tirto.id - Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Armand Wahyudi Hartono, mengatakan Bursa Efek Indonesia perlu belajar dari kejatuhan pasar modal Korea Selatan (KOSPI) dan Taiwan (TAIEX) imbas euforia berlebihan terhadap kecerdasan buatan (AI) dan industri microchip.
Ia menuturkan, hype terhadap AI dan semikonduktor memang sempat membuat saham-saham perusahaan teknologi seperti Samsung, SK Hynix, dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) mengalami kenaikan hingga 2-3 kali lipat.
Namun, fenomena tersebut telah menciptakan gelembung yang pada akhirnya meletus ketika koreksi besar-besaran pada saham-saham teknologi tersebut.
"Ternyata koreksinya kaget-kagetan menyebabkan margin call yang besar-besaran di Korea dan Taiwan," katanya dalam Musyawarah Anggota AEI, di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026).
Armand menilai, fenomena tersebut dapat menjadi pengingat bahwa pasar modal selalu bergerak dalam siklus dan investor dapat dengan cepat memindahkan dananya ke pasar yang dianggap lebih menarik.
"Ya, mengingatkan lah bagi kita di Indonesia untuk belajar, namanya pasar selalu melewati siklus-siklus seperti itu, tidak bisa dihindarkan. Tapi, untuk kita harus selalu belajar dari pasar manapun di global. Terima fakta bahwa namanya capital market itu bisa ke mana saja di global melihat mana yang lagi paling cantik," terangnya.
Bagi Indonesia, fenomena tersebut menunjukkan bahwa persaingan pasar modal tidak hanya terjadi antar perusahaan di dalam negeri, melainkan juga emiten di pasar global. Karenanya, Armand menilai perusahaan tercatat perlu membangun kinerja yang sehat dan berkelanjutan, tata kelola yang baik, kondisi keuangan yang kuat, transparansi, serta komunikasi yang baik dengan investor.
Menurut dia, perusahaan yang mampu dipercaya dalam situasi penuh ketidakpastian justru memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
"Yang akan survive dan kita lihat di situasi seperti ini memang banyak tantangan, namun menjadi opportunity bagi yang bisa dipercaya di situasi tersebut," katanya.
Meski begitu, saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan terkait kualitas tata kelola perusahaan publik. Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Khoirul Muttaqien mengatakan investor saat ini tidak hanya membandingkan laba dan valuasi perusahaan.
Investor juga semakin mempertimbangkan kualitas tata kelola, konsistensi keterbukaan informasi, kepastian regulasi, dan integritas pasar. OJK mencatat skor Indonesia dalam ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) pada 2024 meningkat 9,02 persen menjadi 84,41 dari sebelumnya 77,43. Jumlah perusahaan Indonesia yang masuk kategori ASEAN Asset Class juga meningkat dari sembilan perusahaan pada 2021 menjadi 23 perusahaan pada 2024.
Sayangnya, peningkatan tersebut belum membuat Indonesia menjadi yang terbaik di kawasan. Khoirul mengatakan skor tata kelola Indonesia masih berada di bawah Thailand, Malaysia, Singapura, bahkan Filipina. Adapun, skor Filipina pada 2024 tercatat mencapai 89,27, lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang berada di level 84,41.
"Memang ini sudah ada kemajuan, ada peningkatan, namun tentunya masih ada ruang perbaikan yang harus kita kerjakan bersama-sama," kata Khoirul.
OJK menilai masih terdapat sejumlah aspek tata kelola yang perlu diperbaiki, mulai dari transparansi remunerasi dan kebijakan transaksi pihak berelasi hingga independensi dan efektivitas komite nominasi dan remunerasi.
Selain itu, kualitas bahan rapat organ perusahaan, keterkaitan remunerasi dengan kepentingan jangka panjang dan kinerja keberlanjutan, serta praktik RUPS yang lebih transparan dan partisipatif juga perlu diperkuat.
"Salah satu area yang masih perlu diperkuat itu adalah transparansi remunerasi dan juga kebijakan transaksi pihak berelasi. Kemudian independensi dan efektivitas komite nominasi dan remunerasi, kualitas bahan rapat organ perusahaan, keterkaitan remunerasi dengan kepentingan jangka panjang dan kinerja keberlanjutan, serta praktik RUPS yang semakin transparan dan partisipatif," terang Khoirul.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































