Menuju konten utama

Konflik AS-Iran Memanas, Trump Minta Warga Bersiap Bensin Naik

Trump juga menyebut akan mengklaim Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah Amerika Serikat. Iran tuding Trump tak bisa terima kekalahan.

Konflik AS-Iran Memanas, Trump Minta Warga Bersiap Bensin Naik
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kepada bangsa dari East Room Gedung Putih di Washington, DC, pada 16 Juli 2026. (Foto oleh SAUL LOEB / POOL / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Di tengah kebuntuan itu, Presiden AS Donald Trump justru meminta rakyatnya untuk bersiap menerima harga bahan bakar minyak yang terus melambung sebagai konsekuensi dari perang yang sedang berlangsung.

Meskipun Iran telah menyerukan agar AS mengakui kekalahannya pada Sabtu (15/8/206), Trump tetap bersikukuh menyebut Tehran sebagai negara "sangat jahat". Dalam kampanye politiknya di Garden City, New York, Jumat (14/8/2026) lalu, ia menyatakan bahwa membayar "sedikit lebih banyak untuk bensin" adalah harga yang pantas untuk memastikan "negara yang sangat jahat" tidak memiliki senjata nuklir.

Trump bahkan menyampaikan ambisinya terkait Selat Hormuz. "Setelah kita selesai mengalahkan Iran ... segera saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," ujarnya di hadapan pendukung dikutip dari Reuters, Minggu (16/8/2026).

Sementara itu, juru bicara Iran menegaskan bahwa selat strategis tersebut hanya akan dibuka dan ditutup di bawah komando Tehran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyampaikan di platform X bahwa selama AS tidak menerima realitas kekalahan dan masih berkhayal, Iran akan terus memberlakukan blokade.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengungkapkan bahwa negaranya belum memutuskan untuk kembali berdialog dengan Washington. Dalam wawancara dengan Shahrara News yang terbit Sabtu, ia menyebut AS harus memenuhi persyaratan terkait Selat Hormuz agar lalu lintas kapal bisa pulih seperti sebelum perang, di mana jalur itu menangani seperlima minyak dunia.

Situasi di Selat Hormuz sendiri masih tegang. Analisis dari perusahaan pelacak kapal Kpler menunjukkan hanya dua kapal yang melintas pada Jumat tanpa ada pengiriman minyak mentah yang terlihat.

Meski beberapa kapal mungkin melintas tanpa terdeteksi, jumlah itu sangat jauh dari rata-rata 130 kapal per hari sebelum konflik. Kapal-kapal yang berani melintas tanpa izin Iran pun menghadapi risiko serangan rudal atau drone.

Di sisi lain, UEA menuduh Iran menyerang kapal ketiga milik Abu Dhabi National Oil Company pada Jumat, setelah dua insiden serupa melibatkan kapal ADNOC pada Kamis malam. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris juga melaporkan sebuah kapal curah terkena proyektil tak dikenal di lambungnya di selat yang sama.

Dampak ekonomi mulai terasa di kedua negara. Harga rata-rata bensin di AS mencapai sekitar 4,08 dolar AS per galon pada Jumat, naik 29 persen dari tahun sebelumnya menurut American Automobile Association. Trump mendesak warga untuk menerima kenaikan harga ini selama konflik berlangsung.

Inflasi juga melanda Iran. Presiden Masoud Pezeshkian dalam pernyataan di televisi negara menuding blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan sanksi ekspor minyak sebagai penyebab tingginya inflasi di negaranya.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent berjanji akan menambah tekanan ekonomi pada Iran, dengan pengumuman tindakan lebih lanjut direncanakan pekan depan.

Sementara itu, kesepakatan damai sementara yang sempat diincar pada Juni kini berantakan. Araqchi menegaskan bahwa tidak ada gencatan senjata sejak awal yang ingin mereka perpanjang, melainkan telah ada "akhir perang" dan kini situasi baru terbentuk.

Ancaman konflik meluas juga muncul dari Yaman. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melaporkan Houthi yang didukung Iran menembakkan enam rudal balistik ke pelabuhan Mocha di Laut Merah pada Jumat, menewaskan empat warga sipil.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Rina Nurjanah