, dan visualisasi 3D, dengan antarmuka yang mendukung berbagai bahasa. Dengan begitu, tim dari negara mana pun bisa menggunakannya tanpa hambatan. Yang pasti, alat itu hanya bisa digunakan sebelum dan sesudah pertandingan, bukan saat pertandingan berlangsung.

Inovasi kedua berkaitan dengan keputusan offside. Selama Piala Dunia 2026, FIFA akan memperkenalkan avatar pemain 3D bertenaga AI ke dalam siaran pertandingan. Avatar itu dibangun dari hasil pemindaian tubuh setiap pemain peserta turnamen dengan presisi tinggi. Masing-masing avatar tersebut secara akurat menangkap dimensi dan proporsi pemain sebagai sumber data tambahan untuk pelacakan posisi pemain dan keputusan wasit.

Avatar-avatar itu akan menjadi masukan tambahan yang berharga untuk mendukung VAR dalam pengambilan keputusan dan komunikasi selama pertandingan. Bagi penonton di rumah, tampilan replay offside akan jauh lebih realistis. Alih-alih garis-garis generik yang selama ini sering memicu perdebatan, penonton akan melihat avatar yang benar-benar menyerupai pemain, lengkap dengan dimensi tubuh yang akurat.

Sementara itu, inovasi ketiga berkaitan dengan sudut pandang wasit. FIFA dan Lenovo meluncurkan versi terbaru Referee View, menyusul uji coba di FIFA Club World Cup 2025. Kali ini, kualitas gambar ditingkatkan dengan overlay stabilisasi bertenaga AI dari Lenovo yang mampu mengurangi distorsi gerakan hingga 50 persen. Teknologi tersebut akan memberikan pengalaman menonton unik bagi para penggemar.

AI sebagai Agen Utama di Luar Lapangan

Di luar lapangan, Lenovo membangun Intelligent Command Center, pusat kendali yang memantau secara real-time seluruh operasional Piala Dunia 2026 di 16 kota tuan rumah, mulai dari kondisi venue, kepadatan penonton, hingga potensi masalah teknis. Setiap hari, sistem akan menghasilkan ringkasan berbasis AI yang membantu para ofisial FIFA mendeteksi potensi masalah lebih awal dan mengambil tindakan sebelum situasi memburuk.

Intelligent Command Center menggunakan teknologi bernama digital twins. Sederhananya, Lenovo membangun 'kembaran digital' dari setiap venue, yakni replika virtual stadion yang diperbarui secara real-time menggunakan data sensor di lapangan. Dengan begitu, para ofisial bisa memantau kondisi setiap sudut stadion dari satu layar dan merespons masalah dengan cepat.

Infrastruktur siaran juga mendapat perhatian serius. Lenovo mengumumkan platform infrastruktur bertenaga AI yang memungkinkan distribusi video IPTV dengan latensi sangat rendah (di bawah lima detik). Artinya, penonton punya akses nyaris real-time ke aksi-aksi yang ada di pertandingan. Lebih dari 17.000 perangkat Lenovo dan Motorola, serta lebih dari 200 insinyur, akan dikerahkan di seluruh venue dan lokasi latihan.

Selain Lenovo, ada Salesforce yang bergabung sebagai Official Tournament Supporter untuk Piala Dunia 2026 dan Piala Dunia Wanita 2027. Salesforce akan menggunakan platform Agentforce 360, termasuk Slack, untuk mengoordinasi manajemen tenaga kerja di 16 kota tuan rumah. Slack akan digunakan sebagai pusat koordinasi digital. Ribuan staf bisa berkomunikasi, berbagi data, dan mengelola pekerjaan mereka secara real-time dengan bantuan AI.

Ada pula inovasi yang terasa seperti fiksi ilmiah. Di Guadalupe, kota di area metropolitan Monterrey, Meksiko, pihak berwenang telah memperkenalkan empat robot anjing yang akan membantu mengamankan Stadion BBVA selama Piala Dunia 2026. Robot-robot itu membentuk unit K9-X baru dan akan berpatroli di dalam dan luar stadion.

Robot-robot tersebut tidak bersenjata, tetapi dilengkapi dengan kamera video, lensa penglihatan malam, pengeras suara, dan sistem komunikasi. Mereka dapat mendeteksi perilaku menyimpang, memindai objek mencurigakan, dan menyampaikan rekaman langsung kepada petugas polisi.

Walikota Guadalupe Héctor García menjelaskan bahwa robot-robot K9-X itu akan mendukung polisi dengan intervensi awal, sebelum pasukan keamanan publik masuk ke lokasi berisiko tinggi, untuk melindungi keselamatan fisik petugas.

Ilustrasi Piala Dunia 2026 dan AI

Ilustrasi Piala Dunia 2026 dan AI. FOTO/iStockphoto

Tak berhenti di situ, AI juga bisa digunakan untuk melindungi para pemain dari kekerasan di media sosial.

FIFA memperluas penggunaan AI di Piala Dunia untuk mengurangi jumlah pesan kasar yang diterima tim dan pemain di media sosial, dengan menawarkan layanan moderasi gratis kepada semua asosiasi sepak bola di turnamen edisi 2026. Teknologi tersebut menyaring komentar kasar dan ofensif dari 30.000 kata kunci di saluran media sosial, kemudian menyembunyikannya hanya dalam waktu kurang dari dua detik sejak kemunculannya.

AI tak hanya diharapkan membantu penyelenggara dan peserta, para penonton juga telah memikirkan cara memanfaatkan akal imitasi. Survei yang dibuat oleh perusahaan teknologi Qlik menemukan, 65 persen responden mengaku telah berencana menggunakan alat AI untuk menutupi waktu yang habis untuk menonton pertandingan Piala Dunia selama jam kerja. Mereka tengah mencari cara agar bisa menikmati turnamen bola terbesar sejagat, sekaligus merampungkan tugas pekerjaannya.

Titik Lemah AI di Piala Dunia 2026

Sepintas, semua teknologi yang akan diterapkan di Piala Dunia tersebut terdengar hebat dan menarik. Akan tetapi, Paul Salmon, Isaiah Elstak, dan Scott McLean, dari University of the Sunshine Coast, yang telah melakukan tinjauan sistematis tentang penggunaan AI dalam sepak bola, mengidentifikasi beberapa area yang bisa jadi titik lemah.

Pertama, kualitas keluaran (output) AI tidak akan bagus apabila datanya tidak bagus dan itu berisiko memengaruhi keputusan penting di lapangan. Kedua, mengingat banyaknya data sensitif yang dikumpulkan dari pemain, staf, dan penonton, kerugian apabila terjadi serangan siber bisa sangat besar. Ketiga, jika semua tim menggunakan AI yang sama dengan data sama, pertandingan berpotensi menjadi terlalu mudah diprediksi karena semua tim bermain dengan cara mirip.

Di sisi lain, ada pertanyaan filosofis lebih dalam: apakah sepak bola masih menjadi the beautiful game jika setiap keputusan, setiap taktik, dan setiap penendang penalti sudah dianalisis sampai ke tulangnya oleh mesin? Apalagi, Superkomputer Opta telah menghitung peluang setiap tim menjadi juara. Yang tertinggi adalah Spanyol, dengan peluang 16,02 persen, disusul Prancis (12,54 persen), Inggris (10,66 persen), dan juara bertahan Argentina (10,09 persen).

Arsène Wenger, mantan manajer Arsenal yang kini menjabat sebagai FIFA Chief of Global Football Development, punya pandangan tersendiri. "Yang akan kita saksikan adalah AI akan mengubah sepak bola sebagaimana ia akan mengubah kehidupan bermasyarakat," kata pelatih asal Prancis itu.

Menurutnya, AI tidak menggantikan intuisi manusia, melainkan memperkayanya dengan informasi lebih baik dan cepat.

Yang jelas, di Piala Dunia 2026, AI bukan lagi keuntungan komparatif yang hanya bisa dinikmati kaum berpunya. Sedikit banyak FIFA telah mendemokratisasi teknologi tersebut untuk, setidaknya, memberi kesempatan yang sama bagi tim-tim yang baru pertama kali tampil di putaran final Piala Dunia atau tidak sanggup mengakses teknologi tersebut secara swadaya.

Namun, teknologi hanyalah teknologi. Ia hanyalah alat bantu. Semua yang terjadi di Piala Dunia nanti, mulai dari soal kalah-menang, kendali massa, sampai kesuksesan penyelenggaraan secara umum, bakal ditentukan oleh kualitas manusianya sendiri.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin