Menuju konten utama

Mengapa Negara Asia Tak Pernah Juara Piala Dunia?

Dari gol emas Korea Selatan hingga kebangkitan Jepang, Asia terus menciptakan kejutan. Namun, trofi Piala Dunia tetap milik Eropa dan Amerika Selatan.

Mengapa Negara Asia Tak Pernah Juara Piala Dunia?
Header Decode Mimpi Asia di Piala Dunia. tirto.id/Fuad

tirto.id - Sorak-sorai puluhan ribu penonton mengguncang Stadion Piala Dunia Daejeon, Korea Selatan, pada malam 18 Juni 2002. Jarum jam pertandingan sudah melewati menit ke-117 ketika sebuah umpan silang meluncur ke kotak penalti Italia. Dalam sepersekian detik, Ahn Jung-hwan menyambut bola itu dengan sundulan yang melesat ke gawang Gianluigi Buffon.

Sebanyak 38.588 pasang mata di stadion seketika meledak dalam euforia. Sementara jutaan lainnya di depan layar televisi terdiam tak percaya. Italia–salah satu raksasa sepak bola dunia dengan tiga gelar juara Piala Dunia saat itu—tumbang oleh Korea Selatan, negara yang dalam lima penampilan sebelumnya bahkan belum pernah lolos dari fase grup.

Malam itu bukan sekadar kemenangan. Ia adalah salah satu momen paling mengejutkan dalam sejarah Piala Dunia. Ahn Jung-hwan, penyerang yang dijuluki “The Lord of the Ring”, menjadi pahlawan yang menghentikan langkah Gli Azzurri. Dua dekade kemudian, ketika mengenang laga tersebut, ia mengakui bahwa hampir tidak ada orang yang percaya Korea Selatan mampu menyingkirkan Italia.

“Tidak ada yang percaya kami bisa mengalahkan Italia. Anda hanya perlu melihat bagaimana kami mempersiapkan diri dan cara kami bermain. Guus Hiddink membuat kami menjadi tim yang kuat secara fisik dan mental, dan kami tidak takut kepada siapa pun,” kenangnya.

Keajaiban Korea Selatan tidak berhenti di babak 16 besar. Di perempat final, skuad asuhan Guus Hiddink kembali membuat kejutan dengan menyingkirkan Spanyol melalui adu penalti. Perjalanan mereka memang akhirnya terhenti setelah kalah 0-1 dari Jerman. Namun, catatan sejarah telanjur tercipta. Untuk pertama kalinya, sebuah tim Asia berhasil menembus empat besar turnamen sepak bola terbesar di dunia.

Hingga hari ini, lebih dari dua dekade setelah malam bersejarah di Daejeon, belum ada negara Asia lain yang mampu menyamai pencapaian tersebut. Padahal, kisah tentang Asia di Piala Dunia tidak pernah kekurangan kejutan. Jauh sebelum Korea Selatan mencetak sejarah pada 2002, dunia sepak bola sudah pernah dikejutkan oleh Korea Utara di Inggris pada 1966. Datang sebagai tim yang nyaris tak dikenal, mereka membuat sensasi dengan mengalahkan Italia 1-0 lewat gol Pak Doo-ik. Kemenangan itu menjadi salah satu kisah paling legendaris dalam sejarah turnamen.

Tiga dekade kemudian, Arab Saudi mencuri perhatian pada debutnya di Piala Dunia 1994. Tim asal Timur Tengah itu berhasil lolos dari fase grup dan melangkah hingga babak 16 besar, sebuah pencapaian yang kala itu dianggap luar biasa bagi pendatang baru dari Asia.

Lalu pada Rusia 2018, Korea Selatan kembali menghadirkan drama. Kemenangan 2-0 atas juara bertahan Jerman di laga terakhir fase grup menjadi salah satu hasil paling mengejutkan sepanjang turnamen. Empat tahun berselang, di Qatar 2022, Jepang menumbangkan Jerman dan Spanyol, sementara Arab Saudi secara sensasional mengalahkan Argentina—tim yang pada akhirnya keluar sebagai juara dunia.

Qatar 2022 bahkan menjadi tonggak baru bagi sepak bola Asia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tiga wakil Asia berhasil lolos ke fase gugur secara bersamaan: Jepang, Korea Selatan, dan Australia.

Timnas Korea Selatan

Para pemain Korea Selatan membuat lingkaran sebelum dimulainya pertandingan sepak bola babak 16 besar Piala Dunia antara Brasil dan Korea Selatan, di Stadion 974 di Doha, Qatar, Senin, 5 Desember 2022. (AP Photo/Darko Bandic)

Namun, di balik rentetan kejutan itu, ada pola yang terus berulang. Asia mampu mengalahkan raksasa. Asia mampu mencuri perhatian dunia. Asia bahkan berkali-kali mengubah jalannya turnamen. Tetapi ketika trofi Piala Dunia diangkat pada akhir kompetisi, pemandangannya selalu sama: tim dari Eropa atau Amerika Selatan berdiri sebagai juara.

Sejak Piala Dunia pertama digelar pada 1930, tidak satu pun negara Asia pernah mencapai partai final. Sampai sekarang, seluruh final Piala Dunia selalu menjadi urusan dua kawasan sepak bola tersebut. Eropa telah menghasilkan 12 juara dunia, sementara Amerika Selatan menyumbang 10 gelar.

Mengapa Tim Asia Sulit Bersaing di Piala Dunia?

Mulai dari Fisik Hingga Budaya dan Politik

Dari waktu ke waktu, jumlah wakil Asia di Piala Dunia terus meningkat. Pada periode 1938–1982, hanya satu negara Asia yang tampil di putaran final. Jumlah itu bertambah menjadi dua negara pada 1986–1994, meningkat menjadi empat negara pada 1998–2014, lalu menjadi lima negara pada 2018, enam negara pada 2022, dan mencapai sembilan negara pada Piala Dunia 2026.

Meski FIFA terus memperluas kesempatan bagi negara-negara Asia untuk tampil di putaran final, peningkatan jumlah peserta tersebut belum berbanding lurus dengan prestasi.

Sejak format Piala Dunia diperluas menjadi 32 tim pada 1998 dan Asia dijamin memperoleh minimal empat slot, hanya satu tim Asia yang berhasil melampaui babak perempat final, yakni Korea Selatan pada 2002. Selebihnya, banyak wakil Asia yang harus menerima kekalahan telak, seperti Arab Saudi yang dihancurkan Jerman 0-8 pada 2002 atau Korea Utara yang dibantai Portugal 0-7 pada 2010.

Tercatat enam edisi Piala Dunia pernah berlangsung tanpa kehadiran satu pun wakil Asia di putaran final. Tim Riset Tirto menemukan bahwa sembilan kali wakil Asia langsung tersingkir di fase grup. Salah satu contoh paling mencolok terjadi pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Saat itu, empat wakil Asia yaitu Australia, Iran, Jepang, dan Korea Selatan—seluruhnya gagal lolos ke babak 16 besar. Lebih buruk lagi, keempat negara tersebut menempati posisi juru kunci di grup masing-masing.

Ironisnya, dari sisi kuantitas pemain, Asia sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar. The Guardian mencatat bahwa Asia memiliki sekitar 20 juta pemain sepak bola lebih banyak dibandingkan Eropa. Jumlah itu juga melampaui total pemain sepak bola di kawasan Amerika Utara, Tengah, Selatan, dan Karibia. Namun, banyaknya jumlah pemain belum otomatis menghasilkan prestasi. Dalam sejarah Piala Dunia, tim-tim Asia kerap dipandang sebagai pelengkap kompetisi atau bahkan lumbung gol bagi negara-negara kuat.

Sejumlah analis mencoba menjelaskan mengapa negara-negara Asia masih kesulitan bersaing. Berbagai penelitian, laporan internasional, dan pandangan pengamat sepak bola menunjukkan bahwa jawabannya kemungkinan bukan hanya satu faktor. Kegagalan Asia menembus puncak sepak bola dunia merupakan hasil dari kombinasi persoalan yang saling terkait dan telah berlangsung selama puluhan tahun.

Usai kegagalan total wakil Asia di Piala Dunia 2014, sejumlah analis mencoba mengurai akar persoalannya. Majalah The Diplomat(2014), misalnya, menilai banyak tim Asia tertinggal dalam aspek taktik. Ketika sepak bola dunia bergerak menuju permainan yang lebih cepat, agresif, dan berbasis penguasaan ruang, sejumlah negara Asia dinilai masih mengandalkan pendekatan yang cenderung konservatif. Masalahnya bukan sekadar kalah kualitas individu. Dalam banyak kasus, tim-tim Asia kesulitan mengimbangi ritme permainan lawan ketika berhadapan dengan negara-negara elite dari Eropa maupun Amerika Selatan.

Masalah berikutnya berkaitan dengan sumber daya manusia. Secara jumlah, Asia sebenarnya tidak kekurangan pemain. Bahkan beberapa laporan menunjukkan jumlah pesepak bola aktif di Asia melampaui Eropa. Namun sepak bola tidak hanya ditentukan oleh kuantitas. Yang jauh lebih penting adalah seberapa efektif sebuah negara mampu mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempertahankan talenta terbaiknya.

Berbeda dengan negara-negara Eropa yang dapat memanfaatkan komunitas imigran untuk memperkuat tim nasional, sebagian besar negara Asia memiliki populasi yang relatif homogen. Selain itu, diaspora Asia di luar negeri juga tidak banyak berkiprah di level elite sepak bola internasional.

Faktor ketiga adalah posisi sepak bola yang belum menjadi olahraga utama di banyak negara Asia. Di Jepang dan Korea Selatan, popularitas bisbol masih sangat tinggi. Di Australia, sepak bola kalah populer dibanding rugby. Sementara di Tiongkok dan India, perhatian publik lebih banyak tertuju pada bola basket dan kriket.

Analisis serupa juga disampaikan The Independent pada tahun yang sama. Media tersebut menyoroti persoalan fisik, budaya, dan struktur kompetisi. Banyak pemain Asia dinilai kalah dalam aspek postur tubuh dan kekuatan fisik dibanding pemain Eropa maupun Afrika. Selain itu, perbedaan budaya dan politik membuat sebagian pemain Asia lebih sulit beradaptasi dengan lingkungan sepak bola internasional.

Di sisi lain, sejumlah liga domestik Asia yang cukup makmur membuat pemain tidak selalu terdorong untuk mencari pengalaman di Eropa, berbeda dengan pemain Afrika yang lebih termotivasi untuk merantau ke kompetisi paling kompetitif di dunia.

Faktor Nutrisi Jadi Kunci?

Jika sepak bola modern adalah pertarungan taktik, teknik, dan mentalitas, maka fondasi dari semuanya sesungguhnya dibangun jauh sebelum seorang pemain memasuki lapangan latihan. Fondasi itu bernama nutrisi. Dalam diskusi tentang ketertinggalan sepak bola Asia, isu ini sering tenggelam di balik perdebatan soal pelatih, kualitas liga, atau strategi permainan. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kualitas gizi pada masa kanak-kanak memiliki pengaruh langsung terhadap perkembangan fisik, kognitif, hingga performa atletik seseorang ketika dewasa.

Laporan One Goal (2014) yang berkerja sama dengan Asian Football Confederarion (AFC) berjudul Fuelling Asia's Footballers for the Future menunjukkan bahwa masalah gizi masih menjadi hambatan besar bagi perkembangan talenta sepak bola Asia. Jutaan anak di kawasan ini tumbuh dengan kekurangan nutrisi, termasuk stunting dan kekurangan mikronutrien penting yang berdampak langsung terhadap perkembangan fisik dan mental mereka.

Pada level profesional, penelitian Daniel Tarmast (2023) menegaskan pentingnya pengaturan pola makan yang tepat bagi pemain sepak bola. Asupan karbohidrat, protein, lemak sehat, serta hidrasi yang memadai menjadi faktor penting untuk menunjang performa di lapangan. Karbohidrat direkomendasikan berada pada kisaran 5–10 gram per kilogram berat badan per hari, sementara kebutuhan protein harus dipenuhi secara merata sepanjang hari.

Masalah nutrisi juga masih menjadi tantangan di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Mirza Hapsari Sakti Titis dari Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa pemantauan nutrisi mampu meningkatkan sejumlah indikator kebugaran atlet. Namun, masih ditemukan berbagai persoalan terkait asupan gizi dan hidrasi yang berpotensi menghambat performa atlet secara keseluruhan.

Jika berbicara soal nutrisi dan pengembangan pemain, klub-klub elite Eropa masih menjadi rujukan utama. Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA), misalnya, telah menyusun dokumen Pernyataan Konsensus tentang Nutrisi yang berisi rekomendasi berbasis bukti untuk mengoptimalkan pola makan pemain, meningkatkan performa fisik, sekaligus menjaga kesehatan pesepak bola profesional.

Pedoman tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari nutrisi saat latihan dan pertandingan, komposisi tubuh, pengelolaan kondisi fisik dalam perjalanan dan lingkungan yang penuh tekanan, hingga penggunaan suplemen dan proses rehabilitasi.

Penerapan ilmu nutrisi modern terlihat jelas di kompetisi-kompetisi elite Eropa. Di Premier League Inggris, misalnya, pola makan pemain dirancang secara detail untuk menjaga mereka tetap berada pada kondisi fisik terbaik sepanjang musim. Pemain Premier League dilaporkan mengonsumsi rata-rata 3.790 kilokalori pada hari pertandingan dan sekitar 2.960 kilokalori saat menjalani sesi latihan. Karbohidrat menjadi komponen utama dalam pola makan mereka, dengan porsi mencapai 60–65 persen dari total asupan harian.

Namun, keunggulan sepak bola Eropa tidak hanya terletak pada aspek nutrisi dan pengembangan atlet. Liga-liga top Eropa yang dikenal sebagai "Big Five"—Premier League Inggris, Bundesliga Jerman, La Liga Spanyol, Serie A Italia, dan Ligue 1 Prancis—juga menawarkan tingkat kompetisi yang sulit ditandingi oleh liga manapun di dunia. Dukungan finansial yang kuat, kualitas pemain terbaik dunia, serta tradisi sepak bola yang telah mengakar selama puluhan tahun menjadikan kompetisi-kompetisi tersebut sebagai tolok ukur tertinggi dalam sepak bola modern.

Karier di Liga Top Eropa Jadi Kunci

Di antara berbagai faktor yang menjelaskan ketertinggalan Asia, ada satu pola yang tampak berulang dalam hampir semua negara yang berhasil mempersempit jarak dengan elite sepak bola dunia: ekspor pemain ke Eropa.

Bila menengok daftar semifinalis dan juara Piala Dunia dalam tiga dekade terakhir, mayoritas pemain mereka berkarier di kompetisi elite Eropa. Bahkan negara-negara Amerika Selatan seperti Brasil, Argentina, dan Uruguay yang memiliki liga domestik kuat tetap menjadikan Eropa sebagai panggung utama bagi pemain-pemain terbaiknya. Di sanalah standar sepak bola tertinggi berada.

Karena itu, komentator sepak bola senior Hadi "Ahay" Gunawan menilai bahwa banyaknya pemain yang berkarier di liga-liga elite Eropa merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan sebuah tim nasional di panggung dunia.

Menurut Hadi, jika negara-negara Asia ingin melangkah lebih jauh di Piala Dunia, mereka membutuhkan skuad yang diisi oleh pemain-pemain yang telah terbiasa bersaing di kompetisi tingkat tertinggi. Jepang menjadi salah satu contoh yang paling menonjol.

Saat ini, banyak pemain Samurai Biru yang memperkuat klub-klub Eropa, seperti Ritsu Doan di Eintracht Frankfurt, Ko Itakura di Ajax, Wataru Endo di Liverpool, Kaoru Mitoma di Brighton & Hove Albion, Yukinari Sugawara di Werder Bremen, Takefusa Kubo di Real Sociedad, Takumi Minamino di AS Monaco, Zion Suzuki di Parma, hingga Keito Nakamura di Stade de Reims.

Fenomena serupa juga terlihat di Korea Selatan. Negeri Ginseng memiliki sejumlah pemain yang berkiprah di liga-liga top Eropa, di antaranya Lee Kang-in di Paris Saint-Germain, Kim Min-jae di Bayern München, Kwon Hyeok-kyu di FC Nantes, Hwang Hee-chan di Wolverhampton Wanderers, Park Seung-soo di Newcastle United, serta Son Heung-min yang telah lama menjadi ikon sepak bola Asia di Eropa.

Tidak hanya Jepang dan Korea Selatan, sejumlah pemain dari negara Asia lainnya juga mulai menunjukkan eksistensi di kompetisi elite Eropa. Uzbekistan memiliki Abdukodir Khusanov yang bermain untuk Manchester City. Australia diperkuat Jackson Irvine di FC St. Pauli. Irak memiliki Ali Al-Hamadi yang bermain di Ipswich Town, sementara Yordania mengandalkan Musa Al-Taamari yang berkarier di Stade Rennais.

Kaoru Mitoma

Kaoru Mitoma dari Brighton selama pertandingan sepak bola Liga Premier antara Brighton dan Hove Albion dan Crystal Palace di American Express Community Stadium di Brighton, Inggris, Rabu, 15 Maret 2023. (AP Photo/Kin Cheung)

Menurut Hadi, semakin banyak pemain Asia yang merasakan atmosfer kompetisi tertinggi dunia, semakin besar pula peluang tim nasional mereka untuk bersaing di Piala Dunia.

“Jadi memang semakin banyak pemain-pemain Asia bermain di kompetisi-kompetisi level atas dunia, misalkan saat ini bermain di Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, itu merupakan salah satu jaminan yang membuat tim-tim nasional tuh bisa berprestasi di Piala Dunia,” kata Hadi saat dihubungi Tirto pada Senin (8/6/2026).

Hadi menilai kualitas liga-liga Eropa yang jauh berada di atas kompetisi di kawasan lain membuat para pemain memperoleh pengalaman, mentalitas, dan daya saing yang lebih matang. Hingga kini, menurutnya, belum ada liga di Asia yang mampu menyamai standar kompetitif yang dimiliki liga-liga top Eropa.

Ia juga meyakini bahwa Asia tidak kekurangan talenta sepak bola. Persoalannya terletak pada proses pembentukan mental dan pengalaman bertanding di level tertinggi. Pengalaman bermain di klub-klub elite Eropa, kata Hadi, mampu membawa perubahan besar bagi perkembangan individu seorang pemain.

“Pemain Asia yang bermain di klub elit Eropa, itu kan akan membawa perubahan besar bagi individunya. Nah, secara individu dia matang, saat dia pulang membela negaranya semakin bagus, kan,” ucapnya.

Hwang Hee-chan_Korea Selatan

Penyerang Timnas Korea Selatan, Hwang Hee-chan. AP/Lee Jin-man

Piala Dunia 2026: Mungkinkah Asia Memberi Kejutan?

Piala Dunia 2026 akan menjadi tonggak baru dalam sejarah sepak bola asia. Sebanyak sembilan negara berhasil lolos ke putaran final, menjadikannya jumlah perwakilan Asia terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. Kesembilan negara tersebut adalah Korea Selatan, Qatar, Australia, Jepang, Iran, Arab Saudi, Irak, Yordania, dan Uzbekistan.

Berdasarkan peringkat FIFA, Jepang menjadi negara Asia dengan posisi tertinggi, yakni peringkat ke-18 dunia. Di belakangnya terdapat Iran di posisi ke-20 dan Korea Selatan di posisi ke-25. Sementara itu, Qatar, Arab Saudi, dan Yordania menjadi tiga wakil Asia dengan peringkat FIFA terendah di antara peserta Piala Dunia 2026.

Banyaknya wakil Asia yang tampil pada edisi kali ini membuat pengamat sepak bola Akmal Marhali optimistis akan muncul kejutan-kejutan baru dari kawasan tersebut. Menurutnya, format baru yang menghadirkan lebih banyak peserta membuka peluang lebih besar bagi negara-negara Asia untuk menciptakan sejarah.

Akmal menilai Jepang memiliki peluang paling besar untuk menjadi pembuat kejutan. Dalam beberapa tahun terakhir, Samurai Biru telah menunjukkan kemampuan mereka bersaing dengan tim-tim elite dunia. Jepang pernah mengalahkan Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2022, serta menundukkan Brasil dalam laga uji coba internasional.

"Mereka sudah membuktikan bisa mengalahkan Jerman yang empat kali juara dunia. Mereka juga mengalahkan Spanyol dan bahkan pernah mengalahkan Brasil dalam laga uji coba. Artinya, perkembangan Jepang sangat luar biasa," kata Akmal kepada Tirto, Selasa (9/6/2026).

Timnas Indonesia lawan Jepang

Pesepak bola Timnas Jepang berpose sebelum melawan Timnas Indonesia dalam laga Grup C Babak Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Jumat (15/11/2024). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/mrh/foc.

Menurut Akmal, kekuatan utama Jepang terletak pada permainan kolektif yang terorganisasi dengan baik. Mereka tidak bergantung pada satu pemain bintang, melainkan mengandalkan kerja sama tim yang membuat permainan mereka lebih fleksibel dan sulit ditebak lawan.

Optimisme terhadap Jepang juga tercermin dalam prediksi Opta Analyst. Dalam simulasi yang dilakukan lembaga tersebut, Jepang menempati peringkat ke-17 dari 48 negara dalam peluang menjuarai Piala Dunia 2026. Posisi itu menjadi yang tertinggi di antara seluruh wakil Asia, bahkan berada di atas tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Di fase grup, Jepang diprediksi memiliki peluang sebesar 76,2 persen untuk lolos ke babak berikutnya. Mereka juga diperkirakan memiliki kemungkinan 30,6 persen untuk finish sebagai runner-up Grup F. Meski demikian, Belanda masih menjadi favorit utama untuk keluar sebagai juara grup dengan probabilitas mencapai 48,2 persen.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Decode
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Alfitra Akbar