Menuju konten utama
Mozaik

Riwayat Diskriminasi kala Piala Dunia Digelar di Amerika Serikat

Seperti Piala Dunia 1994, pesta akbar sepak bola kali juga diwarnai serentetan kasus diskriminasi. AS kerap berulah ketika ditunjuk sebagai tuan rumah.

Riwayat Diskriminasi kala Piala Dunia Digelar di Amerika Serikat
Pemain Yunani Savvas Kofidis (kiri) menendang bola menjauh dari bek Nigeria Okechukwu Uche pada babak pertama pertandingan Piala Dunia di Stadion Foxboro pada 30 Juni 1994. Nigeria mengalahkan Yunani 2-0. FOTO AFP DANIEL GARCIA (Foto oleh AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Juni 1994, di bawah terik musim panas, di hadapan 44 ribu penonton, gol perdana Rashid Yekini di menit ke-21 ke gawang Bulgaria menjadi awal pertualangan Nigeria yang berjuluk Elang Super. Menjelang babak pertama, Yekini memberikan umpan ke Daniel Amokachi untuk menggandakan skor.

Memasuki babak kedua, dominasi mereka membuahkan hasil lewat sundulan Emmanuel Amunike. Kemenangan besar tiga gol tanpa balas melawan Bulgaria yang dihuni Hristo Stoichov, Yordan Lechkov, dan Emil Kostadinov itu seharusnya menjadi pesta besar, namun ratusan pendukung Nigeria tak bisa hadir. Visa mereka ditolak oleh imigrasi Amerika Serikat.

Saat itu, Nigeria diguncang pemogokan pekerja minyak, represi politik, dan krisis ekonomi, sepak bola menjadi satu-satunya ruang pelarian. Juru bicara Biro Urusan Konsuler AS di Washington saat itu, Gary Sheaffer, dikutip koran LA Times pada 17 Juni 1994, mengonfirmasi bahwa seluruh pemohon visa asing wajib memberikan bukti kuat bahwa mereka memiliki ikatan yang mengharuskan mereka pulang ke negara asal.

Meski begitu, sebagian penggemar Nigeria tetap bisa hadir di stadion atas kebijakan Departemen Transportasi AS yang melonggarkan larangan terbang. Mereka mengizinkan maskapai Nigeria untuk mendarat darurat atau transit guna mendukung tim nasional Nigeria.

"Dikatakan bahwa mereka bertindak atas saran AS. Administrasi Penerbangan Federal, yang akan memberikan keamanan, termasuk mengawasi pembongkaran semua penumpang dan bagasi di persinggahan di Senegal," menurut laporan The Washington Post, 10 Juni 1994.

Laporan tersebut juga memberitakan ratusan penggemar Rumania dan Bulgaria yang tidak bisa mendukung tim mereka karena gagal mendapatkan visa turis AS.

Menjelang pembukaan Piala Dunia 2026, kasus serupa kembali terjadi saat AS menjadi tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko. Kali ini menimpa Omar Abdulkadir Artan, wasit asal Somalia yang baru saja dinobatkan sebagai wasit pria terbaik federasi sepak bola Afrika (CAF).

Namun saat mendarat di Miami, bukannya disambut, ia malah digiring ke ruang interogasi. Menurut The New York Times, selama sebelas jam, Artan dicecar soal politik Somalia dan kaitannya dengan militan Somalia, Al-Shabab. Semua dokumen resmi ditunjukkan, rekam jejaknya jelas, tetapi otoritas bandara tetap menolak. Ia ditahan sementara, lalu dideportasi ke Istanbul, kota transitnya. FIFA pun mencoret namanya dari daftar wasit.

Sepak bola disebut milik semua orang, namun kenyataannya dikendalikan oleh batas imigrasi yang lebih tebal daripada nilai sportivitas. Apa arti Piala Dunia jika negara tuan rumah menolak kehadiran orang-orang yang justru memberi makna pada olahraga tersebut?

Menaklukkan Zurich

FIFA menunjuk AS menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994 di Zurich, Swiss, pada 4 Juli 1988. Saingan mereka adalah Brasil yang memiliki reputasi lima gelar juara dan Maroko yang datang membawa ambisi Afrika. Amerika Serikat hanya menawarkan janji komersial.

Keputusan FIFA yang menunjuk AS, cukup mengejutkan banyak pihak sebab dianggap asing terhadap kultur sepak bola. Namun FIFA melihatnya sebagai pasar potensial. Proposal setebal 381 halaman dari federasi sepak bola AS (USSF), lengkap dengan pesan video Ronald Reagan, memberi jaminan politik dan keamanan.

Dalam pertimbangan FIFA, Brasil harus merombak stadion usang dan Maroko dituntut membangun sembilan stadion baru. Sementara AS sudah memiliki arena liga sepak bola Amerika (NFL) berkapasitas raksasa yang hanya butuh penyesuaian teknis. Investasi 500 juta dolar cukup untuk memperlebar lapangan dan memperbaiki fasilitas.

Selain itu, kesuksesan Olimpiade Los Angeles pada 1984 menjadi bukti kemampuan manajerial AS dalam menggelar ajang global. FIFA yakin logistik, transportasi, dan keamanan tak akan mengecewakan. Syarat mutlaknya ialah janji membentuk liga sepak bola profesional baru pasca turnamen, agar soccer kian diterima publik AS.

"Saya menyatakan atas nama FIFA bahwa negara tuan rumah Piala Dunia 1994 adalah: Amerika Serikat," ujar wakil presiden FIFA Harry Cavan dalam keputusannya saat itu.

Semangat Baru

Menjelang Piala Dunia 1994, di AS sepak bola masih dianggap olahraga pinggiran. Di lapangan rumput pinggiran kota, anak-anak berlarian setiap akhir pekan, melahirkan istilah soccer moms and dads. Menurut David Wangerin dalam "Soccer in a Football World: The Story of America's Forgotten Game" (2006), istilah itu merujuk pada orang tua yang mendukung anak mereka bermain sepak bola.

Bagi komunitas imigran dan buruh, sepak bola menjadi cara menjaga identitas. Klub amatir seperti Greek American Atlas Astoria di New York yang dilatih Alketas Panagoulias, legenda Yunani-Amerika, membuat sepak bola hidup dan sedikit demi diterima di masyarakat AS.

"Sambil bekerja di bidang real estat dan mendapatkan sertifikat pascasarjana dalam hubungan internasional, Alkis memimpin tim Greek American meraih tiga gelar Piala Terbuka AS berturut-turut dari tahun 1967 hingga 1969," tulis Leander Schaerlaeckens dalam The Long Game: U.S. Men's Soccer and Its Savage, Four-Decade Journey to the Top, or Thereabouts (2026).

Namun dalam skala nasional, olahraga ini tak punya legitimasi. North American Soccer League (NASL) bangkrut pada 1984 membuat sepak bola dicap sebagai tren sesaat. Padahal pada pertengahan 1970 hingga awal 1980, New York Cosmos sempat memikat puluhan ribu penonton dengan kehadiran Pelé dan Franz Beckenbauer. Lalu Johan Cruyff meramaikan liga bersama Washington Diplomats. Ada juga Gerd Müller di Fort Lauderdale Strikers.

Namun fondasi NASL terlalu rapuh, ekspansi berlebihan, resesi ekonomi, dan minimnya dukungan lokal membuat liga runtuh. Amerika Serikat tetap setia pada American Football, bisbol, dan basket.

Setelah NASL mati, banyak tim pindah ke Major Indoor Soccer League (MISL) yang lebih murah dan populer di musim dingin. Ada juga American Soccer League (ASL) dan United Soccer League (USL), tapi cepat bangkrut karena minim dana dan prospek. Ini memengaruhi tim nasional AS yang gagal lolos Piala Dunia 1986 dan 1990. Sepak bola pun hampir hilang dari perhatian publik.

Semua keadaan itu berubah dalam satu bulan pada musim panas 1994. Piala Dunia di sembilan stadion NFL, dari Massachusetts hingga California menghadirkan lautan manusia lintas etnis dan kelas sosial.

Publik AS untuk pertama kalinya merasakan langsung nyanyian tanpa henti, warna-warni suporter, gairah yang tak bisa diabaikan. Angka penonton tercatat 3,58 juta orang, rata-rata hampir 69 ribu per laga—rekor yang masih bertahan hingga kini. Final di Rose Bowl, ketika Brasil menundukkan Italia lewat adu penalti, menjadi puncak euforia dengan kehadiran lebih dari 94 ribu penonton.

Dampaknya meluas jauh melampaui tribun. Piala Dunia 1994 menyatukan berbagai komunitas yang sebelumnya terpisah. Sponsor global segera masuk, melihat potensi pasar miliaran dolar. Presiden USSF Alan Rothenberg memanfaatkan momentum itu untuk memenuhi janji kepada FIFA dengan meluncurkan Major League Soccer (MLS) pada 1996. MLS menjadi fondasi penting membangun pembinaan pemain muda, menarik talenta, dan menciptakan ekosistem siaran televisi.

"Perkembangan tim nasional dan pembentukan Major League Soccer tidak akan terjadi tanpa Piala Dunia,” ucap Rothenberg.

Pada Piala Dunia 1994, AS lolos dari fase grup untuk pertama kalinya sejak 1930 dan mengubah pandangan dunia bahwa AS bukan negara bola. Setelah itu, kompetisi domestik stabil dan arus pemain ke Eropa membuat tim nasional Amerika Serikat konsisten di kompetisi regional CONCACAF. Lebih jauh lagi, ekosistem baru ini melahirkan dominasi tim wanita yang menjuarai Piala Dunia 1999 di kandang sendiri dengan dukungan jutaan penonton.

Tersandera Geopolitik dan Standar Ganda

Tiga dekade setelah euforia 1994, Piala Dunia 2026 justru dibayangi kontroversi yang menyingkap wajah lain Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah. Turnamen yang digadang-gadang paling inklusif dalam sejarah—dengan format 48 tim dan 104 pertandingan di tiga negara—berisiko menjadi pesta eksklusif yang tersandera politik imigrasi, konflik geopolitik, dan komersialisasi ekstrem.

Dominasi kekacauan muncul dari sistem visa yang diskriminatif. Delegasi Iran menjadi korban pertama. Meski pemain utama akhirnya diizinkan masuk, belasan staf, termasuk Presiden Federasi Mehdi Taj, ditolak. Tim terpaksa memindahkan pusat latihan dari Arizona ke Tijuana, Meksiko. Pelatih Amir Ghalenoei dan para pejabat Iran mengecam keras perlakuan ini sebagai pelanggaran etika olahraga.

"Ini merupakan bentuk campur tangan yang paling buruk dalam olahraga yang bias politik," tulis Kedutaan Besar Iran di Ankara, Turki.

Kasus serupa menimpa Irak. Striker Aymen Hussein ditahan tujuh jam di Chicago, sementara fotografer Talal Salah dideportasi. Pola intimidasi ini sejalan dengan nasib wasit Somalia Omar Artan, yang sebelumnya dicoret FIFA setelah ditolak masuk AS.

Larangan perjalanan terhadap negara-negara Afrika dan Timur Tengah membuat atlet dan ofisial diperlakukan layaknya tersangka sebuah kejahatan. Misalnya bagaimana para pemain dan staf Uzbekistan dan Senegal harus menjalani penggeledahan fisik serta pemeriksaan perlengkapan secara menyeluruh.

Lain itu, di bawah pemerintahan Donald Trump, regulasi visa bond yang mewajibkan jaminan hingga 15.000 dolar bagi warga Aljazair, Senegal, dan Pantai Gading praktis menutup pintu bagi kelas menengah.

Segun Odegbami, legenda Nigeria, bahkan harus menunggu 14 bulan hanya untuk wawancara visa. Di sisi lain, harga tiket melonjak tak masuk akal. Kursi termurah final menembus 8.625 dolar, sementara paket VIP mencapai ratusan ribu.

Di dalam negeri, beberapa kota penyelenggara mulai merasakan tekanan berat. Vancouver menghadapi estimasi biaya hingga 729 juta dolar untuk tujuh pertandingan, sementara Kansas City menerima puluhan juta dolar federal untuk keamanan. Pajak publik tersedot untuk biaya operasional ratusan juta dolar, sementara banyak ekonom dan warga lokal meragukan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat setempat.

Piala Dunia 2026 dipromosikan sebagai festival global, tetapi di lapangan justru memperlihatkan diskriminasi, segregasi finansial, dan komersialisasi yang mengikis makna sejati olahraga.

Semua itu diperparah dengan standar ganda FIFA yang begitu telanjang. Organisasi ini kerap mengumandangkan slogan "politik harus dipisahkan dari olahraga", bahkan tak segan menghukum negara yang dianggap melanggar. Rusia dibekukan hanya beberapa hari saat menginvasi Ukraina, sementara Israel terus diberikan pemakluman atas kejahatan perangnya di Palestina dan Lebanon.

Pada 2023, Indonesia dicabut haknya menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 karena penolakan terhadap kehadiran tim Israel. Namun ketika Amerika Serikat menjadi tuan rumah, prinsip itu mendadak menguap dan tak ada sanksi apa pun.

Presiden FIFA Gianni Infantino yang sebelumnya berjanji semua orang akan diterima, memilih bungkam. FIFA bersembunyi di balik dalih bahwa urusan imigrasi sepenuhnya wewenang negara tuan rumah. Tidak ada investigasi, tidak ada ancaman pencabutan hak, tidak ada hukuman.

"Dan sejujurnya, Piala Dunia, jika mempunyai dampak positif, hal ini dapat membuka mata banyak orang terhadap standar ganda yang kita bicarakan di sini, dan mulai melihat Amerika Serikat dan negara-negara demokrasi lainnya dengan lensa yang lebih kritis yang juga mempertimbangkan masalah hak asasi manusia mereka," kata Jules Boykoff, penulis buku Red Card: The 2026 World Cup, Sportswashing, and the FIFA Greed Machine.

Sepak bola yang dulu diyakini sebagai jembatan antarbangsa kini berubah menjadi kian terbatas. Piala Dunia 2026, bahkan sebelum sepak mula, memperlihatkan dengan gamblang bahwa nilai sportivitas bisa dikorbankan demi kepentingan geopolitik dan kapitalisme, meninggalkan tanya: apakah turnamen ini masih layak disebut perayaan global, atau sekadar pesta pribadi bagi segelintir elite?

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2026 atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi