17 Agustus 1945

Sejarah HUT RI 17 Agustus: Para Pemuda Menyokong Sukarno-Hatta

Infografik Mozaik Proklamasi Kemerdekaan RI
Ilustrasi Proklamasi Kemerdekaan RI. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 17 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kelompok pemuda melakukan blunder dengan menculik Sukarno-Hatta. Kesembronoan itu dibayar tuntas: mereka menyokong dan mengabarkan proklamasi ke seantero negeri.
tirto.id - Ketika menjemput Sukarno dan Hatta untuk “diamankan” ke Rengasdengklok, Wikana cs mengatakan adanya ribuan massa siap mengobarkan pemberontakan pada pagi 16 Agustus. Dengan alasan takut Jepang akan menuduh dwitunggal sebagai provokator mereka minta keduanya untuk bersedia bersembunyi di luar kota untuk sementara.

Meski kemudian pernyataan itu diketahui hanya dalih, tetap saja Dwitunggal masing-masing mengenang malam itu dengan penuh kesenduan. Sukarno sangat mengerti kecintaan para pemuda itu pada negeri mereka dan siap mati untuk itu. Tapi, bagaimanapun juga kekuatan tentara Jepang di Jakarta ini masih utuh. Mengobarkan pemberontakan tanpa taktik matang sama saja setor nyawa.

“Ini adalah tindakan yang salah, salah sama sekali. Tidak mengertikah kalian bahwa pemberontakanmu ini akan menemui kegagalan?” ungkap Sukarno sebagaimana dicatat Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2014: 256).

Argumentasi Hatta pun sama belaka. Para pemuda selalu mendesakkan segera merdeka segera revolusi. Hatta untuk kesekian kalinya mengingatkan bahwa bukan revolusi yang akan berkobar, tapi putsch yang justru akan mematikan revolusi.

“Di mataku sudah tergambar kehancuran cita-cita kami akan menegakkan Indonesia merdeka,” tulis Hatta dalam memoar Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi (2010: 81).

Peruncingan di antara tokoh-tokoh beda generasi ini memang terletak pada momentum dan cara memproklamasikan kemerdekaan. Tersulut berita kekalahan Jepang, Wikana cs merasa inilah momentum yang tepat utnuk merdeka. Proklamasi juga musti dilakukan di luar lembaga-lembaga yang berasosiasi dengan Jepang.

Sementara Dwitunggal dan nasionalis seangkatannya menahan tindakan sampai mendapat konfirmasi resmi dari Jepang sendiri. Bagi Dwitunggal, proklamasi harus dilakukan melalui PPKI. Semua demi meminimalisasi potensi pertumpahan darah yang tak perlu.

Menurut Indonesianis Benedict Anderson, suasana Jakarta jadi tegang gara-gara peruncingan itu. PPKI tak bisa bergerak karena pucuk pimpinannya menghilang. Para pemuda yang sudah dalam mode “siap tempur” makin bingung karena komando revolusi yang mereka tunggu tak kunjung terbit. Lain itu, mereka juga berpencar di beberapa tempat tertentu di Jakarta.

Di sisi lain Jepang memperketat penjagaan di tempat-tempat tertentu yang rawan rusuh. Salah satunya adalah pemancar radio di Gambir Barat yang dijaga ketat satuan Kenpetai yang terkenal angker.

“Suasananya sungguh tegang, dan kelompok-kelompok pemuda itu berada dalam keadaan yang sangat mudah disulut. [...] sehingga jika timbul perselisihan, mungkin sekali darah akan tumpah, terutama oleh senapan pasukan-pasukan Jepang yang ditempatkan di ibukota,” tulis Anderson dalam Revoloesi Pemoeda (2018: 86-87).

Untungnya, berkat lobi-lobi Ahmad Subardjo kepada pemimpin pemuda dan otoritas Jepang, tensi ketegangan malam itu bisa sedikit dikendurkan. Sukarno-Hatta juga berhasil dipulangkan ke Jakarta setelah ia membuat kesepakatan dengan kelompok pemuda. Malam itu juga persiapan dan naskah proklamasi dirancang di rumah dinas Laksamana Maeda Tadashi.

Menyokong Proklamasi

Sementara persiapan proklamasi dirapatkan, persiapan-persiapan di kelompok pemuda juga jalan. Untunglah kini kelompok muda dan para tetua mereka sudah sepemahaman soal proklamasi. Sehingga gerakan yang disiapkan sekarang adalah bagaimana menyokong pelaksanaan proklamasi.

Anderson mencatat, malam itu Sukarni dan Sayuti Melik berkeliling ke pos-pos kelompok pemuda untuk meredakan ketegangan. Mereka mengabarkan bahwa proklamasi akan benar-benar dilaksanakan esok hari. Maka itu sampai besok keadaan harus kondusif, jangan sampai terjadi keributan yang tak perlu dengan tentara Jepang.

“Ronda bersama ini berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, meskipun tentu ada beberapa kejadian yang hampir membahayakan,” tulis Anderson (hlm. 90).

Setelah semua urusan dengan kelompok pemuda diselesaikan, Sukarni lantas menuju Asrama Prapatan 10. Rupanya kawan-kawan lintas kelompok sedang berkumpul merencanakan upacara proklamasi di Lapangan Ikada (sekarang Monas). Begitu beres, maka diutuslah Sukarni dan Chaerul Saleh mewakili mereka meninjau rapat persiapan di rumah Laksamana Maeda. Mereka juga sekaligus membawa naskah proklamasi rancangan kelompok pemuda untuk disampaikan kepada Sukarno-Hatta.

Dua ide kelompok pemuda itu ditolak semua. Sukarno menolak proklamasi diadakan di Lapangan Ikada karena khawatir akan memancing keributan dengan tentara Jepang. Maka diputuskanlah proklamasi kemerdekaan akan diadakan di rumah Sukarno di Pegangsaan Timur.

Naskah proklamasi rancangan pemuda juga ditolak karena memuat kalimat, “Segala badan-badan pemerintah yang ada harus direbut oleh rakyat dari orang-orang asing yang masih mempertahankannya.” Alasannya penolakannya sama, agar tak memancing keributan.

Tentang perkara ini, Adam Malik, salah satu aktivis muda kala itu, dalam Riwayat Proklamasi 17 Agustus 1945 (1982: 65) menulis, “Sukarni-Khairul Saleh memberi alasan dengan keterangan bahwa jika memang sudah mestinya begitu, apa boleh buat! Kemerdekaan adalah hak rakyat, dan untuk kemerdekaan itu tak ada pengorbanan yang sia-sia.”

Satu-satunya usul kelompok pemuda yang diterima adalah soal siapa yang mesti menandatangani naskah proklamasi. Sampai akhir kelompok muda tak sudi jika proklamsi ditetapkan atas nama PPKI. Maka Sukarni mengusulkan agar Sukarno dan Hatta menandatanganinya dengan dibubuhi keterangan “atas nama rakyat Indonesia”.

Sekira pukul 03.00 dini hari rapat selesai, tapi kelompok pemuda terus bergerak. Adam Malik mengingat, rapat-rapat persiapan terus digelar dari subuh hingga terbit fajar. Kini mereka mulai fokus mengalihkan pengerahan massa ke Pegangsaan Timur dan menyebarkan berita proklamasi. Seluruh asrama yang jadi markas aktivis dibikin sibuk karenanya.

“Golongan-golongan: Pelajar-pelajar, Sukarni, Kaigun bergerak ke sana ke mari di seluruh kota mengatur dan menyiapkan penyebaran dan pengumuman proklamasi itu sampai pada pagi harinya tidak berhenti-hentinya,” kenang Adam Malik (hlm. 73).

Sementara itu prajurit-prajurit muda dari garnisun Pembela Tanah Air (Peta) Jakarta mempersiapkan pengamanan upacara proklamasi. Semuanya diurus oleh Wakil Komandan Peta Jakarta Latief Hendraningrat.

Latief mengerahkan satu regu Peta di tanggul rel kereta api di belakang rumah Sukarno. Sementara itu ia menyiagakan satu kompi tentara sebagai antisipasi jika terjadi sesuatu yang gawat. Karena keterbatasan senjata, Peta bekerjasama pula dengan Barisan Pelopor untuk berjaga di sekitar rumah Sukarno.

“Kami dapat mengetahui bahwa Jepang segan menghadapi massa rakyat, lebih-lebih yang sedang mengamuk. Karena itu maka taktik kami ialah untuk menghasut massa ini apabila Jepang mengganggu,” aku Latief sebagaimana dikutip Muhammad Ridwan Indra dan Sophian Marthabaya dalam Peristiwa-peristiwa di Sekitar Proklamasi (1987: 133).


Menyebarkan Kabar Proklamasi

Setelah rapat perumusan naskah proklamasi selesai, Hatta sempat menitip pesan kepada B.M. Diah—bekas redaktur Asia Raya dan penyiar radio Hosokyoku—untuk disampaikan ke kawan-kawan wartawannya.

“Saudara yang bekerja di Kantor Domei, kawatkan sedapat-dapatnya berita Proklamasi itu ke seluruh dunia yang dapat dicapai,” demikian pesan Hatta.

Maka dengan bantuan pegawai Domei, kelompok pemuda mencetak selebaran berisi berita proklamasi untuk disebarkan ke luar kota Jakarta. Meski Jepang telah kalah, ini tetap bukan pekerjaan mudah. Adam Malik menyebut, para pemuda yang menjadi kurir sampai dibuntuti kenpetai dan selebarannya dirampas. Tapi toh jalan lain masih tersedia melalui telegram, kereta api, dan mobil.

“Akhirnya dengan kemauan sendiri dan dengan keteguhan keyakinan kaum buruh di kantor berita ‘Domei’ di Jakarta, maka dapatlah penyiaran proklamasi disiarkan ke seluruh Indonesia dan boleh disebutkan ke seluruh dunia dengan melalui udara (radio-gelombang pendek),” tulis Adam Malik (hlm. 75).

Sayang sekali siaran itu ketahuan oleh tentara Jepang. Setengah jam setelahnya mereka menyiarkan berita yang menganulir kabar proklamasi itu, meski sebenarnya itu percuma. Dalam catatan Anderson, berita-berita proklamasi sudah tersebar hingga Yogyakarta pada tengah hari. Lagi pula kabar proklamasi juga disiarkan dari stasiun lain di Bandung.

Mulai pukul 7 petang pada 17 Agustus itu, siaran-siaran proklamasi kemerdekaan dalam bahasa Inggris dan Indonesia dibuat setiap selang satu jam dari radio Bandung. Sistem radio setempat dihubungkan dengan pemancar gelombang pendek Kantor Telegraf Pusat dan dengan demikian melakukan siaran ke dunia luar,” tulis Anderson (hlm. 93-94).

Baca juga artikel terkait HUT KEMERDEKAAN RI atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight