tirto.id - Di tengah isu tergerusnya jumlah santri di banyak pesantren di Indonesia, negara dinilai wajib ikut serta dalam mengatasi masalah tersebut. Hal itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, KH. Muhammad Faiz Syukron Ma’mun atau akrab disapa Gus Faiz.
Ia menjelaskan sejumlah akar masalah mengapa pesantren saat ini perlahan mulai tak dilirik oleh para orang tua. Ia juga membandingkan fenomena pendidikan pada masa lampau dan saat ini. Menurutnya, pesantren perlu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan keadaan sehingga santri yang dilahirkan dapat bermanfaat sesuai dengan kebutuhan zaman.
"Jadi, kita hidup dengan sesuatu yang nyaman, terasa baik-baik saja, tanpa menyadari bahwa zaman ini terus berlari. Dan secara agama, produk manusia sehebat apa pun pasti akan usang dimakan zaman," kata Gus Faiz dalam cuplikan wawancara bersama Tirto, Selasa (11/8/2026).
Sebagai konteks, isu penurunan jumlah santri di Indonesia sempat menguat beberapa waktu terakhir. Dalam berbagai forum para kiai, persoalan ini telah menjadi bahan diskusi yang cukup serius. Pengasuh Pondok Pesantren Tremas Pacitan, Luqman Harits Dimyati, mengakui bahwa hampir semua jenis pesantren, baik salafiyah maupun modern, merasakan penurunan jumlah santri baru."Memang iya, kita akui jumlah santri baru di hampir mayoritas pesantren, baik pesantren salafiyah (tradisional) maupun ashriyah (modern), ini menurun drastis," ujar Luqman kepada Tirto, Jumat (31/7/2026).
Data yang diakses Tirto di situs Kementerian Agama pada 3 Agustus 2026 menunjukkan bahwa jumlah santri pada tahun ajaran 2026/2027 semester ganjil tercatat sebanyak 2.522.126 orang. Angka ini memang jauh lebih rendah dibandingkan semester sebelumnya yang mencapai 8.028.065 santri maupun semester ganjil tahun ajaran 2025/2026 yang mencatat 6.870.849 santri.
Meski demikian, Kemenag menyebut angka penurunan santri lebih banyak dipengaruhi oleh belum rampungnya proses pelaporan data semester baru ke dalam sistem EMIS. Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, meyakini bahwa apabila seluruh satuan pendidikan di lingkungan pesantren melaporkan data secara konsisten, jumlah layanan pendidikan pesantren secara nasional dapat mencapai sekitar 12 juta peserta didik."Kalau kemudian rapi pendataannya, sebenarnya potensi angkanya itu bisa di kisaran 12 juta. Saya meyakini itu," kata Basnang kepada Tirto.
Menanggapi isu ini, Gus Faiz menuturkan bahwa pesantren perlu berinovasi, terutama dalam hal perkembangan teknologi. Ia berpendapat bahwa perkembangan teknologi adalah hal yang tidak dapat dihindari dan harus dihadapi dengan tata cara dan ajaran pesantren. Ia mengingatkan pemerintah bahwa fenomena penurunan jumlah santri harus dihadapi dengan serius karena pesantren adalah lembaga pendidikan yang lahir dari kultur budaya dan rahim masyarakat.
Berikut wawancara eksklusif Gus Faiz dengan Tirto di Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta Selatan:
Bagaimana Anda melihat posisi pesantren saat ini di tengah perubahan zaman yang sangat cepat?
Pesantren ini sudah lama hidup di zona nyaman, hidup dalam kultur ketimuran dan keagamaan ala NU. Jadi, semua masyarakat itu terbiasa menyerahkan anaknya kepada kiai. Kalau melihat tradisi pesantren yang asli dulu, ketika pendaftaran, seorang wali santri merasa perlu bertemu langsung dengan kiainya, menyerahkan anaknya untuk dididik, dengan ungkapan, “Apa pun, Kiai, silakan. Yang penting anak saya ada di pondok ini, mau diapakan saja.”Jadi, pasrah kulturnya. Nah, inilah yang sering dipahami oleh orang luar sebagai feodalisme, padahal kami tidak memahaminya seperti itu. Bagi kami, ilmu itu akan mendatangkan kebaikan, akan mendatangkan berkah.
Tradisi inilah yang kadang-kadang, kalau dipahami secara keliru, akan terus dipahami secara keliru pula. Padahal, ini adalah keberkahan; tradisi mencari ilmu memang mengandaikan penghambaan kepada guru. Kiai dalam tradisi pesantren itu diikuti, bukan sekadar digemari. Maka, ia adalah sosok yang mulia. Di masa lalu, ini sosok yang mulia, sosok yang diyakini sangat istimewa. Kiai itu disibukkan oleh seluruh persoalan sosial.

Kalau rektor, ia hanya mengurusi persoalan administrasi dan akademis. Tapi kalau mahasiswanya sakit atau susah melahirkan, tidak dicari Pak Rektor. Sementara kiai, kalau pengairan di desa saja macet, itu dilaporkan ke kiai. Harga pupuk mahal, lapor ke kiai. Jadi, ia menjadi sosok yang sangat istimewa.
Usia pesantren sudah melampaui satu abad, mungkin ada yang tiga abad, bahkan tidak mustahil ada yang lebih tua dari itu. Sementara itu, hubungan sosialnya dengan masyarakat masih seperti dulu. Yang mesantren di sini, di Daarul Rahman, sekarang ada kira-kira 2.300-an santri, dan 60 persennya punya hubungan tradisional dengan Daarul Rahman, mungkin anaknya, mungkin cucunya, mungkin murid dari murid saya.
Itulah yang menjadikan kultur pesantren ini kuat: ikatan emosional dengan guru, istilah sowan yang sudah berlangsung sangat lama. Saat Lebaran, masyaallah, alumni berebut sowan ke sini, begitu pula ketika ada peringatan besar seperti Maulid Nabi. Inilah sejatinya pesantren. Jadi, kita hidup dengan sesuatu yang nyaman, terasa baik-baik saja, tanpa menyadari bahwa zaman ini terus berlari. Dan secara agama, produk manusia sehebat apa pun pasti akan usang dimakan zaman.
Terkait isu penurunan jumlah santri di pesantren. Bagaimana Kiai melihat fenomena itu?
Pertama, ada banyak alasan. Di banyak pesantren di luar Jakarta, ini soal perubahan pola hidup. Dulu, yang datang ke pesantren tradisional NU mayoritas adalah anak petani. Seiring dengan industrialisasi, dulu orang tua mereka rata-rata petani, lalu anaknya dimasukkan ke pondok supaya nanti tetap bertani, tapi sore harinya mengaji.Sekarang, seiring pertanian yang tidak lagi memberikan jaminan hidup, persoalan pupuk, persoalan harga jual yang rendah, banyak anak yang tidak mau lagi jadi buruh tani. Mereka lebih memilih kerja di industri, kerja di Alfamart, di Indomaret. Ketika sasaran hidup mereka sudah berubah seperti itu, mereka pun tidak lagi memilih pondok.
Kedua, di kota-kota seperti Jakarta, jumlah kaum migran semakin besar. Mereka datang ke sini terutama untuk mencari uang. Ditambah lagi dengan adanya sekolah gratis, ini menjadi tantangan besar bagi pesantren. Jadi, jangan melihat persoalan ini dari satu sisi saja.
Mereka yang paradigmanya sudah berubah di desa, sekarang mendapat kesempatan pergi ke Jakarta. Yang masuk ke Jakarta ini bukan lagi orang dengan cara pandang lama, melainkan orang dengan cara pandang baru. Paradigmanya berubah lagi: “Ngapain pesantren, toh saya sendiri bisa mati-matian cari uang sambil dapat sekolah gratis.” Maka, minat itu pun berkurang.
Tapi kalau kita bicara soal penurunannya secara umum, itu karena eksistensi pesantren tergerus oleh media sosial. Dulu, kekuatan pesantren ada pada sosok kiai. Ke mana pun kiai pergi, misalnya saya ke Cirebon, maka orang Cirebon akan terpikir untuk mondok kepada Gus Faiz. Sekarang, tokoh agama sangat banyak, idola pun banyak. Ketika pesantren tidak bermain di ranah yang sama, ia akan kalah.Masih banyak pesantren yang bertahan dengan brosur, sehingga ketika orang melihat brosur itu, cara pandang mereka jadi, “Wah, ini kuno sekali, masih pakai brosur.” Mereka menginginkan sesuatu yang instan. Di sinilah letak pentingnya kehadiran pesantren di media sosial.
Maka, lahirlah yang kami sebut Daarul Rahman Media, dulu ini tidak ada. Kesadaran ini pun sebenarnya adalah berkah dari pandemi Covid-19. Begitu Covid-19 memutus kita dengan dunia luar, kita membutuhkan alat komunikasi. Ternyata, yang paling efektif memberikan ketenangan bagi wali santri adalah dengan mengekspos kegiatan anak-anak mereka. Kalau dulu kekuatan pesantren ada pada ilmu, sekarang tidak lagi, sekarang ada pada akhlak.
Dulu orang berpikir, “Kalau masuk ke situ, anaknya jadi alim, juara membaca kitab.” Sekarang tidak. Sekarang, “Anak saya tidak kena narkoba, anak saya hormat kepada orang tua, mencium tangan.” Maka, kegiatan spiritual di pesantren, seperti membaca selawat, sekarang, kalau bicara soal algoritma media sosial, punya nilai jual yang tinggi. Ilmu sekarang bukan lagi hal pokok, karena sudah ada PDF yang bisa diunduh, ada YouTube.
Dulu, orang datang ke sini karena ingin pintar dengan mengaji bersama saya. Sekarang, pengajian saya pun ada di YouTube, ada di TikTok. Sehingga, ilmu tidak lagi menjadi sesuatu yang istimewa; yang istimewa adalah fondasi ilmu itu sendiri, akhlak dan perilaku.

Terkait inovasi, langkah Anda membuat festival esports kemarin cukup mengejutkan banyak orang. Apa dasar keyakinan Anda melakukan hal itu?
Karena keyakinan saya terhadap agama itu sendiri. Agama mengajarkan saya keteguhan memegang prinsip, kesetiaan kepada Al-Qur’an dan hadis, tetapi juga kebijaksanaan dalam membaca realitas. Konsep besar dalam Islam itu terbagi dua: ada prinsip dasar yang harus dihormati sepanjang masa, tetapi ada pula implementasi terapan dari syariat yang diserahkan kepada perubahan zaman.Kenapa, misalnya, saya di Daarul Rahman melakukan inovasi? Yang disebut agama itu adalah zakat fitrah, Mas; adapun beras atau uang, itu bukan agama, melainkan implementasi dari agama. Dulu, orang membayar zakat fitrah menggunakan beras karena pemahaman terhadap kurma sebagai makanan pokok yang bisa disimpan. Tapi ada ulama yang memahami bahwa kurma dibayarkan oleh Nabi bukan karena ia makanan pokok, melainkan karena ia komoditas utama. Di masa lalu, transaksi dilakukan dengan cara barter.

Contohnya Indonesia di masa lalu, Bung Karno pernah menawarkan kepada Amerika Serikat bahwa Jeep Willys bisa dibayar dengan cokelat. Penjajah dulu datang ke Indonesia mencari rempah-rempah. Artinya, komoditas itu punya kekuatan setara uang. Maka, ketika ada ulama yang mengatakan zakat fitrah bisa dibayar dengan uang, kita tidak perlu kaget, karena kurma pun dulu berfungsi sebagai alat bayar.
Sekarang, alat bayarnya adalah uang. Maka, membayar dengan uang menjadi lebih bijaksana, karena penerima zakat memiliki kebebasan lebih besar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Begitu pula, orang sering memahami peci itu Islam, padahal peci bukan Islam. Sarung juga bukan; orang Hindu pun memakai sarung. Kapan sarung menjadi Islam? Itu budaya Indonesia. Dari keyakinan itulah saya melihat bahwa pesantren selama ini merasa sudah "selesai", merasa semuanya baik-baik saja dengan metode yang sudah menghasilkan orang-orang hebat, dari presiden Indonesia sampai ketua RT, semuanya ada alumni pesantren.
Maka, seakan-akan kita merasa, "Ya sudah, pesantren memang begini, ini sudah berjalan baik." Padahal zaman terus berubah. Ada tradisi di pesantren, "Ya, dulu Mbah Kiai begitu, maka kita harus ikut." Sesuatu yang sebenarnya bersifat teknis dipahami sebagai tujuan dan prinsip. Saya tidak melihatnya seperti itu. Tujuannya adalah menjadi orang yang pintar berbahasa Arab, menguasai literatur keislaman. Adapun caranya, itu berkembang setiap zaman.
Masyarakat kita sekarang bukan lagi masyarakat Jawa dan Sunda, Melayu dan Eropa; yang ada adalah masyarakat media sosial. Anak-anak kita berinteraksi dengan dunia melalui Facebook, melalui pertemanan daring, sehingga budaya-budaya itu bercampur. Anak-anak hari ini bukan lagi anak-anak zaman kita yang suka "dicekoki". Guru sekarang punya banyak pesaing. Kalau ia sekadar melakukan transformasi ilmu pengetahuan, ia akan kalah dengan teknologi.
Makanya, kemarin, festival Mobile Legends itu saya sebut terapi kejut. Ponsel saya penuh hari itu oleh pesan dari alumni senior yang tidak bisa menerima hal ini, karena mereka tidak paham konteksnya. Pertanyaan mereka, "Lalu bagaimana ngajinya?" Saya bilang kepada para guru, "Tidak usah dijawab dulu, memang ini yang penting viralnya duluan." Nah, di sini, untuk mendorong seseorang bisa berbahasa Arab, kuncinya kosakata.
Dulu ada program bernama muhadatsah pagi, tapi ternyata prosesnya lama dan santri kurang tertarik. Anak-anak hari ini ingin jadi influencer, jadi traveler. Saya pikir, anak-anak akan tertarik kalau caranya diubah.
Saya bilang, bagaimana kalau mereka boleh memegang ponsel di akhir pekan untuk main gim, tapi dengan syarat menunjang pendidikan pesantren? Dari situlah dimodifikasi permainan Mobile Legends dengan bahasa Arab: "Kamu hafalkan dulu 100 kosakata Arab per satu jam." Dan mereka pun menghafalkannya.
Saya berharap ke depan pesantren menyadari hal ini. Contohnya, untuk pelajaran bahasa Arab, biasanya dipakai cerita kucing dengan harimau, diajarkan lewat filosofi dalam bahasa Arab, tapi prosesnya lama, bisa menghabiskan tiga minggu. Kalau ini dibuat animasinya, seperti Tom and Jerry, saya yakin satu malam saja anak-anak sudah paham. Saya membayangkan, mungkin di Daarul Rahman yang biasanya enam tahun, kita bisa memangkasnya menjadi empat tahun lewat program khusus, sehingga mereka bisa lebih cepat kuliah.
Kami juga punya target membuat pengajian melalui Roblox, memakai kitab Fathul Qarib, misalnya bagaimana secara tradisional air terbagi menjadi empat macam, nanti dibuat kontennya. Kemarin, saya kumpulkan santri satu lapangan dan mereka bertepuk tangan antusias. Sementara kalau saya bilang, "Anak-anakku, besok kita mengaji kitab Ihya," responsnya datar saja, bahkan ada yang mengantuk. Karena ini soal zaman, soal zaman.
Bagaimana Daarul Rahman memitigasi hal-hal buruk seperti kekerasan, perundungan, hingga isu penyimpangan seksual?
Yang dilakukan dari dulu sampai sekarang masih tradisional, yaitu memberikan nasihat. Tapi beberapa tahun belakangan muncul kesadaran dari kami, sekolah umum di luar itu ada baiknya, ada guru matematika, ada guru bimbingan konseling (BK). Selama ini, pesantren tidak punya desain seperti itu karena terlanjur berada di zona nyaman tadi. Dulu, anak nakal langsung kami keluarkan; sekarang, kalau dikeluarkan, ia justru bisa makin nakal. Ada tanggung jawab moral di situ, maka saya bilang, ayo cari psikolog.Tapi masalahnya, psikolog itu harus memahami kearifan pesantren, karena standar dan cara pandangnya berbeda. Sama seperti dokter, ketika melihat cara makan bersama santri, langsung antipati, padahal di situ ada nilai kebersamaan, jiwa korsa. Yang tidak berlatar belakang pesantren langsung menilai, "Ini salah!" sehingga kehadirannya di pesantren malah jadi kontraproduktif. Tantangan terbesar pesantren adalah mencari orang-orang yang punya kepakaran ilmu yang dibutuhkan hari ini, tetapi lahir dari lingkungan pesantren.
Kenapa anak-anak sering membully? Jawaban saya sederhana: karena mereka tidak lagi bermain secara sosial. Dulu saya main kelereng, kalau saya membuli teman, saya akan ditinggalkan. Sekarang, mereka tidak lagi butuh teman, karena "teman" mereka adalah gawai. Mereka biasa menumpahkan kekesalan kepada mesin.

Coba lihat, kalau kita punya atasan dari generasi cucu di perusahaan, dulu, kakeknya masih bicara dengan cara yang enak didengar. Cucunya sekarang bisa langsung bilang, "Kalau kamu suka, lanjut; kalau tidak suka, keluar." Karena mereka terbiasa berinteraksi secara kaku dengan mesin, tidak diajarkan menggunakan hati. Maka, ketika ada kasus perundungan, penanganannya tidak cukup sekadar nasihat, tapi perlu dipelajari latar belakangnya lewat ilmu psikologi untuk mengubah perilaku.
Tantangan pesantren sekarang bukan PKI, bukan komunisme, itu sudah tidak relevan lagi. Tantangannya adalah menerima anak-anak yang tumbuh di zaman yang berbeda dari zaman saya. Zaman saya dulu, anak-anak takut kualat. Sekarang, mereka dididik secara materialistis, sehingga unsur rohaninya jadi tipis.
Soal isu LGBT, dulu cukup dengan kata kiai, "LGBT haram, dilaknat Allah!" selesai. Sekarang tidak bisa begitu; anak-anak tetap tidak menyukai hal itu, dan mereka tahu itu haram, tapi mereka bertanya, "Haramnya itu kenapa, Pak?" Maka, saya perlu mengundang dokter, budayawan, untuk menjelaskan.
Dalam budaya Indonesia, tarian tradisional hanya mengenal dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Nenek moyang kita tidak mengenal gender ketiga. Saya ingin mengundang orang dari Lemhannas, karena bisa jadi isu LGBT ini bagian dari upaya pelemahan ketahanan negara.
Dulu saya ditanya oleh Wantimpres, saya jawab, "Pak, salah kalau saya, sebagai tokoh agama, dipanggil duluan.Bapak panggil dulu dokter urologi, psikolog, tanyakan apakah ini penyimpangan jiwa atau bukan. Tanyakan juga kepada Gubernur Akmil dan Akpol, kalau ada kadetnya terlibat LGBT, itu diberi penghargaan atau dipecat? Tanyakan juga ke sepuluh universitas terbaik, bagaimana kebijakan mereka terhadap isu ini."
Kalau semua pihak itu sudah ditanya, barulah tanya saya. Menurut dokter, kalau secara lahiriah seseorang laki-laki tapi secara batin merasa penciptaannya sebagai perempuan tidak sempurna, maka itu dianggap sebagai kondisi medis, dan operasi kelamin untuk itu menjadi halal karena sifatnya menyempurnakan.
Berbeda dengan operasi kecantikan yang mengubah wajah semata agar tampak lebih menarik, itu haram karena sifatnya mengubah, bukan menyempurnakan. Jadi, kalau dari sisi mudarat lebih besar daripada manfaatnya, ya, hukumnya haram.Soal kecerdasan buatan (AI), sekarang mayoritas masyarakat pesantren memusuhinya. "Belajar itu ya dengan kiai!" Iya, itu sekarang, tapi itu juga bagian dari masa depan kita. Sebagaimana uang tunai mulai tergantikan oleh ATM dan mobile banking. Siapa yang membayangkan dulu bahwa koran akan berhenti dibaca orang? Dulu, sopir taksi pasti membeli koran, dan korannya ditunggu keluarganya di rumah untuk dibaca. Sekarang, koran sudah tergerus. AI ini bahkan lebih dahsyat dari Google.
Dulu, orang menyalahkan kebiasaan belajar dari Google, padahal saya sendiri juga belajar dari Google, dan itu menjadi positif bagi saya karena aksesnya terhadap literasi yang luas. AI ini membantu saya menyiapkan ceramah, membantu menyusun kerangka dan strukturnya. Nanti, isinya tetap kita cek ulang berdasarkan ilmu.
AI ini terus kita "didik", lama-lama ia pun jadi lebih terarah. Kalau memakai ChatGPT setiap hari, setelah beberapa bulan, komunikasi dengannya jadi semakin nyambung. Bisa jadi, ke depan, kitab-kitab fisik akan tergantikan oleh ini, sebagaimana koran mulai tergantikan.
Apa peran yang bisa dilakukan negara, dan apa bahayanya jika jumlah santri terus menurun?
Sejauh ini belum terlihat dampaknya secara nyata, karena bantuan yang ada masih bersifat fisik, pesantren yang roboh dibantu lewat APBN, atau menjadi sasaran kampanye politik tertentu untuk meraih dukungan formal. Padahal, yang dibutuhkan adalah bantuan pemerintah agar pesantren bisa membaca perubahan zaman dan perilaku masyarakat.Pemerintah sebaiknya tidak mengurusi kurikulum pesantren, karena sekolah agama yang didirikan pemerintah secara formal, seperti Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Negeri, di masyarakat justru kalah dibandingkan pendidikan yang dikelola swasta oleh kiai, terutama dari aspek kealiman.
Pesantren jangan diganggu dari sisi itu, tapi mereka perlu dibantu dalam hal penggunaan teknologi, dari sisi kemasannya. Konten kreatif kita selama ini masih berkisar pada hiburan atau bahkan konten negatif seperti mem-bully orang. Padahal, kalau nilai-nilai Pancasila dibuatkan kontennya dengan baik, itu akan sangat berharga.
Dulu, saya waktu SD membaca cerpen karya NH Dini terbitan Balai Pustaka, yang sarat dengan nilai-nilai Indonesia, seperti gotong royong. Sekarang, pesantren sebenarnya kaya akan nilai-nilai seperti itu, tapi cara penyajiannya masih seperti kopi hitam, belum seperti black coffee atau Janji Jiwa.
Contohnya kebab, kemasannya menarik, dibuka dengan cara yang praktis dan modern, padahal isinya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kue-kue tradisional kita yang masih dibungkus dengan cara lama. Ilmu kita belum sampai pada level kemasan seperti itu, sementara pihak luar sudah sampai di sana.
Bahaya yang muncul jika pesantren terus menurun adalah dari sisi moral, juga dari sisi proses transformasi dan konsolidasi sosial. Pesantren itu sangat mudah mengumpulkan masyarakat, menjadi alat pemersatu massa. Salah satu contohnya di masa pandemi Covid-19: komunikasi di sini tidak menimbulkan keributan, karena saya divaksin lebih dulu dan santri melihat saya memakai masker.Kalau pesantren ini hilang, maka ada rajutan Indonesia yang akan terkoyak. Di sini, ikatan emosionalnya mirip dengan TNI, ada jiwa korsa karena hidup bersama 24 jam selama enam tahun. Saya bisa membayangkan, setelah enam tahun berpisah pun, ikatan itu akan tetap ada. Ini jaringan yang luar biasa. Sulit bagi seorang rektor untuk mengumpulkan mahasiswanya begitu saja, tapi ketika kiai berkata, "Tolong datang ke sini," ucapan itu masih memiliki daya tawar yang kuat.
Kedua, pesantren adalah benteng agama sekaligus benteng Pancasila. Kita berpancasila, tetapi tidak ingin menghilangkan agama, berbeda dengan Turki, yang untuk menjadi maju harus mengorbankan sebagian syiar Islam, misalnya azan yang sempat dipaksa tidak menggunakan bahasa Arab. Kearifan Indonesia justru ada pada semangat Bhinneka Tunggal Ika, persatuan ini terwujud karena adanya keberagaman.
Di sini, anak-anak dari Indonesia Timur biasanya sempat dijadikan bahan bully karena perbedaan wajah dan rambut, tapi setelah enam tahun, mereka menyadari, "Kami ini satu Indonesia." Pesantren mengajarkan ukhuwah, bukan semata materialisme. Sekaya apa pun seseorang, kalau tidak baik kepada teman, siapa yang akan mengurusnya kalau sakit?Pancasila bukan pengganti agama, melainkan kesepakatan antarumat beragama agar bisa hidup berdampingan secara damai. Pancasila tidak mematikan agama. Pancasila adalah falsafah berbangsa dan bernegara, bukan falsafah hidup pribadi. Sebab, orang menikah dengan tuntunan agamanya, bukan dengan Pancasila; orang meninggal pun dihantarkan dengan doa sesuai agama masing-masing, bukan dengan sila-sila Pancasila.
Tapi secara sosial, di sini tetap diajarkan nilai-nilai berpancasila. Inilah bagian dari perekat bangsa. Pancasila bisa hidup kalau ada mayoritas yang toleran. Kalau hanya mengandalkan sikap mayoritas semata, itu berbahaya; tapi tanpa adanya mayoritas yang berperan, negara ini juga tidak akan selesai membangun persatuannya.
Salah satu jalur pendidikan yang bisa melahirkan manusia moderat adalah pesantren. Pesantren dalam naungan NU tidak pernah melahirkan pemberontak. Kiai Wahab dulu pernah berkata kepada Bung Karno, "Kita sudah tidak usah berdiskusi lagi, ini sudah seperti pohon yang tidak bisa lagi dinasihati," tapi tidak pernah ada seruan untuk mengangkat senjata. Perjuangan tetap dilakukan lewat parlemen, lewat kabinet. Kalau kalah, tetap diterima sebagai kekalahan.
Tradisi pesantren tidak pernah beroposisi terhadap negara. Ketika Bung Karno diangkat sebagai Imam, itu juga persoalan kenegaraan, karena nantinya, kalau ada orang yang tidak bisa menikah dengan wali nasabnya, maka yang menjadi walinya adalah hakim KUA.
Dulu, Rasulullah menikahkan orang karena beliau adalah kepala negara. Maka, Bung Karno pun memerlukan asas legalitas serupa, yang diberikan oleh NU dengan sebutan Waliyyul Amri Ad-Dharuri bisy-Syaukah. Ada banyak terobosan dalam persoalan kebangsaan, Piagam Jakarta adalah salah satu hadiah umat Islam untuk negeri ini, karena jika tidak seperti itu, ada kekhawatiran wilayah Indonesia Timur akan memisahkan diri. Pesantren, demi kemaslahatan bersama, menerima penghapusan tujuh kata dalam piagam tersebut.Itulah jati diri pesantren. Ia bukan hanya merakyat, tapi memang lahir dari rakyat, sebagaimana TNI yang lahir dari rahim rakyat. Kiai tetap terjaga kedekatannya dengan rakyat karena setiap hari berhadapan langsung dengan mereka di musala.
Penulis: Irfan Amin
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id



































