tirto.id - Ribuan warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), memilih mengungsi di posko yang disediakan Pemerintah Kabupaten Sikka, Sabtu (15/8/2026).
Warga memilih mengungsi setelah gempa kuat mengguncang wilayah Sikka dan sejumlah daerah lain di Flores. Kepanikan terutama dirasakan warga yang bermukim di kawasan pesisir karena khawatir terhadap potensi gempa susulan dan ancaman tsunami.
Data Posko BPBD Sikka, Minggu (16/8/2026), mencatat sebanyak 1.246 jiwa mengungsi. Para pengungsi ini tersebar di 20 posko pengungsian yang mayoritas dipusatkan di posko Pemkab Sikka di Stadion Gelora Samador, Maumere. Para pengungsi berasal dari sejumlah wilayah, termasuk kawasan pesisir Kota Maumere dan sekitarnya, seperti Kelurahan Kota Uneng dan Kelurahan Wuring.
Sebagian warga sebelumnya mengungsi secara mandiri ke halaman Kantor Bupati Sikka sebelum akhirnya dipindahkan ke posko pengungsian terpusat di Stadion Gelora Samador.
Laurensius Mitak, warga Kelurahan Kota Uneng, mengatakan bahwa dirinya memilih mengungsi di lapangan depan Kantor Bupati untuk mengantisipasi terjadinya gempa besar susulan. Pasalnya, lokasi tempat tinggalnya di Lorong Binter tergolong sempit dan dikelilingi banyak bangunan tembok.
"Jadi lebih baik cari tempat yang terbuka supaya kalau kaget terjadi apa-apa lagi, kita bisa menghindar dari tiang listrik atau tembok yang runtuh. Karena itu kami mengambil tempat di depan Kantor Bupati," ungkapnya.
Ia mengaku masih mengkhawatirkan keselamatan keluarganya jika terjadi gempa susulan. "Mungkin bisa lebih dahsyat dari gempa pagi tadi. Jelas kami khawatir," lanjutnya.
Laurensius mengungsi bersama istri, dua anak, dan anggota keluarga lainnya. Ia berharap Pemkab Sikka dapat memberikan perhatian dan bantuan bagi warga yang terdampak musibah ini.
"Warga yang berada di lapangan ini atau di mana saja, yang sementara mencari tempat aman untuk menghindari gempa susulan, mestinya diperhatikan oleh Pemkab Sikka," ujar Laurensius.
Pengungsi lainnya, Nadia Yusran (25), menuturkan bahwa ia bersama keluarganya di Kampung Buton, Kelurahan Kota Uneng—yang rumahnya berada tepat di pesisir Laut Flores—memilih mengungsi ke halaman Kantor Bupati Sikka sejak Sabtu (15/8/2026) pagi usai gempa terjadi.
"Kami mengungsi mulai pagi tadi. Sekitar siang hari ada pengumuman dari pemerintah bahwa status siaga telah dicabut, sehingga kami sempat kembali ke rumah. Namun, siang harinya terjadi lagi guncangan yang mengharuskan kami mengungsi kembali ke sini," ungkap Nadia.
Ia menjelaskan, keluarganya hanya pulang sebentar untuk menyiapkan makanan lalu kembali ke lokasi pengungsian di halaman Kantor Bupati.
"Kami memilih bertahan di sini karena merasa lebih aman di area terbuka. Belum tahu sampai kapan akan bertahan di halaman Kantor Bupati Sikka ini," ujarnya.

Nadia menambahkan, mereka baru akan kembali ke rumah jika situasi sudah benar-benar kondusif dan tidak ada lagi gempa susulan.
Saat ditanya mengenai bantuan logistik, Nadia mengaku belum mendapatkannya dari Pemkab Sikka.
"Untuk bantuan sendiri kami belum menerima. Namun, tadi sore kami sudah didata oleh relawan PMI Sikka. Kami berharap bisa mendapatkan bantuan logistik, terutama makanan siap saji, air minum, selimut, dan terpal," terang Nadia.
Sementara itu, La Adi (60), warga Wuring, mengaku masih trauma dengan gempa besar yang pernah dialaminya pada 1992. Oleh karena itu, saat gempa terjadi kemarin, ia dan keluarganya memilih mengungsi ke halaman Kantor Bupati Sikka sebelum dipindahkan ke posko terpusat di Stadion Gelora Samador pada malam harinya.
Ia mengaku tetap cemas akan potensi tsunami meskipun BMKG telah mencabut peringatan dini.
"Daripada pulang ke Wuring lalu gempa lagi dan datang tsunami, saya mau lari ke mana? Lebih baik saya tidur di tenda pengungsi ini," tuturnya.
Di sisi lain, Maria Inviolata, warga Desa Hoder, memilih tetap berada di rumah namun tidur di halaman dan teras rumah karena masih khawatir akan gempa susulan.
"Kami semua tidur di teras rumah. Mau tidur di dalam rumah takut kalau tiba-tiba terjadi gempa susulan," ungkapnya.
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id

































