tirto.id -
Para pengungsi berasal dari sejumlah wilayah, termasuk kawasan pesisir Kota Maumere dan sekitarnya seperti di Kelurahan Kota Uneng dan Kelurahan Wuring.
Sebagian warga sebelumnya mengungsi secara mandiri ke halaman Kantor Bupati Sikka sebelum kemudian dipindahkan ke posko pengungsian terpusat di Stadion Gelora Samador Maumere.
Pantauan kontributor tirto.id, ratusan warga memadati kawasan Stadion Gelora Samador pada Sabtu malam. Warga membawa anak-anak, lansia, serta sejumlah barang keperluan seadanya setelah meninggalkan rumah sejak pagi.
Salah seorang warga yang mengungsi, Cristina Ida, mengatakan dirinya bersama keluarga langsung meninggalkan rumah sesaat setelah gempa terjadi.
“Iya, kami mengungsi karena kami juga takut,” ujar Cristina.
Ia mengatakan, dirinya bersama sekitar 10 anggota keluarga, termasuk anak-anak dan orang tua, mengungsi ke halaman Kantor Bupati Sikka sejak sekitar pukul 06.00 WITA.
“Kami hanya lari, pakaian di badan dari pagi,” katanya.
Cristina mengaku warga yang mengungsi di halaman Kantor Bupati Sikka membutuhkan makanan dan tempat berlindung karena tidak berani kembali ke rumah untuk memasak.
“Kami minta pemerintah tolong perhatikan kami yang dari tadi pagi sampai sekarang belum makan. Karena kita pulang mau masak pun kita takut karena gempa terus, susulan terus,” katanya.
Ia juga meminta pemerintah menyediakan tenda karena terdapat banyak anak-anak, bayi, dan lansia di lokasi pengungsian.
“Tolong dengan tenda, karena ini kami banyak anak kecil, lansia pun banyak di sini,” ujarnya.
Menurut Cristina, warga yang mengungsi tidak hanya berasal dari Kelurahan Kota Uneng, tetapi juga dari Wuring, Wolomarang, dan sejumlah wilayah lainnya.
Sementara itu, Bupati Sikka mengatakan pemerintah daerah telah mendirikan posko pengungsian utama di Stadion Gelora Samador untuk menampung warga yang mengungsi secara mandiri.
“Untuk penanganan masyarakat, sekarang kita sudah mendirikan posko pengungsian. Sudah satu posko utama di stadion,” kata Bupati.
Ia mengatakan, jumlah pengungsi masih terus berubah karena pemerintah masih melakukan pendataan di sejumlah wilayah, termasuk desa-desa dan kawasan kepulauan.
Bupati menyebut, berdasarkan data yang diterimanya, jumlah warga yang berada di posko utama sebelumnya mencapai sekitar 2.000 orang.
Sementara warga yang mengungsi secara mandiri di desa-desa dan wilayah perbukitan masih terus didata.
“Data ini terus bergulir, karena kami juga sedang berusaha untuk berkomunikasi ke semua wilayah, baik di daratan maupun beberapa wilayah kami di kepulauan,” katanya.
Selain persoalan pengungsian, gempa juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan rumah warga dan fasilitas umum. Salah satu fasilitas publik yang mengalami kerusakan adalah ruang tunggu Pelabuhan L. Say Maumere.
Bupati juga menyebut empat orang meninggal dunia akibat gempa. Pemerintah daerah masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah korban, kerusakan bangunan, serta kebutuhan warga terdampak.
Ia mengatakan distribusi makanan, air bersih, dan kebutuhan sanitasi bagi pengungsi terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak.
“Kita tetap memberikan kenyamanan. Kita pastikan untuk terus distribusi makanannya terus kita jaga, sanitasi air dan lain sebagainya kita jaga,” katanya.
Bupati menyebut sejumlah wilayah masih sulit dijangkau untuk memperoleh data terbaru, di antaranya Kecamatan Palue dan Waiblama. Pemerintah terus berupaya membuka komunikasi dengan wilayah-wilayah tersebut untuk memastikan kondisi warga dan dampak gempa.
Pemerintah Kabupaten Sikka mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi terkait kondisi pascagempa.
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id































