Menuju konten utama

Setu Babakan: Saat Rasa Betawi Bertahan di Tengah Gempuran Zaman

Setu Babakan dinilai sebagai tempat orang Betawi "pulang" untuk belajar ritus kehidupan, mulai dari Palang Pintu hingga prosesi perkawinan.

Setu Babakan: Saat Rasa Betawi Bertahan di Tengah Gempuran Zaman
Penampilan Tradisi Kebudayaan seperti tari betawi, palang pintu, ondel ondel, dan Gambus, di Gedung Serba Guna, UPT Perkampungan Betawi, Sabtu (01/08/26). tirto,id/Putri
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kaki saya melangkah masuk melintasi gerbang kayu yang kokoh di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Seketika, hiruk-pikuk klakson di jalan ibu kota yang memekakkan telinga mulai meredup, berganti dengan desau angin dari danau.

Kala itu, langkah demi langkah membawa saya masuk kampung asli warga Jakarta, atau dikenal sebagai warga Betawi. Hari itu, saya melihat beragam tradisi Betawi masih berjalan di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, tepatnya di sekitar Gedung Serba Guna Kp. M.H Thamrin.

Belum beberapa menit berdiri, saya seperti diajak ke sebuah tempat, melangkah ke barisan lapak UMKM Setu Babakan namanya. Di sana, di balik kepulan asap arang, duduk Zahrudin (63). Wajahnya yang teduh tampak fokus membolak-balikkan wajan kecil di atas anglo. Saat berbicara dengan saya, pria yang dipanggil Bang Zahrudin bercerita dia sudah menekuni profesi sebagai pedagang Kerak Telor (atau Kerak Telur) selama 22 tahun.

"Dulu, Kerak Telor ini cuma setahun sekali ada di PRJ. Habis itu dagangnya pada bubar, ada yang jadi supir, ada yang jadi tukang batu," kenangnya saat bercerita dengan Tirto, di Gedung Serba Guna UPT Perkampungan Budaya Betawi, Jakarta, Sabtu (1/8/2026) lalu.

Bagi Bang Zahrudin, Kerak Telor bukan sekadar pengganjal perut, tapi cara bertahan hidup yang bermartabat. Pria dua anak ini mengaku mengajari kedua anaknya, anak sulung lahir tahun 2005 kini di bangku kuliah dan adiknya kelahiran 2009 masih SMK, ilmu membuat Kerak Telor, bahkan sampai menurunkan resep rahasianya.

"Biar dia punya keahlian. Supaya nanti bisa menolong kalau lagi masa sulit," tuturnya.

Bang Zahrudin berupaya menjaga racikan bumbunya agar tetap asli. Namun, dia menambahkan sedikit penyedap rasa agar Kerak Telornya diminati pembeli, terutama mereka yang mengidam rasa "asli" di tengah gempuran kuliner modern.

Tidak jauh dari tempat Bang Zahrudin, warna merah dan hijau yang cerah dari stoples Mpok Mayang memanggil ingatan masa kecil. Mpok Mayang adalah penerus ketiga kuliner Es Selendang Mayang, yang sudah menetap di Setu Babakan selama 16 tahun. Ia membawa keresahan yang mendalam lantaran tidak sedikit anak muda tertarik dengan Es Selendang Mayang.

"Minuman ini udah hampir punah, jarang dikenal anak-anak sekarang. Mereka lebih kenal minuman-minuman sekarang," ujarnya.

Tradisi Kebudayaan Betawi

Penampilan Tradisi Kebudayaan seperti tari betawi, palang pintu, ondel ondel, dan Gambus, di Gedung Serba Guna, UPT Perkampungan Betawi, Sabtu (01/08/26). tirto,id/Putri

Sejak 2008, Mpok Mayang berjuang mengembalikan "derajat" minuman ini. Mpok Mayang tak ragu menambah topping kekinian agar lidah Gen Z, generasi muda saat ini, mau mencicipi sagu kenyal buatannya. Kegigihannya berbuah manis. Esnya kini melanglang buana hingga ke Surabaya dan sering dipesan kantor-kantor besar hingga Bursa Efek.

Maju sedikit, aroma kacang tanah yang digoreng membawa pada lapak Mpok Mutia. Mpok Mutia sudah 10 tahun menjual Gado-gado dan Nasi Uduk. Baginya, rahasia ada pada "buket" kekentalan bumbu kacang yang tak boleh pelit.

"Anak sekolah kalau tahu Gado-gado bilangnya 'saya baru tahu, Bu'. Sedih liatnya," katanya.

Mpok Mutia bercerita bagaimana perjuangan UMKM di Setu Babakan difasilitasi pemerintah tanpa biaya sewa, tetapi tetap harus berjuang melawan tren dan diminati anak muda.

"Anak muda carinya yang berkuah, kayak bakso atau mi ayam. Gado-gado ini yang cari kebanyakan ibu-ibu," ungkap Mpok Mutia.

Mpok Mutia berpendapat, pemerintah perlu terlibat dalam mengedukasi makanan Betawi kepada anak muda. Dia menyarankan agar sekolah mau memperkenalkan makanan Betawi agar anak-anak zaman sekarang mengetahui kuliner betawi.

"Mungkin di sekolah dikasih pelajaran tentang 'ini lho masakan Betawi kamu harus coba kamu harus tahu', mungkin gitu," tutup Mpok Muti.

Meninggalkan area kuliner, telinga saya menangkap riuh suara anak-anak dari dalam Gedung Serba Guna. Di Rumah Adat, seorang wanita muda, Tiyas (25), tampak sibuk memberikan sebuah briefing singkat, namun penuh energi kepada murid-murid tari ciliknya.

Uniknya, Tiyas bukan lahir dari keluarga Betawi tulen, melainkan berdarah Jawa. Namun, cintanya pada Betawi tidak bisa ditawar. Sejak pandemi 2020, Tiyas "mengabdi" di gang-gang sempit Ciganjur, Jakarta Selatan mengajar anak-anak yang awalnya hanya asyik main ponsel. Sekarang, dia menjadi seniman di sanggar Laskar dan sudah memiliki lebih dari 50 murid.

"Jujur, tantangannya besar karena aku bukan Betawi asli. Aku harus belajar ke maestro-maestro supaya nggak merusak marwah tari Betawi yang kental," jelasnya.

Tiyas berharap ke depannya kebudayaan Betawi bisa terus eksis di dunia pertunjukan. Selain itu, dia ingin agar anak-anak di ibu kota mau mempelajari adat budaya Betawi dan melestarikannya.

"Harapan aku ya mudah-mudahan ke depannya kebudayaan ini terus menjadi apa ya, budaya yang emang menjadi kebiasaan juga nih kayak nonton-nonton kayak gini kan hal-hal yang menarik. Dari yang masih kecil juga udah harus kita tanemin tuh rasa rasa kebudayaan itu gitu jadi pas udah besar nggak ilang gitu Kak. Harus terus lestari sih menurut aku. Gitu," tutup Tyas.

Tradisi Kebudayaan Betawi

Penampilan Tradisi Kebudayaan seperti tari betawi, palang pintu, ondel ondel, dan Gambus, di Gedung Serba Guna, UPT Perkampungan Betawi, Sabtu (01/08/26). tirto,id/Putri

Namun, menanamkan rasa cinta budaya di tengah gempuran zaman bukanlah perkara mudah. Tantangan inilah yang menjadi inti obrolan saya dengan Bang Indra Sutisna (57) saat menghubunginya Jumat (31/7/2026). Sosok budayawan Betawi ini sempat menyampaikan pandangannya terkait mencintai budaya. Dia pun mengaitkan dengan fenomena budaya ondel-ondel, salah satu budaya Betawi, yang kini marak di jalanan.

"Budaya itu bukan sekadar simbol, dia harus punya ruh. Kita bicara value, bukan cuma profit," tegas Indra.

Bang Indra mengecam ondel-ondel yang kini dipakai untuk mengemis dengan penampilan yang serampangan. Baginya, itu adalah degradasi moral.

Bang Indra lantas menceritakan bagaimana dia menanamkan budaya Betawi pada cucunya lewat "ilmu pahat", ilmu melihat dan mencontoh perilaku orang tua. Dia mengaku punya satu harapan, Bir Pletok menjadi welcome drink wajib di setiap hotel Jakarta.

"Peran itu bisa diambil Pemda tuh dalam rangka menghidupkan budaya di lima wilayah digilir aja ada undang-undang pemajuan kebudayaan ada Perda budaya 4 nomor 4 ya itu tahun 2015 yang kita mau revisi kalau hotel restoran gak menerapkan ini gak ada welcome drink bir pletok gitu misalnya kena sanksi kan itu bisa makin menghidupi gitu Neng," ujar Indra.

Bang Indra berpesan agar generasi muda berani berpikiran global (think global), namun tetap berpijak pada karakter dan DNA budaya Betawi. Menurutnya, jati diri tersebut tidak boleh luntur dari diri masing-masing. Dia pun mengajak masyarakat untuk terus membuka ruang bagi kebudayaan agar tetap hidup.

"Jangan sampai ketika budaya kita sudah tiada atau diklaim pihak lain, kita baru marah-marah. Jangan menunggu hilang baru meledak, padahal selama ini kita belum berbuat apa-apa untuk menjaganya," pesan Bang Indra dengan nada yang menusuk hati.

Dari kejauhan tampak sosok pria yang tengah berbincang dengan rekannya yang menggunakan baju sadariah. Pak Rudi (56) namanya. Dia aktif di Lembaga Kebudayaan Betawi (LBB). Pak Rudi bicara lebih jauh kepada saya, soal ancaman "kematian obor" saat orang Betawi sendiri buta akan ritualnya. Dia pun menganalogikan dengan budaya Wayang yang saat ini perlahan punah.

"Wayang orang sudah punah, wayang kulit sulit dicari," ungkap Pak Rudi.

Parade Ondel-ondel Setu Babakan

Sejumlah seniman ondel-ondel tampil dalam parade HUT ke-25 Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan (di Srengseng Sawah Jakarta, Sabtu (13/9/2025). ANTARA FOTO/Reno Esnir/app/nz

Bagi Rudi, Setu Babakan adalah tempat orang Betawi "pulang" untuk belajar ritus kehidupan, mulai dari Palang Pintu hingga prosesi perkawinan. Pak Rudi menantang anak muda untuk menjadi "kabel" penghubung yang menyuarakan tradisi lewat media sosial agar kesenian tak mati karena sepi penonton.

"Saya kepengen mereka jangan hanya sebatas jadi penikmat. Kepengen juga mereka jadi pelaku. Kalau toh memang mereka tidak bisa menjadi pelaku, minimal menjadi, 'kabel'. Kabel tuh menghubung," tutur Pak Rudi.

"Jadi penghubung kalau seandainya kamu tahu nih 'Oh saya butuh dong Ondel-ondel', nah kamu bisa memberitahu kepada masyarakat luas "Oh di sana ada Ondel-ondel" seperti itu. Minimal seperti itu, jadi semua lini harus punya peran gitu," ujar Pak Rudi.

Pukul 16.00 semakin banyak pengunjung berdatangan untuk menonton pertunjukan tradisi kebudayaan betawi. Seorang pengunjung muda, Kak Iin (27), yang sudah lima tahun tinggal di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, berdiri tak jauh dari panggung. Sebagai warga asli, ia melihat ada perubahan minat masyarakat terkadang pasang surut.

"Kadang agak sepi, nggak sebanyak dulu, tapi liat deh, anak-anaknya masih tetap ikut nari. Selama generasinya masih mau nerusin adatnya, Betawi bakal terus bertahan," ujarnya dengan nada penuh keyakinan.

Parade Ondel-ondel Setu Babakan

Sejumlah seniman ondel-ondel tampil dalam parade HUT ke-25 Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan (di Srengseng Sawah Jakarta, Sabtu (13/9/2025). ANTARA FOTO/Reno Esnir/app/nz

Tiba-tiba, suara orang berbalas pantun, memenuhi langit-langit Gedung Serba Guna. Musik rebana ketimpring yang ceria mulai dimainkan, menandakan pertunjukan akan segera dimulai.

Di balik pertunjukan tersebut, pengelola Perkampungan Budaya Betawi berupaya agar kawasan ini tidak sekadar menjadi tempat wisata, tetapi juga ruang untuk mengenalkan dan mempraktikkan kebudayaan Betawi. Pelaksana pada Satlak Edukasi, Informasi dan Pelayanan Unit Pengelola Kawasan Perkampungan Budaya Betawi, Diana Farmeita, mengatakan edukasi diberikan melalui berbagai bentuk kegiatan.

"Untuk edukasi budaya bagi pengunjung, kami memfasilitasi melalui koleksi museum, tampilan kesenian, maupun praktik langsung," ujar Diana.

Pergelaran Kesenian Tradisional Betawi juga diselenggarakan secara reguler. Informasi mengenai kegiatan tersebut disebarluaskan melalui media sosial untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Namun, Diana mengaku menjaga kawasan budaya tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan dan edukasi. Persoalan lingkungan menjadi tantangan yang ikut membayangi aktivitas di kawasan tersebut.

"Tantangan terbesar dalam mengelola Setu Babakan saat ini yaitu pengelolaan sampah," tutur Diana.

Unit Pengelola Kawasan Perkambungan Budaya Betawi (UPK PBB) mewakili Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengembangkan Kawasan Perkampungan Budaya Betawi. Pelestarian budaya dilakukan melalui sejumlah program, mulai dari edukasi budaya, tampilan kesenian, pengelolaan museum, workshop budaya hingga festival budaya.

"Program pelestarian budaya Betawi yang berupa kegiatan edukasi budaya, tampilan kesenian, pengelolaan museum, workshop budaya dan festival budaya merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta," tutup Diana.

Setelah bertemu Diana, saya tidak lama melihat kembali Bang Zahrudinn di kejauhan. Dia pun mengipasi Kerak Telornya dengan ritme yang seirama dengan kendang. Mpok Mayang tersenyum lebar melayani pembeli Es Selendang Mayang. Tiyas memberikan apresiasi kepada murid muridnya yang kini telah selesai menampilkan tarian.

Di luar gedung, matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya keemasan yang masuk ke dalam gedung. Jakarta di luar sana mungkin terus berubah, berlari menuju kota global yang makin modern. Namun di gedung ini sebuah identitas sedang dirayakan. Suasana kembali ramai, sorak-sorai penonton pecah saat pertunjukan palang pintu dimulai.

Tradisi Kebudayaan Betawi

Penampilan Tradisi Kebudayaan seperti tari betawi, palang pintu, ondel ondel, dan Gambus, di Gedung Serba Guna, UPT Perkampungan Betawi, Sabtu (01/08/26). tirto,id/Putri

Baca juga artikel terkait BUDAYA BETAWI atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Andrian Pratama Taher