Menuju konten utama

Piala Dunia 2026 dan Mimpi Terbesar Negara Asia

Piala Dunia 2026 menjadi panggung terbesar Asia. Jepang tampil sebagai kandidat kejutan utama menurut simulasi dan analisis para pengamat.

Piala Dunia 2026 dan Mimpi Terbesar Negara Asia
Header Decode Mimpi Asia di Piala Dunia. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi titik balik dalam sejarah sepak bola Asia. Untuk pertama kalinya, benua ini akan diwakili oleh sembilan negara di putaran final, jumlah terbanyak sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia. Kesembilan negara tersebut adalah Jepang, Korea Selatan, Iran, Arab Saudi, Australia, Qatar, Irak, Yordania, dan Uzbekistan.

Lonjakan jumlah peserta itu memicu optimisme baru. Harapan agar negara-negara Asia mampu berbicara lebih banyak di panggung sepak bola dunia kini terasa lebih besar dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Apalagi, sebagian besar wakil Asia yang lolos bukanlah nama asing dalam percaturan sepak bola internasional.

Jepang menjadi negara Asia pertama yang memastikan tiket ke Piala Dunia 2026. Samurai Biru tampil impresif sepanjang kualifikasi dengan hanya menelan satu kekalahan. Rekam jejak mereka di Piala Dunia 2022 juga masih segar dalam ingatan. Saat itu, Jepang sukses mengalahkan dua raksasa Eropa, Spanyol dan Jerman, di fase grup sebelum melaju ke babak 16 besar.

Korea Selatan juga menunjukkan performa yang tak kalah meyakinkan. Semifinalis Piala Dunia 2002 tersebut melaju tanpa kekalahan di Grup B kualifikasi dan mengunci tiket ke putaran final jauh sebelum pertandingan terakhir dimainkan. Bersama Jepang, Iran, dan Arab Saudi, Korea Selatan merupakan bagian dari kelompok negara Asia yang sudah lama menjadi langganan tampil di Piala Dunia.

Secara historis, Korea Selatan menjadi negara Asia dengan jumlah penampilan terbanyak di Piala Dunia. Taegeuk Warriors telah tampil dalam 11 edisi turnamen tersebut. Jepang menyusul dengan delapan penampilan, sedangkan Iran dan Arab Saudi masing-masing telah tujuh kali berpartisipasi.

Di sisi lain, bertambahnya kuota peserta Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim juga membuka jalan bagi lebih banyak negara Asia untuk tampil di panggung dunia. Hasilnya, Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghadirkan dua debutan dari Asia: Uzbekistan dan Yordania.

Uzbekistan memastikan tiket bersejarah mereka setelah finis sebagai runner-up Grup A pada putaran ketiga Kualifikasi AFC. Yordania pun mencatat pencapaian serupa dengan menembus putaran final untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Dengan meningkatnya jumlah wakil Asia, harapan agar benua tersebut mampu mencetak prestasi yang lebih tinggi pun semakin menguat. Bahkan, tidak sedikit yang mulai membayangkan kemungkinan Asia suatu hari mematahkan dominasi tradisional Eropa dan Amerika Selatan dengan menjadi juara dunia untuk pertama kalinya.

Namun, optimisme tersebut masih berhadapan dengan realitas sejarah dan berbagai proyeksi statistik. Sejumlah analis tetap menjagokan negara-negara Eropa dan Amerika Selatan sebagai kandidat utama juara Piala Dunia 2026.

Salah satu prediksi datang dari superkomputer Opta. Berdasarkan simulasi turnamen sebanyak 25.000 kali, Spanyol muncul sebagai favorit utama dengan probabilitas juara sebesar 16,1 persen. La Roja memenangkan 16,1 persen dari seluruh simulasi yang dilakukan. Di belakang mereka terdapat Prancis dengan peluang 13 persen, Inggris 11,2 persen, serta juara bertahan Argentina dengan 10,4 persen.

Prediksi tersebut disusun melalui algoritma statistik yang menggabungkan berbagai variabel, mulai dari peringkat kekuatan tim, performa historis, hasil pertandingan terkini, hingga data pasar taruhan. Semakin sering sebuah tim keluar sebagai pemenang dalam simulasi, semakin besar peluang juara yang diberikan oleh model tersebut.

Pandangan serupa juga muncul dari sejumlah analis sepak bola ESPN. Lizzy Becherano, Rob Dawson, dan Alex Kirkland sama-sama menjagokan Spanyol sebagai calon juara. Sementara Ed Dove, Omar Flores, dan Tom Hamilton lebih memilih Prancis. Di luar dua nama tersebut, ekonom asal Jerman Joachim Klement—yang dikenal berhasil memprediksi juara Piala Dunia secara akurat selama 12 tahun terakhir—justru memperkirakan Belanda akan keluar sebagai kampiun pada 2026.

Meski demikian, Klement mengingatkan bahwa sepak bola tetap menyimpan banyak variabel yang sulit diprediksi. Cedera pemain, kartu merah, hasil undian, hingga momen-momen krusial di fase gugur bisa mengubah jalannya turnamen secara drastis. Dengan kata lain, statistik dapat menunjukkan kecenderungan, tetapi tidak pernah bisa menjamin hasil akhir.

Dominasi Eropa dan Amerika Selatan dalam berbagai prediksi tersebut juga sejalan dengan catatan sejarah. Sejak Piala Dunia pertama digelar pada 1930, tidak ada satu pun negara Asia yang berhasil mencapai partai final. Seluruh final Piala Dunia selalu melibatkan tim dari dua kawasan tersebut. Eropa telah menghasilkan 12 juara dunia, sementara Amerika Selatan menyumbang 10 gelar.

Lalu, bagaimana peluang Asia pada Piala Dunia 2026?

Jepang di Garda Depan Ambisi Asia

Berdasarkan peringkat FIFA terbaru, Jepang menjadi wakil Asia dengan posisi tertinggi, yakni peringkat ke-18 dunia. Di belakangnya terdapat Iran di posisi ke-20 dan Korea Selatan di peringkat ke-25. Sementara itu, Qatar, Arab Saudi, dan Yordania menjadi tiga peserta Asia dengan ranking FIFA terendah di antara kontestan Piala Dunia 2026.

Meski demikian, banyaknya wakil Asia pada edisi kali ini membuat sejumlah pengamat yakin kejutan tetap mungkin terjadi. Pengamat sepak bola Akmal Marhali menilai format baru Piala Dunia yang menghadirkan lebih banyak peserta membuka ruang lebih besar bagi negara-negara Asia untuk menciptakan sejarah.

Menurut Akmal, Jepang merupakan negara Asia yang paling berpeluang menjadi pembuat kejutan. Dalam beberapa tahun terakhir, Samurai Biru berkali-kali menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing dengan tim-tim elite dunia. Mereka pernah mengalahkan Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2022, serta mencatat hasil positif atas sejumlah tim kuat dalam pertandingan internasional.

"Mereka sudah membuktikan bisa mengalahkan Jerman yang empat kali juara dunia. Mereka juga mengalahkan Spanyol dan bahkan pernah mengalahkan Brasil dalam laga uji coba. Artinya, perkembangan Jepang sangat luar biasa," kata Akmal kepada Tirto, Selasa (9/6/2026).

Optimisme terhadap Jepang juga tercermin dalam simulasi Opta Analyst. Jepang menempati posisi ke-17 dari 48 peserta dalam daftar peluang juara dunia. Posisi itu menjadi yang tertinggi di antara seluruh wakil Asia, bahkan berada di atas tiga negara tuan rumah: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Dalam simulasi Opta, Jepang memiliki peluang 76,2 persen untuk lolos dari fase grup. Peluang mereka mencapai perempat final diperkirakan sebesar 17 persen, menembus semifinal 7,4 persen, mencapai final 3,3 persen, dan menjadi juara dunia 1,2 persen. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di antara seluruh negara Asia.

Sementara itu, simulasi berbasis kecerdasan artifisial yang dilakukan ESPN memproyeksikan Jepang sebagai juara Grup F. Samurai Biru diperkirakan mengumpulkan tujuh poin dan finis di atas Belanda, Swedia, serta Tunisia.

Optimisme itu tidak muncul tanpa dasar. Sepanjang kualifikasi Piala Dunia 2026, Jepang mencetak 51 gol—jumlah tertinggi di Asia dan lebih dari dua kali lipat torehan Arab Saudi yang mengoleksi 22 gol meski memainkan lebih banyak pertandingan.

Efisiensi serangan mereka juga sangat mencolok. Tingkat konversi tembakan Jepang mencapai 21,1 persen, menunjukkan bahwa mereka mampu mencetak gol jauh lebih banyak dibandingkan angka yang diproyeksikan oleh model expected goals (xG).

Kepercayaan diri Jepang juga tumbuh seiring hasil-hasil positif melawan lawan berkualitas. Pada Maret lalu, pelatih Hajime Moriyasu bahkan menyatakan bahwa target menjadi juara dunia bukan lagi sesuatu yang mustahil bagi timnya.

"Dulu, ketika menghadapi juara dunia, ekspektasinya adalah kami akan kalah. Sekarang, tidak ada yang tahu apakah kami akan menang atau kalah. Karena itu, menurut saya tidak masalah jika kami menetapkan target menjadi juara dunia," ujarmya dikutip dari Opta.

Pernyataan tersebut mungkin terdengar ambisius. Namun, performa Jepang dalam beberapa tahun terakhir memberikan dasar yang cukup kuat untuk memahami optimisme tersebut. Perubahan terbesar Jepang mungkin justru terjadi di aspek taktik. Jika pada kualifikasi Piala Dunia 2022 dan putaran final di Qatar mereka lebih sering menggunakan formasi empat bek, Moriyasu kini hampir sepenuhnya beralih ke sistem tiga bek pada kualifikasi Piala Dunia 2026.

Sistem ini memungkinkan dua wing-back bermain lebih agresif dan mendorong lebih banyak pemain masuk ke area pertahanan lawan. Dalam beberapa situasi, Jepang bahkan terlihat seperti bermain dengan lima penyerang sekaligus. Hasilnya adalah serangan yang lebih dinamis, fleksibel, dan sulit diprediksi.

Strategi tersebut juga tercermin dari tingginya jumlah umpan silang yang mereka lepaskan. Jepang mencatatkan 225 umpan silang dari permainan terbuka, hanya kalah dari Qatar. Namun, tingkat keberhasilan umpan silang mereka mencapai 25,3 persen, tertinggi di antara seluruh peserta kualifikasi AFC.

Keunggulan udara menjadi senjata lain yang mereka miliki. Jepang mencetak 12 gol sundulan sepanjang kualifikasi, terbanyak dibandingkan tim Asia lainnya. Hampir separuh dari gol tersebut dicetak oleh Koki Ogawa, penyerang NEC Nijmegen yang berkembang menjadi ancaman serius di level internasional.

Di lini depan, Jepang juga memiliki Ayase Ueda yang tampil tajam bersama Feyenoord. Produktivitasnya menjadikan Jepang semakin berbahaya, baik dalam permainan terbuka maupun situasi bola mati.

Meski demikian, jalan Jepang menuju prestasi bersejarah tidak akan sepenuhnya mulus. Cedera yang dialami Kaoru Mitoma menjadi kehilangan besar. Winger Brighton tersebut merupakan salah satu pemain paling berpengaruh dalam progresi bola Jepang dan memiliki kontribusi signifikan dalam membangun serangan.

Terlepas dari kualitas skuad saat ini, kemajuan Jepang sesungguhnya merupakan hasil dari proses panjang yang telah dibangun selama puluhan tahun. Sejak awal 1990-an, Jepang telah menjalankan "Visi 100 Tahun", sebuah cetak biru pengembangan sepak bola nasional yang menargetkan gelar juara dunia.

Target itu bahkan dipercepat pada 2005. Jika semula ditargetkan tercapai pada 2092, Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) kemudian menetapkan tahun 2050 sebagai batas waktu untuk mewujudkan ambisi tersebut.

Fondasi proyek tersebut sebenarnya sudah mulai dibangun sejak dekade 1960-an. Saat itu, para petinggi JFA mempelajari sistem pembinaan sepak bola Jerman dan mendatangkan Dettmar Cramer sebagai penasihat teknis untuk membantu membangun struktur sepak bola nasional.

Tonggak penting lainnya hadir melalui pembentukan J-League pada 1993. Liga profesional tersebut dirancang bukan hanya untuk meningkatkan kualitas kompetisi domestik, tetapi juga menjadi basis pengembangan pemain, pelatih, fasilitas, serta klub-klub berbasis komunitas.

Pengamat sepak bola Anton Sanjoyo menilai keberhasilan Jepang tidak bisa dilepaskan dari kemampuan mereka memadukan budaya, disiplin, dan teknologi dalam sistem pembinaan. Menurutnya, nilai-nilai bushido yang menekankan loyalitas, daya juang, dan kedisiplinan berhasil diterjemahkan ke dalam pengembangan sepak bola dari level akar rumput hingga profesional.

“Mereka mempunyai suatu sistem yang bisa melahirkan Minamino, Wataru Endo, Kubo, dan lain-lain. Karena mereka betul-betul di-breeding di dalam negeri lewat sebuah sistem yang dibangun secara rapi. Mulai dari sistem sepak bola amatir, sepak bola di sekolah, sampai ke sepak bola profesional,” kata Anton kepada Tirto, Senin (8/6/2026).

Korea Selatan dan Tradisi Panjang Sang Penantang Asia

Selain Jepang, Korea Selatan menjadi wakil Asia yang juga berpotensi menciptakan kejutan di Piala Dunia 2026. Berdasarkan simulasi Opta Analyst, Taegeuk Warriors merupakan tim Asia dengan peluang terbaik kedua untuk melangkah jauh di turnamen tersebut. Tim yang diperkuat Son Heung-min itu diproyeksikan memiliki peluang sekitar 17 persen untuk mencapai perempat final dan sekitar empat persen untuk mengulang pencapaian bersejarah mereka pada 2002, ketika menjadi negara Asia pertama yang berhasil menembus semifinal Piala Dunia.

Pengamat sepak bola Anton Sanjoyo menilai Korea Selatan dan Jepang masih menjadi dua negara Asia yang paling siap bersaing dengan kekuatan tradisional dari Eropa dan Amerika Selatan.

“Kalau kita bicara Asia secara umum, yang mampu untuk bisa bersaing dengan tim-tim Eropa dan Amerika Latin terutama adalah memang Korea [Selatan] dan Jepang,” ujar Anton kepada Tirto.

Secara historis, Korea Selatan memang memiliki fondasi yang lebih kuat dibanding sebagian besar negara Asia lainnya. Piala Dunia 2026 akan menjadi penampilan ke-12 mereka di turnamen tersebut, terbanyak di antara seluruh negara Asia.

Yang lebih impresif, edisi 2026 juga akan menjadi partisipasi ke-11 Korea Selatan secara beruntun sejak pertama kali lolos pada 1986. Hanya Brasil, Jerman, Argentina, dan Spanyol yang memiliki rekor kehadiran beruntun lebih panjang di Piala Dunia. Catatan tersebut menunjukkan konsistensi Korea Selatan dalam menjaga daya saing mereka di level internasional selama hampir empat dekade.

Pada Piala Dunia 2026, Korea Selatan tergabung di Grup A bersama Meksiko, Republik Ceko, dan Afrika Selatan. Berdasarkan simulasi Opta, Korea Selatan memiliki peluang terbaik kedua untuk lolos dari grup tersebut setelah Meksiko. Taegeuk Warriors berhasil menembus fase gugur dalam 70,1 persen simulasi yang dijalankan dan memiliki peluang 22,4 persen untuk finis sebagai juara grup.

Dari sisi kualitas individu, Korea Selatan juga memiliki modal yang cukup menjanjikan. Son Heung-min masih menjadi tumpuan utama di lini depan. Di belakangnya terdapat Kim Min-jae yang menjadi salah satu bek terbaik Asia dalam beberapa tahun terakhir, serta Lee Kang-in yang berkembang menjadi motor kreativitas serangan.

Meski demikian, perjalanan Korea Selatan menuju Piala Dunia 2026 tidak sepenuhnya mulus. Tim asuhan Hong Myung-bo memang tidak terkalahkan sepanjang kualifikasi, tetapi performa mereka tetap menuai kritik. Sejumlah pengamat menilai Korea Selatan terlalu sering kehilangan poin akibat hasil imbang, termasuk ketika bermain di kandang melawan Yordania (1-1), Oman (1-1), dan Palestina (0-0). Hasil-hasil tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan mereka menghadapi tim yang bermain bertahan dan disiplin.

Timnas Korea Selatan

Para pemain Korea Selatan membuat lingkaran sebelum dimulainya pertandingan sepak bola babak 16 besar Piala Dunia antara Brasil dan Korea Selatan, di Stadion 974 di Doha, Qatar, Senin, 5 Desember 2022. (AP Photo/Darko Bandic)

Iran dan Tantangan Menembus Batas Sejarah

Di luar Jepang dan Korea Selatan, Iran menjadi wakil Asia berikutnya yang diperkirakan memiliki peluang cukup besar untuk melangkah jauh di Piala Dunia 2026. Berdasarkan simulasi Opta Analyst, Team Melli menempati posisi ketiga di antara negara-negara Asia dalam daftar kandidat yang berpotensi menciptakan kejutan, dengan peluang sekitar 9,3 persen untuk mencapai babak perempat final.

Secara kualitas, optimisme tersebut bukan tanpa alasan. Dalam dua dekade terakhir, Iran konsisten menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Asia. Mereka hampir selalu menghuni papan atas ranking FIFA kawasan Asia dan kerap menjalani babak kualifikasi dengan relatif nyaman.

Namun, berbeda dengan Jepang atau Korea Selatan yang setidaknya pernah mencatatkan pencapaian penting di Piala Dunia, Iran masih dibayangi catatan historis yang kurang menggembirakan. Meski telah tujuh kali tampil di putaran final, mereka belum pernah sekalipun berhasil melewati fase grup.

Karena itu, tantangan terbesar Iran di Piala Dunia 2026 bukan sekadar mengalahkan lawan-lawan mereka di lapangan. Team Melli juga harus mematahkan hambatan psikologis yang selama puluhan tahun membatasi langkah mereka di panggung sepak bola dunia.

Pada Piala Dunia 2026, Iran tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru. Di atas kertas, grup tersebut masih memberikan peluang bagi Iran untuk lolos ke fase gugur. Simulasi Opta memperkirakan peluang Iran mencapai babak berikutnya mencapai 64,3 persen.

Meski demikian, angka tersebut masih menempatkan Iran di bawah Belgia yang memiliki probabilitas lolos sebesar 89,6 persen dan Mesir dengan 68,2 persen. Artinya, Team Melli diperkirakan harus bersaing ketat dengan Mesir untuk memperebutkan satu tiket tersisa menuju fase gugur.

Tantangan Iran juga tidak berhenti pada urusan teknis di lapangan. Menjelang turnamen, mereka justru dihadapkan pada persoalan non-sepak bola yang berpotensi memengaruhi persiapan tim.

Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel membuat perjalanan mereka menuju Piala Dunia menjadi jauh lebih rumit dibandingkan peserta lainnya. Salah satu persoalan yang mencuat adalah masalah visa dan akses masuk ke wilayah Amerika Serikat yang menjadi salah satu tuan rumah turnamen.

Menurut ketentuan yang diberlakukan otoritas Amerika Serikat, skuad Iran hanya diperbolehkan memasuki wilayah negara tersebut dalam waktu yang sangat terbatas menjelang pertandingan dan diwajibkan meninggalkan negara itu segera setelah laga berakhir.

Situasi tersebut membuat Federasi Sepak Bola Iran harus menyusun strategi logistik yang tidak biasa. Sebagai solusi, mereka memutuskan menempatkan markas tim di Tijuana, Meksiko. Dengan skema tersebut, para pemain dan staf harus melakukan perjalanan lintas negara setiap kali menjalani pertandingan fase grup yang digelar di Amerika Serikat.

Uzbekistan: Buah Investasi Panjang yang Siap Mengguncang Piala Dunia

Di antara dua debutan Asia pada Piala Dunia 2026, Uzbekistan menjadi negara yang paling banyak menyita perhatian. Berbeda dengan sejumlah tim debutan yang sering dipandang hanya sebagai pelengkap turnamen, Uzbekistan datang dengan reputasi sebagai salah satu proyek pengembangan sepak bola paling ambisius di Asia dalam satu dekade terakhir.

Pengamat sepak bola Anton Sanjoyo meyakini Uzbekistan berpotensi menjadi salah satu pembuat kejutan terbesar dari Asia, bahkan di luar Jepang yang selama ini dianggap sebagai wakil paling menjanjikan.

Menurut Anton, kemajuan pesat sepak bola Uzbekistan tidak terjadi secara kebetulan. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah negara tersebut menjadikan sepak bola sebagai salah satu prioritas pembangunan olahraga nasional.

"Uzbekistan kenapa sekarang menjadi salah satu sorotan, karena mereka menyadari dan dipimpin oleh seorang presiden yang turun langsung betul-betul membenahi sepak bola," ujar Anton.

Sulit membicarakan kebangkitan sepak bola Uzbekistan tanpa menyinggung nama Abdukodir Khusanov. Bek berusia 22 tahun itu menjelma menjadi wajah baru sepak bola Asia setelah berhasil menembus skuad utama Manchester City. Pada paruh kedua musim 2025/2026, Khusanov menjadi salah satu pemain yang rutin mendapat kepercayaan dari Pep Guardiola.

Tak hanya itu, Khusanov juga tercatat sebagai pemain Asia dengan nilai pasar tertinggi saat ini. Status tersebut menjadikannya simbol keberhasilan Uzbekistan dalam menghasilkan talenta yang mampu bersaing di level elite sepak bola Eropa.

Namun, keberhasilan Uzbekistan tidak bertumpu pada satu pemain semata. Lolos ke Piala Dunia 2026 merupakan puncak dari investasi jangka panjang yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Pemerintah Uzbekistan menggelontorkan sumber daya besar untuk membangun fondasi sepak bola nasional. Infrastruktur menjadi salah satu fokus utama. Ribuan lapangan sepak bola sekolah direnovasi, lapangan-lapangan mini dibangun di berbagai daerah, dan jaringan pembinaan usia muda diperluas secara sistematis.

Hasilnya mulai terlihat. Saat ini, lebih dari 65 ribu pemain muda berada dalam sistem pembinaan sepak bola nasional. Pemerintah juga tengah menyiapkan pembangunan stadion berkapasitas 55 ribu penonton yang akan menjadi stadion terbesar di Asia Tengah.

Di level senior, Uzbekistan kini ditangani oleh legenda Italia, Fabio Cannavaro. Kehadiran mantan kapten tim juara dunia 2006 itu menambah pengalaman dan kredibilitas bagi skuad yang sebagian besar dihuni generasi muda.

Sementara itu, di lini depan, Uzbekistan memiliki Eldor Shomurodov yang menjadi salah satu pemain paling berpengalaman dalam skuad. Penyerang yang pernah berkarier di Serie A Italia tersebut tampil produktif bersama klubnya musim ini dengan torehan 22 gol dalam 34 pertandingan.

Kemajuan sepak bola Uzbekistan juga terlihat jelas pada level kelompok umur. Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini konsisten mencatatkan prestasi di berbagai turnamen internasional.

Mereka berhasil menjuarai Piala Asia U-20 AFC 2023, tampil di Piala Dunia U-20 2023, lolos ke turnamen sepak bola Olimpiade Paris 2024, menjuarai Piala Asia U-17 AFC 2025, serta menembus fase gugur Piala Dunia U-17 2025.

Bahkan, tim nasional putri Uzbekistan berhasil lolos ke Piala Asia Wanita AFC untuk pertama kalinya sejak 2003. Rentetan pencapaian tersebut menunjukkan bahwa perkembangan sepak bola Uzbekistan tidak hanya terjadi pada satu generasi, melainkan berlangsung secara menyeluruh di berbagai kelompok usia.

Meski demikian, tantangan besar langsung menanti mereka di Piala Dunia 2026. Uzbekistan tergabung di Grup K bersama Portugal, Kolombia, dan Republik Demokratik Kongo.

Di atas kertas, Portugal dan Kolombia lebih diunggulkan berkat pengalaman serta kualitas skuad yang dimiliki. Tak mengherankan jika simulasi Opta menempatkan Uzbekistan sebagai tim dengan peluang paling kecil untuk lolos dari grup tersebut, yakni sekitar 41,8 persen.

Timnas Uzbekistan U23

Timnas Uzbekistan U23. instagram/uzbekistanfa

Namun, bagi negara yang baru pertama kali tampil di Piala Dunia, keberadaan di putaran final saja sudah merupakan pencapaian bersejarah. Terlebih lagi, Uzbekistan datang bukan sebagai tim yang mengandalkan keberuntungan, melainkan sebagai hasil dari proyek pembangunan sepak bola yang telah dirancang selama bertahun-tahun.

Karena itu, meski peluang mereka relatif kecil dibandingkan negara-negara unggulan, Uzbekistan tetap menjadi salah satu tim yang paling menarik untuk diamati. Jika Jepang dan Korea Selatan mewakili kekuatan mapan Asia, Uzbekistan bisa menjadi simbol lahirnya kekuatan baru yang berpotensi mengubah peta sepak bola kawasan pada masa depan.

Wakil Asia Lain: Mencari Keajaiban Baru

Di luar Jepang, Korea Selatan, Iran, dan Uzbekistan, jalan yang harus ditempuh wakil-wakil Asia lainnya diperkirakan jauh lebih berat. Arab Saudi, Qatar, Yordania, dan Irak tidak masuk dalam kelompok tim yang diproyeksikan mampu melangkah jauh. Bagi mereka, target yang lebih realistis adalah lolos dari fase grup sebelum berbicara mengenai pencapaian yang lebih tinggi.

Arab Saudi menghadapi tantangan paling berat di antara seluruh wakil Asia. Green Falcons tergabung dalam grup yang dihuni Spanyol—salah satu favorit utama juara dunia—serta Uruguay yang memiliki sejarah panjang di Piala Dunia.

Tidak mengherankan jika simulasi Opta hanya memberikan peluang sekitar 3 persen bagi Arab Saudi untuk lolos dari fase grup. Angka tersebut menempatkan mereka sebagai salah satu tim dengan kemungkinan terkecil untuk bertahan hingga fase gugur.

Timnas Arab Saudi WCup 2022

Para pemain tim Arab Saudi berpose sebelum dimulainya pertandingan sepak bola grup C Piala Dunia antara Polandia dan Arab Saudi, di Education City Stadium di Al Rayyan, Qatar, Sabtu, 26 November 2022. (AP Photo/Francisco Seco)

Meski demikian, sejarah mengajarkan bahwa Arab Saudi merupakan salah satu tim yang paling sulit diprediksi. Pada Piala Dunia 2022, mereka menciptakan salah satu kejutan terbesar sepanjang sejarah turnamen dengan mengalahkan Argentina 2-1 pada laga pembuka fase grup. Kekalahan itu bahkan menjadi satu-satunya kekalahan Argentina sepanjang turnamen sebelum akhirnya Lionel Messi dan kolega mengangkat trofi juara dunia.

Karena itu, meski peluang mereka sangat kecil di atas kertas, Arab Saudi tetap memiliki modal psikologis bahwa mereka pernah menjungkalkan tim terbaik di dunia dalam situasi yang paling tidak terduga.

Sementara itu, Qatar menghadapi tantangan berbeda. Tuan rumah Piala Dunia 2022 tersebut tergabung di Grup B bersama Swiss, Bosnia-Herzegovina, dan Kanada.

Menurut simulasi superkomputer Opta, Qatar dipandang sebagai tim terlemah di grup tersebut. Mereka memiliki peluang 47 persen untuk finis di posisi juru kunci dan hanya 43,5 persen untuk lolos ke fase gugur. Dengan kata lain, model statistik bahkan menilai Qatar sedikit lebih mungkin tersingkir sebagai penghuni dasar klasemen dibandingkan melangkah ke babak berikutnya.

Namun, Qatar tetap berpotensi menjadi salah satu tim yang menarik untuk disaksikan. Di bawah pelatih Julen Lopetegui, pertandingan yang melibatkan Qatar cenderung berlangsung terbuka dan menghasilkan banyak gol.

Sepanjang kualifikasi Piala Dunia zona Asia, laga-laga Qatar menghasilkan rata-rata 3,6 gol per pertandingan. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara seluruh peserta yang memainkan sedikitnya 10 pertandingan. Statistik itu menunjukkan bahwa meski tidak diunggulkan, Qatar memiliki gaya bermain yang relatif agresif dan berani mengambil risiko.

Kondisi yang tidak kalah sulit juga dihadapi Yordania. Debutan asal Timur Tengah itu harus bersaing di Grup J bersama juara bertahan Argentina, Aljazair, dan Austria.

Berdasarkan simulasi Opta, Yordania diperkirakan menjadi penghuni terbawah grup. Peluang mereka untuk lolos ke fase gugur hanya mencapai 40,9 persen. Bagi tim yang baru pertama kali tampil di Piala Dunia, grup tersebut bisa dibilang merupakan ujian yang sangat berat.

Meski demikian, perjalanan Yordania menuju Piala Dunia sudah menjadi pencapaian tersendiri. Dalam beberapa tahun terakhir mereka menunjukkan perkembangan signifikan, termasuk ketika berhasil menembus final Piala Asia 2023 dan kini untuk pertama kalinya tampil di panggung sepak bola terbesar dunia.

Nasib yang bahkan lebih sulit menanti Irak. Singa Mesopotamia tergabung di grup yang berisi Prancis sebagai salah satu kandidat juara, Senegal yang merupakan kekuatan utama Afrika, serta Norwegia yang diperkuat generasi emas baru mereka.

Di atas kertas, Irak menjadi wakil Asia dengan peluang lolos paling kecil di antara seluruh peserta. Simulasi Opta hanya memberikan probabilitas sebesar 27,1 persen bagi mereka untuk menembus fase gugur.

Meski angka tersebut terlihat suram, Piala Dunia tidak selalu berjalan sesuai hitungan statistik. Setiap edisi turnamen hampir selalu menghadirkan kisah tak terduga yang gagal dibaca oleh model prediksi paling canggih sekalipun.

Karena itu, meskipun sebagian besar proyeksi masih menempatkan wakil-wakil Asia sebagai underdog, peluang untuk menciptakan kejutan tetap terbuka. Jika Jepang dan Korea Selatan dipandang sebagai harapan utama Asia, maka Arab Saudi, Qatar, Yordania, dan Irak mungkin akan datang dengan peran yang berbeda: membuktikan bahwa sepak bola tidak selalu tunduk pada probabilitas.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Decode
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Alfitra Akbar